ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(112)


__ADS_3

"Lucu banget! Kalian chat seperti itu?" Tanya Arnila sambil tersenyum iseng.


"Iya serulah sama dia kadang kita perang emot sampai kadang aku yang kalah kadang dia yang menyerah," cerita Rita sepertinya seru banget. Arnila senang deh buat mereka berdua meski Ney kurang.


Setelah menemukan spot tempat duduk yang okey, mereka melihat - lihat stand yang sedang mereka cari. Suara Ney tampaknya sengaja dibesarkan jadi orang sekitar pastinya bisa dengar. Arnila dan Rita kesal dibuatnya, kenapa sih dia nih?


"Terus soal kamu bilang ke dia nanti menikah bagaimana?" ( para pembaca pikirkan dia mengatakan ini dengan suara yang agak kencang ya ) Kata Ney dengan posisi duduk yang agak songongnya.


"Ya itu sih kan biasanya begitu, pacar putus eeh ketemu lagi yang lain ternyata bisa jadi kan akhirnya menikah bukan karena aku tahu dia akan menikah. Aku kan bukan DUKUN," kata Rita dengan nada yang seperti tante - tante sombong.


Arnila hanya menutup wajahnya dengan brosur makanan, dia hanya ingin tenang tapi tahu kalau mereka sudah bertemu Ney tidak akan ada keadaan tenang dan damai. Kalau Rita sudah berhadapan dengan Ney pasti berakhir dengan pertengkaran.


"Oh, aku kira kamu seperti yang jadi dukun gitu. Cocok kok," kata Ney dengan nada nyelekit.


"Tidak mau ah dukun kan perbuatan syirik. Apalagi kalau diberi kemampuan lebih tapi malah digunakan untuk mencelakai orang bahkan teman sendiri, balasannya menyakitkan!" Balas Rita yang santuy membuat Ney kesal karena dia mengepalkan tangan kirinya.


Arnila kemudian langsung memotong obrolan panas mereka. "Oh iya Rita, terima kasih ya teh madunya hehehe yang tadi. Kamu tidak pegal sudah berdiri lama?" Tanyanya dengan suara yang bisa membelah pendengaran mereka berdua. Rita mudah teralihkan kalau ada yang bisa mengalihkan.


"Ohohohoho sama - sama, Nil enak ga tehnya? sepertinya baru ada ya. Pegaaaal banget deh sekarat sudah kakiku tadi, energinya terkikis 30%!" Rita kemudian menyandar dengan kepala keluar dari sandaran kursi.


"Kamu kasih kode ya ke aku jangan sampai ikut campur supaya tidak terlalu lama," tebak Arnila. Rita lalu kembali bangun dan melihat ke arah Arnila dengan mengangkat jempolnya.


"Benar kan! Ney bilang katanya kamu mau pamer tapi aku tahu kamu sebenarnya sudah malas tapi sudah kelewat tanggung kan," Ney yang mendengarnya memajukan badannya untuk lebih mendengar dengan jelas.


"Kenapa kamu sampai berpikir begitu? Buat apa aku pamer, masalahnya waktu di sana kita tidak lihat kondisi sih, aku juga kaget ternyata ada pegawai Gramedia yang tidak sengaja melihat kelakuan kita," Orang - orang yang duduk dekat mereka berpandangan dan saling berbisik termasuk pegawai stand di tempat itu.


"Jangan suudzon ya tanya dulu jangan berani menyimpulkan Karen biasanya kamu terlalu berlebihan menanggapinya," Rita memberi tahu Ney.


Lalu salah seorang pelayan menghampiri meja mereka, "Mau pesan apa? Beda stand juga bisa kok biar sekalian nanti biar mereka yang antarkan ke meja kalian,"


"Wah, asyik kalau begitu. Sekalian saja. Kamu pesan apa?" Tanya Rita. Arnila memesan ramen Naruto dan Ney memesan steak daging sapi yang harganya lumayan.


"Aku bayar sendiri saja. Biar kamu yang traktir Rita," kata Ney dengan tenang.


"Serius?" Tanya Arnila tidak yakin.

__ADS_1


"Seriuslah. Aku bawa uang banyak kok," katanya sambil merapikan rambutnya.


Arnila sedikit memandangi Rita dan Rita pun melihatnya. Setelah memesan mereka mengobrol lagi, sekalian Rita memeriksa uangnya di dompet begitu juga dengan Arnila. Mereka sama - sama menggenggam uang yang mereka miliki. Bawa uang atau tidak, mereka harus terus waspada. Rita memandang Ney sedikit dia tampak seperti berpikir lalu membuka dompetnya dan terlihat agak ... gelagapan. Tapi Arnila diam sama tidak mau tahu juga dan tidak akan bertanya.


"Kamu sepertinya anti banget soal hal seperti itu," kata Arnila sambil memainkan brosur.


"Anti banget! Iya. Buat apa juga Nila, aku punya teman terus dia bilang punya indera ketujuh ih bangganya minta ampun!" Rita menggelengkan kepalanya.


"Maksud kamu aku ya pasti kan," Ney lalu mendelik dan wajahnya jutek.


"Idiiih, kamu Ge er! HAHAHAHA teman aku itu laki - laki, kalau kamu buat apa aku kasih kode segala?" Rita tertawa keras dan Arnila hanya tertawa pelan - pelan.


Karena ternyata salah dugaan, Ney melihat ke arah meja dengan malu. "Oh, laki - laki,"


"Malu nih yeee," ejek Rita lagi sambil masih tertawa.


"Terus bagaimana? Kok dia bisa bilang begitu?" Tanya Arnila, well sama seperti kasus Ney yang sangat membanggakan sekali perkara mistis.


