
Ney terdiam mendengarnya, dia menjilati bibirnya, menelan ludah dan mulai kumat lagi penyakitnya. Dalam pikiran sudah sangat mudah jalannya menuju Rita, dia akan membalas semuanya dengan rapi.
"Aku janji," kata Ney sungguh-sungguh.
"Hubungi Alex saja," kata Arnila sambil berdoa kalau Ney memang mengaku salah. Dia hanya bisa berdoa semoga Ney tidak macam-macam.
"Tapi ini nomor Indonesia. Jangan-jangan dia ada di sini, Nil. Bagaimana kalau kita ketemuan saja? Lalu kita bicarakan lagi soal Rita, kita kerja sama lagi supaya si Rita berhenti baper. Lalu..." kata Ney mulai kumat.
"Lalu kamu mau jahatin dia lagi? Bully lagi? Kamu tuh tidak kapok-kapok ya. Tahu dia sensi, tahu dia baper tapi Ney menurut aku, kamu yang baper, kamu juga sok ngatur semua yang dia lakukan. Kenapa? Supaya kamu terlihat tinggi? Ney, kamu akan dibalas berlipat-lipat!" Kata Arnila dengan nada galak.
"Maksud aku kan baik," jawab Ney.
"Kalau seperti itu rencana kamu, memang kamu itu perundung. Kamu ingin Rita bahagia kan?" Tanya Arnila.
"Iyalah! Karena itu aku mengerti kalau dia lemot sama laki-laki jadi..." kata Ney.
"Kalau begitu seharusnya kamu mulai mengerti kalau Rita itu beda sama kamu. Kamu bantu dia perlahan, bukan mengejek apalagi sampai menyerang dia kan. Yang kamu lakukan selama tajun lalu itu bukan membantu Alex. Sama sekali!" Kata Arnila memberikan penekanan.
Alhasil Ney kembali terdiam.
"Dan lebih baik kamu benar-benar menepati janji. Kamu hubungi dia hanya untuk mengirim permohonan minta maaf. Setelah itu selesai urusannya, soal Alex yang suka sama Rita, bukan urusan kamu. Dia punya banyak cara agar Rita mengerti. Paham?" Tanya Arnila menuntaskan.
"Iya. Aku ingin Rita bahagia dengan Alex," kata Ney menunduk.
"Tapi kamu jangan pikirkan soal keuntungan dari Rita, Ney. Teman sesungguhnya itu bahagia kalau temannya mendapatkan kebahagiaan bukan kamu merendahkan dia di hadapan Alex. Ya salah. Kamu tuh harusnya netral tidak memihak siapapun, beri solusi tapi kamu malah jadi biang ghibah," kata Arnila menceramahi nya.
Ney semakin menunduk dan dia menangis. AGAIN!
"Jadi harus bagaimana?" Tanya Ney yang sesenggukkan.
"Aku sudah bilang sama Alex bahwa kita ingin Rita bahagia tapi kita salah menunjukkan arah ke Alex nya. Banyak jalan Ney bukan merundung, tidak salah bila akhirnya kita malah dijauhi oleh Rita," jelas Arnila.
"Maksud aku bukan merundung, Nil," kata Ney.
"Yakin? Dulu juga kamu kelakuannya begitu hasilnya? Ditinggalkan oleh sahabat kamu sendiri, mana kamu juga pakai meramal-meramal. Itu kan dilarang oleh agama kita seharusnya kamu tahu," kata Arnila.
Ney agak kesal dan sedih kenangan itu muncul lagi. Ney lakukan itu karena tidak ingin sahabatnya berpaling, bukannya membuatnya tenang malah membuatnya pergi.
__ADS_1
"Iya iya aku mengerti. Aku hanya mau minta maaf," kata Ney menghapus air mata.
"Oke, aku percaya. Alex bisa menghadapi kelemotan Rita. Justru lemotnya dia itu yang menarik hati Alex. Kamu tidak tahu kan?" Tanya Arnila membuat Ney kaget.
"Serius? Hanya karena lemotnya dia?" Tanya Ney menganga tidak menyangka ada lelaki tampan seperti pangeran, yang menyukai pribadi lemotnya.
"Iya memang. Makanya aku setuju apa kata Rita ke kamu, dia tidak butuh bantuan. Karena Alex ingin mempelajari ketulusan Rita tidak karena dorongan kita. Rita itu unik jadi meski kamu memaksa Alex suka, tapi hatinya memang hanya Rita," kata Arnila.
Miris. Ya begitu saat Ney mendengar penjelasan dari Arnila. Ney tahu Alex sangaat sayang pada Rita, penuh perhatian bahkan waktu itu dia tahu sebenarnya kalau Rita bahagia. Dia diberikan foto buket bunga, padahal bagi Ney itu hanya gambar.
"Rita itu senang meski diberi bunga meski hanya gambar. Sederhana sekali, Ney. Kamu terlalu berpikiran jauh soal Rita sejak awal kenal. Sedangkan kamu marah-marah kan? Itulah bedanya kamu sama dia dan hati Alex tidak pernah ada kamu," kata Arnila.
