ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(234)


__ADS_3

Di kamarnya Rita lalu langsung mengetik teks pada Alex dengan hati yang sangat bahagia. "Hei, thanks for chocolate," ketiknya.


Seperti biasanya Alex membalas dengan cepat. "Sure! You like it?" Tanya Alex, dia memang sudah sangat menanti apa yang akan Rita ceritakan. Memang hari ini banyak rintangan tapi nyatanya hadiah darinya membuat Rita sangat senang.


"Sureeee all chocolate I love! Perempuan kan memang suka cokelat," kata Rita yang masih tersenyum mengetik Alex sambil memandangi cokelat. Siapa sih yang tidak iri?


"Itu bayaranku karena kamu benar - benar mengirimkanku makanan buatan kamu. Cikpuan ( Teteh atau kakak ) dan my mom juga ikut makan. Mereka suka yang kamu buat!" Alex tersenyum masih terngiang rasa makanan yang Rita buat untuknya.


"Wow! Yang Arnila bagaimana? Kamu makan juga kan? Dia membuatnya sendiri lho," kata Rita mengingatkan takutnya dia hanya senang memakan buatannya saja.


"Hmmm I prefer like what you cook sih. Tapi enak kok, hanya aku tidak memakan lagi buatan Ney. Ituuu soo salty!! Aku sampai ingin muntah. Bagaimana sih dia memasaknya? Garam dimana - mana!" Alex kesal teringat lagi dia memakannya seperti jebakan Batman.


Rita tertawa membacanya. "Lalu kamu apakan makanan punya dia?" Tanya Rita penasaran.


"Aku buang saja diberikan pada binatang pun kasihan takut mati," kata Alex.


Yah yang Rita bawa juga semua keluarganya tidak berani memakannya, mau dicampur dengan apapun tetap saja terlalu keasinan! "Dia selalu ejek aku makanan yang aku buat pasti keasinan tahunya justru dia yang keasinan! Apa jangan - jangan dia bilang begitu maksudnya ke dirinya sendiri ya?"


"Begitu. Mungkin. Dia iri karena kamu bisa memasak. Bagaimana kesannya pertama kali kamu bisa memasak?" Tanya Alex.


"Dia kaget aku lihat dari tampangnya lalu tiba - tiba dia menduplikat aku juga kalau bisa masak bahkan masakannya lebih enak kata dia," kata Rita menceritakan.


"Tapi pasti beda rasanya meski dia menduplikasi masakan kamu kan. Kamu pernah mencoba makanannya selama kamu kenal dia?" Tanya Alex.


"Pernah. Ya begitu seperti yang kamu makan dan tidak enak! Kalau buat kentang goreng, garamnya seperti dipakai satu bungkus. Dulu aku pernah buat roti isi, dia ejek - ejek. Ejek makananku tapi habis," kata Rita manyun.


"Hahahaha! Dia terlalu gengsi mengakui buatan kamu lebih enak orangnya memang malu untuk berkata jujur. Lalu?"


"Beberapa hari kemudian dia bilang kalau buat roti isi yang lebih enak dari aku. Aku minta buktinya suruh dia bawa ke sekolah, dibilangnya sudah habis. Adaaa saja alasannya, waktu SMA juga begitu yang kelihatan hanya omongannya saja. Karena aku curiga, aku coba bertanya pada ibunya," kata Rita teringat.


"Oh ya, lalu?" Tanya Alex penasaran.


"Ternyata Ney sama sekali tidak membuatnya. Kalau iya, ibu, kakak dan adiknya pasti tahu ternyata dia hanya berbohong saja. Dia juga menyertakan bukti fotonya yang ternyata menurut adiknya, itu adalah foto dari roti isi buatanku. Mereka bertanya kan, kenapa bertanya? Ya aku ceritakan saja," kata Rita.


"Aku yakin dia pasti dimarahi oleh semua orang," kata Alex menebak.

__ADS_1


"Iya. Aku pernah mendengarnya sendiri tidak sengaja sih waktu main ke rumahnya, dia sedang dimarahi oleh ibunya soal kebohongannya ke aku. Sampai nangis sih aku mendengarnya dan dia disuruh minta maaf ke aku karena sudah bohong. Kata ibunya, 'Buat apa kamu sampai berbohong selama ini sama teman kamu sendiri? Mau dipandang Wah? Punya teman itu dijaga bukannya sama kamu dipermainkan sampai kamu bohong segala kirim foto makanan Rita sendiri?' Begitu," kata Rita.


"Wah! Iya juga sih kalau memang tidak bisa masak ya bilang saja kamu juga tidak akan mengejek dia kan," kata Alex.


