
"Kamu tidak takut? Dia segampang itu memberikan kamu banyak barang? Bagaimana kalau dia punya niat jahat seperti membius kamu terus dibawa atau dijual?" Tanya Arnila yang sedikitnya ya mengingatkan Ney. Karena dia pikir Ney terlalu gampang suka sama orang sampai lupa waspada. Ney terdiam dia sama sekali tidak berpikir sampai kesana saking senangnya menerima barang mewah.
Dan memang sih dia juga merasa kenapa kelihatan gampang sekali ya dia meminta apapun, Syakieb selalu membelikannya?
"Ah, kamu terlalu suudzon bilang saja kamu iri kan. Ternyata Imron juga tidak sekaya Syakieb," kata Ney yang masih tidak percaya dengan perkataan Arnila dan pikirannya sendiri.
"Heh, aku bilang begini ya buat kebaikan kamu! Kamu kalau jadi orang jangan cepat kesenangan dulu sama pemberian orang. Cari tahu dong kenapa dia dengan mudahnya memberi kamu banyak barang. Kamu kan biasanya tukang kepo ke siapa - siapa tumben sama Mr. Syakieb, kamu tidak waspada. Pikir! Aku punya firasat jelek soal dia karena Rita saja tidak diijinkan sering bertemu sama Alex," kata Arnila. Dia tahu banget kalau Ney tidak akan peduli dengan omongan Arnila tapi yah apa salahnya dikasih tahu.
Ney tetap tidak peduli dia menghubungi Arnila hanya untuk memamerkan barang mewahnya yang banyak. Tapi malah kena omelan jadi dia tidak berselera lagi. Lalu Ney mengakhiri chat dengan Arnila dan pasti saja Arnila menceritakannya pada Rita.
"Ney dikasih banyak barang sama Syakieb. Dia seriusan, Ri!" Kata Arnila dalam telepon.
"Hah? Gila dia. Pasti pamer da ke kamu ya. Dia tidak ada rasa curiga gitu ke Syakieb? Aku saja agak tidak enak sih," kata Rita.
"Nah itu dia malah kegirangan banget. Banyak kirim foto, perhiasan juga ada. Aku takutnya lama - lama itu om - om minta yang lebih dari Ney," kata Arnila yang tampak cemas.
"Lah dia pasti senang saja tuh, Nil. Dia kan pacarannya dengan gaya begonoh," balas Rita yang cuek.
"Iya juga sih ya. Jadi ini bagaimana dong?" Tanya Arnila yang bingung.
"Ya biarkan sajalah sesuka dia nanti kalau dia pamer foto lagi, diemin saja. Lebih baik kamu urus soal pernikahan kamu saja daripada urus dia. Dia kan tidak akan peduli kita mau bicara apa juga,"
"Memang dia niatnya hanya untuk pamer saja ke aku. Dikatai Imron tidak tajir amat, siapa dia coba. Sama om - om itu saja tidak ada status," kata Arnila sambil tertawa.
Rita pun tertawa. "Iya. Aneh! Kondisi dia kok seperti perempuan panggilan ya?"
"HAHAHA! Memang begitu kali. Kalau aku sih ogah banget baru kenal diberi barang. Kesannya tuh bagaimana gitu ke akunya,"
__ADS_1
"Bahahaha pastinya eh bagaimana nih persiapan pernikahan kamu? Sudah berapa persen?" Tanya Rita yang mengalihkan topik.
Kemudian mereka berdua pun membicarakan soal urusan Arnila dan hampir selesai.
Hari demi hari terus bergulir, barang mewah dari Syakieb semakin banyak tapi Ney tidak bisa merapihkan kamarnya akhirnya dia tumpukkan saja semuanya. Dia pakai semua barang mewah itu saat berkumpul dengan teman kampusnya atau teman lainnya. Adik, kakak dan ibunya hanya menggelengkan kepala mereka melihat barang pemberian Ney semakin menumpuk.
"Kamu kok bisa sih dapat barang - barang ini? Ini kan mahal banget," kata kakaknya yang melihat jacket kulitnya berwarna hitam.
"Kamu mau pakai, pakai saja. Hari ini aku lagi mood baik," kata Ney tanpa menatap kakaknya.
"Ogah ah takutnya ada ilmu santet gitu. Habis aneh sih tidak biasanya lu bisa dapat barang mahal dari orang. Biasanya paling banter lu dapat kaos pendek dari pacar lu yang kere," kakaknya lantas menyimpang kembali jaket itu ke dalam kotaknya.
Ney tidak peduli apa yang dikatakan oleh kakaknya, dia sibuk menchat di grup sosialitanya. Isinya semua anggota sangat menyambut dirinya dengan meriah dan mereka juga memamerkan barang pribadi mereka.
"Kakak tidak curiga? Orang yang kakak kenal bisa saja nanti minta yang lebih," adiknya memandangi kakaknya yang sedang memakai baju baru.
"Hahaha biarkan saja. Kalau minta lebih tuh om lebih rugi. Dia kan sudah bukan perawan hahaha!" Kakaknya lalu melenggang pergi dan masih tertawa.
