
Setelah itu mereka bertiga mengobrol sambil menuju kampus lalu jam 6 sholat bersama di mesjid kampus, mereka juga berkumpul dan makan bersama dengan teman yang lain. Hanya makanan Rita saja yang dibuka karena Komariah dan Diana tinggal di kosan. Dosen datang lalu ikut makan bersama juga sore itu jadwal materi hanya ada 2 saja Psikologi Anak dan Seni Tari.
Syukurlah hari itu jadwalnya yang paling mudah jadi Rita tidak terlalu kelelahan. Mereka juga kuliah sambil duduk bersama di atas karpet sambil memakan makanan yang Rita bawa. Dosen Psikologi adalah Bapak Adi, beliau adalah dosen yang paling jenaka dan juga ramah, bisa diajak dengan sistem pembelajaran apa saja termasuk lesehan dengan banyak makanan.
Di tempat lain saat Ney mendapati melihat Diana, Komariah dan Rita sedang makan di resto, Ney bermaksud ingin turun tapi sayang angkot tersebut penuh dengan barang - barang. Akhirnya mau tidak mau angkot itu baru sepi saat terhenti di gang rumahnya, antara kesal, lelah dan marah dia lemparkan ongkosnya ke supir. Sambil menyeberang marah - marah sang supir dan keneknya hanya membicarakan dari jauh.
"Stres sigana ( Stres kelihatannya )," kata keneknya.
"Cik atuh make baju teh nu bener. Kurang bahan kitu ( Coba dong pakai baju itu yang benar. Kurang bahan seperti itu )." Kata supirnya sambil tertawa lalu melaju.
Ney melaju menuju rumahnya sambil wajahnya yang dilipat dan mengomel tidak jelas di jalan, beberapa orang yang melihatnya langsung menghindari dirinya dan berlari secepatnya. Dia melambaikan rambutnya dan masuk ke rumahnya lalu duduk di teras. Ibunya kebetulan sedang ada dan menuju keluar rumah.
"Masuklah kenapa kamu duduk disini. Cieee sudah gajian?" Tanya ibunya menggoda Ney.
"Tidak apa - apa. Oh iya doong niiih," kata Ney melambaikan uangnya di depan ibunya.
"Jangan lupa bersyukur, Rita sebaik itu bantu kamu carikan pekerjaan. Jangan begitu lagi ya sama Rita, dia kurangnya apa coba?" Tanya ibunya yang menghitung uang Ney.
"Iya iya tapi tidak adil ma, gajinya Rita lebih besar dari aku," kata Ney manyun.
Ibunya menghela nafas. "Jangan iri dengan rejeki orang kalau kamu mau lebih banyak, coba dong berdoa dengan benar. Memangnya kerjanya Rita di sana apa sampai gajinya bisa lebih besar?" Tanya ibunya menatap Ney.
"Hanya jadi pelayan saja yang mondar mandir antar piring, antar makanan minuman, beres meja. Seperti itu," Kata Ney memainkan tasnya.
"Apa ada istirahatnya?" Tanya ibunya dengan sabar.
"Jam 3," kata Ney.
"Dari jam berapa Rita bekerja? Tidak ada istirahatnya? Sholatnya bagaimana?" Tanya ibunya.
"Ya sholat jam 12 ijin sudahnya bekerja lagi. Rita bekerja dari mulai pukul 7," ( yang benar pukul 6 ). Kata Ney lalu terdiam.
__ADS_1
"Rita datang sepagi itu hanya bisa ada rehat jam 12 itu juga hanya untuk sholat lalu dia bekerja lagi sampai jam 4, mamah yakin bukan jam 3. Cerita jangan dilebihkan atau dikurangi, Ney. Tidak baik.
Seadanya saja jujur tidak susah kan? Kata mamah itu wajar coba bandingkan dengan pekerjaan kamu yang setiap hari duduk di kursi menatap komputer. Kamu bisa rehat kapan saja kan. Rita? Rehat sebentar, sudah ada pesanan lain istirahat juga sepertinya jarang deh makanya dia jatuh sakit kan," terang ibunya membuat Ney kaget.
