ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
500


__ADS_3

"This ( Ini )," kata Fernando memperlihatkan foto serombongan guru sedang berjalan dengan pemandu.


Alex mengenalinya dan menutup mulutnya. "Wait. Where did you get this photo? ( Tunggu. Dari mana kamu dapatkan foto ini )? The person in this photo... Don't tell me he is ... ( Orang dalam foto ini... Jangan beritahu aku bahwa dia adalah ... )," katanya menahan tatapan.


Fernando tahu arti nada tersebut. "Calm down. Uncle Syakieb has gone home and went straight to where Miss Rita is. And he was photographed it. This is one right? ( Tenang, Paman Syakieb sudah pulang dan langsung menuju tempat Nona Rita berada. Dan dia memfotonya. Yang ini bukan )?" Tanya Fernando menunjuk.


Kebetulan Rita tengah berfoto dengan gaya di depan kamera Syakieb. Benar saja pemandu itu tak lain adalah salah satu pengawalnya alias pamannya Fernando.


Alex menatap Syakieb dengan menggelengkan kepalanya. Karena Syakieb mengenakan seragam baju Travel apalagi Alex juga terkejut ada Ney di sana.


Di tempat lain, Syakieb menggelengkan kepalanya menatap Ney yang terus mengikuti Rita. Kalau ada kesempatan, dia akan terus menyindir dan bertanya soal Alex.


Bila ada kesempatan, Syakieb akan memfoto Rita dengan alasan untuk dokumentasi. Lalu dia kirimkan pada Fernando yang tentu saja ponselnya digenggam oleh Alex.


"GOOD JOB!!" Teriak Alex secara tidak sadar.


"Stupid," gumam Fernando lalu menyeret Tuannya itu ke pojok lain.


"Tell him, I want to meet her ( Beritahukan padanya, aku ingin bertemu dengannya )," Kata Alex dengan semangat.


Fernando terkejut karena Alex mengenakan baku resmi kerjanya. "Sir, do you want to continue wearing this shirt? ( Tuan, apa Anda mau terus memakai kemeja ini )?" Tanyanya.


"Of course not! ( Tentu saja tidak )!" Kata Alex melihat penampilannya sekarang.


"Kamu mau ke mana?" Tanya Ibunya datang dengan curiga.


"M-Mom, please... kali ini aku harus pergi. Penting," kata Alex memohon dengan wajah mengiba.


Setelahnya Alex di jewer diseret untuk ikut rapat selanjutnya membuat Fernando hanya bisa terdiam. Setelah Alex masuk dan duduk dengan terpaksa, Ibunya keluar meminta Fernando memberikan ponselnya.


Dengan terpaksa juga Fernando berikan karena beliau adalah majikannya. Ibunya Alex terkejut bahwa Rita ada di Malaysia.


"Err, Mam?" Tanya Fernando agak tegang.


"This is Rita I'm sure about it ( Ini pasti Rita ya aku yakin )," kata majikannya melihat-lihat foto.


"Yes, Mam," jawab Fernando menjaga sikap.


"Hmm no wonder he's so excited. Any activities? ( Hmm tidak mengherankan dia begitu semangat. Apa ada kegiatan? )," kata Ibunya lalu melihat foto yang lainnya, yang terbaru.


"Seems to be a school activity ( Tampaknya kegiatan sekolah )," jawab Fernando dengan cepat.


"Then who took this photo, Syakieb? ( Lalu yang mengambil foto ini, Syakieb? )" Tanya majikannya tidak memperhatikan Fernando.


"Yes," jawab Fernando lagi sambil melirik sedikit.


Ibunya Alex tertawa, menang Syakieb sangat profesional sekali sebagai tukang foto. "Seriously. Who's this? ( Serius. Siapa ini? )" Tanyanya menunjuk ke arah Ney.


"Kalau teman dekat sepertinya bukan karena tatapannya lebih mengawasi. Dan matanya curiga tidak mempercayai Rita," dalam hati ibunya Alex.


"Ah, I'm sure the person who bullied Miss Rita in the chat ( Ah, saya yakin orang yang merundung Nona Rita dalam chatnya )," kata Fernando karena dia sempat melihat isi chat tuannya.


