
"Untuk urusan itu nanti kita bahas deh. Kamu mau bicara apa nih ingin bertemu kita disini? Bagaimana kabar urusan kamu dengan Syakieb?" Tanya Rita.
Lalu Ney mulai menceritakan semuanya soal apa yang terjadi padanya saat dia tidak ada. Ney menangis yang membuat reaksi datar Rita dan Arnila. Karena memang sama saja sih begitu lagi begitu lagi sudah jadi tradisi.
"Aku tuh sakit hati banget sama istrinya dia yang bilang seperti itu. Kenapa sih tuh orang harus nyerang aku sampai menyangkut masalah fisik dan semua yang aku punya?" Tanya Ney yang terisak - isak.
Perihal bekas luka yang ada di seluruh badannya, Arnila dan Rita mendengarkan semuanya tanpa berkata banyak. Dalam pikiran mereka berdua memang Ney terlalu percaya diri berlebihan sih, dia tidak pernah merasa ada yang kurang terhadap dirinya. Berapa kali mereka berdua memperingatkannya tapi yah, begitu sama sekali tidak digubris sama sekali. Sedangkan kalau orang lain yang memberitahukan, dia akan pura - pura sedih untuk menarik rasa iba orang di sekitarnya. Tapi kalau Rita sudah sama sekali tidak merasa iba itu sudah menjadi kebiasaan dia.
"Harusnya sih kalau kamu sudah tahu masalahnya apa lebih berusaha lagi untuk mengurangi bekasnya itu. Kenapa sih kamu lebih mendengarkan apa kata orang daripada kita berdua? Orang lain itu lebih tidak menjaga bicara sama seperti kamu jadi buat apa kamu merasa sakit hati?" Tanya Rita dengan nada bicara yang biasa.
"Iya. Kita itu banyak kritik ke kamu, supaya kamu lebih menjaga dan merawat diri kamu sendiri tidak bisa kamu hanya mengandalkan kalimat "Diterima apa adanya". Kamu sendiri tidak bisa menerima apa adanya orang sekitar kamu kan. Ya anggap sajalah apa yang kamu dengar dari istri Syakieb itu adalah pelajaran untuk tampilan kamu. Sesuai yang kamu mau sudah dapat kan orang yang menerima diri kamu banget. Dins tuh," kata Arnila yang membelai punggung temannya itu.
"Apa kurangnya Dins dia kan sama orangnya seperti kamu. Kamu menerima dia, dia juga menerima kamu kenapa kamu jadi bertingkah sih?" Tanya Rita yang mengambil permen dalam tasnya dan membagikan ke mereka. Dalam permen - permennya terdapat juga beberapa cokelat dari Alex.
Ney melihatnya lalu mengambil semua cokelat dan dimasukkan ke dalam sakunya. Mereka berdua menggelengkan kepalanya, kesempatan sih Ney lagi menunduk Rita memperlihatkan ponselnya.
'Dia dendam banget sepertinya soal Alex hanya memberikan cokelat kepada aku saja.' pada Arnila, Arnila menahan tawa dan mengerti.
Arnila kemudian memanyunkan bibirnya pada Rita yang sibuk mengunyah permen. 'Ini bagaimana?' Tanya Arnila memakai kode. Rita kemudian berpikir lalu ingat sesuatu.
"Alex katanya mau kasih kamu cokelat juga lho sudah keterima belum?" Tanya Rita. Ney lalu bangkit dengan air mata bohongnya lalu menghapusnya.
"Hah? Kapan? Coba aku tanya dulu apa ada paket?" Tanyanya sambil sibuk mengambil ponsel lalu menanyakannya pada orang yang ada di rumah.
"Tidak ada, kak. Mungkin nanti sore," jawab Zayn adiknya.
Ney kembali lemas. "Tidak ada paket,"
"Nanti kali. Soalnya aku cerita sama Alex kalau kamu pundung soal hanya aku yang diberi cokelat. Katanya dia mau titip ke Syakieb. Dikirim lewat paket," kata Rita menjelaskan.
"Oh. Ya sudah aku tunggu deh," kata Ney yang kembali ceria.
