ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(278)


__ADS_3

"Assalamualaikum," kata Ayahnya yang mengangkat telepon rumah.


"Walaikumsalam, yah," jawab Zayn.


"Ada apa, nak? Uangnya habis lagi? Kamu ini masa sama dengan kakak kamu sih?" Tanya Ayahnya dengan sedikit marah.


"Bukan ayah. Ini kak Ney, dia buat ijazah palsu," kata Zayn sambil melihat keadaan Ney yang masih terguncang.


"APA!? Buat apa!? Dia masih kuliah kan?" Tanya Ayahnya dengan nada kaget.


"Sudah tiga bulan dia tidak kuliah setahu aku sih dia diskors," kata Zayn sambil mengingat - ingat. Dia tahu karena bertanya pada teman di kampusnya, selama ini selalu ada di rumah.


"Karena apa!?" Tanya Ayahnya yang masih kaget lalu duduk di kursi. Ibunya sedang membuatkan makan malam mendengarnya berteriak alhasil mendekati suaminya.


"Kenapa, Yah?" Tanya Ibunya dengan cemas. Takut terjadi sesuatu pada kedua anaknya.


"Si Ney lagi - lagi berbuat masalah, ma! Dia sudah tiga bulan tidak kuliah, kamu tahu!?" Tanya suaminya.


"Astagfirullah! Kata Ney sih lagi libur kampusnya!" Seru Ibunya terkejut juga.


"Dan kamu percaya sama kelakuannya dia? Ma, bangun! Anak kita itu sudah sering buat masalah sejak dia di SD! Masa mama tidak periksa kebenarannya ke kampus dia?" Tanya suaminya yang marah - marah.


"Nah sudah tahu kan kalau dia bermasalah sejak SD, siapa coba yang memaksa dia sekolah di Bandung?" Tanya istrinya yang kemudian nyelonong ke dapur lagi. "Mama tahu dia bagaimana, itulah alasan kenapa mama menentang Ayah waktu Ayah bilang Ney harus mandiri di Bandung. Sekarang saja apa Ayah tahu kalau dia bermasalah sama teman yang sudah lama dekat sama dia? Sampai melakukan pembullyan sama temannya sendiri?" Tanya istrinya yang menaruh makanannya di meja makan.


Suaminya terdiam di tempat, tidak menyangka anak yang paling disayanginya ternyata sampai seperti itu. Selama ini apapun yang Ney minta selalu diberi karena menurutnya Ney akan menjadi anak yang penurut tapi ternyata malah membuatnya menjadi anak yang kurang. Pembullyan? Mana mungkin Ney melakukan itu! Ayahnya terduduk lemas kembali dan masih mendengar penjelasan Zayn anaknya yang paling terakhir.


"Ney? Melakukan bully? Serius, ma?" Tanyanya lagi tidak yakin yang baru didengarnya.


"Menurut kamu, aku bohong? Sekarang temannya berbalik melawan dia mana dia juga akan kehilangan teman satu - satunya itu karena kelakuannya. Dia memang pintar, Yah tapi sangat kaku dalam bermasyarakat. Dan cara dia untuk mendapatkan teman itu salah! Justru selama ini kita lihat dia sama sekali tak pernah mengajak temannya main ke rumah selain Arnila kan. Menurut Mama karena caranya pasti salah," katanya yang selesai memasak lalu duduk bersama suaminya.


"Terus teman yang habis di bully itu bagaimana? Lapor ke orang tua? Ma, kita harus datang meminta maaf sama temannya itu," pinta suaminya dengan cemas.


"Tidak usah. Dia sangat kuat sekarang kalau Ney bicara negatif dia bisa melawannya kembali dan itu membuat Ney mati kutu. Dia itu anaknya kuat lemah karena fisik saja tapi dalamnya berbahaya," kata istrinya.


"Begitu? Tidak seperti anak lain?" Tanyanya penasaran.


"Iya. Ayah jangan khawatir soal korbannya, dia baik - baik saja. Dia akan jadikan itu pelajaran untuknya hanya dia tidak akan pernah menjadi teman anak kita lagi, Yah. Trauma dan kecewa sekali yang Mama rasakan sih," kata istrinya sambil membelai tangan suaminya yang termangu.


"Apa bisa bertemu ya? Tetap saja Ayah ingin meminta maaf," kata suaminya yang memegang tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Entahlah. Kamu tahu kan kalau Ney sama sekali tidak suka kalau kita ikut campur dengan dunianya. Mama saja sulit bertemu dengan temannya itu apalagi Ayah. Ayah sedang menelepon Zayn kan?" Istrinya mengingatkan.


"Oh iya! Jadi Zayn lalu bagaimana?" Tanya Ayahnya yang kembali menerima teleponnya lagi.


"Jadi Ayah, kak Ney kena diskors karena plagiat dan mengklaim skripsi buatan orang sebagai buatan dirinya," lanjut Zayn toh dia juga sempat mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya. Zayn tidak tahu kalau kakak keduanya itu ternyata sudah bermasalah sejak di SD, karena Zayn saat itu dirawat di Rumah Sakit karena kecelakaan jatuh dari sepeda.