JLEB! Ney tahu itu sebenarnya tapi karena Rita lemot, dia malah membuat Rita berkobar yang membuatnya malah kena tinggal sama dengan teman-temannya.
"Aku serius ingin dia bahagia," kata Ney.
"Jangan ganggu dia lagi. Sudah sangat bahagia meski kita akan kangen dengan kebodoran nya," kata Arnila.
"Oke, niat aku memang hanya minta maaf saja," kata Ney bersungguh-sungguh dan memantapkan hati.
Setelah Arnila pergi, memang Ney sudah mantap hanya ingin minta maaf tapi dia tiba-tiba berpikir kembali, kalau sudah dimaafkan bukankah artinya dia bisa berteman kembali? Dan kalau iya, dia akan berkesempatan lagi mengetahui cerita lain selama 2 tahun ke depan saat dia tidak ada.
Lalu dia menghubungi nomor yang diberikan oleh Arnila. Telepon itu berdering terhubung bukan ke tempat Alex tapi salah satu penjaga yang ditugaskan berada di Bandung.
Dia keheranan nomor siapa yang masuk? "Halo?" Tanyanya dengan suara yang tegas.
Mendengarnya tersambung, Ney kegirangan. "Alex ya," kata Ney dengan suara yang maniiiis sekali.
Penjaga itu keheranan tapi Tuan Alex pernah bercerita bila ada yang menelepon dirinya, menyamar lah menjadi Alex. Dan dia mengerti inilah saatnya.
"Ya. Siapa?" Tanya penjaga itu, kita sebut saja Nafi.
"Iih kok kamu begitu sih? Ini aku Ney. Apa kabar? Kok tidak bilang kamu ada di Indonesia? Jadi kan kita bisa bertemu. Kamu sudah bertemu dengan Rita kan? Bagaimana?" Tanya Ney kembali kepo dengan bertanya bertubi-tubi. Niatnya hilang seketika.
"Ada urusan apa menelepon?" Tanya Nafi tidak menggubris semua pertanyaan Ney.
Ney terdiam mendengar jawabannya. Kok dingin sekali ya? Memang sih dia bukan Rita. "Kok dingin sekali sih tanggapannya? Aku ini sahabatnya Rita lho," kata Ney agak sombong.
__ADS_1
"Teman mungkin. Yang saya tahu sahabatnya Rita orang Palembang dan orang Cimahi. Kamu jangan ngaku-ngaku," kata Nafi datar.
Bagaikan tersambar buah durian di siang hari, membuat Ney hanya tertawa tipis mendengarnya. Ah ya Diana dan Komariah, dia lupa soal itu.
"Iya teman. Ya aku bisa ya lapor kamu ke Rita soal kelakukan kamu yang tidak sopan!" Masih lanjut Ney.
"Silakan. Rita tidak akan peduli. Urusan kamu menelepon saya ada apa?" Tanya Nafi mendengus. Begitulah perempuan.
Yang tadinya Ney merapihkan rambut dan baju ( meskipun aneh ya kan hanya menelepon ). Ney kesal sekali kehadirannya membuat penjaga itu sama sekali tidak takut.
"Aku mau tanya kamu pasti tahu kan nomor baru Rita? Aku mau minta," kata Ney langsung.
"Ada kan ya kalimat yang lebih sopan," kata Nafi.
Ney mendengus dan memutar kedua matanya. "Aku mau minta tolong bisa beritahukan nomor barunya Rita?" Tanyanya lebih sopan.
Nafi tersenyum sinis. "Untuk apa?"
"Ya untuk hubungi dia lah," kata Ney dengan nada jutek.
"Dia tidak akan mau menerima kamu jadi lebih baik hentikan," jawab Nafi memandangi titik dimana Ney berada.
"Apa sih urusan kamu!? Dari yang awalnya ajak kolab buat beri pelajaran ke Rita. Sekarang kamu memperingati aku untuk tidak mendekatinya!?" Teriak Ney marah.
"Saya penjaganya," jawab Nafi. Yah, dia kan sekarang pura-pura jadi Alex dan lupa kalau Ney tidak tahu. Jadinya pikiran Ney ya Alex sudah jadi penjaga spesial Rita.
Tentu dia kaget sekali mendengarnya. Sang penjaga hanya menahan tawa beserta para rekannya yang ternyata ikut mendengarkan, melalui alat perekam.
Dengan kode mereka mencari email Ney yang telah lama di blokir oleh Rita dan berhasil ditemukan.
"Penjaga!? Ka...kamu! Jadi kamu sama Rita sudah sejauh ini!?" Tanya Ney langsung berdiri.
Ney mondar mandir berjalan sambil menggigit jari jempol, sangat gelisah. Selama 2 tahun dia kena blokir kisah mereka sudah sangat jauh bahkan Alex menjadi penjaganya!?
"Aku hanya bisa membuka email kamu dan memberikan email Rita. Selebihnya, tidak ada," kata Nafi.
Bersambung ...
__ADS_1