ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(218)


__ADS_3

"Tahu saja. Soalnya beda, kamu serius sama sekali tidak bisa lihat? Padahal itu keluar lho waktu kamu bully Rita seperti yang melindungi Rita tapi bukan khodam. Makanya aku langsung tidak mau ikut lagi, kalau diteruskan lebih bahaya. Apalagi saat itu Rita juga pasti kan mendoakan kalau kita sudah menganiaya dia," kata Arnila.


"Ya karena kalian keterlaluan sampai harus seperti itunya banget buat kasih tahu aku. Aku bercermin kalian tidak seperti teman - teman aku," kata Rita.


"Iyalah kita itu berbeda. Kita lebih peduli, Rita," kata Ney dengan nada yang simpati.


"Peduli? Teman sejati itu tidak akan pernah membully temannya sendiri. Kalau kamu peduli, kamu tidak akan pernah berpikir kalau aku berkepribadian ganda atau hal semacam egois. Teman baik itu tidak akan pernah berpikir ke arah itu, yang mereka lakukan adalah mendoakan temannya bahagia. Bagi aku sih kamu seperti Palsu," kata Rita yang menertawakan Ney.


Arnila terdiam, dia baru tersadar kalau perilaku mereka tahun lalu memang sangat keterlaluan.


"Aku juga berpikir seperti itu sih Rita, kenapa gue jadi mencap lu tidak sempurna ya? Aku juga kenapa harus ikut - ikutan? Teman dekat kamu juga bukan. Nah gue heran kenapa sih lu seret - seret gue, Ney?" Tanya Arnila ke Ney.


"Ya. Ya lu kan kenal Rita juga terus sudah tahu masalah Alex," kata Ney berusaha membela dirinya intinya sih dia tidak mau tenggelam sendiri.


"Kan lu sendiri yang cerita soal Alex," kata Arnila yang sadar ada yang salah.


"Rita juga kan cerita ke lu ya sudah lu juga masuk," kata Ney.


"Aku cerita ke Arnila karena butuh pendapatnya bukan maksudnya seret dia ke dalam antara aku dan Alex. Kamu sendiri juga kenapa yang jadi kepo banget? Urusan Alex kamu selaluuu ingin tahu. Ada maksud apa sih?" Tanya Rita keheranan.


"Ya itu mah memang si Ney kepo banget, Ri. Dia kan penasaran kali saja bisa gaet Alex lagi. Begitu kan? Lu ngapain sih ribetin diri sendiri? Iri mah tidak akan ada ujungnya, rejeki orang kan beda - beda," Arnila menegakkan kaki sebelahnya yang pegal berdiri.


"Intinya ya Ney, sepertinya kamu harus lebih banyak belajar lagi soal pertemanan sehat. Karena yang aku lihat sih, kamu sepertinya tidak mengerti makna teman sendiri. Selain teman untuk pamer doang. Selain Arnila coba deh lu cari di luaran sana yang bisa tatap muka sama lu! Masa sih semasa kamu hidup temannya cuma sama Arnila? Aku saja banyak. Kemana - mana tidak sama kamu terus kok," Kata Rita yang memperhatikan detailnya Ney.


"Oh, jadi kamu selain aku punya teman lagi? Kok aku tidak tahu ya?" Tanya Ney yang terkejut tampaknya mendengar Rita memiliki banyak teman.


"Ya normallah. Aku juga yakin Arnila punya teman lain selain kamu. Punya?" Tanya Rita ke arah Arnila.


Arnila senyum. "Punya atuh. Kan aku juga manusia yang memerlukan banyak sosialisasi,"


"Siapa teman aku atau Arnila, kamu tidak perlu tahu. Aku juga tidak akan mengenalkannya sama kamu! Soalnya setiap aku kenalkan, kamu suka buat masalah. Jadi kamu tidak perlu kepo deh!" Kata Rita dengan berkacak pinggang.


"Jadi maksud kamu cuma aku saja yang tidak punya? Banyak tahu! Mana kamu bisa tahulah, orang aku kan kalau keluar rumah kapan saja," kata Ney bete.

__ADS_1


"Ya baguslah aku kira kamu tidak punya teman soalnya selalu yang aku lihat Arnila lagi Arnila lagi. Oh iya teman - teman kanu itu yang grup Sosialita ya?" Tanya Rita baru ingat.


"Nah iya yang itu. Jadi aku juga punya teman banyak," kata Ney sambil memainkan gantungan ponselnya.


"Hmmm teman - teman palsu semua ya. Kamu tidak minat untuk mencari teman yang asli? Teman yang seperti itu mah ada kalau kamu banyak uang saja," kata Rita yang langsung to the point. Arnila mengeluarkan ekspresi datar tapi dia setuju.


