
Kembali pada Rita dan Diana yang akhirnya bisa bernafas dengan lega jauh dari pembuat masalah, Ney. Mereka tertawa saat Rita menarik matanya ke arah Ney. Mereka cepat masuk lift karena tahu kalau Ney pasti akan mengejar mereka.
"Parah kamu tadi hahaha," tawa Diana meledak.
"Tapi kamu lega kan?" Tanya Rita.
Mereka masih berada dalam lift dan membicarakan mengenai yang mereka alami.
"Banget! Jadi kamu selama ini menderita karena dia yang suka buat drama? Aku baru tahu," kata Diana memegang tangannya Rita.
Rita tertawa. "Yah, aku kesal tahu sih sadar juga kalau selama ini dia selalu berusaha entah ya mencari perhatian. Tapi namanya manusia tidak ada yang bisa berteman dengan yang itu itu saja kan. Aku yakin kamu juga punya teman dekat yang lain, Diana," kata Rita yang membalas genggaman tangan Diana.
"Ada di Bengkulu. Haduh tuh orang benar-benar buat aku ingin tonjok dia. Lihat kan kamu bagaimana caranya dia membuat kita jadi jahat. Ya Allah, mana dia juga berusaha dekat sama aku. Ihh tidak mau!" Kata Diana bergaya seperti iklan sabun Detil di TV.
"Hahahaha aku juga aneh dia tidak merasa malu sekali ya sampai sengaja agar semua orang lihat dia," kata Rita berpikir.
"Orang seperti itu sih mana mungkin Rita punya rasa malu. Pantas kamu selalu makan hati sama dia waktu dia pura-pura nangis, terus ketawa aku kok langsung merinding ya?" Tanya Diana yang meraba-raba tengkuk leher belakangnya.
"Kamu baru dua kali bertemu dia, aku sudah beberapa tahun kenal memang dia agak Freak sih. Kadang aku lihat dia ketawa sendiri, bicara sendiri entah di rumahnya atau di mall. Aku yang jadi temennya juga kadang risih, temen aku kok error begini ya," kata Rita tertawa garing.
"Haaah?? Terus kenapa kamu mau terus jalan sama dia? Kalau aku sih langsung blokir sudah mau dia ajak aku kemana," kata Diana bengong mendengarnya.
"Kasihan sih Diana, dia itu katanya banyak teman tapi kalau kemana-mana sama itu saja terus. Kalau aku memang punya banyak teman kadang sama kamu, Komariah, Melinda, Tamada sama siapa saja. Kan benar kelihatan ya punya banyak teman tuh," kata Rita.
Diana manggut-manggut mendengarnya. "Benar juga sih. Pokoknya aku tidak mau lagi deh bertemu dia, nanti lagi kalau kita main kemana terus dia ada. Kita lari saja ya," pinta Diana yang tidak nyaman dengan kehadiran Ney.
"Hahaha seperti kawin lari ya kita," canda Rita tertawa keras.
"Wah iya juga tapi ini kan menghindari teman yang menyesatkan," kata Diana tertawa juga.
Pintu lift terbuka dan beberapa orang masuk ke dalamnya. Mereka berdiri ke depan karena sebentar lagi akan keluar.
"Kita mau kemana lagi? Masih ada sekitar 1 jam untuk kerja kelompok," kata Diana melihat jam tangannya.
"Makan yuk. Gegara kejadian tadi aku tiba-tiba lapar. Dan energimu terasa turun untung ada minuman ini," kata Rita menunjukkan Cimory.
"Itu sih karena energi kamu habis dimakan sama tuh orang aneh. Ibu yang tadi baik ya sampai kita diberi minuman segala nanti kita kesana lagi ya," kata Diana.
"Tapi jangan minggu ini ah, aku malu tahu," kata Rita yang menghela nafas.
"Ih, aku juga lah. Nanti lewat sebulan. Kita kasih ibu itu kue yuk kalau tidak ada kan bisa dititipkan saja," kata Diana yang memang suka berbagi.
"Okelah itu mah gampang. Kita makan Pizza Hut yuk yuk. Aku traktir," kata Rita dengan ceria.
"Hayyuuuu!" Sambut Diana dengan semangat sambil melihat Rita yang kembali semangat. Dalam pikirannya Diana, dia sama sekali tidak tahu kalau Rita sering dimanfaatkan sifatnya oleh Ney.
