ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(343)


__ADS_3

"Lalu kita harus bagaimana, Mbak?" Tanya pegawai B yang bergantian.


Aura berpikir apa mereka salah menerima orang ya? Padahal hanya butuh untuk 3 bulan saja tapi nyatanya orang tersebut bukannya rajin menaikkan kualitas kerja malah membuat onar.


"Ada yang lain?" Tanya Aura penasaran.


"Dia bilang kalau Bos tidak adil memberi gaji kepadanya sebagai Asisten Cafe, seharusnya Bos memberikan gaji yang berbeda kepadanya," kata A.


"Lho? Itu kan kesepakatan Rita dan Bos. Kalian beritahu dia tidak?" Tanya Aura.


"Sudah, Mbak. Tetap saja tidak adil katanya harusnya gaji Rita dan pegawai lain dibawah dia," kata B sambil melihat keadaan sekitar. Kalau ada Ney muncul, tidak enak juga.


"Ini sih salah Rita!" Tegas Aura.


"Kok salah kak Rita?" Tanya B kebingungan dia menatap temannya di sisinya.


"Iyalah kan yang mengenalkannya itu dia siapa lagi? Kenapa juga dia menawarkan pekerjaan ini ke temannya itu," kata Aura kesal ternyata sepergiannya mereka, ada masalah.


"Bukannya itu keputusannya Bos ya?" Tanya B pada A yang tentu saja didengar oleh Aura. Aura terdiam terkadang Aura pun melupakan posisinya hanya sebagai Asisten bukan wakil. Bos Cafe tersebut agak enggan memberikan posisi tersebut pada Aura yang dinilai kurang bisa mengemban tugas yang berat.


"Ya sudah begini saja kalau dia mengatur apa - apa lagi, kalian awasi saja. Kok dia semakin seenaknya ya padahal hanya bekerja 3 bulan." Kata Aura yang langsung menutup ponselnya.


"Hei, sepertinya kita salah memberitahukan deh," kata A yang merasa bersalah.


"Harusnya kita beritahu bos. Bagaimana ini?" Pikir B.


Beberapa hari kemudian ada kejadian dia tengah bertengkar dengan beberapa pegawai meja depan yang tidak mau melayaninya membawakan beberapa makanan atau minuman atau juga membelikan dia beberapa barang atau makanan. Dengan membawa posisi pekerjaan dia yang lebih tinggi daripada dirinya.


"Heh! Harusnya kamu sadar ya. Posisi saya tun lebih tinggi dari kamu. Saya bisa lho laporkan kamu pada Bos yang tidak mau melayani saya dengan baik!" Ancam Ney sekaligus menakuti pegawai tersebut.


"Silakan saja memangnya kakak ini yang memutuskan saya bekerja disini? Saya tahu posisi saya rendah dibandingkan kakak tapi masa sih lulusan S3 kelakuan mirip orang tidak berpendidikan?" Tanya pegawai tersebut lalu meninggalkannya yang kesal marah - marah.

__ADS_1


Ney juga memesan makanan seenaknya membuat chef di dapur menghela nafas dengan kesal. Karena Ney terus menerus memilih pilihan menu yang tidak jadi dia pesan sehingga membuat Rita dan 5 pegawai menunggunya dengan lelah di belakangnya.


"Saya mau pesan dong. Yang itu saja, eh bukan bukan sepertinya tidak enak ya. Salad segar tidak ya dimakan sore gini? Eh, tidak jadi Chef. Aku mau pilih Pasta saja, tapi aku nanti belepotan ya karena saus kejunya. Aduh, aku jadi pusing!" Kata Ney yang memang disengaja membuat semuanya menunggu.


"Woi! Buruan dong! Memangnya kamu pikir ini cafe punya kamu apa? Chef, aku pesan Pasta!" Teriak A dengan mengangkat tangannya.