"Sudah deh bukan urusan kamu. Kan aku juga tidak ganggu urusan kamu sana teman - teman kamu," kata Ney sebal.


"Lagi pula kalau kamu ganggu mereka juga teman - temannya Rita kan galak semua. Baru Rita saja yang kamu temui belum yang lainnya," kata Arnila menebak.


Ney menganga mendengarnya lalu melihat ke Rita yang tertawa keras. "Seriusan teman kamu galak semua?"


"Kalau menghadapi orang yang Fake, galak banget! Aku tidak bilang juga semuanya langsung mengerti, aneh juga. Hahahaha!" Kata Rita sambil menggarukkan kepalanya.


Ney berpikir mendengar kata - katanya Rita, 'mereka bisa langsung tahu apa jangan - jangan teman Rita juga punya kemampuan yang sama? Tapi dasar Ritanya saja yang memang polos banget berpikirnya. Kalau begitu sih lebih baik jangan sampai bertemu dengan mereka'. Pikir Ney.


'Itu sih karena kamu tidak peka saja. Hadoh mereka bisa langsung mengerti permasalahannya karena kamu dengan mudahnya bercerita. Sepertinya aku tidak perlu khawatir, teman - temannya bisa lebih menerima Rita daripada kami. Masalah aku yang ikut berpikir Rita begitu itu semua karena...' pikir Arnila yang melirik Ney di sebelahnya yang sedang menatap Rita.


Ney mendengar apa kata Arnila tapi dia merasa tidak bersalah atau bisa jadi menyadari salah tapi tidak mau mengakui. "Aku hanya ingin yang terbaik untuk Rita. Kamu tahu tidak sih Alex itu berasal dari keluarga paling terpandang di negara Malaysia dan Jepang. Pokoknya keluarga Alfarizki itu paling ter ter deh! Ya aku sih malu saja kalau melihat Rita seperti itu perilakunya jadi sebisa mungkin aku mau mengubah dia menjadi lebih baik,"


"Nah itu salahnya. Pantas Rita bilang kamu Palsu karena kamu lebih memikirkan soal pandangan keluarga Alex. Dan yang seharusnya memikirkan soal itu bukan kita tapi keluarga Rita, kita tugasnya cukup mendukung apa yang Rita lakukan. Kalau Rita salah, kita benarkan. Ya salahlah! Aku saja baru sadar!" Arnila menyilangkan tangan dan berhadapan dengan Ney.


"Habis Alex bilang kan ke kita semua bertindak begitu..." kata Ney.


"Ya kamu pikir dong katanya teman tapi kok setuju dengan yang Alex suruh? Kalau kata aku sih, Alex juga sudah dari awal menguji kamu, aku dan Rita. Ternyata kamu lebih mendukung ide dari orang lain daripada Rita yang sudah kamu kenal lama. Menurut aku sih Alex sudah tahu sebenarnya kamu orangnya seperti apa," jelas Arnila yang membuat Ney mengusap wajahnya.


"Kok gue terus sih yang diuji sama dia?" Tanya Ney kesal.


"Ya kamu kan paling bobrok bukannya bela Rita malah kamu banyak menyalahkan. Yang seharusnya malu itu Rita bukan lu! Lu klaim Rita sebagai sahabat, tapi lu juga yang jelekkin dia jatuhin dia secara langsung. Tahu tidak kamu, Rita itu berharap penuh percaya sama kamu, kalau Rita itu ingin kamu sudah tahu dia seperti apa. Yang aku baca dari isi hatinya Rita, dia sudah pasrah malas banget kecewa iya, ada kemungkinan hubungan kamu sama Rita nanti menjauh banget!"


Ney membeku mendengarnya. Karena kesalahan dari taktiknya yang bermaksud baik pada Rita malah membuat dirinya semakin menjauh. Dia bingung bagaimana harus memperbaikinya mulutnya terus mengeluarkan kata - kata yang menyakitkan. Dan dia sadat bukan hanya Rita tapi juga ke orang lain. Yang sebenarnya butuh ditemani adalah dirinya, tidak terbayangkan bagaimana dia akan berakhir sendiri.


"Sekarang kalau bisa, kamu perbaiki kebiasaan mulut kamu yang selalu mengeluarkan kalimat menyakitkan. Karena kamu sering begitu bukan hanya pada Rita tapi semua teman - teman kita. Daripada nanti kamu dapat kejadian yang tidak mengenakkan hasil dari kelakuan kamu, sama Rita kamu harus benar - benar menjadi orang yang baik. Jangan sampai kamu ulangi perbuatan kamu yang kemarin, banyak menyalahkan karena kamu juga banyak salahnya," kata Arnila yang berusaha membuat Ney berjanji.