"Ya buat apa juga. Kan bisa belajar aku saja diajarin sama ibuku dan adikku. Padahal masakan ibunya enak lho kok bisa ya sampai tidak mau bisa?" Tanya Rita.


"Yah salah satunya malas pasti. Aku saja iri sama kamu yang bisa masak. Kamu pasti cepat bisanya ya. Diajari apa saja?" Tanya Alex.


"Hehehe iya langsung bisa karena aku banyak berlatih dari yang gampang. Hanya diajari memecahkan telur saja," kata Rita.


"Bukan karena kamu memang terlahir sebenarnya bisa apa saja tapi ya kamunya banyak yang tidak minat. Belajar memasak itu kan kalau tidak terbiasa melihat yang masak susah, meskipun ibu kamu atau adik kamu bisa belum tentu anak yang lain bisa banget! Kamu paling cepat belajar, adik kamu juga iri sebenarnya. Makanya kalau kamu memasak, adik kamu selalu ikut kan," kata Alex yang bisa membaca isi hati orang.


"Iri sama aku? Karena langsung bisa?" Tanya Rita yang kaget.


"Iya. Kamu tidak sadar ya? 😑😑😑" Tanya Alex yang menghela nafas.


"Lebih baik tidak sadar daripada sadar. Kalau adik kandung kan wajar iri setidaknya tidak sampai menduplikat. Adik aku juga enak kalau memasak," kata Rita.


"Lalu soal Ney bagaimana? Waktu itu memangnya merek tidak tahu kamu datang?" Tanya Alex penasaran.


"Waktu aku datang, pintunya terbuka lalu ya aku masuk saja. Saat mau panggil Ney, aku dengar jelas suara ibunya. Tidak enak juga sih mendengarnya tapi karena penasaran, aku dengarkan hehehe," kata Rita dia jadi ingat memang begitu kejadiannya.


"Setelah itu Ney bilang kalau aku selalu memamerkan masakannya ke dia terus ibunya bilang, 'Rita itu bukan pamer. Dia hanya cerita bedakan dong cerita dengan pamer! Kamu ini makanya dari pertama sekolah di Bandung sampai kamu kuliah terus kerja tidak ada yang mau berteman sama kamu! Suudzon terus pikiran kamu tuh. Kenapa sih!? Orang - orang yang ada di sekitar kamu yang sekarang tuh anak baik semua! Tapi kamu seperti mengusir mereka. Kenapa? Mereka bukan style kamu? Mau sampai kapan kamu memilih teman?' Pokoknya ramai sekali!" Kata Rita bercerita dengan semangat.


Alex sangat menyukai Rita bila dia sudah bercerita. Kebanyakan perempuan yang dia kenal lebih banyak menceritakan tentang dirinya sendiri, pesta, liburan terutama soal bermalam di hotel. Hmmm...


"Waw! Mereka tidak merasa kamu datang? Aneh sekali sampai mereka tidak tahu. Lalu kamu terus mendengarkan?" Tanya Alex.


"Iya sampai aku rasa cukup. Aku dengar Ney bilang 'Memang iya Rita itu dibawah aku banget! Kita itu kaya mah, buat apa sih orang seperti dia Ney pedulikan? Ney jadi teman dia juga terpaksa, mah! Dari awal sudah bukan level Ney dia itu! Jadi jangan maksa - maksa deh buat Ney temenan sama Rita!' Tuh! Setelah itu, aku baru sadar sudah salah berteman sama tuh orang," kata Rita.


"Hmmmmm setelahnya kamu nangis?" Tanya Alex sekarang yang akhirnya paham.


"Iya. Tapi diam - diam. Sedih iya, sayang banget. Setelahnya aku bisa dengar ibunya sepertinya antara membanting sesuatu atau memukul sesuatu tapi bukan memukul Ney. Setelah itu sih aku dengar ibunya meneriakkan nama anaknya dan aku diam - diam keluar dari rumah itu," kata Rita.


"Kamu masih ingat semuanya? Hebat!" Kata Alex.

__ADS_1


"Itulah kenapa aku berkali - kali bilang kalau aku bukan Teman Dekatnya dan kamu seperti yang menyalahkan. Aku tuh tidak mengerti, memangnya harus banget aku jadi teman dekat dia?" Tanya Rita.


"Ya tidak juga. Ternyata selama ini aku dan kamu salah paham. Kamu awal bilang bahwa Ney is my Buddy. Kamu tidak tahu arti Buddy itu apa?" Tanya Alex penasaran. Kalau memang Rita salah mengartikan, pantas saja selama ini dirinya juga sudah salah.


