
Tiga hari kemudian rumah Rita kedatangan paket.
"RITA! ADA PAKET NIH!" Teriak Ibunya dari arah dapur.
Rita lalu keluar dari kamar dengan merasa aneh lalu melihat paket itu. "Dari siapa?" Tanyanya bingung.
"Lho, kamu lupa kali beli makanan dari Korea. Ibu baca memang ditujukannya untuk kamu," kata ibunya menghampiri Rita dan melihat.
"Tidak kok. Baru minggu depan soalnya produknya sudah habis. Ini dari siapa? Berat sih isinya," kata Rita mengangkat paket tersebut, terdapat stiker Jangan Banting.
"Jangan-jangan bom ada yang benci kamu kali," kata ibunya ngasal.
"HA-HA-HA," kata Rita dengan datar.
Adiknya juga keluar dari kamarnya dan melihat paket itu. "Bahannya dari kaca lho. Coba buka, nih nama pengirimnya. Kamu kenal?" Tanya adiknya.
Rita membaca namanya dan kenal. "Oooh Arnila Wah dari Jakarta. Kira-kira apa ya? Ulang tahunku kan belum datang," kata Rita yang penasaran.
Setelah dibuka nampaklah pemberat angsa yang supeeeer cantik! Berwarna bening keemasan, dengan paruh angsa yang hitam dan sangat glamour. Adik dan ibunya menganga apa yang Rita dapatkan.
"Cantiknyaaaa," kata ibu dan adiknya mereka bergantian memegangnya.
"Hati-hati pecah," kata Rita yang agak terkejut tapi juga sangat senang lalu dia menchat Arnila di japri.
"Arnila, ini dari kamu? Cantik bangeeeet!" Kata Rita semangat.
Arnila yang saat itu sedang fitting baju pernikahan, membaca isi pesannya dan tersenyum senang. "Sudah sampai? Iya terima ya aku masih merasa tidak enak soal tahun lalu," katanya kemudian duduk menunggu baju yang lain datang.
"Duuh, apaan sih kan aku sudah memaafkan itu dan berusaha melupakan. Lagian kan keterlibatan kamu juga sedikit jadi tidak terlalu kesal membara. INI ABSOLUTELY COOL, gila kamu makasih ya. Kamu mau kado apa? Surat undangannya sudah aku terima nih," kata Rita yang mengirimkan buktinya.
"Alhamdulillah, iya bagus deh. Aku senang kamu suka, Rita tapi maaf tidak ada warna hijau. Hanya ada warna emas dan yang putih, yang putih aku kasih Ney tapi malah diberikan ke orang lain," kata Arnila sedih.
"Ya Allah, Nila lagian ngapain coba kamu kasih ke dia. Dia kan lebih suka barang bermerk sama mahal lebih baik pemberat seperti ini kamu beri ke teman kamu yang lain deh," kata Rita yang masih memandang pemberatnya. Sayang kalau dipakai hehehe.
Ibu kemudian mengambil dan menaruhnya dalam lemari yang dipenuhi oleh barang-barang yang memang unik. "Ibu simpan sini saja saya g kalau dipakai," katanya lalu memfoto dan mengirimkannya pada anak pertamanya.
"Iya sayang sekali apalagi kalau pecah waaah aku akan menangis," kata Rita yang sekali lagi memegangnya.
"Keren euy temannya. Itu mahal lho nih harganya kirim balas apa kek. Tanyain sukanya apa tar Prita antar buat belinya," kata Prita.
"Iya ya tapi kalau ditanya selalu bilang tidak usah. Antar siang ke Oke Mall yuk," kata Rita dapat ide.
"Mau beli apa?" Tanya Prita penasaran.
"Buku pernikahan yang isinya ada banyak kisah dari para istri Nabi," kata Rita menjentikkan jarinya.
"Oke. Mandi dulu," kata Prita dengan senang. Ya apalagi sekalian saja Prita kenalkan makanan sushi kepada Rita.
"Ya tidak apa-apa, Rita sudah biasa kok apa yang aku kasih ke dia selalu tidak pernah dia terima baik. Oh ya kamu bisa datang kan?" Tanya Arnila yang akhirnya memilih baju yang cocok.
"Bisa bisa. Mau kado apa nih? Kamu belum jawab," kata Rita.