Wajah Ibunya terbelalak menatap Fernando. Fernando tidak terlihat berbohong dan menceritakan sedikit yang dia ketahui.


"Ya Allah, why did she come here? Isn't she ashamed after doing that to her own friend? ( Ya Allah, Kenapa dia ikut kemari? Apa dia tidak malu setelah melakukan itu pada temannya sendiri? )" Tanya Ibunya Alex menyayangkan.


"I do not know for sure. Should I ask uncle? ( Aku tidak tahu pastinya. Haruskah saya tanyakan pada Paman? )" Tanya Fernando.


Ibu Alex menggelengkan kepala, beliau sudah tahu orang seperti apa Ney. "No need. Don't let this child ( Alex ) skip this meeting. And usually fake friends will lift themselves up when they know their friends are close to my son. This girl is dealing with someone who really Toxic ( Tidak perlu. Dia jangan sampai membolos rapatnya. Dan sudah biasa teman palsu akan mengangkat dirinya saat tahu temannya dekat dengan putraku. Anak ini menghadapi seseorang yang toxic )," katanya.


Fernando bengong menatap majikannya seakan sudah tahu bagaimana 'Teman' Rita sebenarnya. "How do you know? Only from photos ( Bagaimana Anda tahu? Hanya lewat foto )," katanya aneh.


Ibu Alex tersenyum lalu memberikan ponselnya kepada Fernando. "I know because I've been through a lot things like this. right? ( Aku tahu karena aku sudah melalui banyak hal seperti ini. Benar kan? )" katanya.


Fernando lupa bahwa memang benar keluarga Alfarizki sudah mengalami banyak gelombang. "Ah! Of course. I'm sorry, Madam," kata Fernando membungkukkan badannya.


"It's ok," katanya lalu berjalan memeriksa keadaan Alex yang cemberut.


Keringat dingin mengalir pada kepala Fernando, dia lalu membuka ponselnya tampak foto Rita berpose dengan beberapa teman.


Ibu Alex lalu pergi ke ruangan lain diikuti oleh beberapa pengawal. "Investigate the girl, she seems to be following the girl who is wearing a hijab. Don't let my son know. Understand? ( Selidiki anak perempuan itu, dia tampaknya terus mengekor anak perempuan yang berhijab. Jangan sampai anak saya tahu. Mengerti? )" Tanya Majikan mereka.


"Yes, Madam!" Ucap mereka semua bersamaan.


Fernando tahu ini akan menjadi sulit semuanya telah diketahui oleh Ibunya Alex. Alex menatap Fernando yang mengiba lalu memperhatikan rapat tersebut.


Pikiran Alex hanya pada Rita dan itu sudah pasti tertangkap oleh Ibunya yang menghela nafas.


Di tempat lain, akhirnya mereka selesai mengerjakan tugas dan berjalan menuju tempat yang ramai penuh dengan jualan makanan.


"Lelahnyaaaa makan dulu yuk," kata salah satu guru kelas.


Rita dan lainnya setuju kebetulan acara bebas lalu Rita menghampiri keluarganya. Mereka tersenyum karena Rita memberi kode buat makan.


"Jajan yuk Teh beli cemilan," ajak Tyas dengan senyum. Prita juga semangat.


Orang tua mereka menunggu di bangku taman dan mereka bertiga berkeliling mencari makanan yang enak dan banyak. Rita memandangi langit saat berjalan, lalu membuka ponselnya. Alex mengirimkan dirinya sedang rapat.


"Teh, tidak bertemu Alex?" Tanya Tyas.


Tanpa mereka sadari beberapa orang bersembunyi dalam semak-semak sebelah mereka bertiga.

__ADS_1


"Ogah! Mana ada yang mengikuti terus dari kita sampai sampai sekarang," kata Rita menunjuk memberi kode ke arah lain dimana Ney berjalan ke arahnya dengan senyuman.


"Parah sekali itu orang ih! Kepedean sekali. Kita kerjain yuk," kata Prita sebal.


"Hei, sudah selesai acaranya? Kalian mau ke mana?" Tanya Ney.


