
Ibunya pergi ke belakang sambil berusaha menghapus air matanya. Kemudian 10 menit Ney masuk ke rumah dengan buru - buru dan melihat Rita yang duduk sambil memainkan game.
"Kenapa kamu? Buru - buru amat masuk ke rumah sendiri?" Tanya Rita yang sudah tahu kenapa dengan Ney.
"Hah? Kamu dari jam berapa ada disini? Kok aku tidak tahu?" Tanya Ney bingung. Dipikirnya Rita memang sengaja tidak memberitahunya.
"Coba cek deh hp kamu, aku sudah WA kamu kalau mau datang untuk ajak kamu pergi. Kamu tidak ada kuota ya? Aku terus menunggu jawaban karena lama ya sudah aku tetap datang ke sini," kata Rita memperlihatkan isi WA yang dia kirim kepada Ney. Ney melihatnya dan benar saja Rita mengirimkan pesan itu 30 menit yang lalu dan Ney memeriksa hpnya memang ada.
Saudaranya masuk lewat pintu yang lain karena tidak mau mengganggu teman Ney yang sudah menunggunya sedari tadi. Saudaranya mengerti sekarang kenapa Ney begitu terburu - buru. Ney tampak sedang memperhatikan sesuatu kemudian masuk dengan panik ke dalam dan mendapati tidak ada siapapun di dalam kamar.
"Ri, kamu lihat mamaku tidak?" Tanya Ney dengan pandangan curiga.
Rita menjawabnya dengan santai. "Hah? Mana kutahu setelah memberi aku segelas air, entah kemana lagi. Tadi sempat mengobrol biasa,"
Ney yang mendengarnya langsung kaget dan dia kesal tampaknya kemudian mencari - cari lagi ibunya itu. Dia harus tahu apa yang mereka bicarakan. Ketakutan terbesarnya adalah ibunya menceritakan mengenai sesuatu pada Rita, dia takut kalau Rita tahu dia akan mengalami kejadian yang tidak mengenakkan nya seperti masa kecilnya. Ney lalu berpikir, kemudian bergegas ke lantai atas dan mendapati ibunya sedang mengobrol dengan ibu alias neneknya Ney dengan serius.
"Ma? Rita datang kesini kok aku tidak tahu? Mama menceritakan sesuatu sama Rita ya?" Tanya Ney dengan nada yang mencurigakan. Neneknya seperti enggan menatap cucunya sendiri dan terus memandangi pemandangan dari lantai atas.
"Lho? Mana mama tahu. Bukannya kamu sudah dikasih kabar? Kata Rita, sudah lewat WA. Periksa dong kasihan Rita dari tadi menunggu kamu!" Ibunya menatap Ney dengan kesal. Ney menelusuri wajah ibu dan sikapnya yang sudah kembali normal, lalu yang dia lihat tadi itu apa dong? Apa dia terlalu berpikir berlebihan mengira ibunya menceritakan hal penting. Ibunya memata - matai Ney yang menuju lantai bawah dan menunggu beberapa saat sampai diyakininya Ney sudah jauh dari jaraknya.
Dari belakang ibu dan neneknya menghela nafas. "Cicingkeun weh neng, urang teu bisa nanaon deui. Keun bae weh kumaha babaturanana ( diamkan saja, neng kita tidak bisa bagaimana - bagaimana lagi. Biar terserah temannya saja )," kata neneknya yang berbicara bahasa Sunda. Beliau juga tahu persis seperti apa cucunya satunya itu yang berbeda dari yang lain. Dirinya pun menyesali perbuatannya dahulu sewaktu keluarga anaknya itu dikucilkan oleh anaknya yang lain, seharusnya dia bisa memberikan pengertian.
"Tapi karunya, Bu. Putra abdi henteu dipikaresep dimana wae. Nu ayeuna wae naroskeun ka abdi, ngumandeuar. Kumaha kahareupna upami henteu aya sobat nu deket? Siga kumaha masa depanna? ( tapi kasihan, Bu. Anak aku sama sekali tidak diterima dimana saja. Temannya yang sekarang saja tadi bertanya, mengeluh. Akan seperti apa masa depannya tanpa ada teman baik yang menemani dia?"
