
"Rita, aku itu sudah tidak sanggup lagi makanya tadi aku kelepasan nampar dia. Mana dia bilang kamu pakai tidur sama jin segala, haah dasar gila! Aku sebenarnya sama sekali tidak mau tapi kok lama kelamaan dia malah semakin seenaknya mengatai kamu," kata Diana dengan kedua matanya yang memerah karena sedih.
Ney sama sekali tidak bisa membedakan keadaan nyata dan keadaan alam lainnya, dia anggap semua orang akan mengerti maksud dari penglihatannya padahal kalau dia tahu lebih banyak orang yang beranggapan itu hanyalah ilusi. Yah, meski ada orang yang bisa melihat kenyataannya pun mereka tidak akan membuka aib orang lain.
Annisa lalu datang menghampiri Diana dan berjongkok di depannya. "Biarkan saja Mbak, lagipula dari awal juga dia duluan yang cari gara - gara semoga saja dengan kejadian sekarang, tuh orang tidak macam - macam lagi dengan Rita. Kita saja kaget kok berani banget dia bully Rita hanya karena alasan sepele?"
"Iya setuju yang seharusnya mengurusi soal perilaku kan bukan kita tapi keluarga Rita, lagian ini kan masalah pertemanan bukan tunangan atau yang lain. Kok bisa - bisanya dia sok tahu begitu, selama ini kita juga melihat jelas perilaku Rita baik - baik saja. Dia itu kelihatannya menurut aku mencari cara untuk melampiaskan kekecewaannya," kata Linda.
"Kecewa karena apa? Kok jadi aku sih yang harus kena lampiaskan dia?" Tanya Rita kesal.
"Ya bisa jadi dia ada masalah sama pacarnya, keluarga, adik kakaknya sendiri, bahkan dengan temannya yang lain, Rita. Makanya kita peringatkan lebih baik jangan dekat sama dia karena dia tipe orang yang kalau kecewa sama kesalahannya sendiri, dia akan menyalahkan dan melampiaskan pada orang yang terdekatnya," kata Tamada menjelaskan.
"Tapi Rita bukan teman dekatnya lho jadi kenapa?" Tanya Siti heran.
"Ya pokoknya begini, SIAPAPUN yang dia kenal dan dekat meski bukan seorang teman atau sahabat pun pasti dia melampiaskan. Begitu saja ya jadi memang dia sangat senang membuat masalah dan menjatuhkan semua orang yang ada. Itu memang karena kejiwaannya ada yang salah," kata Linda yang memang sangat menyukai psikologi.
"Hmmm... begitu ya. Terima kasih ya sudah bela aku Komariah juga, kalian juga. Kalau memang aku ada yang minus sedikit pasti kalian akan langsung mengoreksi kan tapi selama ini paling hanya sepele. Aku juga heran sama dia selama ini segitunya banget ya antusias sih oke, tapi agak terkesan, "Gue paling hafal lo!" rasanya tuh tidak cocok banget. Memang aku kurang dekat sama dia karena sudah banyak dikecewakan. Nah sekarang kalian lihat sendiri kan bagaimana kelakuannya?" Tanya Rita sambil memegang tangan Diana.
"Wah, ada yang lebih parah dari aku ternyata," kata Annisa yang membuat semuanya memandanginya.
"Hahaha tuh kan kamu juga akhirnya merasa kan kalau kelakuan kamu itu jelek? Untung ada yang lebih parah jadi semacam pengingat. Diubah ya jangan sampai seperti teman dia. Jadi bagaimana rasanya?" Tanya Linda yang tersenyum kepada Annisa.
Annisa memang tomboi orangnya tapi baik, Rita kurang nyaman dengannya tapi kalau sudah kerja kelompok paling fair. Terlalu banyak yang tidak disukai, dengan orang pun terlalu cepat menilai yang pada akhirnya ternyata salah semua. Sering pilih - pilih tugas atau juga tarian, kalau jadi ketua kelompok anggotanya yang paling sering pusing. Karena terkadang menurutnya tidak sesuai dengan yang di maunya, itu juga yang membuat beberapa teman tidak ada yang mau satu kelompok dengannya. Rita juga tidak terhindari dari kesinisan nya sama dengan Ney hanya lebih parah Ney sih. Sinis kalau Rita mendapatkan nilai perkuliahan yang lebih besar darinya, padahal Rita memang mengerjakannya sendiri dan banyak yang tidak sesuai dari buku kuliah.
Itulah yang dikenal oleh beberapa dosen. Rita memang menolak menerima ilmu hanya dari buku, karena suka berselancar dalam internet, Rita sering kali mencari ilmu lain dari dalamnya termasuk soal materi perkuliahan. Sedangkan Annisa dia lebih senang berputar dalam buku padahal ilmu kan bisa didapat dari sumber mana saja, yah hanya soal nilai saja sih. Dianggapnya Rita sok pintar karena selalu dapat nilai yang bagus padahal aslinya super bodoh dan ceroboh tapi mana bisa kan kalau kuliah main - main? Lama mengenal arita ternyata menyenangkan juga selama ini Annisa memang salah menduga. Nah, setelah melihat Ney, dia langsung tersadar kalau kelakuannya sangat tidak disukai. Syukurlah mereka tidak perlu memberitahukannya, melihat Ney malah sadar sendiri.