Keluar lift, mereka menuruni eskalator saat Rita sedang bersenandung, Diana melihat seseorang yang sedang berdiri. Untungnya dia membelakangi kedatangan mereka. Diana kaget itu adalah Ney yang sedang menunggui mereka. Dengan cepat Diana menarik tangan Rita saat sudah sampai dibawah.
"Ke..." Kata Rita yang langsung terasa ditarik.
Diana meletakkan jari telunjuk di mulutnya dan memberi kode untuk berlari tanpa suara. Karena tidak mengerti Rita menuruti saja perintahnya. Mereka diam-diam berlari menuju Pizza Hut yang letaknya berada di dalam Mall. Setelah sampai Diana memeriksa sekelilingnya.
"Syukurlah sekarang aman," kata Diana memegang dadanya.
"Ada apa sih?" Tanya Rita keheranan.
"Itu Ney gila apa ya dia sampai menunggu kita dong tuh di depan toko Bella. Ih seram sekali sih teman kamu tuh," kata Diana yang ngos-ngosan.
Rita kaget lalu secara diam-diam ke depan diikuti oleh Diana dan melihat setengah mata. Ya memang benar Ney sedang berdiri sambil sesekali melirik jamnya dan kesal sendiri. Ibu yang menarik dia tadi sudah tidak ada tampaknya Ney sudah ditinggalkan begitu saja atau dia menolak.
Diana lalu menarik Rita takut ketahuan. "Untung Pizza Hutnya ada di dalam," kata Diana.
"Yuk kita masuk saja jangan dilihatin lagi," ajak Rita.
Mereka berdua masuk dan memesan tempat yang agak dalam. Mereka dipersilakan lalu pelayan PH memberikan menu. Rita memutuskan membeli paket makan berenam karena dia sangat lapar sekali.
__ADS_1
"Kamu yakin kita bisa habiskan?" Tanya Diana.
Mereka memang saling berbagi uang pembelian pizza karena Diana juga lapar setengah mati.
"Benar juga. Mudah! Kita panggil saja anggota kita meski Ada sebagian yang bukan tim. Bagaimana?" Tanya Rita memperlihatkan grup kelompok mereka.
"Bolehlah. Tapi bukannya Komariah mau pulang kampung? Coba tanya deh," kara Diana.
Beberapa menit keluarlah menu hidangan pembuka, yaitu Garlic Bread dan Pasta Chicken Delight. Author jadi ngiler nih, aduuuh! Tentu saja jumlahnya untuk berenam tapi mereka sebenarnya sanggup menghabiskan tapi menunggu yang lain datang. Diana dan Rita menyantap sebagian Pasta, Rita memesan satu lagi agar anggota yang lain kebagian.
"Wih, hasil dari tabungan atau gaji kerja sambilan?" Tanya Diana yang melihat Rita memesan lagi.
"Dua-duanya. Kapan lagi coba kita mengajar sampai menguras tenaga dan otak, jadi biarlah sekali-kali kita makan besar," kata Rita mengedipkan sebelah matanya.
Diana sih oke saja tapi Rita menolak Diana bayar buat pizzanya karena Rita yang mengajaknya makan jadi biar dia yang membayar lebihnya. Yang Rita hubungi adalah Komariah yang ternyata dirinya tidak jadi pulang karena pacarnya harus bekerja. Lalu sisanya ada Tamada, Linda dan Melinda yang siap meluncur. Annisa tidak bisa karena harus mengirimkan pesanan kue buatan ibunya.
Sekitar 1 jam akhirnya semua hidangan keluar dan mereka semua terpana, Komariah paling senang makan. Mereka akhirnya datang tidak lama sekitar 15 menit ternyata mereka memesan GoCar.
"Kalian bertemu Ney tidak?" Tanya Diana.
"Ney!? Ada disini? Parah sekali itu orang setelah kamu gampar dia masih berani menampakkan dirinya?" Tanya Linda bengong.
"Ditampar? Kenapa?" Tanya Melinda. Memang dia saat itu tidak ada jadi Diana, Komariah dan Linda menceritakannya. Melinda menganga mendengarnya.
"Jadi begitu kisahnya sekarang dia ada disini? Wah pasti ganggu lagi. Janjian?" Tanya Linda.
"Idih siapa juga yang mau. Dia tiba-tiba ada disini juga kita juga aneh," kata Rita yang mulai mempersilakan mereka untuk mengambil makanan.
Tanpa sungkan mereka semua mengambil makanan yang mereka sukai dan berterima kasih karena sudah ditraktir juga. Rita dan Diana senang sekali bisa makan bersama.