Ibunya Ney sangat lembut dan baik hati namun kenapa ya ketiga anaknya seperti tidak pernah mau mendengarkannya? Efek dulu ibunya sering belanja kah sampai benar - benar menelantarkan semua masalah anaknya? Jadi pembelajaran juga bagi Author kalau sudah menikah dan punya uang melimpah yang harus didahulukan adalah suami dan anak. Diri sendiri nomor dua, tiga, empat.
"Nu hiji deui kumaha? ( yang satu lagi bagaimana? )" Tanya neneknya. Agak aneh memang masa dari banyaknya orang, tidak ada satupun yang mau dekat dengan cucunya itu? Kelakuannya pun terbilang aneh setelah bisnis suami anaknya menanjak naik.
__ADS_1
"Arnila? Eta oge sami," jawab ibunya.
"Kasih tahu saja ke Ney jangan seperti itu teman - teman dia yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Tidak ada yang sama," kata neneknya sambil mengelap piring.
"Sudah berapa kali. Sampai saya menangis pun, sudah! Tapi tidak pernah didengarkan. Takutnya nanti dia benar - benar mengalami sendiri tidak ada yang mau menjadi teman baik atau sahabat yang menetap," ibunya tampak cemas pada keadaan anak keduanya. Anaknya yang pertama pun berakhir tidak menyenangkan, masih hidup kok tapi kebiasaan hidupnya benar - benar mencoreng nama baik kedua orang tuanya. Adiknya juga tidak jauh.
"Kita sudah tidak bisa apa - apa lagi, neng yang penting kita sudah berusaha. Yang teman sekarang padahal anaknya baik sekali tapi nenek juga sering memperhatikan kalau Ney tidak suka nenek kenal dengan teman - temannya. Kalau kamu mau tahu, dia selalu berkata buruk soal nenek karena salah juga dulu, nenek tidak membela kamu dan anak - anak. Maafkan ya neng. Ney yang sekarang jadi berubah total dia selalu menganggap berlebihan semua hal dan berpikiran buruk padahal nenek juga senang mendengar temannya ada yang mulai belajar masak. Nenek bilang, 'kamu juga coba belajar nanti siapa tahu kalian bisa saling berbagi resep.' Tapi kamu pasti tahu bagaimana tanggapannya. Kalau saja Ney membuka kembali hatinya, mereka sangat terbuka dan memiliki hati yang hangat. Kalau saja." Mereka berdua pun terdiam lama.
Kembali ke lantai bawah, Ney memperhatikan gerak gerik Rita yang dia pikir ada yang berbeda dan berusaha membaca apa yang Rita pikirkan. Anehnya dia tidak mendapatkan informasi apapun seperti Rita sedang tidak memikirkan apapun.
"Napa lo? Merhatiin aku terus. Mau jalan tidak? Kalau tidak, aku mau ikut jalan dengan mereka berlima," kata Rita membuyarkan semua lamunan dia.
"Oh, jadi aku hanya cadangan?" Tanya Ney yang langsung duduk santai di sofa, menyandarkan punggungnya.
"Yee baper! Aku datang kesini duluan juga buat ajak kamu dulu. Mau tidak?" Tanya Rita.
Rita memperhatikan belanjaan yang memang banyak. "Terus kenapa kamu pulang terburu - buru dan agak panik?"
"Tidak apa - apa, ya aku merasa kamu ada dirumah saja. Aku tidak jawab chat memang kuotanya habis. Dirumah kan ada wifi, ini aku baru baca. Dins ajak aku jalan juga. Daripada ikut kamu, aku mau ketemu sama Dins saja,"
Iyalah ngapain dia ikut Rita yang mau jalan - jalan berlima sama sahabatnya? Bisa - bisa jadi nyamuk saja dia. Akhirnya lebih memilih pergi dengan Dins.
"Bagus deh! Jangan sebar fitnah ya kalau nanti di sekolah kamu bilang aku tidak ajak kamu main dan malah memilih dengan mereka. Aku sudah hafal lho sama kebiasaan buruk kamu. Ya sudah aku pergi dulu, salam buat ibu kamu! Dah!" Rita lalu keluar dari rumah Ney dan berjalan menuju tempat angkot. Dirinya sudah ditunggu di rumah Ara.