__ADS_1
"Aduh, aku malu banget! Tapi aku lebih normal ya karena menyadari kesalahan dan merasa malu berbeda dengan tuh orang kelihatannya sudah lama juga, minus rasa malu itu memang benar adanya. Itu lebih bahaya kan," kata Annisa. Memang sih semakin kesini kelakuannya Annisa mulai berkurang dan tentunya dia memperbaiki secepatnya.
"Iya kamu masih normal kok tidak sampai dihapus oleh Allah rasa kesadaran kamu," kata Komariah. "Tenang saja, Diana. Aku juga akan melakukan hal yang sama, mulutnya berbisa banget kebayang kalau Diana jadi temannya dia," kata Siti membayangkan tapi membuatnya merinding juga.
"Wih, lihat saja Rita yang setianya kebangetan selalu ada buat dia tapi tidak pernah dianggap. Sekalinya dia tahu kelemahannya Mbak Diana, kelar. Menurut aku sih dia tidak punya niat berteman dengan siapapun entah tujuan apa kalau dia berniat mengumpulkan yang setara," kata Annisa yang kemudian duduk depan Diana.
"Tetap saja aneh banget baru kali ini aku bisa lihat ada orang seaneh dia," kata Diana yang sudah mulai menghabiskan es krimnya.
"Ya sudah kita istirahat sebentar deh aku juga berharap dia pulang saja deh mengganggu banget! Memang bukan kelompok kita tapi saat makan cemilannya itu lho, punyaku dia ambil. Tidak merasa malu itu punya orang lain?" Tanya Siti.
"Dia memang begitu aku sudah sering bilang jangan suka ambil makanan orang seenaknya meskipun dia sudah kenal orang itu karena tidak sopan. Tapi sama sekali tidak didengar, makanya sekarang aku sering menolak kalau dia meminta. Atau kalau mau kasih ya langsung di kasih pakai tangan saja," kata Rita. Ternyata masih sama saja mana dia melakukannya dengan orang lain juga.
"Mananya yang berteman lama sih buktinya saja menyebalkan. Kelakuannya seperti itu justru bisa jadi Rita jadi jarang main sama dia," kata Annisa yang meyakini memang begitu kenyataannya.
"Iya, dia pernah ajak aku main kemana beberapa kali, aku banyak alasan saja atau kadang aku kabur duluan ke kosannya Diana. Pernah juga dia ajak main ke rumahnya lagi tapi aku tidak mau, malas juga kenapa juga aku terus yang harus main ke rumah dia kan," kata Rita sambil membetulkan kerudungnya.
"OKE! Sekarang kita mau kumpul dimana? Lantai bawah? Di sana kita bisa makan botram lho," kata Siti sebelum berkumpul dia sudah berkeliling dulu memastikan ada tempat luang untuk dipakai belajar bersama.
"Sekarang kita makan sore yuk! Aku bawa bekal banyak!" Sambut Tamada yang memang dia membawa tas besar ternyata isinya adalah makanan berat.
"Asiiiikkk!" Kata Rita, Diana, Komariah dan Annisa. Tamada memang ahlinya kalau soal makanan berat. Biasanya Linda dan Siti cemilan atau minuman.
"Rita, kalau nanti dia macam - macam lagi sama kamu bilang ya. HARUS! Biar aku yang hadapi orang itu nanti, kurang ajar banget!" Kata Diana sambil marah.
"Iya siap!" Kata Rita sambil senyum dan memeluk tangannya Diana.
__ADS_1
Saat mereka menuju lantai bawah, Rita memandangi ke arah belakang melihat kedua tangan Ney gemetaran. Kasihan sih tapi supaya dia belajar juga kalau mengancam orang pasti akan ada balasannya. Selama ini dia selalu membuat masalah pada Rita tapi Rita terlalu mendiamkannya dan dia mau mengulangi lagi perbuatannya ternyata malah dibalas puluhan kali. Dia membuat masalah dengan eh balasannya menohok banget apalagi sampai kena tamparan keras. 'Seperti itulah rasanya saat kamu membully aku! Meskipun mungkin kamu pernah duluan mengalaminya entah kapan. Tapi jangan harap bully kamu itu membuat kamu pikir itu yang terbaik'. Pikir Rita yang sengaja ditujukan oleh Ney.
