ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
430


__ADS_3

"Ko, sini kita makan bersama. Capek kan," kata Ua lalu tersenyum ke Rita yang sedikit masih mengantuk.


"Capek, ya? Tadi top sekali," kata Ua memegang punggungnya Rita.


"Iya lumayan sih takut juga. Tapi tadi keren," kata Rita yang masih makan nasi. Sesekali menguap karena masih mengantuk. Ua menatap Rita agak iba karena melihat energinya belum terlalu penuh.


Makanya Ua membelai punggungnya sedikitnya diberikan energi agar bugar lagi. Ratih dan lainnya memperhatikan apa yang Ua lakukan. Namun Rita sama sekali tidak merasakan apapun.


"Oh ya? Yang mana, Teh?" Tanya Ratih agak aneh.


"Itu yang Koko dimasukkan sesuatu terus berubah karakternya. Kok bisa ya?" Tanya Rita berpikir masih tidak merasakan yang Ua lakukan.


Ua dan yang lain serta Koko terdiam menatap Rita yang polosnya mengatakan hal itu. Rita menatap mereka dengan aneh sambil makan.


"Wah! Bisa tuh diajarin," kata Ayahnya Ryan.


"Hei, jangan! Sudah bagus ini auranya kalau "itu" dihilangkan. Teteh tahu kalau punya banyak kemampuan?" Tanya Ua agak penasaran.


"Saya takut hantu sih," kata Rita berhenti makan.


Semuanya hening. Termasuk Koko lalu mereka semua tertawa. Koko harus membatalkan makannya karena tawa.


"Oh, ya ya ya," jawab Ua dan yang lainnya.


"Kenapa?" Tanya Rita merasa aneh. Perasaan dirinya tidak sedang melucu.


"Sampai salah satu khodamnya Ua saja lebih memilih pergi daripada melawan. Lucu lucuuu," jawab keluarga yang lain.


"Hah? Serius?" Tanya Ratih.


"Memangnya aneh?" Tanya Rita menatap mereka semua.


"Ya Teteh aneh sih. Makan saja dulu, disini banyak makanan kok supaya energinya naik lagi. Tyas sebentar lagi datang," kata Ratih yang masih tertawa juga.


Koko yang sedang makan pun ikut nimbrung. "Hari ini kita konsultasi saja dulu ya. Akibat tadi energi terkuras. Kamu juga kan energinya berkurang jadi mengantuk terus kan," katanya.


Tidak juga Ko, dia sudah tidur lalu makan energinya sudah cukup full. Siap gelombang kedua?" Tanya Ua sambil tertawa.


"Serius? Cepat sekali," kata Koko menatap Rita bengong.


"Hehehe kalau lelah apapun cukup makan atau tidur ya langsung bugar lagi. Aku sih hayu saja," kata Rita sudah selesai makan dan membawakan piringnya ke belakang dapur.


"Makan dulu saja Ko," kata Tante Winan tertawa.


Lalu Rita duduk sambil minum teh manis, segaaarrr. Datanglah Tante lain dari keluarga Ryan menghampiri Rita dan duduk di depannya.


"Teteh, yang mau di ruqyah ya?" Tanyanya. Sosok perempuan itu sangaaaat cantik sekali agak terpana juga Rita melihatnya. Dan muda meski anak-anaknya sudah besar.


"Iya, Tante," kata Rita kebingungan harus jawab apa.


Ratih dan Ryan tertawa. "Ini tuh ibunya Ryan, Teh. Eh benar kan ya dipanggilnya Tante? Atau Bibi?" Tanya Ratih.


"Oh!" Kata Rita kaget.


"Tante saja deh. Bingung kan hahahaha masih mudalah aku ini. Tante saja," katanya dengan suara yang super lembut.


"Kayanya bukan dari keluarga besar Mami juga deh," dalam hati Rita menduga.


"Iya kita memang bukan dari keluarganya Tante Winan. Beda, Teh," kata ibunya Ryan senyum.


Rita bengong di tempat. "Hah? Apa bisa baca pikiran ya?" Tanya Rita dalam hatinya.

__ADS_1


"Bisa lah Teh semuanya juga kedengeran kok," kata ibunya tertawa.


Rita lihat ke yang lain. Dan mereka tersenyum. "Tidak akan bicara dalam hati lagi deh," kata Rita membuat yang lain ketawa kecil.


