ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
435


__ADS_3

"Lho Teteh kok bisa tahu? Dari mana?" Tanya Paman Ryan keheranan.


"Dari komik kan ada cerita soal medium gitu," kata Rita.


Semuanya terdiam lalu tertawa.


"Teh Rita suka baca buku komik memang sih sebagian isinya benar kan Ua?" Tanya Ratih tertawa.


"Ohh Teteh suka komik. Banyak ya komiknya di rumah sampai 1 lemari penuh," kata Ibunya Ryan.


"Kok tahu?" Tanya Rita.


"Tahu doong," kata ibunya senyum.


Yah... karena aliran mereka seperti paranormal pastinya banyak tahu soal pasiennya tidak perlu diceritakan pun ya pasti kelihatan. Koko juga sama.


"Mau tidak? Gratis sok perkenalan," kata Omnya. Tapi membuat Rita agak seram juga yang dia baca dalam komiknya pasti memang seram.


"Hmmm sepertinya tidak, Om eh Ua.. Ruqyah saja takutnya nanti berubah jadi Spiderman. Bisa susah tidur," kata Rita menolak. Mana uangnya juga untuk keperluan ruqyah.


"Jangan jangan Teteh ini parnoan orangnya. Sudah ruqyah saja," kata Ua Mori memotong.


"Oh hahaha ya sudahlah lebih baik Ruqyah kalau nanti sudah sama Ua Mori dibantu," kata Omnya Ryan.


"Ruqyah yang tadi saja sudah spooky apalagi medium," kata Rita menghela nafas.


"Ko, bisa sendirian?" Tanya Ua Mori agak khawatir.


"Memangnya sulit?" Tanya Koko berbisik.


"Ya lumayan. Terus kan... Koko logika, Teteh ini pakai Feeling. Sama temannya yang nyablak saja jadi mumet. Bagaimana?" Tanya Ua.


"Yaa saya usahakan supaya tidak terlalu nyablak deh," kata Koko menggaruk kepalanya.


"Gini saja deh kalau kamu ada perasaan seperti susah menjelaskan daripada marah tidak jelas, panggil Ua. Kamu bisa telepati kan?" Tanya Ua.


Koko tampak lega sekali. "Bisa bisa, Ua. Saya masih pemula sih. Kalau begitu kenapa tidak Ua saja yang ruqyah? Yang saya lihat kekuatan Ua lebih besar,"


Ua Mori menggelengkan kepala. "Tidak ah kan kamu duluan yang lihat dia perlu bantuan. Lagian kalau Teteh sama Ua diurusnya, mahal hehehe," kata Ua menepuk bahu Koko.


Koko kaget dan menganggukkan kepalanya. Lagipula pasti bisa.


Sekitar jam empat sore Tyas dan keluarganya datang dan tidak menduga Rita ada disana.


"Wah, Teh Rita ada disini toh. Kok?" Tanya Tyas salim kepadanya.


"Eh, Tante," kata Rita salim pada tante ibunya Tyas.


"Rita sama siapa ke sini?" Tanya Tante Nina keheranan.


"Sendirian. Iya, Tyas mau di ruqyah sama Koko," kata Rita senyum.


Mereka semua kaget soalnya sangat jauh tentang keluarga Rita tapi Tante Nina mengerti karena kemampuan Koko. Tapi melihat Koko tersenyum, yah tidak bisa bicara apapun lagi.


"Wah, Ko tumben Teh Rita jadi pasien Koko?" Tanya Tante Nina.


"Iya," lalu diceritakan lah semuanya oleh Ratih beserta Koko sendiri.


Tante Nina kaget sekali kalau ada jin jun menempel pada Rita. Bahkan kepribadian Rita juga berubah, kalau sekitar saudara memang tidak ada yang berubah hanya dalam keluarga saja.


Tyas lalu duduk bersama Rita dan mengobrol. Rita juga merasa heran tapi dijelaskan kalau Koko dapat penglihatan.


"Wow! Pokoknya keren deh kalau ruqyah sama Koko, Teh. Terus... Koko ganteng kan hehehe," kata Tyas berbisik.


"Iya iya," kata Rita.


Wah! Kalau Alex seganteng Koko sih siapa yang tidak akan lumer ya. Rita terus menatap Koko membuat Alex langsung menghujani Koko pandangan galak. Koko meraba lehernya dan agak merinding.

