
"Ya Allah, ini contoh deh Rita. Sebut saja kenapa sih?" Tanya Arnila yang belum bisa berhenti tertawa.
"Contoh saja ya," balas Rita.
"Iya," jawab mereka berdua.
Ney yang tadinya super kepanasan membaca jawaban Rita ada benarnya juga sih. Kalau tidak bisa menyetir mobil untuk apa juga dikasih?
"Tidak tahu ah kan aku tidak hapal nama mobil," kata Rita keheranan. Kenapa juga sih si Ney memaksa sekali soal mobil?
Keduanya kini kembali tertawa membaca respon Rita.
"Astaga!!! Begini saja deh pilih nih antara Hyun, Daihat, Honhon atau Suyuki? Tuh pilih yang mana," kata Ney memberikan pilihan.
"Hah? Itu menurutku bukan mobil mewah deh. Itu mah merk yang biasa kali," kata Arnila kaget dengan pilihan yang dibuat Ney.
"Ih, masa itu mobil mewah Ney? Level pengetahuan kamu hanya segitu?" Tanya Rita heran. Yah pastinya sengaja sih supaya Ney tahu levelnya Rita se gimana.
"Ya menurut aku itu mahal kok dengan gaji kamu sebagai guru kan tidak akan mampu bisa beli," kata Ney yang secara langsung mengejek gajinya.
"Apa urusannya Ney sama gaji Rita? Kan ini soal Alex. Jangan dengarkan Ney deh Rita, dia begitu karena iri. Kan kamu yang disukai Alex bukan dia," kata Arnila yang langsung menonjok hati Ney.
"Jadi kamu pilih yang mana tuh?" Tanya Ney tidak sabaran.
"Tidak mau ah, aku tidak suka dengan mobil yang atapnya pendek. Kalau mobil mewah yang aku suka, yang besar, tinggi dan warnanya hitam," kata Rita.
"Widih! Sebentar sebentar sejenis Toyyo Alfa ya?" Tanya Arnila menebak.
"Nah itu! Itu kan badannya besar ya," kata Rita membayangkan.
"Iya Rita dan keren sekali," kata Arnila melihat penampakannya.
"Ohhh Alfa. Sepertinya tidak mungkin deh kamu bisa mendapatkan itu," kata Ney agak panas membara.
"Ya mungkin saja kalau sayembara itu masih ada. Iya kan, Ri," kata Arnila sengaja.
"Beneeer nanti deh aku coba tanya," kata Rita ingin tahu juga.
Ney sebal sekali menurutnya Arnila sengaja membuatnya iri kepada Rita.
"Alasan kamu suka alfa apa?" Tanya Ney yang agak tidak heboh lagi.
"Coba tebak," kata Rita ingin tahu jawaban dari Ney.
"Aku yakin karena harganya yang ratusan juta kan. Ya kalau kamu begitu sih tidak jauh beda sama aku yang mentingin uang," kata Ney dengan sok tahu.
"Kalau Arnila?" Tanya Rita yang tidak mau lagi terlalu peduli dengan ucapan Ney.
"Kalau aku sih mikirnya kenapa kamu ke Alfa karena mementingkan badan kamu kan. Kalau mobil pendek, otomatis kamu duduknya harus ke depan lalu kaki kamu juga panjang. Pasti tidak nyaman kan," tebak Arnila.
"Masa sih karena itu doang?" Tanya Ney tidak percaya.
"TEPAT! Katanya kamu sudah kenal aku luar dalam? Mana? Aaah tukang bohong, yang kamu tahu itu hanya luaran. Kalau harga tidak pernah bohong ya," kata Rita.
__ADS_1
Memang sih Arnila tampak lebih mengerti Rita tapi Rita tidak ingin sampai terjebak lagi seperti pada Ney. Menurut Rita mau Arnila atau Ney ya sama saja orangnya juga sama begitu. Benarlah kalau keduanya sama-sama toxic.
Ney memijat keningnya memang dia tidak pernah bisa tahu Rita seperti apa orangnya. Selama kenal Rita, bukan Ney tidak mau tahu tapi dia selalu menebak Rita dari isi pikirannya. Karena tidak ada yang bisa dia ambil, membuatnya buta.
"Ohhh karena itu ya aku kira dari harga," kata Ney.
"Ya wajarlah kamu bisa membeli merk mobil yang tadi kamu sebutkan. Tapi itu akan buat kaki aku pegal. Yang aku utamakan justru memang keadaan diri aku bukan uang," jelas Rita.
"Da kamu mah orangnya kan apa-apa lihat dari harta ya atau fisik. Padahal selain itu masih banyak kok yang lebih penting. Aku sudah tahu itu sedari dulu," kata Rita membuat Ney diam.
