
"Wah, gawat dong Ua? Bisa sembuh? Ada akibat dari ketempelan?" Tanya Ratih kaget tidak tahu kalau Rita bisa seperti itu.
Ua Mori lalu menempelkan kedua tangannya untuk melihat apakah itu sebab ketempelan atau ada yang lain.
"Hmm bukan efek ketempelan. Ternyata Teteh memang ada kemampuan seperti itu dan bukan sekarang saja. Sudah aktif dari Teteh SMP," kata Ua Mori kaget melihat Rita yang biasa saja.
Semua yang ada di situ kaget ternyata kemampuan Ruta sudah aktif namun Rita masih tidak menyadarinya. Anehnya semua yang dia lihat hanya dikatakan sebuah mimpi.
"Memangnya mimpi yang aku lihat bukan mimpi biasa?" Tanya Rita.
"Ya Mimpi biasa dengan mimpi masa depan tipis sih. Kamu bisa membedakannya dengan latar. Mimpi biasa latarnya sama dengan keadaan yang kamu lihat sehari-hari tapi kalau mimpi pertanda, lalu masa depan latarnya polos hitam atau mungkin abu-abu," jelas Ua Mori duduk di sebelah Rita.
Koko juga bengong ternyata Rita kemampuannya melebihi mereka tapi yah orangnya cuek bebek.
"Kamu kalau terasa lelah, saat tidur pasti pergi jauh," kata Ua.
Rita mengangguk "Mimpi jauuuuh sampai bisa lihat kelap kelip bintang di atas sana. Tapi kalau biasa ya tidak mimpi apapun," katanya.
"Sampai wilayah mana?" Tanya Ua yang lain.
"Wah, Teteh kalau diajarin kita semua kalah. Tidak ada saingannya Koko juga harus cari pemasukan lain hehehe," kata Om Ryan.
"Gawat nih," kata Koko serius.
"Tidak minat, Ko," kata Rita ke arah belakang.
Koko tertawa juga yang lainnya. Untuk hal seperti paranormal atau dukun, sama sekali tidak ada dalam daftar keinginan Rita.
"Sejauh apa. Ya jauh. Hmmm pernah ke jembatan Siratal Mustaqim beberapa kali," kata Rita itu adalah kesan pertamanya dia bisa kesana.
Semuanya kaget Ratih dan Ryan menatap Ua takutnya Rita hanya omong kosong. Tatapan Ua seakan menjawab kebenarannya. Mereka semua terdiam.
"Berapa kali kamu datang?" Tanya Ibunya Ryan wajahnya agak sedih atau entahlah.
"Dua kali. Aku juga bingung ini jembatan apa," kata Rita sambil berpikir.
"Keadaannya seperti apa Teh?" Tanya Wean agak merinding.
"Teteh ada perasaan takut?" Tanya Tantenya.
"Tidak ada rasa takut, ya begitu saja. Awal mimpi, ada pintu besaaaar sekali yang satu merah yang satu lagi warna cokelat. Ada penjaganya mungkin ya terus dia nanya "Mau masuk yang mana?" Tapi tidak terlihat maksudnya saya tidak terlalu memperhatikan seperti apa penjaganya," jelas Rita.
Semua orang menyimak cerita Rita termasuk Koko. Dia duduk di sebelah kanan, karena menurutnya memang Rita datang kesana.
"Lalu? Suaranya laki-laki?" Tanya Ayahnya Ratih.
"Iya, Om. Terus saya nanya Ini pintu kemana? Penjaga yang entah ada atau apa itu bilang coba saja buka. Saya coba buka pintu besaaaar itu dan terasanya ringaaaan sekali. Disentuh telunjuk itu langsung terbuka dan pemandangan indah sekali. Hamparan rumput lah ada sungai, pohon seperti taman," kata Rita yang kagum.
"Haduh itu sih udah terlalu jauh sekali," kata ibunya Ryan.
"Kamu masuk?" Tanya Ua.
"Masuk, Ua karena indah lari-lari dan bertemu kucing rumah yang sudah meninggal. Lalu saya ingat ada pintu sebelahnya, saya keluar dari sana. Saya bilang mau masuk sini," kata Rita.