__ADS_1


Ua Mori beserta keluarga hanya tertawa.


"Gantengnya sama dengan Alex," gumam Rita.


"Alex? Cieee siapa tuuuh ayo cerita. Rahasia," kata Tyas tertawa sambil bisik-bisik.


Lalu Rita ceritakan semuanya termasuk soal perasaan buruk terhadap teman toxic nya, yaitu Ney. Tyas mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Yah, Teh menurut Tyas sih dari cerita Teteh. Ney orangnya bukan tipe orang yang bisa diajak berteman. Soalnya dari lama orangnya memang iri sekali. Kok Teteh mau sih temenan sama dia?" Tanya Tyas.


Diceritakan lagi penyebabnya. "Teteh takut salah perasaan selama ini. Makanya mau coba tanya ke Koko bagaimana baiknya. Takut salah kan," kata Rita.


"Iya sih. Ya coba saja tanya tapi kalau kata Tyas lebih baik cut dari sekarang. Karena orangnya punya efek tidak baik ke Teteh," kata Tyas.


"Terus Tyas ada perlu juga sama Koko?" Tanya Rita.


"Hehehe iya, ada yang mau ditanyakan. Teteh kapan ruqyah nya?" Tanya Tyas.


"Harusnya tadi hanya mundur. Saudaranya dari pihak Ryan ada yang diruqyah," kata Rita menunjuk ke anak perempuan yang sekarang sedang mengobrol.


"Ooh yang itu. Ngeri sekali Teh yang nempel nya. Teteh sudah tahu?" Tanya Tyas sambil memandang ke arah sana.


"Menyeramkan sambil teriak terus bicara," kata Rita. Mereka lalu bercerita mengenai saudaranya itu.


"Itu sudah lama lebih lama dari Teteh dari kecilnya suka main sendirian heran saja kok orang tuanya tidak perhatian," kata Tyas penasaran.


"Sibuk mungkin," kata Rita seenaknya.


"Jadi besok Teteh ruqyah? Hmmm teman Tyas juga ada yang mau di ruqyah sih," kata Tyas mengontak temannya.


"Tyas, Teteh dulu ya soalnya sudah kena geser," kata Rita.


Tyas tertawa. "Kalem Teh, teman Tyas agak siangan kok,"


Koko lalu datang dengan wajah yang ceria lagi tampaknya sudah berjanji sesuatu dengan Ua Mori.


"Alhamdulillah, Ko. Wah tidak menyangka Teh Rita di ruqyah sama Koko. Pokoknya mantap deh Teh. Bersihin Ko semuanya," kata Tyas mengacungkan jempol.


"Hahaha mantapp besoknya langsung semangat! Besok ya di ruqyahnya soalnya takut kemalaman kan. Lalu Tyas mau ada konsul?" Tanya Koko duduk dengan santai.


"Oh iya Ko. Eh, Teh, Tyas juga sudah di ruqyah sama Koko bulan lalu," jata Tyas tertawa.


"Serius?! Wah! Yaa tidak heran sih memang perlu," kata Rita.


"Oh, Teh Rita tahu kalau kamu ada sesuatu?" Tanya Koko.


"Tahu dong, Ko. Soalnya keluarganya Teh Rita juga ada yang kirim kan ya," kata Tyas.


"Wah! Berarti sudah lama juga dong. Pantas Ua nanya aku bisa tidak kalau sendirian," kata Koko garuk kepala.


"Memangnya berat? Ruqyah yang Teh Rita?" Tanya Tyas sambil tertawa.


"Ya kalau sampai ditanya sama Uanya Ryan begitu berarti kasusnya berat. Yah, kita coba saja ya besok. Terus masalah kamu apa, Tyas?" Tanya Koko.


"Kalau begitu, aku ke sana dulu deh biar leluasa curhatnya," kata Rita beranjak pergi.


"Eeeh jangan. Tidak apa-apa Teh bukan pribadi kok. Sekalian supaya Teteh juga tahu," kata Tyas.


"Oke deh," kata Rita yang akhirnya hanya menyimak.


"Ngomong-ngomong, Ko. Kenapa kedua matanya sembab?" Tanya Tyas memperhatikan.