"Ah, terserah kamu saja pasti aku terima kok. Dengan adik kamu?" Tanya Arnila.
"Iyalah dengan siapa lagi kemana-mana ya sama dia," kata Rita ketawa.
"Coba kamu sudah bertemu sama Alex ya pasti kemana-mana bisa sama dia," kata Arnila membayangkan kehebohan mereka berdua yang kocak.
"Hahahaha hancur kalau sama dia setiap menit jadi badut," kata Rita ngakak.
Arnila juga ketawa parah. "Oh iya nanti kalau di acara aku Ney bicara macam-macam jangan diambil hati ya, memang mulutnya itu tidak bisa dikendalikan dia pasti akan serang kamu," kata Arnila.
"Tenang siaplah. Setelah ini pasti dia menyombongkan diri di grup tuh," kata Rita yang melihat ada notif kiriman dari Ney.
"Pindah yuk," ajak Arnila.
Rita kemudian menuju kamar mandi sebelahnya dan mandi dengan cepat dan memakai sabun spa yang harum buah. Rita baca isi chat benar saja Ney menyombongkan barang pemberian Arnila, tapi karena Rita sedang mandi dan bersiap untuk pergi, Ney sendiri yang berbicara. Kasihan.
"Lihat deh bagus kaaaan ini dikasih sama Arnila dong buat aku. Kamu tahu ga Rita kalau ini tuh langka sekali hanya ada 4 biji. Dan 1 barang ini tuh harganya jutaan tidak bisa kamu beli deh, kasihan ya kamu bukan temannya dia sih jadi mana mungkin dapat," kata Ney yang panjaaaaang sekali menulisnya tapi tidak Rita balas.
Beberapa menit Ney menunggu balasan dari Rita sama sekali tidak ada, karena penasaran dia telepon tapi tidak diangkat. Arnila juga tidak ada balasan karena sudah tahu dan sibuk membungkus bajunya dan menjadwalkan untuk mengrias.
"Ini pada kemana sih? Dari tadi aku bicara sama sekali tidak ada yang balas? HEI!" Teriak Ney akhirnya kesal sendiri.
"Aku lagi sibuk 2 hari lagi kan acaranya. Maaf ya aku off," kata Arnila lalu memang mematikan ponselnya.
"Aku lagi pergi sama adikku. Skip juga ketemu lagi di jam berikutnya. Byeeee!" Kata Rita yang juga mematikan kuota internetnya.
"Hari ini sekalian aku mau penuhin janji traktir. Ini makanannya enak sekali, kamu belum pernah kan?" Tanya Prita memperlihatkan gambar berbagai macam sushi.
__ADS_1
"Apaan tuh? Lucu. Sushi? Makannya bagaimana?" Tanya Rita keheranan. Prita tertawa mendengarnya.
"Yes! Belum pernah ayok deh Prita sudah pesan tempat untuk Rita sebagai pemula penikmat sushi mudah-mudahan suka!" Kata Prita kesenangan.
Ibunya kali ini sudah lumayan lebih baik dari sebelumnya meski tetap adiknya dan kakaknya yang masih di nomor satukan, tapi tidak apa yang penting hidup Rita bisa lebih bahagia. Namanya juga keluarga pasti selalu ada anak-anaknya yang lebih di pedulikan tapi Rita punya banyak teman dekat dan sahabat yang selalu ada.
Kita lupakan sejenak mengenai Ney meski dia uring-uringan ternyata semenjak tadi Rita sedang bersiap-siap untuk pergi. Sebelum diajak makan pertama kali oleh adiknya, mereka mendatangi sebuah toko untuk membeli buku pedoman pernikahan.
"Nah ini dia bukunya Best Seller," kata Rita mengambil buku tebal berwarna Pink dengan motif bunga Sakura.
Prita oke oke saja dan membeli buku yang sedang dia cari juga. Setelah selesai, mereka menuju tempat makan berupa restoran yang minimalis, sekitarnya dikelilingi tirai bambu.
"Wah, sejuk nih baru tahu ada seperti ini," kata Rita.
Ney berpikir kemana Rita akan pergi, dia ingin ikut kemanapun Rita pergi meskipun sudah banyak membuat Drama kolosal.
"Rita, kamu mau pergi makan-makan ya? Dimana? Kebetulan aku garing nih di rumah terus, aku ikut ya," kata Ney mengetik.