"Haaah!? Kamu masuk? Terus sosok suara itu bagaimana?" Tanya Koko kaget.
"Memangnya kenapa Ko? Tidak boleh?" Tanya Tante keheranan.
"Ya boleh tapi itu kan sisi... hmmm.. yah teruskan sajalah ceritanya. Kok bisa masuk sih?" Tanya Koko keheranan.
"Ya bisalah Ko, memangnya tidak bisa?" Tanya Rita berputar ke arah Koko.
Koko menggaruk kepalanya, tidak mengerti kenapaaaa juga Rita bisa masuk. "Lanjut lanjut," kata Koko sulit menjelaskan.
"Terus kata yang sebelah aku Ya masuk saja. Nah aku buka pintunya tuh dan isinya gelaaaapp. Ada cahaya tapi merah," kata Rita bingung.
Semuanya bengong. "Kamu masuk!?" Tanya Ua lainnya.
"Iyalah. Kan boleh," jawab Rita.
"Ya Allaaah!" Seru Ua semuanya menepuk kepala, Koko hanya tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Memangnya tidak boleh?" Tanya Rita.
"Ya Anehlah Teh, sudah bisa masuk ke sisi yang indah kenapa Teteh masuk ke sebelah?" Tanya om Ryan sambil tertawa.
"Ya kan penasaran. Ya sudah masukkin saja semuanya," kata Rita dengan wajah polos.
"Sudah lanjut," kata Tante kebingungan juga.
"Aku masuk jalannya itu bebatuan kerikil agak tajam. Tapi kakiku tidak luka terus aku jalan lebih ke dalam," kata Rita membuat yang lainnya berwajah nahas.
"Syukur kamu masih bisa pulang Teh," kata Ua memijat kepalanya.
"Ya bisalah mimpi ini," kata Rita.
"Menghadeuh," kata yang lainnya tepuk jidat.
"Teteh masuk ke sisi itu ada yang nemenin?" Tanya Ratih bengong. Karena Rita memang tidak sadar alam apa yang dimasukinya.
__ADS_1
"Ada tapi susah dijelaskan. Semacam kaya pakai tudung hitam begitu seperti di Harry Potter itu lho yang melayang-layang hitam. Yang menyedot raga apa sih namanya tapi ini jalan di tanah bukan melayang," jelas Rita sulit menggambarkan.
"Ooh Dementor Teh, yang melayang pakai tudung hitam kan. Wah seram dong, Teteh tidak takut?" Tanya Ryan mengusap kedua tangannya.
"Kan mimpi dianggapnya," kata Ratih istrinya. Mereka berdua terdiam.
"Iya itu dia pegang senjata juga sih seperti sabit rumput tapi panjang. Jalannya di belakang, mengikuti Teteh," kata Rita.
Wajah yang lain agak... aneh. Mereka menggaruk wajah mereka lalu menghela nafas.
"Haaaah? Ngikutin Teteh dari belakang? Dia tidak ada gerakan apa begitu Teh," kata Wean melongo.
"Tidak ada ya jalan saja kadang dia di depan kadang belakang. Kalau Teteh jalannya melenceng ditarik sama dia," kata Rita.
Ua Mori menutup mulutnya. "Melenceng kemana sih?" Tanyanya serius.
"Itu Ua, jalannya kan bebatuan nah sebelah kiri seperti ada jurang ke bawah. Belum sampai pinggir saja sudah ditarik sama tuh makhluk disuruh jalan lurus," kata Rita.
"Pakai apa kamu ditarik? Ke baju atau apa?" Tanya Ua lagi.
"Ya pakai senjata dia," kata Rita.
"Astagfirullah! Hahahaha kacau ini mah. Itu tidak marah?" Tanya Koko sambil menahan tawa.
"Marah tidak sih tapi kesannya seperti dilihatin saja terus seperti menghela nafas. "Hahhh" seperti itu," kata Rita.
Yang lain tertawa sambil menggelengkan kepala. Termasuk Koko.