"Mau jajan lah. Memangnya kamu tidak lapar?" Tanya Rita melanjutkan jalannya.


"Ohhh jajan. Aku kira kamu mau pergi kemana," kata Ney memberikan kode.


"Teh, beli waffle yuk! Ini lagi booming isinya macam-macam juga," kata Tyas memperlihatkan waffle tersebut.


"Ayooo," kata Rita dan Prita bersamaan.


Ney ikut juga sambil melihat-lihat sekitar dan memeriksa Rita yang membuka website mengenai kuliner Malaysia. Rita dan Prita beli begitu juga dengan Tyas. Ney memandangi Rita dia hendak mencomot waffle punyanya, tapi sayang Rita sudah mengikat plastiknya.


"Aku minta dong. Kenapa malah diikat? Jangan pelit dong," kata Ney.


"Yeeey beli sono sendiri katanya kamu kaya, banyak uang. Masa harga segini minta sih?" Tanya Rita pergi menjauhi Ney.


"Pelit," kata Ney sengaja memalingkan wajahnya supaya Rita merasa bersalah.


"Yuk," kata Rita mengajak ke pedagang yang lainnya.


Ney yang menyadari ditinggal, dengan cepat dia juga membeli waffle tersebut dan menyusul Rita. "Kamu kok tidak tunggu aku sih? Masa ditinggal?" Tanya Ney dengan nada jutek.


"Kamu sudah besar jangan sok manja deh. Aku saja kemana-mana sendiri. Tuh Prita sudah beda jalur, Tyas juga. Ya masing-masing lah beli yang disukai," kata Rita membuka kantongnya dan memakan sedikit.


"Kamu pelit sekali ya sekarang, dulu tidak kok aku selalu dikasih," kata Ney sambil memakan es krim.


"Hah? Kan kamu yang selalu nyomot makanan aku, belum aku tawarin kamu sudah seenaknya ngambil. Aku tawarin, kamu yang habiskan tolong ya sopan kalau kenal orang," kata Rita dengan keras dan jutek juga.


Ney diam di tempatnya maksudnya sih pundung tapi Rita tidak peduli. Dia beli beberapa kue yang mirip dengan di Indonesia. Dia beli agak banyak karena tahu Bapaknya suka kue tradisional.


"Tapi kamu yang sekarang jadi pelit lho apalagi setelah kenal Alex. Kamu sengaja tendang aku kan," kata Ney mulaaaaiii. Alex!


"Lebih baik pelit ya daripada tukang bohong. Pasti aku yakin, kamu melanggar pesan Dins kan? Aku tahu jeleknya kamu bagaimana, Ney. Aku tidak merasa rugi tuh pelit sama orang seperti kamu," kata Rita yang menerima kue-kue dari negara itu.


"Ih, tidak takut ya jadi istri durhaka," kata Prita lewat sambil membawa beberapa minuman.


"Sudah deh jangan urus hidup aku, Prita. Nanti juga kamu akan merasakan kok seperti aku," kata Ney bermaksud menceramahi.


"Amit-amit deh jadi istri calon neraka," celetuk Tyas.


"Sudah jangan didengarkan. Sudah biasa, kalian jajan banyak sekali sih," kata Rita menghitung semuanya.


"Kapan kamu ketemu Alex sih? Kan mumpung di Malaysia lhoo. Ada aku juga yang menemani," kata Ney masih terus keukeuh etaaa.


Ney mendengus. "Ya kamu minta ketemu gih sama dia, pasti dia mau kalau kamu yang minta. Ayoo dong Rita, ayo!" Kata Ney memaksa Rita.


Prita dan Tyas mendengar suara Ney yang memaksa langsung memandang marah. Rita sama sekali tidak peduli.


"Tidak," kata Rita tidak peduli.


"Aku kan sudah datang ke sini juga, Rita. Ayo dong chat ke dia atau sini sama aku saja deh, aku sudah capek-capek lho ikut dari Indonesia," kata Ney terus memaksa. Dan meminta ponsel Rita.


"BERISIK! Kamu pulang sana suruh siapa kamu ikut? Kamu sendiri ya yang berhalu kalau aku butuh kamu temani," kata Rita marah.