__ADS_1


"Nih ya aku sampai sekarang baik - baik saja kok, tidak ada yang terjadi. Itu sih kamu saja yang terlalu baperan! Sudah ya aku mau masuk ke toko emas sana! Kamu lebih baik diluar saja deh, cape gue dengar omongan lu!" Kata Ney dengan kesal, dirinya lalu menuju toko emas itu sendirian.


Beberapa orang memperhatikan mereka berdua lalu beranjak pergi. Arnila hanya menghela nafas dengan sedih, omongannya padahal adalah peringatan penting bagi Ney. Arnila mencari Rita yang ternyata sedang membeli beberapa roti dan kue tart. "Yang satu kepo, yang satu senang kuliner,"


"Nil, mau?" Tanya Rita yang menawarinya pilihan roti atau kue cheesecake. "Kamu banyak makan ya tapi tetap kurus," kata Arnila yang memilih kue. "Tidak apa - apa aku pilih ini?"


"Iya silakan saja. Hehehe kalau sedang stres atau depresi aku lebih memilih banyak makan. Stres karena teman kamu satu sama yang ada di media sosial. Lebih baik makan yang bergizi daripada nyapu kan," kata Rita yang melahap roti croissant isi kejunya.


"Nyabu. Nyabu - nyabu seafood kan ada, Ri," kata Arnila. Mereka lalu tertawa dan duduk didepan toko emas.


Rita sempat melihat Arnila dan Ney yang tampaknya Arnila banyak memberikan ceramah pada Ney tapi sepertinya Ney tidak mau mendengarkan. Pastinya juga masalah yang soal kemarin lalu.


"Dia bagaimana ya, Ri? Aku sudah berkali - kali kasih peringatan tapi ya gitu malah pergi begitu saja. Dia tadi juga bilang sudak capek dengar omonganku," Kata Arnila dengan suara yang sedih.


Rita yang asyik mengunyah makanan mengerti. "Biar Allah SWT yang urus, Nila. Hatinya sudah tertutup yang dia pegang hanyalah semua omongannya yang tampak benar buat dia. Aku sudah tidak mau berpikir apapun soal Ney lagi. Aku tahu kok sebenarnya dia tahu salah tindakannya tapi dia tidak mau mengakui. Menurut kamu siapa yang egois?" Tanya Rita dengan mulut yang penuh.


"Iya juga ya kamu selalu mendengarkan dan menerima justru yang egois itu dia sendiri," kata Arnila yang memandang ke arah Ney dalam toko.


"Dia sendiri tidak pernah merasa kan? Orang egois itu ya seperti itu, dia lebih menganggap kata - katanya selalu benar. Aku? Kamu juga pasti tahu aku bilang ini itu karena memang ada dasarnya. Aku banyak membaca entah di majalah, internet, koran soal apapun jadi bukan hanya omong kosong. Ya kamu baru sekarang sadar ya bagus daripada nanti mah sudah telat," kata Rita yang menawarinya makanan lagi.


"Kamu beli berapa sih? Perasaan dari tadi kamu kerjanya makan mulu?" Tanya Arnila yang penasaran akhirnya dia membuka kantong rotinya. Terkejut jumlah di dalamnya, Arnila menutup lagi.


"Lagi kesal kan? Nih ambil lagi saja. Aku juga tahu kamu kesal ke aku karena nyalahin Ney atau kamu. Tapi aku tidak akan melawan kalau tidak ada masalah. Aku pikir kamu lebih tahu tapi ternyata mudah dimasuki omongan salah," kata Rita yang selesai mengunyah.


"Maaf ya. Sepertinya saat itu kedua mataku ditutup tidak bisa berpikir dan melihat kebenarannya," kata Arnila sambil memegang kedua tangannya dab menunduk.


"Yah, ini bisa kita pegang sebagai pembelajaran ya. Soal Ney biarlah dia menabung semua kesalahannya sampai meledak! Aku sudah angkat tangan juga soal masalah dia sama Syakieb. Masalah ini yang terakhir kalinya aku bantu dia. Tapi serius 'itu' ada campur tangan juga?" Tanya Rita ingin lebih meyakinkan karena dia tidak bisa melihat apa yang Arnila bisa.


"Iya. Kamu tidak merasakan ada suatu dorongan? Kata Ney juga kamu ketempelan. Kamu tahu? Kamu marah - marah tahun lalu itu sebagian diakibatkan oleh Jin yang nempel sama kamu," kata Arnila.


Rita kaget. Ada jin nempel!? "Ah, serius!? Iih kok celem ya," kata Rita memasang wajah yang cemas. Dia sama sekali tidak tahu apalagi perihal dia pernah meledak ke arah mereka.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2