"Jadi selama 3 bulan itu, dia berbuat apa?" Tanya Ayahnya yang penasaran.


"Kerja tapi ...." kata Zayn.


"Kerja menggunakan ijazah palsu!? Kenapa kamu baru memberitahu ayah sekarang!? Kamu itu selama di Bandung kerjanya apa saja sampai baru tahu kalau kakak kamu beli ijazah palsu!?" Tanya Ayahnya yang sedikit membentak. Dari kakak sampai adik hubungan saudara mereka ternyata tidak seakrab seperti Rita. Oh iya keluarga Arnila juga sama seperti Ney tapi berbeda karena Arnila orangnya lembut dia juga banyak memiliki teman.


"Aku kan kuliah juga dan aku tahu dari pacarnya justru," kata Zayn yang ketakutan. Dia lebih suka bermain game bersama temannya daripada harus mengikuti arah obrolan kedua kakaknya.


"Kuliah apa kamu main game sampai begadang!? Banyak alasan! Ney masih pacaran dengan kekasihnya yang dulu itu!? Apa tidak salah?" Tanya Ayahnya. Ayahnya tidak menyukai Dins sama sekali karena yah, Dins jarang sholat mau bagaimana kalau nanti menjadi suami anaknya. Ayahnya berharap Ney berjodoh dengan yang ahli sholat ahli agama karena tahu Ney juga jarang sholat jadi ingin ada seseorang yang bisa mengajarkan kebaikan.


"Iya dengan itu," lalu menatap ke belakang dimana Dins sedang memukul mobilnya dengan kesal.


"DIA GILA APA!? Kok bisa - bisanya kembali lagi!? Dimana kakakmu sekarang? Kasihkan ponsel kamu ke dia! Semakin gila saja," kata Ayahnya dengan marah.


"Sabar Yah, ingat penyakit jantungmu. Aku belum mau kamu tinggalkan," istrinya mengingatkan suaminya yang sudah kepalang marah.


"Salah Mama juga, Ayah. Selama kamu sukses, Mama jarang sekali memperhatikan Ney serta anak lain, Mama malah terus belanja dan belanja. Saat Ney di bully pun Mama tidak ada di sampingnya meskipun akhirnya yah, malah mereka yang terluka karena Ney... ya begitu. Ternyata kata dokter dulu pun ada beberapa saraf yang salah pada Ney, waktu hamil Ney aku sebenarnya ingin menggugurkannya, Yah," istrinya mengaku. Suaminya terkejut.


"Kenapa? Ayah kan selalu menyambut senang," kata Ayahnya. Itu pun terdengar oleh Zayn, fakta soal kakak keduanya yang memilukan.


"Kondisi ekonomi kita yang tidak memungkinkan, Yah. Mama pikir cukup satu anak dulu, nanti kalau keuangan kita sudah cukup naik baru kita usaha lagi untuk punya anak tapi ..." kata istrinya yang menyeka air matanya.


"Jangan - jangan bekas obat yang aku temukan itu... perbuatanmu, Ma?" Tanya suaminya uang kaget.


"Iya. Aku sengaja banyak minum obat awalnya agar anak kedua tidak hadir tapi ... itu malah membuatnya kuat dan ternyata efeknya malah membuat kurang pada saraf dia. Maaf, Ayah." Akhirnya istrinya menangis tersedu - sedu.


Suaminya tidak bisa berbuat apa - apa selain memeluk istri kesayangannya itu dan membuatnya berhenti menangis. "Ini salah kita berdua. Kamu dengar Zayn? Cari pasangan yang baik jangan seperti kedua kakak kamu. Ingat yang rajin sholat,"


"Iya, Ayah," kata Zayn yang menyeka air matanya. Kalau saja kakak pertamanya mendengarkan. Ah ya dia kan ikut dengan Mama ke Jakarta pasti dengar juga.


"Kenapa Ayah keras sama kamu karena agar kamu punya masa depan yang cerah tidak seperti Ayah. Lalu sedang apa kakak kamu?" Tanya Ayahnya lagi.


"Lagi menangis, Yah," kata Zayn yang melihat kak Ney belum keluar dari mobil Dins.

__ADS_1


Ayahnya menghela nafas sudah saatnya semuanya diperbaiki meskipun sudah terlambat. Ayahnya sadar kalau usianya tidak panjang, dia harus bersiap. Setidaknya istrinya mengaku kalau dia pernah berniat menggugurkan anaknya dan menyesal saat tahu seperti apa efeknya. Jadi peringatan buat pembaca ya kalau sedang hamil jangan sok tahu minum obat karena ini asli ya berdampak pada anaknya nanti. Dan dalam akhir surat keterangan kesehatan Ney terdapat riwayat penyakit yang dideritanya yang selama ini kenapa ibunya selalu banyak nasehat.