Ney terdiam saat itu juga dan berjalan dengan pelan. Mereka bertiga menuju tempat Ibu dan Bapak, Prita menatap Ney dengan sangat kesal.


Sambil jalan, langkah Ney gontai karena memang tampaknya Rita sama sekali tidak akan bertemu dengan Alex. Orang-orang memandanginya namun dia tetap tidak perduli.


Di tempat lain.


"Dia dua hari di sini?" Tanya Ibu Alex berbisik kepada Fernando.


"Benar, Nyonya," jawabnya berubah menjadi Bahasa.


"Besok batalkan semua rapat untuk anakku. Biar nanti aku yang jelaskan," bisik ibunya pada Fernando.


"Baik," jawabnya lalu membuka ponselnya dan mengubah sesuatu.


Di taman.


Mereka semua memakan waffle yang lumayan besar dan Bapak ternyata membeli beberapa kentang yang jumbo. Mereka menyantapnya bersama-sama.


"Kamu ke sini sama siapa?" Tanya Ibu yang memperhatikan Ney tengah bosan.


Ney yang ditanya langsung membenarkan mimik wajahnya. "Sendiri, Tante," kata Ney.


Tentu ibunya geram sekali pada Ney yang berani-beraninya merundung Rita hanya karena masalah kepribadian? How dare you!


"Suami kamu ke mana?" Tanya Ibu dengan nada agak dingin.


"Kerja," jawab Ney dengan sopan.


"Oh," kata Ibuku tanpa menatapnya. Wajahnya seakan ingin melemparkan wajan ke wajahnya.


"Saya ke sini diminta sama Rita untuk menemani," kata Ney yang memakan beberapa kentang.


Ibunya melirik Rita yang nyengir garing. Lalu Rita menunjukkan jarinya di dahi yang posisinya miring. Intinya Ruta memberitahukan Ibunya dengan kode "Gila".

__ADS_1


"Ah Rita sih berani kemana-mana sendiri. Di sini juga dia kan bersama teman sekolahnya jadi tidak mungkin ya dia meminta kamu temani. Apalagi Ibu dan Bapak, ada Prita sama Tyas kamu banyak alasan ya," kata Bapak ikut.


Ney diam tidak menjawab, dia berharap Rita membelanya tapi sibuk melihat tugas selanjutnya. Ney tidak tahu kalau Ibu dan Bapaknya tahu apa yang sudah dia perbuat pada anak keduanya, Rita.


"Yang anehnya ya dasar muka badak orang yang sudah berani merundung eh masih bisa senyum-senyum. Apalagi stalker," celetuk Prita dengan jutek.


Kebetulan Rita sedang menulis namanya di lembaran lain dan menghadap ke luar kumpulan. Ney kemudian mundur duduknya dan melihat yang dilakukan oleh Rita.


"Kok orang tua kamu seperti menyindir aku ya?" Tanya Ney agak berbisik.


Rita bangun dan melihatnya. "Mereka sudah tahu kamu membully aku. Memang muka badak ya kamu," kata Rita.


Ney kaget dan menelan ludahnya.


"Mana ada orang tua bisa menerima anaknya di bully hanya karena sepele? Kamu bully aku karena kenal Alex supaya keluarganya menerima aku? Kamu pikir ya alasan kamu itu tidak masuk akal!" Kata Rita menunjukkan kepala Ney.


Ney masih diam.


"Tenang saja Ney, Allah itu Maha Adil. Someday, bila kamu punya anak kejadian itu akan dirasakan oleh mereka," kata Rita senyum manis.


"Kamu mendoakan aku yang jelek?" Tanya Ney tidak percaya.


"Bukan mendoakan. Tapi itu namanya karma. Tunggu saja ya," kata Rita dengan lembut.


Ney memejamkan kedua matanya tidak mungkin itu akan terjadi. "Lalu, kamu benar-benar tidak akan bertemu Alex? Ini kan kesempatan," katanya.


"Bu, Rita ke grup guru dulu ya mau tanya tugas selanjutnya," kata Rita mendengus ke arah Ney yang masih termenung.


"Ok," kata Ibu.


Ney kemudian berdiri juga dan mengikuti Rita.