Ney tahu kalau internet Rita sudah On karena bulatan di WAnya berwarna hijau.
"Tidak mau, aku malas jalan sama kamu. Kamu kan bilang punya banyak teman buat apa mengekori aku terus? Nih bukti ya kalau aku itu tidak bergantung sama kamu. Jauh-jauh deh aku sudah tidak mau lagi lihat dan dengar suara kamu," balas Rita membuat Ney keki.
Memang ya drama yang dia buat di minggu lalu membuat Rita semakin enek apalagi bisa-bisanya dia seperti pakai toa membuat semua orang membuatnya jadi perundung. Aje gile lu!
"Ayo, Rita. Bagaimana? Bagus kan tempatnya. Mbak, saya sudah reservasi ruangannya," kata Prita pada pelayan di depannya.
"Oh iya, saya sudah siapkan. Kakaknya ya? Sama sekali belum pernah makan sushi?" Tanyanya sambil senyum manis.
"Belum pernah, kak. Kalau bisa menunya yang paling dikenal saja dulu," kata Prita yang langsung disiapkan oleh pelayan tadi.
"Mahal tidak? Bagi dua deh," kata Rita agak berbisik. Karena tempatnya benar-benar segar dan yah... berbambu.
"Tenaaang bisa diatur hehehe eh nggak, pokoknya aku yang traktir. Rita kan selalu banyak traktir. Let's go, Mbak!" Kata Prita mengacungkan jempolnya.
Pelayan itu lalu mengambil 2 piring hitam yang berisikan 2 buah sushi bernama...
"Ini namanya Uramaki Sushi silakan menikmati. Dan ini sausnya, minumnya sudah saya siapkan," kata pelayannya lalu bergegas pergi ke dapur lalu kembali dengan Green Matcha yang super uenaaaak!
"Terima kasih, kak. Ayo dicobain, Rita," kata Prita yang penasaran dengan kakaknya yang mencolek-colek dan menyelidiki semuanya.
Dalam restoran itu ada beberapa orang yang memang sebagian pemula mencicipi sushi. "Ini bungkusan apa sih? Hitam-hitam, aman?" Tanya Rita melihat Prita makan dengan lahap.
Melihat adiknya makan dengan nikmat lalu Rita makan satu setengah dan mengunyahnya. Rasanya..... aneh! Tapi enak karena ada nasinya jadi memang aman.
Pelayannya memperhatikan Rita sambil sesekali tertawa, ada sekitar 4 orang yang berjaga di dapur berbambu itu dan seperti menunggu reaksi dari semua orang tapi hanya Rita yang menurut mereka agak kocak.
"Kok aneh ya?" Tanya Rita agak ragu.
"Kak, makannya 1 sushi lengkap kalau digigit setengah memang rasanya aneh," saran pelayan tadi.
"Oh begitu ya. Segede ini apa bisa ya?" Tanya Rita lalu memakan semuanya.
Prita mengangguk dan memakan habis Uramaki nya dan menatap kakaknya yang takutnya malah muntah. Memang rasanya enak meski isiannya bikin dia termenung.
"Kenapa sih?" Tanya Prita.
"Aneh ada alpukatnya ya terus ada yang irisan sesuatu tidak apa itu dan ada sayurannya. Enak sih soalnya ada nasinya tapi baru tahu kalau alpukat bisa dimakan dengan nasi," kata Rita lengkap dengan pendapatnya. 4 pelayan dan adiknya tertawa mendengarnya.
"Selanjutnya Temarizushi. Karena bentuknya bulat namanya sendiri itu berarti permainan bola. Jadi sushi bentuk bola. Nah yang ini namanya Temarizushi: Ikura dan Crab. Silakan," kata pelayannya langsung pergi lagi.
"Kalau tidak suka bilang saja, Prita suka semua kok. Cobain dulu yang Ikura nih," kata Prita menunjukkan sushi mananya.
Dari tampilannya sih aneh sekali dan perasaan Rita tidak akan suka terutama bulat-bulat kecil aneh yang bentuknya kecil-kecil, buat perasaan dia tidak enak tapi melihat adiknya makan dengan puas apalagi ini traktirannya jadi dia harus makan.
Rita makan dan mengunyahnya, bulat kecil itu memecah dalam mulutnya dan rasanya... Hoekkk! Tapi tidak bisa dimuntahkan karena harganya lumayan dalam menunya.