Tentu saja Diana sambil bercerita dan mereka tahu kalau Diana sangat kesal sampai Tamada dan Melinda menenangkan Diana. Dirinya sangat emosi sekali ingin sekali dia menjambak Ney karena berbuat berani seperti tadi.
"Tenang Mbak, tenang. Sekarang ada kita jadi kalau dia macam-macam lagi, kita juga maju," kata Tamada yang mengerti.
"Dia tuh sebenarnya butuh Rita tapi tidak menerima kita semua yang dekat sama Rita makanya dia melakukan berbagai cara agar kita membenci Rita. Tapi masalahnya semuanya memantul dan malah membunuh dia sendiri," jelas Linda memegang tangan Diana.
Diana juga setuju lalu melihat Rita. "Kamu harus hati-hati sama dia katena siriknya itu kelihatan sekali, Rita," kata Diana.
"Aneh sekali. Komariah, temenin yuk ambil Chicken Soup sama Salad," kata Rita ajak Komariah yang tersenyum sumringah.
Mereka semua semangat mendengarnya dan membiarkan Rita mengambil. Komariah juga senang karena bisa mengambil banyak lebih banyakš¤£š¤£.
"Rita terlalu polos sih makanya aku yakin dia sama sekali tidak tahu," kata Diana.
"Iya padahal pertama kita ketemu saja, memang auranya tidak cocok. Herannya Rita sama sekali tidak keberatan," kata Tamada.
"Iya ya Tamada kelihatannya marah sekali kalau Ney mulai dekat lagi. Kenapa sih?" Tanya Diana heran.
"Iyalah, jelas sekali dia itu punya niat jelek, Mbak. Aku yakin Rita selalu disakiti lewat bicaranya dan perilaku dia itu... pokoknya jelek deh. Coba Mbak Diana kasih tahu Rita kalau Ney itu kurang baik orangnya meski memang dia ada secuil ingin lihat Rita bahagia," kata Linda.
"Aku tidak mengerti tapi menyimak penjelasan kalian semua, aku setuju. Rita harus dijauhkan dari orang seperti itu. Yang ini bukan orangnya?" Tanya Melinda memperlihatkan foto yang tidak sengaja dia ambil.
Terlihat Ney yang sedang membeli cendol tapi tampaknya agak sedikit ribut dengan pedagangnya. "Buat apa ambil foto dia? Iya ini orangnya," kata Tamada.
"Ih ini tuh tidak sengaja jadi waktu mau pegang tali tas, sepertinya kepencet di bagian kamera. Aku belum periksa paling juga ke foto apa. Oh jadi ini yang namanya Ney," kata Melinda yang memperhatikan foto Ney.
"Lihat saja dia beli apapun juga da pasti bermasalah terus sama orang lain juga. Apalagi Rita kita tahu Rita bagaimana kan meski baru kenal setahun. Dia itu polos dan terlalu mudah simpati tapi tidak tahu yang dia simpatisan itu, punya niat jelek," kata Linda.
"Coba deh kalian tanya Rita seperti apa orang ini. Tuh dia kembali," kata Diana.
Rita dan Komariah datang dengan senyuman lebar ternyata Rita bawa 2 mangkuk sup yang disambut histeris oleh mereka. "Kita dapat bonus jadi semuanya pasti kebagian," kata Rita menaruh mangkoknya.
"Salad juga," kata Komariah.
"Ini sih mukbang," kata Melinda dengan senang.
__ADS_1
"Kom, ada es krim," kata Rita yang berbinar begitu juga Komariah.
"Beli yang paket sajalah soalnya ini makanan banyak sekali," kata Komariah melihat ke meja mereka.
"Okelah," kata Rita lalu memesan.
"Ya Allah pesan es krim!? Ini banyak woi belum habis," kata Tamada.
Yang lain tertawa melihat pesanan es krim datang dengan ukuran gelas sangat besar. Pelayannya pun sangat kaget melihat Rita tertawa seakan mengerjai teman-temannya.
"Ayooo harus dihabiskan," kata Rita tertawa senang.
"Rita, aku mau tanya kamu selalu cerita kepada Ney ini? Bagaimana tanggapannya sih?" Tanya Linda penasaran. Karena tampaknya Ney terlihat tidak mau melepaskan Rita.
"Iya, Lin. Tapi makin ke sini aku jadi malas," kata Rita yang mulai memakan pasta dan pizzanya.
"Kenapa?" Tanya Linda yang menyuap sup.
