ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
388


__ADS_3

Ney tampak kesal karena dia tidak bisa mengikuti kemanapun Rita pergi. Dengan kejadian yang kemarin tentu tidak membuatnya kapok apalagi dia teringat dengan lelaki anak toko yang membuatnya klepek-klepek. Kemudian dia berpikir dan mandi dengan bersih lalu berdandan yang cantik dengan memakai lipstik. Dia ingin lebih mengenalnya dan siapa tahu bisa jadian, meski usianya lebih muda.


"Mau kemana?" Tanya kakaknya penasaran karena tidak biasanya Ney bisa bangun pagi dan berdandan.


"Ada deeeh. Daaah," katanya yang kegirangan.


Semua tugas dan ujian serta skripsi beres! Waktunya bersenang-senang dengan perasaan bahagia memikirkan sang idola. Bibir tipisnya sama sekali tidak rapih memakai lipstik atau bisa dibilang saking bibirnya tipis, membuatnya sulit meratakan lipstik.


Yah, tapi dia sama sekali tidak mempedulikannya dan membeli kue sus isi fla keju untuk diberikan pada anak lelaki itu. Meski perkataannya membuat dia bete karena ucapannya nyelekit, tapi penampilannya menarik hatinya.


Tibalah Ney dia pusat perbelanjaan baju tersebut dan sudah sampai juga dirinya disana. Dia menghampiri toko itu dengan merapihkan baju dan tasnya. Lalu menunggu... 1 detik, 5 detik sampai 10 menit Ney heran kenapa anak itu tidak keluar ya? Lalu dia mencoba mendatangi toko baju yang terdapat jualan makanan juga.


"Mana ya? Kok tidak keluar sih? Permisi! SPADAAAAA!!" Teriak Ney. Tapi hening tidak ada satupun yang keluar dari toko, akhirnya dia teriak lebih keras lagi. "SPADAAAA!!" Katanya.


Beberapa orang keluar toko dan melihat siapa yang berteriak.


"Pembeli? Sebentar, ABAAAAAAAANGGGGG ADA PEMBELIIIIIII!!!!" Teriakan seorang ibu yang suara cempreng seperti seng. Membuat Ney kaget dan telinganya memerah karena terkezut.


"Eh, buuushet dah Buuuu.. itu yang keluar dari mulut suara apa toa ya," kata Ney sambil menutupi telinganya.


"Hahaha Neng bisa saja maklum orangnya rada budeg sih. Biasanya kalau tidak ada pembeli ada di lantai 2 lagi lihat cucunya main Pletesyen," kata ibu itu membuat Ney terheran-heran.


"Pletesyen? Permainan seperti apa itu?" Tanya Ney yang agak bengong.


"Iih si Neng dari kampung ya? Masa sih tidak tahu itu tuh game yang terkenal. Pakai tongkat begitu dipencet-pencet nanti gambar di Televisinya bergerak. Ya Allah ada anak kampung," kata ibu itu mengejek Ney yang masam mukanya.


Akhirnya Ney tahu apa maksud permainan itu dan menepuk dahinya. "Itu Playstation Buuuu bukan Pletesyen! Ya Allah pantas tidak nyambung. Tongkatnya itu joystick namanya. Yang jarang main dan pegang sih memang mana tahu," kata Ney masuk ke dalam toko. Gantian ibu itu yang bete dan pergi.


"Yaaa... kami tidak menjual sepeda," katanya. Yang keluar adalah kakek-kakek yang berjalannya cepat.


"Oh, bukan tadi saya hanya memanggil saja," kata Ney yang melihat-lihat mencari anak lelaki itu. Tapi nihil.


"Iya, kami tidak menjual sepeda. Mau beli apa?" Tanya kakek itu dengan suaranya yang parau tapi keras.


"Saya tidak cari sepeda, saya cari cucu kakek yang ganteng itu lho," kata Ney masih mencari tapi kesal.

__ADS_1


"Aduh, Neng. Sepeda itu di sebelah bukan toko ini. Disini kami menjual baju, minuman, snack ada ini topi. Kamu mau yang mana?" Tanya kakek itu terus mengobrol.


"Neng, kalau bicara atau nanya sama dia kamu harus sebut Abang. Kalau tidak, tidak akan dipedulikan," kata penjual toko lain.


"Haaaah Abang? Sudah tua keriput, ubanan begini?" Pikir Ney. Akhirnya... "Bang, saya cari cucunya. Apa dia ada? Saya mau kasihkan ini ke dia," kata Ney.


Kakek itu langsung tertawa senang. "Ohhh kamu cari cucu saya. Dia tidak ada disini, sedang sekolah di luar negeri. Anak itu tiba-tiba memutuskan untuk kuliah jauh," kata kakek itu tertawa senang.


Ney bengong mendengarnya dan menatap kue yang sengaja dia beli. Harganya mahal dan sekarang sia-sia. "Kuliah di mana?" Tanya Ney yang kembali bengong.


"Harvard ya kalau tidak salah," kata kakek sambil membereskan dagangannya.


Ney semakin kaget. "HARVARD!?" Teriaknya kaget.


"Iya, dia sangat pintar hanya pemalas kalau tidak salah setelah anak saya mengatakan hal penting seperti anak perempuan itu akan menjadi orang terpenting dalam negara ini, dia tiba-tiba memutuskan akan kuliah. Ini apa?" Tanya kakek itu.