"Oh, Teteh bingung ya. Ini ibunya Ryan nah kalau lainnya... Teteh bilang apa ya?" Tanya Ratih ke suaminya.


"Ua kali ya? Soalnya kan jauh tidak ada hubungan saudara juga sih," kata Ryan memandang ibunya.


"Ua saja. Ayo Teh kita ngobrol ya," kata Ua kemudian ikut duduk bersama ibunya di sebelah kiri.


Akhirnya mereka semua mengelilingi Rita. Bagaikan disidang skripsi akhir, agak tegang tiba-tiba dan gemetaran. Aneh juga.


Koko sudah selesai makan juga ikut bergabung tapi duduk di belakang Ua. Kita sebut saja Ua Mori. Ua lalu berdiri seperti memeriksa sesuatu.


"Bisa merasakan energi kita, Ua?" Tanya ibunya Ryan.


"Hmmmm sama sekali tidak. Ini parah dingin sekali," kata Ua Mori kesal. "Teh, coba duduknya tegak jangan bungkuk seperti nenek-nenek," kata Ua.


Entah kenapa kalimatnya itu seakan membuat dalam hati Rita sebal. Padahal dia duduk sambil menyandarkan punggungnya ke kursi kok. Kenapa dibilang membungkuk?


"Ini sudah tegak kok. Ish!" Kata Rita tiba-tiba.


"Wah, keluar tuh hahaha," kata ibunya Ryan.


"Eh, kenapa aku bilang begitu ya," Kata Rita menutup mulutnya. Tapi kemudian sadar keadaan itulah yang membuatnya susah kalau bicara dengan orang lain.


"Setidaknya Teteh sadar kalau ada yang salah," kata Suaminya.


"Koko, sudah selesai makannya?" Tanya Ua di belakang Rita.


Rita merasa terganggu kehadiran Ua di belakangnya dan memandangi ke belakang. Tangannya memegang leher belakang dan menatap tajam ke arah Ua.


"Uwwooww ada yang nantang," kata Ua senang.


Ratih, Ryan, Bapaknya Ratih, Wean dan Tante Winan berdiri di belakang kursi makan. Takut terjadi pertempuran.


"Tidak apa-apa soalnya Teh Rita berusaha mengendalikan," kata Ua yang lainnya.


Rita agak pusing, dalam hati dia keheranan kenapa juga harus sensitif? Orang duduk sudah tegak. Rita menarik jauh tangannya, ada rasa tidak suka dipegang oleh ibunya Ryan.


"Wah, ditolak ey," kata ibunya Ryan. Agak ada perasaan sepertinya sedang bersiap-siap melakukan sesuatu.


Rita masih terganggu dengan kehadiran Ua apalagi sekarang Koko berdiri di sebelah Ua. Rita memandang ke sebelah kiri menatap Koko yang agak marah. Rita bermaksud berdiri untuk mengusir, ibunya Ryan juga bersiap-siap.


Rita keheranan untuk apa juga berdiri akhirnya karena takut terjadi sesuatu, dia melihat air teh di dekatnya dan memilih mengambil itu.


"Minum saja ah," kata Rita menyeruput air teh manisnya yang ada di dekatnya.


Mereka semua langsung turun penjagaannya.


"Tante," kata Wean ketakutan apalagi Tante Winan.


"Teh Rita masih bisa membuatnya mengalihkan perhatian. Hebat nih. Bagaimana?" Tanya ibunya ke Ua Mori.


"Fiuh, hampir saja "mereka" keluar dong. Kalau Teteh yang keluar, harus cepat ambil langkah. Teteh kasih celah buat kita masuk ya," kata Ua Mori memegang punggung Rita.


"Teh?" Tanya ibunya Ryan mengetes.


"Ya?" Tanya Rita agak malu melihat ibunya.


"Tidak apa-apa, kita yang ada disini mengerti kok. Kenapa di tahan?" Tanya Ua yang lain.

__ADS_1


"Ya... yaaa malu saja. Di rumah orang tiba-tiba lempar lempar takutnyaaa jadi parah gitu. Jadi di tahan saja," kata Rita dengan nada yang pelan.


"Iya ini Teteh yang asli rasa malunya tinggi sekali, kalau yang tadi emosinya parah. Teteh terganggu atau risih ada Ua dan Koko dibelakang?" Tanya Ibunya Ryan.