"Teh, kalau saja Teteh tahu itu makhluk apa sebenarnya," kata Ua ngakak.
"Hahahaha aduuh makhluk itu tahu Teteh siapa tapi mungkin dalam pikirannya "Ini manusia berani amat sih coba masuk-masuk" hahahaha sudah pusing kali menghadapi Teteh nya," kata Om Ryan satu lagi.
"Bukan jin Teh. Tugasnya ada tapi sepertinya saat itu Teteh cuma anggap ya sebatas mimpi padahal ya itu alam kita nanti," kata Koko tertawa keras.
"Apa?" Tanya Rita keheranan semua orang malah terus tertawa.
"Terus Teh, pas Teteh dilihatin begitu ada Teteh bilang apa," kata Wean yang masih tertawa juga. Lalu semuanya kembali menyimak.
"Bodor sekali ceritanya ya Allaah," kata Ayahnya Ryan.
"Kasihan eta Malaikat dikerjain," kata Ua yang lain ketawa ngakak.
"Yaa tahu dilihatin terus Teteh bilang saja "Apa? Apa? Apa?" sambil kacak pinggang seperti begini ( menaruh kedua tangan di pinggang ) terus terasanya dia seperti menghela nafas lagi terus nunjuk seperti dipersilahkan jalan lagi," kata Rita.
Mereka semua kembali ngakak sekerasnya sampai menangis.
"Ya jalan nah Teteh lihat ada jembatan," kata Rita.
"Nah! Teteh tahu itu jembatan apa?" Tanya Koko yang nangis karena ketawa seru.
"Ya jembatan lah. Penyebrangan kan," kata Rita.
"Iya fungsi jembatan memang untuk menyebrang. Itu ada namanya Teh memangnya penjaganya tidak kasih tahu?" Tanya Ayahnya Ratih sambil menahan tawa.
"Ya kasih tahu," kata Rita.
Semuanya langsung terdiam, menyeka air mata.
"Terus?" Tanya Ibunya Ryan menaruh tisu di depan cangkir.
"Ya dia ada bilang sedikit "Ini jembatan..." apaaa gitu soalnya aku langsung lari ke jembatan itu kalau tidak salah sambil bilang "Jembataaaan huwaaaa" ya masuk begitu saja ninggalin itu makhluk di belakang," kata Rita ketawa jahil.
Langsung kembali ngakak seedan-edannya.
"Astagfirullaaaah parah sekali!" Kata semuanya.
"Hahahaha Si Maut saja tidak bisa menghadapi Teteh ngakaaaaakkkk," kata Ratih ketawa ngakak sambil menelungkup wajahnya ke meja.
"Itu kasihan sekali dikacangin hahaha!" Kata Ryan sambil mengusap air mata.
"Ya Allah si Teteh memang bodor sih. Terus penjaganya bagaimana? Ikut sama Teteh?" Tanya Ibunya Ryan.
"Ya masuk. Jalan begitu terus Teteh lari saja lebih jauh, manggil-manggil "Dia" sampai ke tengah," kata Rita membuat yang lainnya kaget.
"Teteh tidak takut akan jatuh? Coba gambarkan seperti apa jembatannya," kata Ayahnya Ryan.
"Tidak. Jembatannya panjaaaaang sekali. Ukuran telapak tangan kalau saya yang lihat ya dari sebelum masuk jembatan. Dalam pikiran sih biar tidak jatuh ya jalan lurus kan tapi waktu masuk, itu lebaaaaaar sekali Teteh bisa lari kemana saja makanya tidak nyimak sih itu makhluk bicara apaan," jelas Rita.
Mereka semua kini berubah bengong.
"Teteh teruskan banyak berbuat baik, banyak berdoa untuk orang-orang yang Teteh kenal dengan yang tidak. Itu tandanya bagus tapi sial untuk makhluk yang ketemu sama Teteh hahahahaha aduuh sakit perut," kata Ua Mori memegang perutnya.
"Makhluk itu tidak ikut?" Tanya Ratih beku di kursinya.