Entah terkirim atau dia dengar apa tidak, tampaknya malah terdengar oleh Tamada lalu dia tersenyum mendengarnya. Orang Palembang dilawan mana kekuatan Diana seperti kekuatan 10 orang pula. Belum lagi kekuatan Linda, Tamada, Siti, Annisa dan Komariah, mereka sangat galak. Alex juga berada di sana tapi sebentar, sedikit melihat bagaimana Diana memperlakukan Ney kemudian menamparnya. Dia juga sama ketakutan 🤣🤣🤣🤣, Rita sudah menakutkan ternyata teman - temannya lebih galak. Dia agak takut apa yang akan terjadi bila Rita menceritakan soal dirinya, dia harus menyiapkan pipinya ditampar keras oleh teman - temannya itu. 😂😂😂😂
Kejadian itu membuat Ney gemetaran dengan hebat, dia ketakutan banget dan jantungnya berdebar dengan kencang. Ancaman Diana dan tamparannya memang bukan main - main atau hanya gertakan saja. Dia melihat tatapan benci Diana kepadanya dan itu merupakan rambu - rambu merah terhadapnya. Dia langsung jatuh terkulai lemas ke lantai selama 5 menit lalu berdiri dan berjalan lemas ke arah kursi. Beberapa orang memandanginya sambil menggelengkan kepala tapi tidak ada yang menolongnya. Menang dia merasa lemas dan ketakutan tapi tidak membuatnya merasa menyesal.
"Parah banget ternyata temannya sendiri di bully,"
"Jaman bully sekarang itu ya,"
"Pasti dia iri karena temannya itu punya banyak sahabat sedangkan dia sendiri tidak punya,"
"Kita harus hati - hati jadinya jangan sampai punya teman yang mulutnya pedas,"
"Aku pernah lihat orang itu memang sering seenaknya sama temannya yang tinggi itu. Padahal orangnya baik yang tinggi tidak pernah menuntut, dianya saja yang kurang bersyukur,"
Seperti itulah orang - orang berkomentar pada Ney. Beberapa ternyata ada yang sering melihatnya sejak SMP sampai sekarang dan memang benar dia selalu bertingkah seenaknya. Sama sekali tidak menduga olehnya ada yang sampai hafal dengannya. Dia tidak menangis tapi hanya terkejut dengan yang dilakukan Diana padanya, itu juga membuatnya malah kesal setengah mati karena Diana dengan berani melakukannya. Dia selalu mengira Diana sangat lembut tapi tadi terlihat sangat menakutkan lebih seram dari Rita apalagi dia di ancam akan dihajar juga.
Dia menundukkan kepalanya, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi bersalah atau kesedihan tapi dia menunjukkan ekspresi biasa saja. Kalian kalau ditampar orang seperti apa setelahnya? Menangis 3 hari 3 malam apalagi kalau yang menamparnya orang baru kenal. Malu menampakkan diri kalau main kemanapun dan akan selalu terasa perih pipinya kan. Ney memang mengelus - elus pipinya kemudian nampak biasa tapi dia menjadi enggan mendekati Diana. Dalam dirinya memang tidak ada perasaan sakit atau bagaimana hanya tetap berpegang kalau dia memang tidak salah. Lalu dia mengWA Arnila juga Dins, memberitahukan kisahnya yang ditampar seenaknya oleh temannya Rita.
Harapannya mereka akan membela dirinya, tapi...
"LU GILA APA YA!? Gue kan sudah bilang lu tuh waras tidak sih!? Mengerti tidak sih arti 'Jangan ganggu'? Buat apa kamu bilang begitu sama mereka? LU ASLI PARAH BANGET! GUE SUDAH KESAL SAMA LU! Terima saja sekarang akibatnya dari kelakuan sok tahu lu! Jangan lagi deh lu pakai senjata air mata buaya lu tuh ya. Sekarang lihat kan, bukan teman kamu pun yang baru kenal saja sudah langsung tahu jeleknya kamu itu apa. Sadar dong Neeeey, kelakuan kamu yang seperti itu mana bisa ada yang menerima? Kecuali grup Sosialita lu!" Kata Arnila yang langsung memarahi Ney tanpa ancang - ancang.
"Tapi gue tidak salah, Nila ya memang harus begitu. Untuk kebaikan Rita!" Ney terus meyakinkan dirinya dan Arnila bahwa itu adalah perjuangan untuk kebaikan Rita sendiri. Tapi Arnila tidak mau tahu lagi soal apapun!
__ADS_1
"Terus kamu dapat apa sekarang? Kamu ditampar langsung lho sama sahabatnya. Gila apa! Lu niat mempermalukan Rita nyatanya lu yang terang - terangan nih ya di hadapan mereka semua, kamu dilucuti! Sekarang berhentilah kamu mempertahankan ego kamu yang untuk kebaikan Rita. Menurut gue, itu bukan niat lu! Sekarang pun kamu hanya beralasan agar aku tidak memarahi kamu atau aku membela kamu. Kamu mau aku berhadapan sama sahabat dia? Ogah!" Kata Arnila yang langsung menolak. Toh dia yang buat masalah buat apa dirinya harus turun tangan?
BERSAMBUNG ...