Tidak ada yang membantunya. Kakak dan adiknya pun terlalu merasa aneh menurutnya justru orang kaya pun enggan mendekatinya tapi ini malah berbeda. Pasti ada sesuatu di baliknya.
"Ma, kakak tidak akan apa - apa?" Tanya Zayn.
"Biarkan! Nanti juga dia tahu akibatnya. Teman - temannya sudah memberi peringatan, kita saja yang keluarganya sulit kan. Jadi biarkan saja, sesuka dia. Barang Ney jangan ada yang pakai ya," kata ibunya yang membaca koran.
"Wah, aku sih mana mau kak Cyphrin saja tumben tidak seperti biasanya," kata adiknya yang rebahan di lantai sambil memainkan ponselnya.
Hari ini Ney rencananya akan mengikuti perkumpulan alumni di sebuah cafe dengan teman - teman kampus yang sejurusan dengannya. Arnila sih tidak bisa karena sibuk yang lain kan. Ney memakai perhiasan gelang emasnya lalu cincin bertahta permata, baju atasan pendek bergaris pink hitam dan bawahnya memakai celana panjang yang setengah. Juga memakai tas tangan yang berbentuk kotak dengan ukuran sedang. Ponsel yang diberi baru oleh Syakieb poko e semua serba baru! Dia akan memamerkan semua barangnya pada orang - orang yang selalu memandang remeh kepada dirinya.
__ADS_1
Tak lupa juga dia dandan dengan menggunakan bedak dan lipstik tanpa memakai alas bedak. Lipstik merah dia poleskan ke bibirnya uang tipis, hampir tidak punya bibir sih. Tanpa ada riasan lain seperti blush on, mascara atau apapun tidak ada. Sederhana sih tapi yah, lumayanlah ya meskipun wajahnya jadi sangat putih karena dia memakai bedaknya cukup banyak. Dia sampai ke cafe tersebut, semua orang tampak memandanginya dan dia sangat puas karena banyak yang melihatnya terpesona.
Memasuki cafe, beberapa teman kampusnya melihat kedatangan Ney. Beberapa tertawa melihat penampilannya, tapi ada juga yang memang terpesona dengan semua barang yang dia kenakan. Dia disambut oleh ketua jurusan dan mempersilakan duduk.
"Norak amat!" Celetuk salah satu temannya.
"Heh! Helloooow ini semua tuh ya barang mahal tahu! Perhiasan yang aku pakai juga semua harganya dibatas 5 juta. Memangnya lu bisa beli?" Tanya Ney yang mulai memesan makanan dan minuman.
"Ya gue tahu itu mahal tapi agak tidak cocok ya kalau kamu yang pakai," salah satu lelaki kampusnya memperhatikan dirinya.
Anak - anak perempuan menghampirinya, mereka dikenal sebagai grup Emas yang isinya anak - anak bermerk. "Boleh juga tuh ponselnya. Itu kan keluaran terbaru. Beli dimana?"
"Ini? Aku dikasih sama pacar aku dong. Masa aku curi sih?" Tanya Ney sambil memamerkan ponselnya.
"Ya kali nyuri tipe ponsel yang begonoh mana mampu kamu beli kecuali kalau kamu memang benar anak tajir," kata A ( namanya Author kasih sederhana saja. Maklum banyak banget orangnya ).
"Dia benar anak orang khayahlah. Tas Gucci kaya begini tahu tidak harganya berapa? 5 juta. Kalian lelaki mana mungkin kan bisa beli buat pacar sendiri? Kerenlah nih. Bagaimana? Mau gabung kita tidak? Masih ada yang kosong," kata B yang ketua kelompok Emas.
Tapi Ney sadar mereka bukan sembarang kelompok sosialita kalau masuk kelompok mereka, barang yang mereka punya sangat detil. Kalau mereka tahu ini barang - barang pemberian om - om pasti langsung dicap gampangan.
"Oh, sori aku sudah masuk kelompok lain. Lain kali saja ya," kata Ney. Mereka tidak memaksa dirinya masuk ke grup, mereka masih bisa menghargai keputusan orang. Mereka juga bukan orang yang sok hanya pamer, kegiatan grup Emas sangat banyak salah satunya juga suka berbagi makanan ke orang yang membutuhkan. Intinya mereka tidak masuk ke dalam kelas Ney.
B kembali ke kelompoknya yang kemudian berbincang - bincang dengan rencana mereka nanti.
"Kamu tolak grup mereka? Sayang lho kalau kamu benar-benar anak kaya, gabung mereka banyak untungnya. Seperti undian," kata C sambil menunjukkan grup Emas.
"Tidak ah, bukan tipe gue mereka tuh. Bagaimana bagus kan? Pacar gue sayang banget sama gue apapun yang gue mau, langsung dibeliin sama dia," Ney kembali dengan kemampuan pamernya. Teman - temannya sebagian sudah malas menanggapinya dan sebagian pergi bergabung dengan yang lain.
__ADS_1
"Pacar kamu loyal banget ya. Aku iri deh," kata temannya yang duduk sebelah Ney.
BERSAMBUNG ...