"Mobil SUV atau MPV ya Rita. Pokoknya mobil yang besar-besar kan ya. Bagus ya nih fotonya," kata Arnila mengirim ke grup.
Ney dan Rita melihat foto mobil itu. Ney hanya jutek namun membuatnya kepanasan kalau memang Alex mampu membelikannya, Ney pasti gigit jari.
"Ita Nil, kalau mobil yang disebutkan sama Ney kan itu termasuk yang membuat kaki pegal. Tapi kalau kata aku sih sayembara itu saat dia masih remaja kan. Kalau sekarang pasti berubah lah," kata Rita.
"Iya benar lagian kamu kan kenal sama Alex baru ya jadi tidak mungkin," kata Ney.
"Eh, mereka sudah berjalan 2 tahun lho sekarang menuju 3 tahun. Aku doakan kamu sama dia berjodoh ya hohohoho," kata Arnila dengan senang.
Ney langsung gelisah biasanya kalau Arnila sudah sampai mendoakan orang, selalu terjadi. Dan memang benar hubungan Rita dan Alex sudah berjalan menuju 3 tahun.
"Menurutku jangan deh. Dia itu sulit lho terus orangnya kan begajulan sekali. Nanti kamu banyak menderita lho," kata Ney berusaha membuat Rita menjauh.
"Ya sama siapapun juga menderita kalau hanya main-main saja Ney. Kalau kata aku sih Alex serius kok sama Rita. Sekarang usianya kan sudah bukan 20an. Dia masuk ke 27 kan ya," kata Arnila menghitung.
"Makasih doanya tapi itu gimana Allah saja. Kalau nanti ketemu, akan aku balas perbuatannya," kata Rita dengan tekad.
"Mereka akan bertemu kok karena tekad dari Alex nya kuat sekali meskipun banyak penghalang, banyak kecewanya. Saat bertemu, kalian jadi romantis terus bodoooor," kata Arnila membayangkannya.
"Wah," kata Rita. Rita tidak tahu seperti apa Arnila. Soal kemampuan meramalnya pun sama sekali tidak tahu.
Ney kemudian menyesal. "Rita, nanti kalau kamu ketemu sama dia kasih tahu aku ya," kara Ney.
"Hah? Untuk apa?" Tanya Rita sebal.
"Ya aku juga mau ketemu sama dia dong. Jadi nanti kita bisa jalan-jalan bertiga deh," kata Ney dengan senang.
"Tidak mau. Kamu tidak akan pernah tahu saat aku ketemu dia nanti. Yang akan aku ajak untuk ketemu dia ya adik aku dong. Apa urusannya juga sama kamu. Perundung diam saja deh," kata Rita mantappp.
"Iya Ney, jangan suka ikut campur dan buat onar deh. Menyesal kan hasilnya coba kamu dari awal Alex ajak merundung, kamu bisa berpikir dewasa. Soal merundung karena jin jun di Rita juga harusnya bisa kamu tanggapi dengan pikiran terbuka," kata Arnila.
"Baca!" Kata Rita.
"Salah sih coba dari awal kamu tidak menggangap Rita sebagai saingan. Rugi Ney sekarang Rita dengan Alex, yang beruntung siapa? Ya teman dekat dia, sahabatnya yang selalu ada. Tidak memilih dalam perilaku baik dan buruk. Kamu harus banyak belajar lagi soal kehidupan," kata Arnila puas memberikan ceramah.
Ney menahan perihnya ceramah dari Arnila. Segalanya sudah terlanjur tenggelam. Ney tahu Rita akan menjauhinya nanti bahkan tidak akan ada kabar. Yang bisa dia lakukan hanyalah menyaksikan masa kebahagiaan Rita.
"Rita kamu tidak mengerti soal aku," kata Ney mengetik sambil menangis.
"Kamu ada penjelasan soal diri kamu? Nothing. Aku dari SMP ya menunggu kamu banyak kisah, tidak ada kecuali soal keluhan dan keluhan. Itu kamu sendiri yang mencari masalah," kata Rita.
"Kalau kamu membahas itu sekarang, menurut aku sudah berbeda ya. Karena Rita dengan Alex lalu kamu mulai ingin mengubah pandangan. Susah! Karena dari diri kamu, hanya ingin diperhatikan, kamu yang jadi pusat kepercayaan. Jangan deh," saran Arnila.
__ADS_1
"Sudah Ney jangan bilang ini itu membuat aku jadi pihak yang disalahkan. Kalau kamu mulai berubah karena ada Alex, lebih baik urungkan niatmu. Lihat Dins, dialah kini yang harus menjadi arah kiblat kamu bukan Alex," kata Rita.
