ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(142)


__ADS_3

...ROTI BAKAR MENTAI...


Bahan : 8 lembar roti tawar, potong segitiga


3-4 butir telur rebus


6 sdm mayones


6 sdm saus sambal


3-4 sdm mentega tawar


Toping : 2-3 sdm furikake


Cara Membuat:


Hancurkan telur rebus dengan bantuan garpu,


Tambahkan mayones dan saus sambal, aduk rata.


Lelehkan mentega tawar, panggang roti hingga kedua sisinya kuning,


Tambahkan adonan telur di atas roti lalu taburi furikake,


Panggang roti sampai atasnya berwarna kuning keemasan.


"Selesai?" Tanya Imron yang takjub dengan semua buatan Arnila. Sangat cepat dan rapi.


"Yupz. Aku mau taruh di keranjang dulu setelahnya, ini sisa bisa kita makan bersama dengan paman dan bibi," Imron membantu Arnila membereskan yang kadang dicolek lalu ketahuan. Yak, akhirnya hidangan mereka untuk keesokan harinya telah selesai sekalian Rita juga menyiapkan tempat untuk makanan yang akan dia paketkan besok, Arnila juga sudah menyiapkan kue cokelat kering untuk Alex.


Kalau Ney? Entahlah mungkin dia akan beli karena dia mempersiapkan cemilan juga sekedarnya. Keesokan harinya akhirnya tiba, Rita, Ney dan Arnila bersiap - siap untuk pergi. Mereka berjanji bertemu di depan BIP sekitar pukul 10 pagi. Setiap harinya, selalu macet jadi lebih baik pergi dari pagi.


"Sukses ya pikniknya kalau ada sisa jangan lupa dibawa pulang!" Teriak Prita yang baru bangun. Hari ini dia tidak ada kuliah jadi mau bersenang - senang di rumah. Rita berangkat dengan perasaan yang senang oh iya, tidak lupa dia bilang pada Alex kalau siap untuk piknik.


"Jadi kamu sedang dalam perjalanan?" Tanya Alex di inbox messenger PB.


"Iya. Nih, aku juga sudah siapkan paket untuk nanti aku kirim ke paman kamu,"


"Aku tidak sabar! Kalian janjian jam berapa?"


"Jam 10. Soalnya pasti di jalan macet," jawab Rita yang berhenti sejenak untuk naik angkot. Didalam dia kembali lagi mengetik membalas chat Alex.


"Akan ada yang lama datang. Lebih baik kalian cari tempat saja dulu,"


Hm? Ngaret maksudnya? Siapa ya?


"Paling tunggu 15 menit saja deh kalau ada yang belum datang," balas Rita.


"Ya sudah. Nanti kirim fotonya ya. Aku mau lihat," kata Alex.


"Baiklah jangan iri ya!" Balas Rita sambil tertawa. Tapi sebisanya dia tahan karena berada dalam angkot yang mulai penuh.


Dan juga kalau paketnya sudah terkumpul semua mau dikirim langsung hari itu juga setelah piknik tentunya. Akhirnya yang dinanti tiba juga, Rita melihat Arnila yang baru saja tiba diantar oleh pasangannya.

__ADS_1


Pasti itu yang namanya Imron, pikir Rita. Arnila melihat Rita dari jauh dan melambaikan tangan, ketika itu juga Imron melihatnya. "Itu yang namanya Rita?"


"Iya," jawab Arnila dengan gembira. Imron memperhatikan tingkah Arnila yang sangat gembira lalu melihat Rita yang perlahan sampai ke tempat mereka.


"Cieee yang diantar calon," kata Rita menggoda Arnila.


Dengan malu - malu, Arnila menjawab, "Iya nih. Oh iya kamu belum pernah bertemu kan. Ini Imron calon suami beberapa bulan lagi dan ini Rita," dia memperkenalkan calonnya kepada Rita. Rita dan Imron saling tersenyum dan menundukkan kepalanya sedikit.


"Ney mana?" Tanya Rita melihat ke sekeliling tapi tidak menemukannya.