"Kok mamah tahu Rita jatuh sakit?" Tanya Ney selama ini dia memang tidak pernah cerita apapun pada ibunya.
"Tahu dong. Tanpa kamu jarang cerita, mamah selalu tahu apa yang terjadi sama kamu. Kamu tidak pernah memberitahu apapun takut mama direbut sama Rita ya? Dia kan punya mamahnya sendiri lain lagi kalau Rita yatim-piatu," kata ibunya sambil tertawa keras.
Ney malu sekali dalam pikirannya Rita dianggap selalu paling gampang menarik hati orang padahal Rita sama sekali tidak percaya diri kalau di hadapan orang banyak. Tapi kalau bekerja dan kuliah apalagi menjadi seorang guru ya harus terpaksa menjadi Extrovert juga.
"Lalu kenapa Ney melihat dia selalu melakukan yang mamah suka?" Tanya Ney yang berbisik.
Ibunya tertawa keras mendengarnya. "Karena itu adalah tata Krama. Meskipun Rita sama dengan kamu yang selalu memberontak orang tua, tapi kalau berhadapan dengan yang lebih tua kan memang harus lebih sopan, suara lembut dan perilaku bak putri solo kan. Dan Rita seperti itu agar bisa dekat dengan orang yang paling dekat sama kamu yaitu ibumu. Kamu pernah mendekati orang tuanya Rita?" Tanya ibunya yang penasaran. Ibunya menduga hanya Rita saja yang melakukan itu.
"..... Lagipula keluarganya tidak menyukaiku, ma jadi buat apa aku baik juga sama dia," kata Ney membuang muka.
Ibunya menatap anak tengahnya itu dengan wajah yang sedih. Tampaknya tahu kenapa dia bisa tidak disukai oleh banyak orang. "Coba kamu dari kebiasaan bicara nyablak itu lebih menjaga perasaan hati orang. Kamu sendiri juga tidak suka kan kalau mereka membuat perasaan kamu kecewa? Rita, Arnila, Yova, Novita dan yang lain mereka itu satu jalur. Anak Introverted dan lembut tapi kamu nyampur dengan mereka ya pasti mereka lebih memilih menjauhlah. Kalau kamu memang butuh teman, ubah dulu sikap dan kelakuan kamu. Nih mama buatkan jus. Yuk masuk ke rumah." Ajak ibunya.
"Mah, apa bicara terus terang itu jelek?" Tanya Ney. Adik dan kakaknya sudah tentu ada dan mendengarkan Ney.
"Tidak jelek sih tapi kalau kamu tidak tahu kondisi dan tempatnya, ya jadi buruk. Lu kan gitu orangnya, nyablak sana sini banyak nyakitin orang," kata kakaknya, Cyphrine.
Ney kembali cemberut. "Itu kan maksudku baik buat mereka supaya mereka tahu jeleknya mereka bagaimana,"
"Dengan menyebarkan semuanya ke teman - temannya? Lu jeleknya disitu. Niat hanya agar mereka tahu tapi lu pikir tidak sih kalau apa yang mereka pikirkan dengan yang lu pikir itu beda?" Tanya kakaknya lagi.
"Mah!" Kata Ney mencari pembelaan.
"Yang dikatakan oleh kakakmu itu mamah setuju. Kamu perlu banyak belajar lagi soal itu. Jujur memang bagus tapi kamu harus memilah - milah mana yang pantas di utarakan dengan yang cukup kamu simpan saja jangan asal keluar. Soal Rita juga... hahh itu sudah terkena yang paling fatalnya. Kalau kamu memang merasa sebagai teman dekatnya yang baik, bisa kan kamu bicarakan hal privasi mengenainya hanya berdua?" Tanya ibunya memandang Ney saat Ney kaget kalau ibunya tahu.
"Memang Rita kenapa?" Tanya kakaknya namun Zayn terdiam.