"Kalau aku punya masalah kadang aku merasa dia tidak mendengarkan. Aku cerita panjang sampai sedih pun, dia malah tertawa membaca pesan entah dari siapa lalu cerita," kata Rita agak kecewa.
"Ya da terlihat jelas dia itu tidak mau mendengar obrolan kamu, Rita. Terus?" Tanya Tamada merasa simpati.
"Ya aku pernah langsung pergi saja dari rumahnya karena saat itu keputusanku bulat kalau dia bukan tipe teman yang bisa mendengarkan. Dan aku tidak pernah lagi ajak dia main atau ke rumahnya. Sudah cukup!" Kata Rita sambil makan.
"Good! Karena percuma Rita, dia hanya memikirkan soal dirinya bukan hanya kamu korbannya tapi banyak. Dan dia akan selalu bertindak sebagai korban," kata Tamada menambahkan.
Rita terdiam mendengarnya selama ini dia tahu tapi tidak percaya dan lebih memilih pasti Ney bisa mengerti dan berubah. Tapi berapa kali pun Rita mengharap, semuanya luluh lantak karena Ney juga beberapa kali membuatnya merana.
"Teman yang baik pasti mendengarkan kamu, memberi solusi kan. Kalau dia ada masalah kamu selalu ada?" Tanya Melinda.
"Iya, selalu beri dia saran tapi tidak pernah mau menerima. Jadinya bete! Kalau aku lagi sibuk, dia suka maksa supaya aku lebih memperhatikan dia," kata Rita.
"Terus?" Tanya Diana.
"Ya aku bilang saja, "Bagaimana enak tidak saat kamu punya masalah dan aku tidak mau dengar? Itu sama seperti perlakuan kamu ke aku. Makan tuh!" Aku bilang begitu terus dia jawab, "Ya masalah aku kan lebih parah dari kamu." Kata dia sambil gigit kuku," kata Rita.
"Oh iya kukunya. Kalian lihat tidak sih itu sampai pendek sekali. Dia tidak pernah perawatan diri ya? Aku ngeri tahu lihatnya. Kebiasaan dia ya itu tandanya dia bukan orang yang percaya diri," kata Linda.
Semua setuju. "Kelainan juga sih," kata Melinda memperlihatkan penjelasannya.
"Kamu tidak seram?" Tanya Diana.
"Tidak. Kalau dia berbuat sesuatu tinggal pergi saja," kata Rita mencelupkan roti ke supaya.
"Lalu setelah dia bilang begitu, kamu dengarkan masalah dia?" Tanya Tamada.
"Iya tapi aku kasih jawaban Oh, ya sudah begitu saja. Dia kesal pun aku sudah malas saja lalu dia pergi begitu saja. Aku sih terus mengerjakan pekerjaan," kata Rita.
"Kamu pernah cerita soal yang senang-senang?" Tanya Melinda.
"Ya begitu responnya malah dia sering ubah topik lalu aku ubah lagi ke topik aku sampai dia kesal. Bilang kalau aku ubah topik terus soal cerita aku, aku bilang saja "Kamu tidak suka? Aku juga tidak suka topik kamu." Diam dia," kata Rita tertawa.
"Oh, bagus itu kamu balas mental dia. Sepertinya sering ya kalau soal kenalan Malay itu dia bagaimana?" Tanya Komariah yang sedari tadi menikmati makanannya.
"Dia banyak cari informasi soal Malay," kata Rita.
"Haaaa?? Untuk apa? Kan kamu yang punya hajat kenapa dia yang heboh?" Tanya semuanya bersamaan.
"Kamu suruh dia?" Tanya Diana.
"Tidak. Untuk apa juga lah? Cari tahu begitu biar saja Malay yang jelasin. Iya jadi dia yang heboh bilang kalau dari keluarga kaya, apalah. Tidak tertarik sudahnya dia bilang kalau aku tidak tahu terima kasih," kata Rita.
Semuanya bengong mendengar itu. "Wah, kalau dia sampai cari info tanpa kamu yang minta memang gawat sih," kata Tamada berpikir.
"Ney suka ya sama Malay ini?" Tanya Diana.
__ADS_1
Akhirnya Rita ceritakan semuanya dan mereka semua kaget dan bengong mendengarnya. Bagaimana mungkin teman sendiri merebut orang yang disukai oleh Rita, sampai Diana menggebrak mejanya karena kesal. Dan semuanya berpendapat dihentikan saja dan lebih baik makan.
Bersambung ...