__ADS_1
"Kalau soal apa yang dibicarakan sama istrinya ya terima saja sesuai kenyataan juga kan. Bagus sih kamu percaya diri tapi jangan terlalu berlebihan sampai lupa kalau kamu juga punya banyak kekurangan. Malah sok tahu nunjuk aku seenaknya! Lagian kamu berani banget juga pakai long dress yang memperlihatkan kelemahan kamu. Mana lengannya pendek juga ya memang aneh sih. Kalau aku di posisi kamu, aku langsung beli obat salep yang bisa menyamarkan bekas luka terus pakai sabun lulur mandi. Kalau lukanya sudah agak menghilang atau pudar, baru deh kamu bisa sebebasnya pakai yang pendek - pendek. Aku mau bilang begitu dari awal juga sudah pasti tidak ada gunanya jadi aku diamkan saja, lebih bagus ada orang lain yang bilang," kata Rita sambil melihat penampakan kulitnya Ney.
"Kamu kok begitu sih, Ri sama sekali tidak ada ibanya sama aku. Aku kan lagi sedih tapi kamu seperti tidak ada perdulinya sama sekali," kata Ney yang tampak marah.
"Ya memang tidak perduli. Tuh ada yang lebih perduli, sama Arnila saja. Aku sedih pun apa pernah kamu perduli? Menenangkan aku? Mendengarkan masalah dan memberi solusi? Jawaban kamu saja tidak nyambung," kata Rita yang makan permen lagi.
"Kamu jadi orang jangan egois, maunya orang lain yang lebih mentingin kamu ya begini akhirnya. Semuanya pasti ada akibatnya kalau kamu mau menang sendiri. Kamu selalu kehilangan target lelaki ganteng, kamu juga tendang kita seenaknya kan kalau kamu dapat kebahagiaan. Kita masih saja berlapang dada buat kamu. Kita kecewa? Banget. Sebelum Rita menendang kamu sama aku, kamu yang paling sering tendang kita juga. Apa pernah Rita chat dengan Alex dia buang kita?" Tanya Arnila yang memakan permen juga. Toh semua cokelat sudah diembat habis oleh Ney.
"Kok kamu bela Rita sih? Gue yang bermasalah! Kamu tuh teman aku bukan dia!" Kata Ney dengan nada tingginya.
"Hahaha teman lu? Baru kali ini aku dengar kamu mengakui begitu. Kemarin kamu buang Arnila kemana aja lo! Sumpah deh parah lu," kata Rita sambil tertawa.
Arnila merasa kecut mendengar apa yang Ney katakan. Saat ada masalah doang, Ney ngaku - ngaku. "Bukan membela tapi kan kenyatannya memang begitu. Berapa kali kamu mengecewakan aku? Banyak! Sama dengan Rita, aku ada masalah lu kemana? Yang selalu ada di sisi gue itu bukan lu tapi orang lain! Lu lama sadarnya! Gila juga ya gue masih mau saja berteman sama lu!" Kata Arnila menggelengkan kepalanya.
Ney berhenti menangis, dia tidak menyangka Arnila akan berbicara panjang lebar. Tampaknya sih sudah tidak tertahankan lagi.
"Jadi jangan banyak mengeluh deh, itu masalah kamu selesaikan saja sendiri ya. Kalau ada apa - apa lagi, selesaikan dengan kemampuan kamu deh. Seperti itulah rasanya kita berdua selama kamu tidak pernah mau mendengarkan keluh kesah masalah kita. Tidak enak kan? Terima dengan ikhlas saja toh selama ini juga kamu selalu cuek dengan apa yang orang katakan kan. Kenapa sekarang jadi dipikirin? Soal seperti kamu bukan kamu saja kok yang mengalami, banyak dan ada yang lebih parah lagi dari kamu jadi jangan berpikir hanya kamu yang menderita," kata Rita.
"Kapan? Kapan kamu cerita? Hah? Mau menyalahkan lagi? Aku sering cerita, kamu kapan? Selain banyak berbohong. Kamu juga berbohong ke Alex kalau kamu sering jadi teman curhat aku. Alex cerita," kata Rita menatap datar pada Ney.
Ney menghentakkan tangannya ke tasnya. Alex ternyata sering bercerita tentang apa yang Ney katakan kepadanya. Dia pikir Alex bisa merahasiakannya tapi ternyata...
"Eh, kalian pernah tidak sih selintas berpikiran kalau Alex itu ada niat mengadu domba?" Tanya Rita membuat mereka berdua terdiam dan membeku.
"Ah,mana mungkin Alex begitu! Ngaco. Buat apa juga?" Tanya Ney tidak percaya.
"Masalahnya agak aneh. Kita jadi sering bertengkar padahal dulu kan tidak. Terutama kita berdua," tunjuk Rita ke Ney.
Lalu Ney pun menyadari sesuatu dia sama tampak berpikir begitu juga Arnila. "Benar juga sih. Dulu kan kita baik - baik saja kenapa sekarang malah jadi tensinya tinggi?"