"Lho, aku kira kamu janjian sama dia. Biasanya kan kalian suka datang bersama. Aku baru pertama yang datang," kata Arnila yang juga sambil melihat ke kanannya.


"Paling juga ngaret," jawab Imron yang sepertinya sudah hafal banget soal Ney.


"Pastinya. Lalu mau bagaimana?" Tanya Arnila bingung.


"Kita tunggu saja disini," kata Rita yang kemudian berdiri di samping Arnila tapi agak berjarak.


"Seperti biasanya sih dia pasti belum bangun. Mau coba aku telepon?" Tanya Arnila sambil mengeluarkan hpnya.


"Bolehlah," jawab Rita.


Arnila lalu menekan nomor Ney dan menunggu dijawab olehnya tapi beberapa nada sama sekali belum tersambung.


"Dia kalau tidur jam berapa sih? Masa sudah jam 10 belum bangun," kata Rita yang heran. Dia saja tidur bangun jam 8 sudah digetok sama ibunya dan adiknya.


"Dia suka begadang sih kadang kerjain tugas tapi jarang juga kerjanya," masih belum diangkat.


"Begadang tugas? Masa iya? Perasaan dia kerjanya main mulu. Bagaimana?"


Imron berdiri di sebelah Arnila tapi dia merasa agak sungkan tidak enak pada Rita.


"Jauh dikit kenapa?" Tanya Arnila sambil menggeser Imron agak menjauh sedikit.


"Kenapa sih?" Tanya Imron yang bergeser lagi ke tempat semulanya.


"Ya tidak enak. Rita kesini sendirian sampai disini, aku sama kamu, Rita sama siapa?" Rita dan Imron tertawa terbahak - bahak.


"Alah! Aku kira ada apa! Tidak apa - apa, aku maklumi ko. Santai saja, hanya Alex bilang katanya akan ada yang datang sangat terlambat jadi lebih baik kita cari tempat saja dulu. Kita tunggu 15 menit deh, kalau dia masih lama muncul kita duluan saja ke mana terus kasih tahu dia," Rita melirik jamnya yang sudah mau pukul 11. Ini sih kelewatan kalau Ney muncul pas jam 1 siang.


"Kamu beritahu Alex soal hari ini?" Tanya Arnila. Imron hanya mendengarkan saja.


"Sudah dia tidak sabar untuk paketnya hahaha. Oh iya, kamu jadi mau kasih ke dia juga?"


Arnila mengangguk dan memperlihatkan kue cokelat kering yang dia buat. Tampak enak banget! Apa Arnila buat juga untuk mereka ya? Melihat itu, Imron agak sedikit cemberut dan Arnila menjelaskan seperti yang dia katakan di rumah.


"Wahahaha tenang saja bukan Arnila saja kok," kata Rita menenangkan mereka berdua.


"Alex itu inginnya makanan buatan Rita tapi aku juga ingin kasih. Tidak apa kan?" Tanya Arnila sambil memegang tangan kanan pasangannya. Dia takut Imron marah.


"Mungkin Ney juga mau ngasih deh. Dia kan bicaranya begitu ke kamu tapi aku yakin dia pasti mau ngasih juga. Jadi jangan marah sama Arnila dulu," kata Rita.


Imron tertawa lalu mengacak - acak rambut Arnila. "Tenang saja. Aku tidak marah karena Alex itu sepertinya memang lebih condong ke teman kamu. Oh iya, boleh tidak aku gabung?"

__ADS_1


Rita dan Arnila saling memandang. Rasanya tidak enak sih kalau ada lelakinya karena kan rencananya hanya mereka bertiga ya. Arnila sih sepertinya keberatan tapi melihat Imron yang ingin gabung, ya takpe.


"Boleh saja!" Kata Rita yang disambut wajah datar Arnila. "Tapi sebaiknya tidak usah!" kata Rita lagi sambil ketawa garing. Imron yang senang langsung berubah kecewa tapi dia mengerti dan tidak memaksa.