__ADS_1
"Iya kak, Zayn juga tahu tapi tidak sepantasnya kakak tahu sesuatu soal Rita lalu kakak beberkan hanya karena menganggap sudah menjadi teman berharganya tapi kakak salah total!" Kata Zayn membuat Ney juga terkejut setengah mati.
Pandangan Zayn berubah dingin pada kakaknya yang salah tingkah. "Kamu... bagaimana kok bisa?"
"Zayn lebih sensitif dari kamu, Ney. Kamu tidak tahu kan?" Tanya ibunya yang duduk sambil meminum jus buatannya.
"HAH!?" Kata Ney kaget sekali.
"Menurut kakak pasti itu terbaik tapi kalau harus Arnila juga tahu apa itu tidak keterlaluan kak? Apa kakak benar - benar tulus menjadi temannya atau kakak hanya ingin mempermalukannya saja? Kalau harus dibandingkan, kakaklah yang paling memalukan dibandingkan kak Rita." Kata Zayn yang kemudian duduk sambil meminum jus dan cemilan. Begitu juga kakaknya, Ney hanya terdiam lalu masuk ke dalam kamarnya. Tidak menangis hanya mungkin ada benarnya selama ini dia sama sekali tidak pernah melihat situasi orang di sekitarnya.
Ney menggebrak pintu kamarnya dan melemparkan tasnya begitu saja. Keadaan kamarnya sama dengan suasana hatinya yang berantakan. Satu - satunya yang bisa menenangkannya hanyalah foto Alex yang sedang tersenyum. Lalu dia teringat kejadian di Cafe setelah gajian dia dipanggil oleh bosnya. Merasa senang mungkin bosnya akan memanjangkan kontraknya. Tetapi....
"Silakan duduk. Bagaimana pekerjaan kamu selama ini?" Tanya bosnya berbasa basi.
Ney menjelaskan segalanya dengan lancar dengan suara dan nada yang meyakinkan namun bos sangat tidak suka dengan nada bicaranya. Ada kesan kalau Ney membanggakan dirinya ketimbang pegawai lain.
"Intinya saya suka disini," kata Ney akhirnya.
Bos mengangguk. "Sebenarnya saya merasa pernah melihat kamu di sekitaran jalan Pahlawan tapi mungkin itu orang yang mirip saja ya," kata bosnya.
Ney melotot. Jalan Pahlawan? Itu kan sekitaran rumahnya. Saat apa bosnya melihat dia saat itu? "Mirip sama saya? Memangnya bos lihat yang mirip saya itu sedang apa?"
"Hmmmm.. kamu tahu hiasan yang dipakai orang - orang yang senang dugem? Yang saya lihat dia memakai baju mini dan berjalan penuh percaya diri. Saya melihat dia sampai mabuk lalu ditolong lelaki dengan berbaju kemeja seperti baru habis pulang dari kantor," kata bosnya membuat Ney lebih kaget lagi.
Ney teringat waktu itu dia memang mendatangi Rumah Club untuk menghabiskan waktu stresnya lalu memang dia merasa Dins yang memapahnya sampai rumah. Dan tersadar sudah ada di sofanya dan ternyata itu bukan mimpi. Memang Dins yang mendatanginya dan membantunya, wajahnya memerah saat itu.
"Bos, itu bukan saya. Saya sudah tidur saat itu," kata Ney yang memelas.
"Iya kan saya juga hanya bilang mirip kan. Lalu saya membawa kamu kemari hanya ingin bilang buatlah kenangan indah selama bulan terakhir ini jangan banyak menorehkan kesan sebaliknya. Apalagi kalau ada ya permasalahan dengan beberapa pegawai saya, tolong jangan dipertajamkan. Kamu bisa melakukannya nanti kalau sepulang kerja. Begitu saja, oh ya saya tambahkan bonus tidak banyak, semoga kamu pulang dengan hati - hati ya. Jangan banyak keluyuran juga lebih baik kamu pertajam kegiatan sehari - hari di rumah." kata bos lalu menyilahkan Ney untuk pulang.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1