
Beberapa bulan terlewati, saat itu Ney maupun Rita mereka semua sibuk mengurusi perkuliahan mereka. Kejadian tidak mengenakkan itu pun berlalu, Arnila dengan gengnya juga mulai sering main bersama, Ney yang melihatnya hanya memandanginya dari kejauhan.
Dia juga kembali dengan kuliah susulannya, Tika juga tidak mengganggu lagi dia sibuk dengan kerja sambilannya juga kuliahnya. Rita pun sama dia menghadapi praktek mengajar dan tidak punya waktu banyak untuk mengobrol di grup lagi. Terkadang Arnila menyapanya dan Rita membalasnya bila ingat saja.
Rita juga keluar dari grup mereka dan menghapus semuanya karena sudah sangat mengganggu. Arnila juga mengetahui hal itu dan juga keluar, dia melihat Rita super sibuk dengan jadwal mengajarnya dan tidak mungkin bisa chat lagi. Jadi yang masih dalam grup hanya Ney yang masih belum sadar kalau dirinya hanya sendirian.
Alex masih sering mengunjungi Rita dalam bentuk Roh. Dia sangat merindukannya tapi tidak ingin mengganggu kegiatannya. Dia pun kembali memutuskan bekerja dengan giat toh, Rita akan kembali padanya lagi untuk sekarang dia hanya akan bersabar.
Kita bahas satu per satu pertama soal Arnila well, tidak ada yang terjadi padanya. Dia tengah senang berkumpul lagi bersama teman satu gengnya dan dia disambut baik oleh mereka. Mereka juga tidak menyukai Arnila terlalu dekat dengan Ney karena orangnya membawa pengaruh buruk meski memang ada hal yang baik juga.
Arnila juga bergabung dengan tempat dimana mereka bekerja alias praktek bekerja di kantoran. Ney menghubungi Arnila untuk dirinya bisa bergabung tapi saat itu tidak ada lowongan lagi dan Arnila menjelaskan.
"Maaf Ney, kamu cari saja yang lain. Disini tidak ada lowongan lagi," kata Arnila dengan ditemani teman terdekatnya melihat balasan.
"Terus bagaimana dong? Bagaimana kalau kamu keluar saja dari pekerjaan disana? Kita cari sama-sama yuk," ajak Ney yang saat itu merasa putus asa.
Mereka semua melihat jawaban Ney dan menyarankan jangan dibalas. Akhirnya Arnila menurut dan menutup ponselnya dan kembali bekerja. "Kali ini tidak akan sama dengan waktu itu." Pikir Arnila.
Karena lama tidak dibalas, Ney lalu menelepon tetapi tidak bisa tersambung. Dia lalu mengumpat kesal karena dirinya yang tengah butuh tempat praktek, tidak ada yang mau membantu. Datanglah teman dari jurusan lain menawarinya bekerja praktek di sebuah bengkel.
"Bengkel? Ah, tidak mau ah kotor," kata Ney menolak.
"Heh, kamu sadar tidak sih? Waktu penentuan tempat kerja itu tinggal 3 hari lagi. Kalau kamu masih ada waktu pilih-pilih pekerjaan lebih baik kamu cari sendiri jangan suka ganggu orang. Ini tempatnya bersih kok lagian kamu kerjanya juga di kantor bukan mengurusi peralatan. Mau tidak?" Tanya salah satu mahasiswa lelaki di kampusnya.
Dirasa dirinya masih percaya kalau ada temannya yang bisa membantunya, dia tegas menolak. Akhirnya temannya itu mengangkat bahu tetapi tidak lupa memberikan alamat kerjanya siapa tahu Ney membutuhkan. Dia terus berusaha membuat Arnila mau keluar tapi tidak pernah dibalas akhirnya dia datang ke tempat kerja temannya.
"Hahaha akhirnya datang juga. Nih pekerjaan kamu di kantor ini, kita memang lagi butuh orang yang bisa mengatur ini semua. Gajinya yah jangan harap tinggi deh namanya juga bengkel," kata temannya mengajak ke ruangannya.
Ney terus memperhatikan enak juga sih tempatnya. Bersih dan cukup luas tapi memang banyak pekerjaan. Akhirnya dia menerima meskipun gajinya hanya Rp 600.000 dan bekerja selama 3 bulan dengan mandiri. Dalam kantor ada perempuannya sekitar 4 irang dengan kemampuan yang berbeda, untungnya tidak ada yang seperti Tika atau Rita. Mereka biasa saja orangnya dan hanya 2 orang yang heboh.
Kemudian Rita beberapa orang yang pernah bekerjasama dengannya dalam kerja sambilan banyak menawarinya pekerjaan tapi dia tolak karena ingin fokus pada kuliah dulu. Setelah kejadian bulan lalu itu Ney dan Rita menjalani kehidupannya masing-masing.
Ney akhirnya menyadari bahwa dia berada dalam grup sendirian, Rita dan Arnila sudah keluar dan dia menghela nafas kesal juga kenapa dia tidak diberitahu. Akhirnya dia keluar dan menghapus grupnya dengan terpaksa dan fokus pada kerjanya dan kuliah.