"Rita, satukan saja deh ini kuenya daripada nanti diambil orang sebelah," Arnila langsung memberikan kue keringnya pada Rita. Rita tertawa lalu menerimanya dan memasukkan ke dalam tas besar yang dia bawa. Sudah 15 menit berlalu tapi Ney masih belum menampakkan dirinya. Akhirnya, mereka bertiga mencari tempat yang cocok dijadikan piknik dan kebetulan ada Taman Wisata. Di tengah halaman kota terdapat taman yang besar cocok untuk berpiknik.


"Tinggal beritahu Ney saja," kata Arnila yang akhirnya mengirimkan teks di WA.


"Kita foto dulu yuk!" Ajak Rita. Mereka bertiga akhirnya berfoto dan Rita mengirimkan pada Alex.


"Siapa itu!? Jadi kamu janji bertemu lelaki juga?!" Teriak Alex.


"Bodoh! Itu tunangannya Arnila! Sebentar lagi mereka kan akan menikah. Arnila diantar ke sini," jelas Rita sambil tertawa.


"Fiuh! Aku kira... jadi Ney belum datang?" Tanya Alex yang sudah tahu kalau Ney masih tidur pulas.


"Yups. Dia pasti datang terlambat. Sudahlah mau datang atau tidak, terserah dia. Oh iya Arnila juga mau menyumbang kue buatan dia," Rita kemudian memfoto penampakan kuenya dan Alex senang.


"Tapi kamu buat banyak kan makanannya untuk aku?"


"Dasar tukang makan!" Jawab Rita.


Kemudian 10 menitnya, datanglah WA dari Ney yang isinya mereka bertiga membacanya dan menggelengkan kepala.


"Maaf! Aku lupa!" kata Ney.


"Tidak apa - apa kalau tidak akan datang juga," balas Rita yang sudah bete.


"Ini sudah hampir siang, Ney. Taman sudah penuh untung kita bertiga cari tempat dulu. Lagi dimana sekarang?" Tanya Arnila.


"HAH!! Bertiga? Alex jadi ke Bandung? Wah aku harus dandan nih," itu balasannya. Arnila memperhatikan Rita dengan wajah menyebalkan.


"Hahahaha jangan diberitahu! Biarkan saja, Nil supaya dia cepat datang," kata Rita sambil cekikikan.


"Oh, Ney suka sama Alex? Tapi sepertinya kena tolakan ya? Kalau lelaki sampai minta kamu buat makanan untuk dia artinya pertanda bagus tuh,"


"Iya Rita. Sepertinya Alex punya perasaan sama kamu deh. Pertahankan terus ya,"


Rita yang tidak percaya hanya bengong. "Oh ya? Hmmm mungkin. Aku juga suka sama dia,"


Arnila dan Imron memandangi Rita dengan wajah takjub. Memang Rita akan jujur kalau dia merasakan sesuatu tidak akan membohongi dirinya sendiri.


"Aku sudah di jalan nih!" Kata Ney.


"Kamu mandi tidak. Tanyakan itu ke dia, yang. Aku yakin bangun tidur dia pasti langsung ganti baju dan pergi begitu saja,"


"Wah! Tahu banyak ya?" Tanya Rita heran.


"Ya iyalah, Ri.. kamu tidak tahu dia bagaimana waktu kuliah. Ya tidak, Yang?" Kata Arnila menyikut tangannya.


"Itu perempuan atau lelaki ya. Waktu kuliah pernah pas dia lewat, ada bau bagaimana gitu tahunya kata teman - teman kampus dia tidak mandi,"


"HIIII! Masa sih!? Kalau dirumah sih mending tidak mandi tapi kan kuliah gitu banyak ketemu orang!" Rita merinding kalau kebiasaan Ney sangat jauh parahnya.

__ADS_1


"Serius! Makanya dia dijauhin. Kamu juga pasti tahah seperti kejadian kemarin bagaimana.. kan? ada iler, mata belekkan. Beuh!" Arnila juga merinding mengingatnya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2