Ney memberikan kue sus itu kepadanya dan pergi begitu saja, tampaknya Ney syok mendengarnya. Dia baru tahu kalau anak lelaki yang ditemuinya ternyata memiliki otak yang pintar apalagi Harvard adalah tempat universitas yang sudah ternama mana mungkin dia sanggup pergi kesana.


Pupuslah sudaaaaah Ney berjalan dengan lemas tanpa disangka, lewatlah Rita dan Diana di sebelah jalan. Mereka hanya dipisahkan oleh lemari dari toko Mebel disana. Ney berjalan sendiri sebelah kanan, sedangkan Rita dan Diana sebelah kiri.


Ibu itu sangat senang dengan oleh-oleh yang dibawa oleh Diana. Baginya yang orang Batak sangat jarang bisa memakan makanan khas Palembang. Mereka lalu pamit karena harus kuliah semester akhir untuk bimbingan sidang nanti.


Tentu saja kakek memberikan mereka kue dan minuman sebagai bentuk terima kasih. "Kita makan bersama deh untuk di kampus," kata Diana.


Mereka lalu berjalan menuju keluar mall itu yang dimana Ney masih berdiri di ujung. Dia merasa aneh tampaknya ada yang dia kenal jadi dia sengaja menunggu disana. Saat beberapa meter mulai menuju pintu keluar, tiba-tiba mata Diana terpikat dengan baju piyama akhirnya mereka membelok ke arah kiri.


Dirasa itu hanya perasaannya saja, Ney lalu keluar dan berjalan menuju stasiun angkot. Dan menelusuri jalan dengan udara panas. Diana dan Rita juga keluar, Diana tidak mendapatkan baju piyama yang bagus.


Ney di depan berjarak 3 meter sedangkan di belakangnya Rita dan Diana menatap ke arah depan.


"Diana, Diana itu kok seperti..." kata Rita menunjuk ke depan.


Diana lalu menghentikan jalan mereka, sedari tadi juga sudah lihat tapi agak kurang yakin. Dengan heningan, mereka berbalik arah dengan cepat dan berjalan dengan cepat juga.


Tiba-tiba Ney tampaknya merasa ada yang memperhatikan lalu melirik ke belakang. Benar saja dia melihat Rita dan Diana! Ney ingat kalau ada ibu Batak yang membela mereka, dengan cepat Ney berbalik arah untuk menyusul mereka.

__ADS_1


"Rita, dia mengejar! Orang aneh itu mengejar. Cepaaaat," kata Diana histeris.


Rita tertawa mendengarnya ya memang aneh dan mengerikan ya orang tidak suka, dia terus datang. Kemudian Rita menarik Diana dengan cepat memasuki sebuah mall besar dan bersembunyi di balik toko tas kemping. Mereka menahan nafas sambil meminta ijin untuk sembunyi.


"Mbak, boleh minta tolong? Coba lihat anak ini masih ada atau tidak, kita kabur dari dia," kata Diana memperlihatkan foto pada pelayan di sana.


Pelayan itu mengangguk lalu keluar dengan santai. Ney lewat di depannya lalu pura-pura berbicara dengan penjual makanan di samping.


"Aku yakin itu Rita dan Diana tapi kemana mereka? Cepat sekali sih menghilangnya," kata Ney bicara sendiri. Dia juga kesal menghempaskan tangannya dan terus berjalan ke arah depan sampai ujung.


"Tadi dia lewat depan saya dan sekarang sudah pergi ke ujung sana. Sudah aman," katanya berbisik.


"Yuk, Rita kita bergegas deh supaya dia tidak bisa menyusul," kata Diana. Dengan berterima kasih mereka berlari tanpa henti.


Benar saja Ney kehilangan jejak mereka berdua, dia menghentakkan kakinya yakin yang dia lihat bukanlah halusinasi. Dengan langkah kaki yang lemas dia meneruskan untuk naik angkot.


Rita kemudian berhenti dia melihat ada tukang keripik pedas kesukaannya dan membeli 10 buah. Diana yang kelelahan membeli es cendol 2 buah. Akhirnya mereka menaiki angkot menuju Gegerkalong dengan nafas terengah-engah.


"Gawat sekali ya kalau dia berhasil menyusul," kata Rita yang menyedot cendol dengan puas.


"Aku tidak mau bertemu dia lagi. Sial sekali hari ini," kata Diana cemberut.


"Aku setuju. Jangan kesini lagi dalam waktu dekat deh, kita main ke tempat lain saja," kata Rita. Diana mengangguk dan saat supir angkot berjalan, setttttt lewatlah di depan Ney.


Mereka bertiga saling berpandangan. Ney kaget, Rita dan Diana melambaikan tangan lalu tertawa bersamaan. Dari kejauhan, terlihat Ney menghentakkan lagi kaki dan dia terlihat marah sekali.


Mereka menceritakannya pada teman yang lain dan semuanya tertawa.


"Dia parah sekali sih orang tidak mau dekat-dekat malah terus mendekat," kata Melinda


"Dia tuh tidak mau kehilangan kamu Rita sebenarnya terpaksa juga harus mengikuti kamu karena dia butuh sesuatu dari kamu. Hati-hati saja," kata Tamada sambil memakan kue yang mereka bawa.


Kuliah sidang akhirnya dimulai dan mereka semua dilatih untuk sidang yang akan datang.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2