"Ih gila ya tidak punya malu sekali. Sudah memaksa, mengiba, tukang teriak masiiih saja berharap ketemu sama yang suka Teh Rita. Kalau aku ada di posisi Rita, sudah aku banting deh tuh orang," kata Prita tertawa jahat.


"Iya ya mana tidak ada pengertian sama sekali. Privasi orang terus saja dilanggar," kata Tyas.


Ney mendengarnya tentu saja dia tidak perduli dan mengikuti Rita. Rita gabung dengan kelompok guru dan menanyakan tugas.


"Ini selanjutnya. Untuk besok ya," kata ketua kelompok.


Rita membacanya dan disuruh menuliskan nama-nama ikan yang berada di suatu tempat. Ney juga ikut membacanya dan berpikir sambil memainkan jarinya.


"Ini di mana?" Tanya Rita bingung.


"Kan ada internet. Kamu cari saja, Rita," kata Ney dengan nada biasa.


"Kita disuruh cari sendiri sih," kata Meri guru kelas E.


"Nih ada," kata Ney menunjukkan tempat di ponselnya tapi tidak ada yang menghiraukannya.


"Itu tugas Admin kan? Selamat mencari yaaa," jawab guru lainnya.


Rita menghela nafas. Alex mungkin tahu baru saja mau bertanya, Ney sudah siap di sisinya. "Ah, tidak jadi. Cari sendiri saja," kata Rita memasukkan kembali.


"Eh, tidak jadi bertanya? Aku kan tadi sudah bantu tapi kamu tidak percaya," kata Ney.


"Pak pemandu pasti tahu," kata Rita kemudian berjalan menuju taman.


"Yah, kalau kamu masih ada tugas kapan bertemu Alex ya," kata Ney yang memang anehhhhh sama sekali tidak mau mengerti.


Rita kemudian berhenti berjalan tepat dimana beberapa pengawal menyamar menjadi pohon.


"Aku sudah bilang ya BERKALI-KALI! Aku ke sini untuk kegiatan sekolah! Bukan bertemu dia, mudeng tidak sih kamu! Bosan? PULANG SANA! PERGI! KAMU ITU MENGGANGGU HARI-HARI SAYA!!" Teriak Rita di depan wajah Ney. Yang membuat Ney memejamkan matanya, ketakutan.


Rita pergi dengan perasaan super kesal. Ney berdiri disana dia sangat ketakutan pada Rita yang meledak. Dia memutuskan untuk kembali ke hotel karena mood Rita sudah berubah.


Beberapa pengawal yang ada di sana, menelan ludahnya. Tidak menyangka bahwa perempuan yang harus dia awasi sangat galak.


Rita kembali dengan perasaan masih kes dan duduk sambil makan.


"Tidak ada rasa sopan nya ya si Ney itu," kata Bapak memandangi Rita.


"Istri durhaka. Dia ke sini tanpa minta ijin coba. Sarap!" Kata Rita sebal.


Mereka semua kaget mendengarnya, yah ternyata memang begitu. Lalu sore harinya mereka semua dijemput tanpa ada kehadiran Ney. Tiba di hotel, mereka semua memasuki kamar.


Rita lalu chat Alex dan memberitahukan dia ada di negaranya. Alex sedih sekali karena jadwalnya penuh hari itu.


"Aku tidak bisa bertemu," kata Alex di chat.


"Jangan deh," balas Rita.


"Lho? Kenapa?" Tanya Alex aneh.


"Di sini ada yang stalking aku terus. Tuh si Ney genit nanyain kamu mulu. Sampai aku bentak dia. Cape deh," balas Rita.


Alex kaget sedahsyat itukah Rita sampai membentaknya? Ya pastilah. "Buat apa dia ikut? Kalau kamu yang ajak tidak mungkin deh,"


"Mana aku tahu. Dia sebar-sebar katanya aku yang ajak dia karena butuh ditemani. Hoeeek," kata Rita.


Alex menepuk dahinya benar saja Ney pasti selalu mengikutinya. "Yang sabar ya. Aku juga ingin bertemu, kalau begitu harus diam-diam tanpa Ney tahu ya," katanya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2