Ney menangis sejadinya. Dia menyesal sedalamnya, banyak sekali ulahnya yang membuat Rita lebih tidak bisa dihargainya. Dari kesedihan Rita akan keluarganya, kalau saja saat itu dia lebih terbuka lagi merangkul Rita.
Rita yang selalu mengorbankan waktu untuknya tapi tidak ditemani saat Rita membutuhkan pendukung. Malah membuatnya semakin jatuh dan akhirnya berpaling untuk mencari teman lain.
Saat Rita menemukan kenyamanan pada temannya yang sekarang, Ney menyadari kekosongan nya tidak ada kehadiran Rita yang selalu ada di sampingnya. Membuatnya kaget saat bertemu temannya selalu berbeda, menyangka Rita sama dengan dirinya ternyata tidak begitu.
Sampai sekarang sahabatnya semakin banyak, selalu ada untuknya. Yang paling membuat Ney panas dan iri adalah melihat saat Rita jalan-jalan dengan sekelompok temannya yang pernah dia lihat. Termasuk Komariah dan Diana yang paling dekat dengan Rita.
Ney menyesali semuanya, dia terlalu banyak prasangka pada Rita. Merendahkannya dengan sebagai, Ney pun tahu kalau Rita sakit hati kepadanya namun dia tidak perduli.
Ney berbuat begitu sebagai hukuman untuk Rita karena telah meninggalkannya. Namun di saat bersamaan muncul Alex, yang selalu membuat Rita tertawa. lagi-lagi Ney terkejut setelah tahu latar belakang Alex.
Bertubi-tubi dirinya mengganggap lebih dari korban atas pengkhianatan Rita. Sebenarnya dialah yang begitu. Melihat Rita yang cuek dan bisa makan di sembarang tempat sebenarnya membuatnya malu. Tapi Ney tidak pernah berkaca bahwa perlakuannya kepada Rita lebih membuat Rita sakit.
Ney menghapus air matanya dia kemudian menjadi dirinya lagi yang tidak menyukai Rita dekat dengan Alex.
"Lihat saja bulan depan aku akan punya mobil SUV," Kata Ney.
"Yayaya," balas Rita dan Arnila.
Ney kesal reaksi mereka tidak sesuai keinginannya lalu dia mencoba mencari tahu akun Pacebuk nya Alex. Ney melihat dengan seksama benar saja kalau nama akunnya berbeda.
Ney memijat keningnya, ternyata apa kata Rita benar kalau saja dia lebih teliti lagi membacanya, tidak akan kehilangan semua foto Alex.
"Kamu punya semua foto Alex apa gunanya sih?" Tanya Rita.
"Ya ada dong gunanya. Masa aku harus kasih tahu kamu sih?" Tanya Ney dengan jutek.
"Apa?" Tanya Rita.
Dengan penuh emosi Ney membalas tanpa dipikir dulu. "Ya kalau kamu jadi sama dia, aku kan bisa memperlihatkan bukti kalau aku kenal dekat sama dia. Terus aku juga bisa bilang sebagai sahabat kamu juga,"
Rita lalu menyimpan perkataannya Ney. "Ooooooo jadi itu ya tujuan kamu. Akhirnya bicara juga,"
Ney yang membaca lagi tersadar lalu menghapusnya berharap Rita dan Arnila belum membacanya.
"Kamu lihat kan?" Tanya Rita.
"Ho oh. Jadi memang tidak ada kemurnian hati ya berteman bagi kamu itu. Hanya agar kamu bisa mendapatkan pamor saja," kata Arnila yang juga sangat kecewa.
"Apa sih? Aku tidak mengerti deh ya maksud kalian," kata Ney.
"Ini lho," kata Rita mengirimkan perkataan Ney tadi. Sudah tahulah pasti akan dihapus. "Untung sudah aku simpan balasan kamu Ney. Hmm sudah kuduga sih memang benar kamu tidak membutuhkan teman dalam hidup ya," kata Rita yang sudah terbiasa.
Ney kaget ternyata mereka berdua sudah membacanya. "Bukan bukan. Itu salah kirim," kata Ney mencoba membela diri.
"Salah kirim? Masa sih? Kalau salah kirim kamu bilang begitu pun ya sama saja, Ney. Kamu itu Fake. Mendekati orang, berlagak kenal hanya kepentingan kamu sendiri. Gila parah sekali!" Seru Rita menggelengkan kepalanya.
"Kok aku merasa kecewa sekali ya?" Tanya Arnila yang membacanya.
Bersambung ...
__ADS_1