"Tidak tahu aku juga. Hanya dia bertanya ke aku, 'Kamu pernah lihat hantu tidak?' Nah kebetulan rumah aku memang lumayan spooky. Makanya ingin pindah rumah, ya aku jawab sering. Terus dia bilang dia juga sama indera ketujuhnya kuat banget,"


"Tidak tahu sih kalau itu, kalau punya pasti ada aura yang beda kan tapi ini tidak. Sepertinya sama dengan aku hanya punya di kemampuan saja tapi kalau dia tidak tahu kemampuan apa lagi yang dia punya selain bisa melihat. Hanya dia bangga banget soal begituan," heran juga. Nama temannya itu Soy bukan temannya juga sih tapi teman dari teman semasa kuliahnya.


"Dia tahu kamu tidak tertarik?"


"Ya aku kasih tahu. Yang seperti itu buat apa dibanggakan? Tidak bisa jadi rejeki atau pahala kan," kata Rita.


"Kita kan tadi diberi rejeki punya kamu," kata Arnila sambil tersenyum.


"Oh hahaha teh madu itu ya. Oh iya ya tapi selesainya lumayan sempoyongan," Rita ingat mungkin seperti itu ya rasanya kalau memberitahu apa yang dilihat.


"Kamu mudah sih ya mendapatkan energinya tinggal makan. Oh iya bagaimana? Kamu masih tertarik tidak dengan ruqyah yang biasa aku lakukan?" Tanya Arnila antusias.


"Duh, kalau ruqyahnya harus sampai menggunduli rambut, aku lewat deh!" Rita menyilangkan kedua tangannya dan menolak banget! Rambut adalah mahkota perempuan. Kalau harus sampai menggunduli kepala sepertinya Rita tidak sanggup.


"Hahaha ya sudah aku masih punya kenalan nih dia Ustadz tenang saja bukan abal - abal soalnya sudah biasa meruqyah di keluargaku. Mau? Aku punya nih nomor teleponnya," Arnila membuka hpnya dan memperlihatkan nomor telepon Ust keluarganya.

__ADS_1


Sebenarnya sih Rita agak setengah hati ya tapi tidak enak Arnila sudah menawarinya dan Rita tahu dia hanya ingin membantu saja. Ada perasaan yang menolak sesuatu tapi tidak bisa dikatakan, seperti firasat buruk. Rita bukan orang yang gampang mengacuhkan pertanda apalagi ini pertanda buruk dari Ustadz yang ditawarkan oleh Arnila. Dan sepertinya Arnila penasaran apakah akan ada efeknya atau tidak pada Rita.


"Duh, bagaimana ya? Aku takut tidak berhasil," Rita merasa lebih baik tidak usah tapi melihat wajah Arnila yang seperti berharap banget. Bagaimana menolaknya??? Pikir Rita.


"Coba saja dulu tapi memang sih beda aliran,"


"Maksud?" Tanya Rita tidak mengerti.


"Dia Persis. Kamu Muhammadiyah kan. Bagaimana kalau kamu tanya dulu ke orang tua?" Tanya Arnila yang mungkiiin mendapati keraguan pada wajah Rita. Ney hanya menyimak apa yang mereka bicarakan, dia seperti kehabisan kata - kata untuk menimbrung. Lagian kalau soal ruqyah sepertinya Ney tampak sangat ketakutan.


"Ohh aku kira aliran bagaimana, ya kalau bisa ruqyah ya tidak masalah. Coba aku minta nomornya deh. Kamu duluan ya yang beri tahu. Nanti pasti ustadznya WA kan?" Rita memastikan. Ya sudah deh coba saja kali benar Ust dia bisa mengusir Jin Jun di dalam dirinya.


"Iya boleh. Nih catat," kata Arnila memberikan nomornya dalam hpnya.


"Kenapa sih kamu senang banget di ruqyah? Itu kan bisa jadi gerbang Jin buat dimasuki," kata Ney.


"Iya memang. Terus kalau misalkan sampai terganggu lebih baik didiamkan saja? Seperti kamu?" Tanya Rita. Bagi dia Ney sepertinya banyak berubah karena terlalu sering berurusan dengan Jin Jun.


"Ya tidak juga. Mereka baik kok," katanya membela.


"Bagiku sama saja. Jin itu kafir. Niat aku ruqyah untuk membersihkan siapa tahu ada yang bisa menghentikan atau membuang kemampuan yang aku punya,"


"Setiap orang punya niat berbeda. Jadi semoga dengan Ust ini kamu bisa dibersihkan ya meski sayang sih," kata Arnila.


"Tidak seperti Anda yang sangat membanggakan kelebihan mistis, aku anggap itu seperti sebuah bencana meski tahu ini semua berasal sesuai perintah Allah SWT. Tapi Allah tidak akan memaksa seseorang kan untuk mau menerima pemberiannya. Kalau tidak suka ya buang saja, kalau bisa,"


"Menurut kamu hal begitu apa ada resikonya?" Tanya Arnila kepikiran juga sih karena Arnila pun kadang memakainya secara tidak sadar.


"Menurut kamu bagaimana? Aku tahu kamu pasti lebih tahu kan, Nil," kata Rita.


"Ya pasti ada apalagi kalau dipakainya untuk keuntungan diri sendiri. Contoh supaya DIPUJI," Arnila melakukan penekanan pada kata terakhir. Ney menatap Arnila dengan wajah datar tapi lebih ke menantang yang dibalas Arnila lebih menantang lagi.


"Kenapa ya lu jadi lebih berani kalau ada Rita?" Tanya Ney yang penasaran. Biasanya Arnila selalu lebih setuju dengan kata - kata Ney.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2