"Enak?" Tanya Prita yang antusias.
Rita mengangguk meski aneeeeehhh dan dia tidak suka dengan bau dan rasa ikura itu.
Masalahnya isi piring itu ada 2 ikura dan 1 Crab
yang sama-sama aneh bentuknya. Rita tertawa yah pertama kalinya memakan dan sudah tahu mana yang dia suka, apalagi dia juga langsung jatuh cinta pada sushi. Pelayan juga tahu kalau Rita sama sekali tidak suka tapi mau dimuntahkan lebih tidak enak lagi jadi telan saja langsung.
"Minumannya uenaaak!" Kata Rita yang sedot banyak.
"Iya dong. Ini tuh tempat yang sering didatangi sama orang pemula yang mau makan sushi. Tuh lihat deh semuanya pemula tapi harus ada yang menemani takutnya ada yang pingsan," kata Prita menunjuk ke sebelah.
Memang sih kebanyakan yang masih pemula ada yang muntah, mual, mabok ( karena bau dagingnya ), macam-macam deh! Lalu mereka makan yang Crab, nah itu Rita suka meski agak setengah matang daging kepitingnya.
__ADS_1
"Uramakinya mau dihabiskan tidak? Mau diangkat piringnya," kata Prita.
Rita mengangguk dan menghabiskan dengan perasaan senang. Piring kedua masih tersisa Ikura satu biji dan tidak dimakannya, satu cukup membuatnya merasa pusing.
"Nih makan saja sepertinya kamu suka," kata Rita memberikan pada adiknya tentu saja dia sambut dengan senang dan memakannya.
"Selanjutnya Hosomaki ini hampir sama dengan Uramaki," kata Prita.
Rita mengangguk dan memakannya 1 biji langsung. Dia melihat ke saus warna hitam dan ada saus hijau, saat Rita mau cocok banyak, Prita menahannya.
"Lebih baik jangan banyak-banyak deh ini hampir semua manusia tidak suka. Coba saja seujung sumpit ini. Sedikiiit," kata Prita dia lupa menjelaskannya.
Rita mengerti dan mencobanya langsung tidak disuka begitu juga adiknya. "Tidak enaaaak," kata Rita menyesal.
"Hahaha memang. Nah ini yang hitam cobain juga, sedikit saja dulu," kata Prita yang menuangkan isinya sedikit.
"Itu namanya apa sih?" Tanya Rita menunjuk ke hijau.
"Wasabi. Saus tapi memang tidak disukai. Nah yang ini namanya Shoyu tenang halal kok," kata Prita menggeser mangkuk kecil pada kakaknya.
Rita mencobanya dan kaget, rasanya kuat sekali agak pahit tapi asem asin. Yang membuatnya agak aneh tapi dia suka dan mencelupkannya banyak ke sushinya. Prita juga mencelupkan banyak dan menikmati semuanya.
"Ini aku sukaaa," kata Rita memakannya penuh kenikmatan.
"Isinya tuna yang sudah banyak diterima lidah orang kita, Rita," kata Prita yang lahap. Ada 2 dalam piring hitam itu yang langsung habis, Rita melihat Prita yang tampak masih kurang makannya karena memang sedikit sekali.
"Next. Futomaki, ini lucu kan kebanyakan memang pasti memakai nori," jelas Prita. Agak besar jadi bisa membuat Prita kenyang sedikit.
Lalu ada Temaki yang digulung. Kalau ini hanya 1 biji kebayang Prita masih ingin makan tapi besar, dimana dengan sengaja Rita bagi dua agar Prita bisa makan lebih. Untungnya di dalamnya tidak ada bulatan oren yang Rita tidak sukai.
Pelayan datang dengan ragu karena tahu Rita tidak suka telur ikan tapi masalahnya sudah dipesan dan melihat Rita yang terkejut. Masalahnya yang ini lebih banyak di atasnya daripada yang tadi. Dia sampai kebingungan bagaimanaaaa memakannya. Akhirnya dengan terpaksa, dia berikan pada Prita.
"Lho kenapa? Tidak dimakan," kata Prita.
"Tidaaaakkk sukaaaa yang tadi juga aneeeh amis," kata Rita menyerah.