"Kalau begitu uang yang selalu Ayah kirim setiap bulan ke Ney, dia pakai buat apa?" Tanya Ayahnya yang sangat cemas. Jakarta memang lingkungannya sangat berbahaya dibandingkan Bandung. Dan tahu juga kebiasaan Ney bagaimana dia salah memilih pertemanan dan sejak keluar dari SD dia sudah mengenal soal mabuk, minuman keras dan dugem.


"Yah seperti biasa yang Ayah selalu tahu," kata Zayn dalam telponnya.


"SURUH DIA PULANG! Mana dia? Berikan saja ponsel kamu biarkan dia supaya double menangisnya!" Ayahnya memberi perintah dengan galak.


Dengan terburu - buru, Zayn berlari menuju mobil Dins dan memberikan ponselnya pada Ney yang sedang menyeka air matanya.


"Kak, Ayah sedang marah nih. Kakak disuruh pulang ke Jakarta hari ini. Nih!" Zayn memberikan ponselnya pada Ney. Dengan tangan gemetaran Ney menerima ponsel adiknya dan ketakutan tapi tahu kalau Ayahnya akan membela dia.


"APA YANG KAMU PERBUAT LAGI, HAH!? BELUM CUKUP KAMU MENGECEWAKAN AYAH!?" Teriak Ayahnya. Ney kaget dan hanya terdiam, jelas sekali kali ini Ayahnya sangat marah.


"Bukan begitu, Ayah.. Ney tidak bermaksud..." kata Ney yang kemudian dipotong oleh Ayahnya.


"Ayah sama sekali tidak pernah mengajari kamu untuk plagiat bahkan kamu sampai membuat ijazah palsu!? Kamu ini kenapa sih karena kamu menerima banyak uang dari Ayah, begitu? Karena hanya kamu yang gampang Ayah beri uang tambahan!? JAWAB!" Teriak Ayahnya lagi membuat Ney terdiam.


Ney terdiam dia menangis lagi tapi dengan suara yang tertahan Dia bingung harus menjawab apa ditambah hari ini juga adalah hari terakhir dia bersama Dins, dan semua orang menghilang dari hadapannya karena ulahnya sendiri. Akhirnya hanya mendengarkan apa kata Ayahnya saja. Sambil menangis juga.


"Ayah selama ini lebih mengutamakan kamu, dan ini yang kamu balas pada Ayah? Ayahmu ini salah apa, nak?! Sama kan dengan perbuatan kamu selama bertahun - tahun sudah ada yang dekat tapi kamu bully dia, PUAS KAMU MELAKUKAN ITU SEMUA!?" Gelagar Ayahnya membangunkan Ney.


Itu pastilah ibunya yang cerita atau kakak pertamanya, yang membuat Ayahnya marah besar saat itu juga dan Ney hanya bisa menangis meraung - raung mendengarnya.


"Sampai Ayah kurang memberikan perhatian pada kakak pertama dan adik kamu sendiri, Ya Allah bagaimana Ayah mempertanggung jawabkan semua ini kalau nanti Ayah meninggal? Ayahmu ini sakit, nak tolonglah jadi anak yang baik kasihan ibu kamu yang selalu rajin mengingatkan sembahyang, berbuat baik. Kamu ini maunya apa sih? Ayah kasih kamu uang tambahan karena kamu bilang untuk mentraktir teman, untuk membeli peralatan kuliah lalu kamu cuti 3 bukan karena kamu ketahuan plagiat!?" Tanya Ayahnya yang tentu saja dijawab dengan isakan tangisan Ney.


"Ney, kurang apa sebenarnya kenapa kamu sampai hati berbuat itu semua? Kamu ini kenapa?" Tanya ibunya dibalik teleponnya yang juga menangis. Ibunya tahu tanda ini sudah terlihat sejak keluar SD tapi masih belun bisa memberitahukan Ney keadaannya yang sebenarnya.


"Kamu pakai apa uang yang Ayah beri sana kamu setiap bulan. Jawab Ney, kamu itu punya banyak kesalahan bohong pada kedua orang tua kamu, sial masalah yang kamu alami pun kenapa harus sampai Berbohong? Kamu pakai uang Ayah untuk mabuk? Dugem? Kamu ini sudah dewasa kapan kamu bisa berubah? Belajarlah untuk menabung untuk masa depan kamu, sudah bukan waktunya lagi kamu berfoya - foya apa kamu tidak malu dengan Zayn?" Tanya Ayahnya lagi.


Zayn menunggu di balik mobil bersama dengan Dins yang sedang melamun. "Zayn, setelah ini aku serahkan Ney sama kamu,"


Zayn memandangi Dins dengan heran. "Kenapa kak?"


"Aku sudah teramat lelah dengan kelakuan kakak kamu. Tampaknya aku memutuskan untuk putus dengannya, mencoba peruntungan lain dengan orang lain," katanya sambil memandang langit.


Zayn terdiam mengerti, kakaknya memang sukar dijelaskan. "Tapi kak Ney terlihat tulus mencintai kakak,"


Dins tertawa mendengarnya. "Tulus? Selingkuh dibelakang sampai 4x kamu sebut itu setia? Sebut itu tulus?" Tanyanya tanpa memandang Zayn.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2