"Asalkan tidak mengusili biasanya orang di belakang tujuannya untuk usil kan," kata Rita.


"Oooh iya ya tapi kan mereka sudah tua buat apa juga Teh. Kalau Koko sudah pasti langsung kena jitak kalau usil Teteh," kata Ratih tertawa.


"Oke, nah sekarang mumpung Teteh yang keluar. Tenangkan saja ya Teh, Ua mau coba sesuatu. Mumpung itu si nenek lagi Teteh hajar. Ko, bacakan untuk mengikatnya bisa kan?" Tanya Ua ke Koko di samping.


"Bisa bisa. Tenang Teh hanya supaya Teteh nya rileks saja," kata Koko mengambil kuda-kuda. Merapatkan 2 jari tangannya dan membaca sesuatu.


Tiba-tiba seperti ada yang berusaha menentang tapi Rita alihkan dengan makan kue saja. Dan agak pusing, Bibi menambahkan air teh manis lalu kabur ke dalam dapur.


"Kita rundung yuk lawannya seru nih," kata ibunya Ryan semangat.


"Ehhh jangan jangan. Soalnya si nenek suka sengaja tukar posisi. Kalau kalian serang, yang kena pasti si Teteh. Berabe nanti, mana mau ruqyah juga kan nanti sama Koko," kata Ua.


Mereka semua agak kecewa padahal lawannya bakalan seru total. Ua lalu menyebarkan sesuatu di punggung lalu ke tangan.


"Kerasa tidak? Ini," kata Ua menunjuk sesuatu ke tangan.


Tatapan Rita sudah agak kesal menatap Ua. "Kerasa apaan," jawabnya ketus.


"Wahahaha datang lagi, Sensi sekali ya belum tahu saja lu penjaga saya lebih besar. Ayo keluar!" Kata Ua menekan tangan Rita.


"Ya?" Tanya Rita keheranan.


Mereka semua bengong.


"Nah, begini maksudku. Kita pojokan si nenek, nanti dia tukar sama Teh Rita. Makanya susah! Sakit Teh? Kerasa sesuatu tidak?" Tanya Ua menghela nafas.


"Ohhh ya ini mah kita sengaja saja mengancam supaya Teteh keluar, dia pasti sembunyi kan," kata Koko berpikir.


"Hmmmm ada rasa hangat terus dingin lagi," kata Rita.


"Bener! Berhasil nih. Bagus! Aku juga greget sama si nenek kovlok nih," kata Ua menghentikan kegiatannya.


"Teh, jangan ditahan kalau dalam diri Teteh ada yang mau meledak, keluarkan saja jangan malu. Disini banyak kok yang bisa gampar tuh nenek," kata Ibunya Ryan.


Yah, meskipun memang bisa tapi takut dan malu menyelubungi Rita.


"Sebentar aku mau cari rumahnya," kata Ua Mori.


"Rumah? Bagaimana caranya buat rumah?" Tanya Rita bengong.


"Ada dong Teh. Ya pasti aneh sih kenapa Teteh sampai dingin begini karena Aura Teteh dia tutup. AHA! Dapat!" Kata Ua Mori senang.


"Serius?" Tanya Ratih.


"Ckckck hebat juga tuh nenek peyot bikin rumah di tempat tersembunyi," kata Ua menggelengkan kepalanya.


"Kalem Teh, Kita tidak jahat kok. Inner Teteh disembunyikan dengan baik dan tertutup. Dia menculik inner nya jauuuuuh dari jangkauan Teteh. Makanya agak tidak ada hati atau kesannya jahat ke lelaki hahahah," kata Ua perempuan yang lain.


Rita hanya diam mendengarkan sedih iya, marah iya juga. Tuh nenek keterlaluan sekali.


"Teteh sekarang sudah bisa merasakan aura yang Ua masukkan berarti sudah mulai tidak dingin. Teh, kalau nanti rumahnya sudah hancur in sha allah, Teteh bisa merasakan sesuatu tapi melihat tidak mau ya?" Tanya Ua.


"Tidak. Spooky sih waktu SMP sudah cukup deh pengalamannya," kata Rita.


"Yah kasihan si Aa Malaysia tuh haha," kata Ibunya Ryan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2