"Tidak, mungkin lelah ya dia hanya menunggu di pintu masuk jembatan. Teteh mah lari-lari dari ujung ke ujung, kanan kiri semua arah sambil merentangkan kedua tangan seperti pesawat begitu. Pokoknya bebas! Terus dia melambaikan tangan atau senjata panggil Teteh untuk kembali. Teteh tidak berjalan sampai akhir jembatan soalnya panjang. Nah disitu ada perasaan takut tidak bisa pulang jadi ya Teteh lari lagi ke tempat dia ada," jelas Rita dengan perasaan senang.
"Bagi kebanyakan orang Teh yang mengalami hal seperti itu. Koko juga kita semua mengalami hal yang sama tapi bagian Teteh lucu sekali. Tidak ada yang sampai sesantai Teteh lho," kata Ua Mori.
"Kenapa?" Tanya Rita merasa aneh.
__ADS_1
Mereka semua saling berpandangan.
"Ya karena bagaimana ya? Susah juga menjelaskannya. Coba Teteh pikirkan pengalaman Teteh itu lagi karena saat sadar nanti mungkin Teteh takut dan akan tahu siapa sosok makhluk itu. Ada namanya Teh," kata Ua Mori dengan suara lembut.
Wajah Ua Mori terlihat takut, sedih, iba agak ingin menangis. Kengerian ada di wajahnya bukan, semua orang.
"Ya, nanti Rita pikirkan. Tapi kan Ua itu keren baru kali itu bisa mimpi begitu," kata Rita semangat.
"Orang lain mah Teh, tidak ada yang mau datang lagi kesana. Teteh malah sebaliknya, Teh kalau nanti tahu nama asli makhluk itu apakah Teteh akan ketakutan? Tapi aneh juga sih itu makhluk tidak ada ancaman? Suaranya ke Teteh bagaimana? Kasar, nyablak atau bagaimana?" Tanya Ua Mori penasaran. Karena yang dialaminya mengerikan.
"Kasar tidak sih. Lembut juga tidak. Kesannya tegas tapi tidak galak, ada wibawa, bijak. Setelah keluar dari jembatan, Rita dipersilakan jalan lagi tapi tidak diijinkan masuk jembatan lagi. Seperti sama dia di blokir. Menyarankan masuk ke pintu sebelah saja. Ya aku hanya bengong sih," kata Rita.
"Pengalamannya beda pisan. Terus dia ngomong kamu ketakutan?" Tanya Koko serius.
"Tidak, biasa. Yaaa Rita mikirnya mungkin karena jalannya banyak batu jadi takutnya atau bagaimana. tapi tidak luka sih aneh juga periksa kaki ya baik-baik saja sih. Cuma Rita tanya ke dia," kata Rita polos.
"Hah?! Tanya apa?" Tanya Mereka semua berbarengan.
"Boleh kan kesini lagi. Begitu saja," kata Rita.
"Ya Allah Teeeeh, masa mau masuk lagi sih? Kamu tuh kenapa sih?" Tanya Ua Mori antara kesal, gemas tapi mau bagaimana.
"Ya tidak tahulah Ua, itu kan di alam mimpi. Mau bilang apa juga sama sekali tidak direncanakan, Ua," kata Rita menundukkan kepala.
"Iya sih kalau tidur kan alam bawah sadar yang berkomunikasi. Terus dia jawab apa?" Tanya yang lain.
"Dia menghela nafas "lebih baik pintu sebelah saja tapi kalau kamu mau, silakan," begitu," kata Rita sambil memainkan jarinya.
Semuanya kaget tepuk jidat.
"Teh, kamu memang tidak peka. Kalau peka pasti tidak akan mau deh," kata Ua Mori menghela nafas.
"Tapi Teteh bisa keluar dari sisi itu?" Tanya Ratih.
"Bisa bulak balik juga bisa. Teteh masuk ke sebelah juga bulak balik tiga kali bisa. Pintunya bersebelahan. Setelah itu ya bisa masuk lagi tapi tidak ada penjaganya," kata Rita.
"Hahaha Teteh nya bandel sih jadi sepertinya terserah Teteh mau kemana juga," kata Ibunya Ryan.