"Artinya teman kan. Teman biasa, waktu kamu nanya, 'Ney your Buddy?' Aku kan jawab, 'Yes she is my Buddy!' Ya maksudnya teman tapi bukan ke arah istimewa. Salah?" Tanya Rita yang keheranan.


"............. Coba deh kamu cari artinya di kamus. Kamu harus belajar bahasa Inggris lagi dengan benar," kata Alex dengan ekspresi datar lalu tertawa.


"Masa sih salah? Sebentar," kata Rita kemudian dia membuka Gugel dan mengetikkan arti kata Buddy. Saat membacanya, dia kaget!


"See? What?" Tanya Alex.


...BUDDY \= SOBAT...


"BAHAHAHAHA selama ini aku salah! Aku kira teman biasa artinya! Pantas kamu terus menyalahkan aku hahahaha maaf ya!" Kata Rita menertawai dirinya sendiri. "Kalau begitu teman biasa apa sebutannya?"


"Astagfirullah! PANTAS sajalah kalau begitu. Karena aku merasa aneh. Kamu bilang Ney itu sebagai Buddy kamu, tapi aku tidak melihat dia sebagai Buddy kamu. Dan kalian lebih sering banyak bentrok, tidak ada kecocokan satu sama lain kecuali kamu dengan Arnila. Kamu sama sekali tidak sadar kalau selama ini Ney memang sama sekali tidak menganggap kamu sebagai temannya?" Tanya Alex yang tidak mengerti.


"Baru kenal kamu, terbuka semuanya," kata Rita tertawa.


"😑😑😑kamu memang tidak peka. Ney itu sudah berkali - kali menolak kamu, dia memang "bertindak" tidak sebagai teman sama kamu saat pertama kamu dan dia bertemu. Dia sama sekali tidak berminat karena kamu tidak selevel dia. Tapi saat kamu kenal dan dekat denganku, aku bisa melihatnya dia mulai memperlakukan kamu layaknya Sahabat dia. Mengerti?" Tanya Alex berusaha menjelaskan dengan kalimat mudah dipahami Rita.


"Begitu? Berarti aku memang bodoh ya selama ini. Jadi tidak salah kan kalau aku dulu setahun off sama dia. Karena setelah itu, aku mulai memutuskan untuk mencari teman dekat yang lain," kata Rita.


"Tidak salah. Itu hal tepat, tapi entahlah dia punya pemikiran yang mumet banget! Buat aku pusing juga membacanya. Intinya kamu harus mulai hati - hati kalau dia mulai mendekati kamu, apalagi dengan kamu bilang dan dia pasti tahu ya lihat chat kamu dengan aku, menganggap dia sebagai Buddy kamu, dia semakin mulai tinggi. Dan BARU sekarang, dia mengakui kamu bukan demi teman. Tapi pastinya kanu merasakannya juga bukan? Kamu bilang kini kamu bisa melihat warna aslinya. Kamu juga pasti tahu bagaimana dia memperlakukan Arnila bukan? Kamu bisa lihat segalanya sekarang," kata Alex yang mulai terasa tenang.


"Pamor ya. Dia pasti berpikir 'Kalau aku pergi menjauh dari Rita, aku tidak bisa mendapatkan apapun. Tapi dengan munculnya Alex, aku harus bisa mencuri hati Rita'. Begitu?" Tanya Rita.


"Ya semacam itulah. Dia hanya memikirkan untuk dirinya sendiri, kamu atau Arnila sama sekali tidak ada dalam kehidupannya. Kamu pernah bilang kalau Ney seperti butuh teman tapi tidak butuh, ya baru sekarang aku menyetujui itu. Dia hanya butuh kamu agar Martabatnya menjadi tinggi. Kalau misalkan kamu dengan aku nih, dia akan bisa lebih menyombongkan dirinya sendiri ke semua orang. Dia bisa melawan kamu kalau dia sampai tahu kelemahan kamu apa, jangan sampai kamu terlihat lemah didepannya," kata Alex memberi peringatan.


"Kamu tahu kalau dia mengira kelemahan aku tuh kamu?" Tanya Rita.


"Hah?! How?" Tanya Alex kebingungan.


"Tahun lalu saat kamu membully aku terang - terangan sampai sekarang meski sudah berhenti. Ney selalu mengancam ku dengan bilang, "Awas kalau kamu tidak memberitahuku, aku akan laporkan pada Alex!" terus dia bilang begitu. Apa itu bentuk ancaman dia ke aku?" Tanya Rita.

__ADS_1


"IYA! Becareful ya. Ya ampun jadi dia sering begitu ke kamu selama ini? Terus kamu mengalah? Jangan!" Kata Alex dia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Memang mengerikan orang - orang bila mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2