"Kalau soal kamu sih memang dulu juga sudah error tapi tidak sedahsyat sekarang," kata Rita.
__ADS_1
"Kamu! Dulu aku kan tidak sampai semarah ini juga," kata Ney.
"Sama. Kenapa kita malah jadi seperti ditabrakkan ya? Sepertinya aku setuju kalau Alex sepertinya mengadu domba kan kita. Apalagi kamu sama Ney sering bermasalah. Alex sepertinya tahu sesuatu deh," kata Arnila.
"Wah, tuh orang ya memang parah banget! Dia itu benar - benar penuh sial. Anak sial deh!" Kata Ney marah - marah setelah sadar.
"Hush! Jangan bilang begitu. Bukan anak sial tapi orangnya suka berbuat ulah. Dia buat masalah kita jadi berantakan tapi ada sisi bagusnya juga sih kalau dari aku sendiri," kata Rita menatap Ney.
Ney dan Arnila tidak mengerti maksud Rita. "Aku jadi tahu kamu seperti apa orangnya, Ney, selama ini kan kamu selalu tertutup tapi kalau sama Arnila sepertinya terbuka ya,"
"Ah, tidak kok. Aku juga terbuka ke kamu, kamu saja yang kurang peka," kata Ney salah tingkah.
"Kalau kamu terbuka kenapa kamu selalu berbohong?" Tanya Rita.
Ney diam dia tidak bisa menjawab apapun yang Rita tanyakan padanya.
"Kalau memang terbuka, kok kamu sampai tidak tahu aku seperti apa. Aku tahu kamu hanya luar cangkangnya saja seperti kamu ingin aku melihat sifat jeleknya kamu daripada yang baiknya. Atau memang itu juga sifat kamu? Aku pikir kamu yang dalamnya lebih baik tapi sepertinya sama saja. Aku jadi tahu kamu yang lain seperti apa saat kamu mulai tahu Alex dan dia mulai dekat sama aku bukan kamu," kata Rita.
"Rita inginnya kamu juga terbuka sama dia cerita apa saja. Jangan menganggap Rita berlebihan. Benar?" Tanya Arnila yang mengartikan dalam sudut pandangnya.
"Iya. Tapi semenjak kamu sendiri yang bilang kalau aku bukan teman kamu dan Arnila teman kamu, yo wes sekarang jelas semua kan. Tidak apa - apa kok, memang aku kurang bisa nyaman sama kamu dari dulu juga," kata Rita membuat Ney terdiam.
Arnila tidak bisa berkata apa - apa lagi setelah tahu kalau di sisi lain kehadiran Alex membuat kedua mata Rita terbuka lebar. Dia sudah tahu kalau Ney memang sejak dulu sama sekali tidak ada maksud berteman dengannya.
"Aku selalu anggap kamu teman aku juga kok," kata Ney yang berusaha mengambil hati Rita.
"Sekarang. Baru sekarang karena aku yakin kamu merasa menyesal karena aku kenal Alex membuat kamu seperti ingin memperbaiki hubungan jelek kita yang lalu. Kamu seperti takut aku melupakan kamu yang bukan siapa - siapa padahal dulu kamu sendiri tidak pernah menganggap aku ada, Ney. Aku sadar itu kok makanya aku langsung cari teman lain. Kamu yang sekarang malah aku lihat menendang Arnila dan klaim kamu sahabat aku, buat apa? Kalau kamu niat dekat aku hanya agar kamu juga terciprat 'sesuatu' dari hubunganku sama Alex, lebih baik kamu pergi saja deh. Karena aku tidak bisa menjamin kamu mendapatkan 'sesuatu' itu. Kamu hanya tidak menduga soal aku yang sekarang, membuat kamu banyak menyesal ya mungkin seperti 'Kenapa dulu aku bertindak begitu sama Rita? Kalau saja aku lebih menghargainya, lebih mendengarkannya, mungkin aku bisa lebih tinggi posisi aku di mata Rita.' Begitu?" Tebak Rita.
Ney terdiam setelah mendengarnya tampaknya semua yang Rita ungkapkan benar - benar kena di niatnya. Dia memang dari awal tidak ada niat memiliki hubungan pertemanan terdalam bersama dengan Rita karena dalam pandangannya, Rita itu aneh dan tidak pantas dalam levelnya. Ney selalu memandangi Rita dengan sebelah mata yang membuatnya lupa kalau disandingkan dengan Rita, sebenarnya Neylah yang kalah.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1