"Waduh! Terus kenapa dimakan? Tahu begitu kan bisa dikasih ke aku," kata Prita tidak enak melihatnya. Kakaknya menjulurkan lidahnya karena masih merinding.
"Ya tidak enak jugalah, terus kan pertama kalinya masa dimuntahin? Ini kan makanan mahal tapi yang ini aku lewat. Kamu suka kan?" Tanya Rita menggeser piring itu ke adiknya.
"Suka semua. Ya sudah aku makan ya, Asiiiikkk masih lapar juga sih sebenarnya," kata Prita berbisik.
"Pesan lagi saja mau yang mana, aku sumbang deh," kata Rita.
"Mahal masalahnya. Nih lihat," kata Prita menunjukkan harga Temarizushi dan Gunkan yang memang lumayan mengiris pemasukan dompet.
"Mbak, aku pesan takoyaki," kata Rita yang sudah tahu rasanya. "Rasa keju, Crab sama sosis," lanjutnya. Kemudian mereka membuatnya dan isinya ada 8 buah. Lumayan sekali membuat Prita semakin senang mendapatkan masing-masing 4 biji.
Lanjut ada Inarizushi. Ternyata kulit luarnya itu kulit tahu, dan Rita juga baru tahu kalau bisa dibuat seperti itu dan makan dengan nyaman. Lanjut Chirashi nah ini yang membuat Rita terdiam melihatnya karena nasinya bulat lalu ada daging sesuatu yang menjulur panjang tertumpuk di atas nasinya.
"Ini tuh daging ikan salmon. Cobain deh efeknya mantap!" Kata Prita yang langsung dimakan.
"Tidak matang ya?" Tanya Rita yang masih tidak memakannya.
"............ mentah sih," kata Prita membuat Rita menggelengkan kepalanya dan menggesernya pada adiknya.
"Oke, aku coba," kata Rita yang berdoa lalu memakannya. Setelah dipikir-pikir tidak enak rasanya menolak semua makanan. Rita cubit sedikit daging itu dan rasanya... Tidak enak! Rita memakannya tidak pakai hati dan langsung ditelan, sisanya dia berikan pada adiknya dan langsung meminum matcha nya.
"Laaah ya sudah aku makan ya," kata Prita yang tertawa. Kakaknya tidak suka tapi masih dimakan karena tidak mau adiknya kecewa.
"Ini nigiri atas ikan tuna masih bisa kamu makan kan," kata Prita. Mereka berdua memakannya dan memang enak, Rita habiskan semuanya.
"Terakhir sashimi, kak. Bagaimana? Kalau ini masih bisa di cancel kalau kakak tidak suka karena tidak ada nasinya," kata pelayan itu.
Rita sudah tentu menolak dan Prita pesan untuk dirinya saja. "Kamu suka yang mentah? Enak?" Tanya Rita bergidik.
"Enak tapi memang tidak di rekomen untuk dimakan setiap hari," kata Prita yang memakan satu helai daging salmon merah itu.
Rita habiskan takoyakinya begitu juga adiknya yang mantap memakannya. Selesainya mereka bayar bagi dua karena memang mahal dan uang adiknya agak tidak cukup. Meski kecewa tidak bisa membayar semuanya tapi cukup fair karena adiknya juga makan takoyaki.
Setelah itu mereka menuju kantor pos untuk mengirimkan buku yang dia beli. Kemudian menuju tempat lain dan lalu pulang. "Rita, kalau ibu nanya bilang saja kita habis dari Perpustakaan ya. Pasti ibu marah kalau tahu kita makan-makan," kata Prita.
"Oke." Rita mengacungkan jempol.
Heran juga sih memang. Ibu mereka sering marah kalau tahu Prita traktir Rita dipikirnya kakak lah yang seharusnya traktir adik. Tapi beda lagi kalau Rita beli makanan untuk sogok ibunya hahahaha!
Di rumah Rita berada di kamar kekenyangan dan mengambil Cimorynya begitu juga Prita yang minta minuman lain. Dia kirim hasil makanan yang dia makan tadi bersama adiknya dalam Pacebuknya.
Banyak komentar yang pernah makan dan tidak suka sampai sekarang, Rita juga cerita soal pengalamannya dan memang terkejut dengan daging salmon. Ney dan Arnila tentu saja tidak pernah alpa untuk memberi komentar, dan tentu saja Ney dengan komentar yang epik.
__ADS_1
Bersambung....