Seperginya Rita, Ney melihat Rita dari balik tirai rumahnya dan mendengus. Dia kesal tidak mendapatkan informasi apapun tapi masih penasaran. Dia ingin bertanya tapi malas karena ada neneknya di atas jadi dia menunggu beberapa menit kemudian beranjak ke lantai atas lagi. Ney melihat ibunya sedang membantu menjemur pakaian yang segunung, neneknya berada di dalam dapur sedang menyiapkan makanan katering.
"Lho, kamu tidak jadi pergi sama Rita? Rita kemana? Masa kamu tinggalkan dia di ruang tamu?" Tanya ibunya tidak memperhatikan Ney.
__ADS_1
"Dia sudah ada janji lain dengan teman - temannya ternyata aku cuma rencana cadangan," kata Ney sambil duduk di kursi.
"Yakin? Menurut mama, dia datang ke sini pertama deh. Kamu jangan berpikir negatif terus dong tidak baik. Mana dia menunggu kamunya cukup lama lho,"
Ney tidak menggubris perkataan ibunya karena dia memang sedang kesal. Dia membuka - buka hpnya dan membalas chat dari Dins. Neneknya keluar dan memandangi cucunya itu dengan menghela nafas.
"Lain kali kalau teman kamu datang, tawari makanan. Nanti lagi ajak untuk makan bersama ya, dia pasti suka masakan nenek," katanya sambil berlalu.
"Rita suka makanan mahal. Yang murah mana mau dia apalagi makanan katering," katanya dengan judes. Neneknya menggelengkan kepala dengan sikap cucunya itu.
"Kamu jangan begitu sama nenek kamu sendiri! Pantas sama orang yang sudah tua saja kamu begitu, apalagi sama orang yang seumuran. Lama - lama tidak ada yang mau bersama kamu, kamu akan sendirian!"
"Mama lupa bagaimana dulu kita diperlakukan secara tidak adil? Kok bisa sekarang malah membela?" Tanya Ney yang emosi. Untungnya neneknya sudah menuju lantai bawah dan tidak mendengar apa yang dikatakan Ney.
"Mama tidak lupa tapi tetap saja manusia itu selalu berbuat salah mana ada yang sempurna! ibunya ibu sudah meminta maaf, sadar kalau dulu salah. Masa kamu sebagai cucunya terus memendam dendam? Kalau kamu tidak suka, kembali saja ke Jakarta! Tidak perlu kamu meneruskan kuliah di Bandung! Dan nenek itu satu - satunya orang tua mama yang tersisa! Nanti kalau kamu sudah tua, akan merasa seperti apa menjadi nenek tua yang mungkin anak kamu sendiri pun tak mau berlama - lama sama kamu!"
Mendengar itu Ney terdiam, di Jakarta memang lebih asyik daripada di Bandung. Di Jakarta temannya lebih banyak dan mereka selevel dengannya meski nyatanya beda level. Tapi masih ada tapi...
"Mama cuma minta sama kamu jangan sekalipun memperlakukan seenaknya teman kamu yang sekarang. Sudah lupakan masa kelam lalu, buka episode baru dengan teman yang kamu punya. Rita dan Arnila mereka bukan teman yang gampang menjadi musuh kamu," kata ibunya sambil membelai kepala Ney.
Sedetik Ney merasa rapuh lalu setelah mengingat sesuatu, Ney bangkit lagi. "Ma, sewaktu Rita kesini, mama cerita sesuatu pada Rita?"
Ibunya lalu menatap Ney kemudian mengambil baju untuk dijemur lagi. "Kamu maunya mama cerita apa? Soal masa lalu kamu?"
Ney menatap ibunya dengan kaget. Dia lalu menggigiti kuku jarinya. Berarti Rita kemungkinan sudah tahu! Ketakutan terbesarnya adalah Rita tahu mengenai seperti apa dirinya dulu. Dia takut Rita akan menyimpannya sebagai senjata sama seperti yang dilakukan temannya terdahulu. Ibunya tahu kalau Ney merasa ketakutan.
"Rita bukan Anjelie, begitu juga Arnila buka Hera. Kamu sudah berbuat sesuatu sama mereka berdua ya?" Tanya ibunya dengan penuh selidik.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...