"Teh Rita tadi curhat sedih. Sok sekarang Tyas mau curhat apa?" Tanya Koko mengelap kedua matanya.


Kemudian Tyas menanyakan banyak perihal soal dirinya sendiri dan temannya lalu Koko memberikan saran. Sebenarnya Rita ingin ke ruang depan tapi Koko menyarankan disana bersama mereka.


Rita lihat juga ada Ua Mori yah lebih baik dengan Koko sajalah. Karena mereka mengobrol agakserius akhirnya Rita mengontak Alex dimana ingin tahu apakah benar yang dikatakan oleh Koko.

__ADS_1


"Woi!" Kata Rita dalam chatnya.


"Sudah selesai?" Tanya Alex gelisah. Dia tidak suka kalau Rita duduk agak dekat dengan Koko.


"Mana ada ini lagi konsultasi," kata Rita sebagai pembukaan.


"Oh.. kapan selesainya laaa," kata Alex yang mondar mandir. Apa mau dikata kehadirannya disana sebagai rawah gentayangan.


"Besok ruqyahnya," kata Rita.


"Hahhh kenapa diundur laa," kata Alex agak sebal.


"Ada yang ruqyah duluan laaa," balas Rita.


"Ih, ikut-ikutan. Cerita kamu membuat aku sedih laa," kata Alex tertawa.


"Suruh siapa mengintip laaa," kata Rita sebal.


Alex tertawa lagi, tahuuu saja kalau dirinua sedang kesal. Tapi Rita sendiri sama sekali tidak memikirkan apapun.


"Ua Mori tahu keberadaan kamu. Duduk dimana?" Tanya Rita. Kalau tahu pasti dia lempar barang.


"Sebelah kamu. Hmmm ada yang mau kamu tanyakan?" Tanya Alex tahu.


"Nama kamu benar Alex Haryaka?" Tanya Rita akhirnya.


Alex terdiam. "Iyalah, kenapa?"


"Ini akun kamu atau kakak kembar kamu?" Tanya Rita memfoto sebagian akunnya Alex.


"😳😳😳😱😱😱," balas Alex dengan emot.


"JAWAB KAMVRET!" Kata Rita mulai marah.


Koko terdiam dan pindah duduknya. Merasakan aura mengancam dari badan Rita.


"Itu... aku... laaa kata siapa itu... orang lain," jawab Alex gugup sambil menggebrak mejanya sendiri. Untung di kamar bukan tempat kerja.


"JANGAN BOHONG! MAU AKU BLOKIR LAGI? Ada yang memberitahukan," kata Rita lalu mengendalikan marahnya.


"Kamu tahu dari manaaaa," kata Alex kebingungan.


"Orang yang mau ruqyah aku tahu kamu siapa. Dia bilang kalau foto ini bukan kamu tapi kembaran kamu. Dasar penipu!" Kata Rita sambil makan kue.


"Kenapa dia kasih tahu kamu sih? OPS!" Kata Alex membenarkan.


Rita terdiam tidak membalas lagi. Rasakan!


"Rita? Rita? Halooooo. Kalau kamu tidak balas, aku blokir akunku, jadi tidak akan bisa chat," ancam Alex. Menganggap Rita akan kembali. Tapi tidak. Rita masih menyimak soal konsul Tyas.


"Ok ok ok iya itu kakak kembar aku. Aku minta maaf!!" Kata Alex mengigit jarinya ternyata Rita benar marah kepadanya. Dan sekarang dia menyesali segalanya telah membohongi Rita.


"Kamu mau aku kenal denfan yang sudah mati? Kamvret!" Kata Rita.


Alex menggigit bibirnya. Ah ya, dia membuat Rita marah lagi. Kalau semakin marah, tidak mungkin juga Rita mau bicara dengannya.


"Supaya kamu kenal saja. Banyak perempuan yang lebih memilih dia daripada aku," kata Alex.


"Bukan begitu caranya dasar TuTi!" Seru Rita.


"TuTi? Apa itu? Nama aku Alex bukan Tuti," kata Alex.


"Tukang Tipu!" jawab Rita membuat Alex terdiam.


TuTi tidak ada dalam kamus negara dan dunianya. Bahasa slank juga tidak ada hanya Indonesia yang punya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2