"Tapi Teteh sekarang sadar kan itu apa," kata Koko agak cemas.
"Iya tahu," kata Rita. Tahu itu malaikat tapi Ua dan Koko tidak bertanya nama jadi tidak Rita sebutkan. Dan dia lupa tugas-tugas malaikat apa saja termasuk yang dialaminya.
"Iya Teh. Akhirnya terus tidak datang lagi kan?" Tanya Koko lega.
"Ya datang lagi lah," kata Rita merasa aneh.
"Nih anak benar-benar deh! Terus? Masuk?" Tanya Ua yang lain.
"Lah iya kan boleh tapi ada yang beda sih waktu mau masuk," kata Rita mikir, agak ragu mengutarakannya.
Mereka melihat raut wajah yang berbeda dari Rita. Agak takut untuk memberitahukan.
"Apa?" Tanya yang lain agak waspada. "Bicara saja apa yang aneh." Mereka bersiap untuk jawabannya.
"Kok malaikatnya ada dua ya?" Tanya Rita masih ingat. "Dua-duanya pakai tudung hitam yang pakai senjata di kiri, kanan ada lagi yang lain."
"HAAAAAH!?" Tanya mereka semua kaget.
"Tunggu tunggu sepertinya kita semua berpikiran sama deh. Coba... Teh Rita, ada kata yang sekilas keluar tidak saat bertemu yang satunya itu," kata Ua Mori agak waspada. Sepertinya Ua Mori tahu satu lagi apa.
Ua Mori tampak syok sekali, takut saat melihat ke arah Rita. Sedih tapi tidak percaya makhluk pertama yang Rita temui bukanlah penjaga Neraka tapi ...
"Izrail," kata Rita menatap Ua Mori. Disini Rita masih belum sadar tugasnya malaikat itu apa.
Mereka semua syok termasuk Koko lebih syok lagi. Koko hanya lemas dan Rita agak aneh. Kenapaa??
"Teh, itu... itu kan..." kata Koko tidak bisa berkomentar.
"Ua, bagaimana tuh? Bukannya yang bertugas di Neraka hanya Izrail?" Tanya Ratih.
Mereka semua memandangi Ratih dengan tatapan syok, tidak ada tawa sama sekali. Kedua mata mereka berkaca sedangkan Rita dan Ratih keheranan.
"Astaga Ratih! Kamu lupa malaikat Izrail tugasnya apa? Teh, yang pertama Teteh temui itu bukan penjaga Neraka. Itu mah..." kata Ua Mori terdiam. Ua dengan yang lain lalu seperti berdoa.
"Ya Rabbi Ya Rahman Tuhan yang menciptakan segala alam semesta. Hampuraaaa," kata Ua membaca doa. Agak lama.
Rita terdiam tidak mengatakan apapun. Semua orang disana termasuk Koko membaca doa, Koko agak sedih menangis begitu juga yang lainnya. Tante Winan menyadarinya dan langsung memanjatkan doa juga untuk keselamatan keluarganya.
"Yank, kenapa sih?" Tanya Ratih bingung.
"Tih, yang ketemu sama Teh Rita dari awal itu bukan penjaga Neraka tapi... ini," kata Ryan menunjukkan situs yang dicari oleh suaminya.
Plus ada gambar sesuai yang Rita ceritakan. Yupz, Malaikat Izrail bertugas sebagai malaikat pencabut nyawa alias Malaikat Maut. Ratih menjatuhkan ponsel suaminya dan menatap Rita yang masih belum sadar.
Ratih melihat Rita yang ikut berdoa juga meski tidak tahu kenapa harus melakukannya. Ada sekitar 1 jam Rita melihat yang lainnya serius sekali berdoa.
Alex ada disana dia membeku juga dan memang mendengarkan cerita Rita. Semua! Dan kembali ke tempatnya lalu menangis keras. Kenapa harus selalu dia yang mengalami hal mengerikan itu. Rita diikuti malaikat Izrail saat pertama dia bertemu dalam dunia barzah.
Bersambung ...
__ADS_1