"Eh, enak saja! Aku kan urutan paling depan, ya kamu tunggu dong!" Kata Ney keberatan tapi pada akhirnya semuanya mengangkat tangan untuk memesan termasuk Rita. Dan chef menuliskan menu yang mereka inginkan dan meninggalkan Ney meski pada akhirnya Ney memutuskan Gordon Bleu.


"Chef, aku chip and potato plus chicken soup!" Kata Rita dengan suara lantang tapi tetap saja suara yang terdengar kecil untuk Chef yang kemudian tertawa. Akhirnya Rita menunjukkan nomor yang ada di pilihan menu.


Saat makan pun melihat hidangan terhidang dia melihat punya Rita nampak lezat dan tiba - tiba saja menyelonong untuk menyendok nya namun Rita langsung berpindah tempat duduk. Dan memilih duduk dekat dapur yang dimana itu adalah tempat paling Ney benci menurutnya makan dekat tempat itu sangat menjijikkan. Semua makanannya pun terselamatkan dengan baik, meski ditanya oleh beberapa chef.


"Kenapa makan disini?" Tanya Chef yang lumayan keren.


"Takut makananku di makan orang rese." Kata Rita yang menyuap hidangannya dengan senang.


Tentu saja Ney kesal melihat Rita menghindarinya. Dia makan pesanannya dengan nikmat juga meski sendirian. Sejak perilakunya yang seenaknya dan mengantri super lama, mana ada juga yang mau dekat - dekat dia. Kemudian berlanjut saat membayar, padahal mereka semua baru digaji kan harusnya uang masih ada.


Rita nyengir geuleuh kepadanya. "Maaf, uangku juga pas banget tidak ada lagi. Kamu ambil saja ke kantor. Malas amat!" Kata Rita yang langsung membayar dengan yang pas dan melenggang pergi.


"Biar aku pinjamkan. Aku bawa uang lebih kok," kata seorang pegawai.


"Tidak usah, aku mau ambil dulu uangnya," kata Ney yang kemudian bergegas jalan cepat ke lantai bawah.


"Lho, katanya dia tidak bawa uang? Apa dia cuma mau pinjam dari Rita saja?" Tanya Yen merasa aneh.


"Mungkin. Kenapa sih dia itu? Awal kerja katanya bukan teman lalu saat ditanya bilang teman. Musuh tapi ada maunya ya," kata yang lain merasa aneh juga.


"Hati - hati sama orang yang seperti itu," kata yang lainnya lagi.


Ney lalu kembali dengan memberikan uang 100.000 kepada kasir. Lalu bermaksud kembali ke kantor. Melihat Rita yang tengah mencuci piring dengan gaya soknya memasuki dapur. Mencoba menyombongkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Untung ya aku kerja di sini dapat posisi tinggi tidak seperti kamu, Rita. Pelayan. Sekarang kamu tugasnya ada mencuci piring ya, untung juga kamu sudah kembali bekerja kalau aku terus menerus cuci piring, kukuku bisa rusak semua." Kata Ney sambil menunjukkan semua kuku jemarinya pada Rita yang terawat.


Rita yang mencuci semua peralatan hanya menghela nafas. "Anehnya meski jemari kamu terawat pun kok masih kelihatan luka mengelupas. Apalah artinya jemari indah kalau tidak bisa melakukan pekerjaan rumah? Nih lihat jemariku semuanya terawat tapi bisa melakukan pekerjaan rumah dengan rapih." Kata Rita menunjukkan jemarinya yang terawat, padahal dia malas memotong kuku. Dibandingkan bukan maksud begitu juga hanya membalas saja. Jemari Rita yang putih mancung dengan Ney yang gelap dan luka mengelupas. Mana yang indah dipandang?


Setelah itu Ney menurunkan jemarinya dan pergi begitu saja ke kantornya, dia marah sekali Rita membalasnya dengan menohok. Rita hanya tertawa sambil terus mencuci semuanya yang ada di Cafe. Saat mencuci peralatan, hanya Rita yang tidak pernah memakai sarung tangan beralasan kalau pakai sarung tangan sulit menjamah bagian yang masih ada kotoran.