2 bukan berlalu mereka bertiga kewalahan pada praktek bekerja. Arnila memutuskan untuk ikut liburan dengan keluarganya, Ney berpikir mau kemana dia sementara waktu. Dan memutuskan sudah lama tidak ke kota kembang, karena dia melihat sepertinya ada Rita disana. Dia semakin semangat 2 bulan tidak ada kontak menyangka Rita pasti akan senang bertemu dengannya.
Ney juga melihat ada kehadiran Diana, tentu saja dia mengira pasti mereka sudah melupakan soal kejadian yang sudah lalu. Demi untuk bisa menyambung obrolan lagi, dia beralasan pada kelompok belajarnya harus pergi ke suatu tempat bersama dengan ibunya. Dan hal ini bukan sekali sampai tiga kali Ney membatalkan kerja kelompoknya mengenai pembahasan masa kerja mereka.
__ADS_1
Masalah dengan Alex pun terlupakan sejenak kadang dia merasa bersalah tapi kemudian merasa paling benar. Teman kelompoknya merasa Ney selalu mencari alasan untuk meninggalkan tanggung jawab.
"Kamu kok sering banget ya tidak ikut kerja kelompok? Yakin kamu pergi dengan ibu kamu? Apa bukan alasan ya buat bolos," kata A menebak karena sudah sering.
"Tidak kok memang aku pergi bersama ibuku. Hari ini juga ada keperluan tiba-tiba dan minta aku diantar," kata Ney yang merapihkan peralatan menulisnya juga laptop.
"Kamu bilang ke ibu kamu deh kalau tidak bisa ikut. Kita harus selesaikan laporan bersama-sama, kamu mau susulan sendiri?" Tanya ketua kelompok yang kecewa.
"Duh, aku benar-benar tidak bisa! Sudah deh aku nebeng saja ya," kata Ney yang buru-buru keluar ruangan.
"Ney, kamu jangan egois deh demi bersenang-senang kamu tinggalkan tugas begitu saja," kata teman lelakinya.
Ney marah mendengarnya. "Siapa yang egois? Aku? Enak saja. Selama ini siapa yang sudah mengerjakan semua tugas menumpuk? Mei yang selalu kelupaan tugasnya, siapa yang mengerjakan? Kamu juga hanya mengerjakan di bengkel tapi tugas harian dari dosen tidak dikerjakan," kata Ney menyingkap semua kegiatan anggota kelompok.
Mereka semua bengong mendengarnya. "Memangnya siapa yang minta bantuan?" Tanya B merasa heran.
"Itu kan kita yang kerjakan bukan kamu. Kamu nih aneh pantas tidak ada yang mau menerima kamu dalam kelompok apalagi pekerjaan," kata C yang langsung ditutup mulutnya dengan teman yang lain.
Ney mendengar semuanya dan langsung merasa dunia runtuh. Seakan-akan dia merasa berjasa pada yang dilakukannya. Teman lelakinya sudah tahu sejak di kampus memang Ney aneh sendiri, kadang dia melihat Ney bicara sendirian mending kalau sedang menelepon.
Yang disindir langsung berdiri sambil dihalangi oleh anggota lainnya. "Kalem kalem," halang yang lainnya.
"Kamu sendiri memangnya semua disini tidak tahu kalau kamu tukang bohong? Alasan arisan, ibu kamu mau ke luar negeri, nyatanya hanya ke pasar. Kamu di kampus itu sudah terkenal tukang bulshit! Sampai teman sendiri kamu rundung hanya karena tidak mau menurut. Parah!" Kata C dengan emosi juga.
Intinya mereka berantem saling memuntahkan. Dan Ney merasa paling berjasa mengungkapkan semua kebaikan yang dilakukan membuat anggota kelompok sebagian bengong dan sebagian menggelengkan kepalanya.
Akhirnya ketua mereka menyudahi pertengkaran dan memberi Ney ijin mau kemanapun silakan. "Sudah sudah kalau kita terus berantem kapan selesai laporannya. Buat kamu ya Ney mau kemana saja terserah deh, laporan kamu buat sendiri," kata ketua.
"Tidak adik sekali sih!" Kata C yang masih emosi.
Ney menyibakkan rambutnya dan mulai mengemasi tasnya. "Ya memang aku mau buat sendiri untuk apa buat bersama?" Tanya Ney yang sombong.
Semua orang disana sudah kesal dengan perilakunya. Mereka semua adalah termasuk teman kampus yang sama jurusan tapi banyak yang bolos.
"Semuanya adil. Nih ya aku beri pengumuman untum anggota kelompok yang kehadirannya kurang dari 5, harus mengerjakan laporan sendiri semasa bekerja disini. Termasuk yang sering pura-pura sakit, kita ada buktinya ya dan yang pura-pura ada kesibukan," kata ketua membongkar semuanya. Anggota lain setuju.
Ney akhirnya duduk bersama sebagian teman yang membelanya agar tidak bertengkar lagi. 4 karyawan yang memang pegawai disana hanya menggelengkan kepala saja.
__ADS_1
"Untuk kalian yang sadar diri merasa kurang bisa ikut mengerjakan tugasnya bersama atau kalau mampu sendiri ya bebas deh. Ingat ya kita bekerja disini sebulan lagi, jadi kerjakan sebaik mungkin. Urusan egois keinginan kita mau apa, terserah masing-masing," kata Ketua kelompok yang sudah kelelahan.
Mereka semua mengatakan setuju, Ney hanya diam mendengarkan. Orang yang menjadi lawan debatnya pun hanya tertunduk, dia memang kurang dari 5 kehadirannya tidak ada yang mau membantunya. Akhirnya ikut bersama mengerjakannya lain halnya dengan Ney yang merasa lebih mampu.
Lalu ada yang mengangkat tangan dan Ketua mempersilakan untuk dirinya bicara.
"Ini buat Ney ya, kamu sadar deh. Kita semua mengerjakan kerjaan masing-masing, bukannya kamu sendiri yang menawarkan diri untuk membantu? Semuanya kamu bilang ikhlas membantu sekarang malah bilang semua kebaikan kamu. Artinya kamu membantu untuk berharap dipuji," kata D kemudian duduk kembali.
"Yaa kalau kamu merasa bisa sendiri kan bisa menolak lalu kenapa tidak dilakukan?" Tanya Ney menatap dengan angkuh kepadanya.
"Ih, aneh kan makanya aku bilang juga tolak dia masuk sini," kata C menyikut temannya.
"Dia sudah menolak kok. Kamu sendiri yang bilang kalau sedang senggang jadinya membantu," kata yang lain.
"Kamu lupa? Mereka berempat yang membantu kamu dalam pekerjaan, mereka membagi pekerjaan kamu yang menumpuk selama kamu selalu ijin bolos kerja. Saat kamu bisa kerja, mereka bilang sudah kerjakan sebagian ada kata terima kasih? Nothing. Sekarang kamu menuntut kebaikan kamu ke mereka,pikir!" Kata ketua yang sudah bete juga.
Ney hanya terdiam tidak mau mengakui. Dia tahu kalau pekerjaannya sebagian memang selesai hanya tinggal mengurus tanda tangan. Dia pun otomatis dipuji oleh Bos Bengkel karena paling cepat selesai, dengan tingkah sombong melakukan segalanya dengan angkuh. Dia tahu sebenarnya siapa yang mengerjakan, tahu siapa yang lembur sampai seminggu.
Tapi karena sifatnya yang tidak mau mengakui kalau dia butuh pertolongan, membuatnya menjadi sangat egois dalam hal apapun. Seperti perlakuannya pada Rita dan Arnila, Ney sama sekali tidak pernah berkata Terima Kasih pada siapapun atau Maaf. Meskipun dia katakan, dia akan mengulanginya lagi sampai orang tersebut benar meninggalkannya.
"Sudah ketua, biarkan saja. Dia memang begitu orangnya senang menyebut kebaikannya sendiri nanti lagi lebih baik jangan biarkan dia mendekati kita lagi," kata A.
"Oke oke, kita kerjakan laporan sampai pukul 8 malam dan... tidak ada yang boleh beralasan tidak bisa hadir. Kamu kalau memang mau kerjakan sendiri, silakan tapi kalau mau sama-sama datang lagi saja kemari," kata ketua yang membagikan buku laporan pada mereka semua.
"Kalau membantu orang memang begitu, harapannya dapat pujian padahal kita semua bantu dia juga tidak mengharapkan apa-apa. Supaya cepat pulang urusan beres, maklumlah level otaknya juga beda dengan kita," kata C yang membuka buku laporannya.
Ney masih mendengarkan sambil membersihkan kukunya sendiri. Dengan sikap angkuh tidak membenarkan apa yang mereka katakan. "Susah ya sama orang yang sinis terus," katanya.
Beberapa tertawa mendengar perkataannya. "Sudahlah Ney, kamu itu sudah banyak kesalahan. Akui sajalah kalau tidak, diam," kata teman lelakinya yang menggaruk kepalanya.
Ney terdiam lagi selama ini merasa banyak kebaikan yang dia buat dikatakan tidak tulus, memang iya.
"Selama ini kita diremehkan sama dia, merasa paling pintar tapi ya begini. Kak, aku kan sudah bilang jangan dia deh yang masuk. Di kelas juga parah sekali kan tidak ada yang mau kerjasama dia," kata seseorang yang pernah satu kelas.
"Ya aku kasihan sih sama dia, coba sampai 3 hari terakhir tidak ada tempat yang mau menerima. Bertanya sama dosen juga tidak ada ya sudahlah, hari ini lupakan saja. Kalau kamu bosan, bisa keluar kelompok atau cari yang lain," kata teman lelakinya menyudahi semua obrolan.
Bersambung ...
__ADS_1