Pekerjaan yang dia kerjakan pun sepertinya seenaknya saja dan tidak pernah diperiksa ulang. Rita hanya mengingatkan apalagi soal keuangan tapi Ney selalu merasa dirinya lebih pintar daripada Rita. Yang membuat Rita kesal dan tidak pernah menanyakannya lagi.


Saat itu Aura dan Apollo sudah kembali dan melihat semuanya tampaknya benar saja kalau Rita dan Ney memang sulit disatukan. Dan soal kasus kemarin pun pegawai A dan B ceritakan pada Apollo. Dia geram sekali apalagi melihat yang dilakukan Ney dan akhirnya memeriksa semua pekerjaannya.


Kembali pada penyidangan dia di hari ini, Apollo marah besar soal kesalahannya yang menghitung gaji karyawan dan semuanya. Untung saja Apollo memeriksa ulang tidak langsung menandatangani begitu saja. Meskipun Ney memaksa semua pekerjaannya tidak perlu diperiksa ulang ternyata, dia memakai kesalahannya dengan sengaja agar gaji Rita dibawahnya.


"BOS, TIDAK PERLU MENUNGGU 3 BULAN. SEKARANG SAJA PECAT DIA!" Teriak Apollo yang menghentakkan semua lembaran pekerjaannya ke hadapannya.


Ney tidak menyangka hasil pekerjaannya akan diperiksa oleh Apollo dan bukan Mbak Aura yang selalu terlihat percaya kepadanya. Bosnya pun cukup terlihat kecewa sekali dengan yang diberikan oleh Ney. Ney memang salah menghitung dan memasukkan besaran gaji. Dan anehnya hanya 3 pegawai yang tidak mendapatkan bonus sedangkan Ney dapat bonus dari mana?


"Ney Ney, kamu ini kenapa sih? Awal bulan kerja kamu bagus tidak ada masalah. Soal bonus ini juga sama sekali tidak sesuai, kenapa kamu lebih besar? Bonus ini hanya untuk karyawan di depan. Kamu, Aura, Apollo itu tidak ada urusannya. Coba kamu baca aturan di Cafe," kata Bos menggelengkan kepalanya. Dia melemparkan data itu dengan biasa di meja Aura.


Ney menangis mendengarnya. Tidak seperti dirinya saat mereka tidak ada, angkuh dengan segalanya tapi setelah ketahuan liciknya, dia menangis. Apollo sangat tidak suka perempuan seperti dirinya.


"Kamu licik seperti rubah!" Kata Apollo yang membuat Ney semakin tertohok. Yah, dikatai sama gebetan seperti itu siapa juga yang bisa tahan?


"Sudah sudah biar aku, Rita dan Sona yang urus keuangan. Mereka berdua kan pernah kamu tugaskan menjadi bagian keuangan kan," kata Aura yang bersikap netral dan adil, padahal sama juga sih seperti Ney hanya dia malas berhadapan dengan Apollo yang sangat mengedepankan profesional.


"Tidak usah, Mbak. Biar aku saja ini kan pekerjaan saya. Saya akan bertanggung jawab! Kemarin - kemarin saya sedang sakit kepala jadinya tidak fokus saat menghitung dan mengetik laporan," kata Ney mencari alasan. Semoga saja mereka semua mau menerima alasannya.


"Yakin kamu sakit? Karena wajah kamu sama sekali jauh dari namanya sakit apalagi kamu terlihatnya sering berbuat onar ya dengan semua pegawai disini," kata Apollo sambil melipatkan kedua tangannya. Ney terdiam mendengarnya dan kaget juga menatap Apollo. Kok tahu?


"Apollo," kata Bosnya. Apollo lalu pergi keluar dengan menggebrak pintu. Ney melihat Apollo terkesan membela Rita tapi mungkin dia salah toh Rita kan harus jadi dengan Alex. Jadi dia akan bertahan dengan semua sifat Rita. Setelah itu, dia akan masuk untuk meracuni Alex semua tentang Rita yang dia ketahui.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2