
Happy Reading.
Fara menatap lingerie pilihan Vera dengan kening yang mengkerut, lingerie itu sangat bagus tapi terlalu terbuka.
"Bagus, sih! tapi kenapa bagian dada cuma dilapisi jaring-jaring gitu?" tanya Fara.
Vera menggeleng kan kepalanya melihat kepolosan istri dari sepupunya ini. Padahal memang sangat lumrah jika lingerie memiliki model seperti itu, "namanya juga lingerie alias pakaian kurang bahan alias dalaman yang seksi." bisik Vera di telinga Fara
Vera mengambil beberapa lingerie yang menurut nya bagus. Ada yang berwarna merah menyala, putih tulang, hitam, pink muda dan biru tosca.
"Nih, lo coba di kamar ganti sana," Vera menyodorkan lingerie tersebut kepada Fara.
"Ini semua?" tanya Fara terkejut.
Sedangkan Vera langsung mengangguk.
"Apa gak kurang?" tanya Fara.
"Hah?" Vera melongo, dia mengira tadi Fara merasa kebanyakan. Tapi ternyata menurut istri dari sepupunya itu kurang banyak.
"Ya nanti ambil lagi kalau kurang, sekarang lo cobain ini," akhirnya salah mengambil paling irit tersebut dan langsung masuk ke dalam kamar ganti.
Fara hanya menempelkan lingerie itu tanpa memakainya.
Tentu saja dia sangat malu kalau harus memakai pakaian-pakaian itu, apakah nanti dia sanggup untuk memakainya di hadapan Keill?
Tapi sekarang Fara harus tetap melaksanakan rencananya akan membahagiakan suaminya lewat kejutan ini.
"Gimana? Lo suka nggak?" Tanya Vera saat Fara sudah keluar dari dalam ruang ganti itu.
"Iya gue suka banget, bagus-bagus dan pas semua di badan gue," jawab wanita itu.
"Tuh kan, pasti lo akan suka, lagian badan lo cukup seksi dan berisi kok, benar-benar bentuk tubuh yang ideal Kalau menurut gue," Vera mengedipkan matanya genit.
"Vera!! udah, jangan godain gue terus, malu tahu!!
"Ya udah kalau gitu lo bayar sana, gue tungguin di depan," Fara mengangguk.
Kemudian wanita itu berjalan menuju kasir dan membayar beberapa lingerie yang tadi diambilnya.
Ada 6 lingeri yang dia beli untuk honeymoon Bali lusa.
Setelah dari konter toko pakaian dalam itu kemudian mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Fara, gue ke toilet dulu ya, ntar makanannya samain aja sama lo," ucap Vera.
"Oke deh!" Fara mengangkat kedua jempolnya.
Ternyata sepupu dari Keill ini orang yang sangat menyenangkan, mereka langsung akrab begitu saja bahkan sudah seperti mengenal bertahun-tahun.
"Safara??"
Gadis itu mendongakkan kepala ketika seorang laki-laki memanggil namanya. Fara menyipitkan matanya mengingat-ingat pernah ketemu dengan pria di hadapannya saat ini.
"Hei, masak lo nggak ingat gue?"
"Siapa ya? kayaknya nggak asing deh?"
"Gue Rian, masa lo beneran lupa sama gue?" Pria itu langsung menduduk ki kursi yang terletak persis dihadapan Fara.
"Oh ya ampun!! Rian??" Faras akan teringat sesuatu dan wajahnya pun terlihat berbinar.
"Sorry ya, tadi gue lupa, soalnya lo beda banget sekarang?"
Fara mengamati wajah pria ini dengan seksama, memang sangat berbeda dengan Rian teman sebangkunya yang iya kenal saat SMA dulu.
Rian dulu sedikit chubby, wajahnya ada bekas jerawat dan potongan rambutnya ala-ala 80an.
Tapi sekarang laki-laki itu berubah menjadi lebih tinggi, langsing, potongan rambut kekinian, dan wajahnya yang bersih dan rapi walaupun masih tetap sama sedikit bekas jerawat tetapi tidak mengurangi ketampanannya.
"Lo juga sekarang beda banget, Fa! Makin cantik, sumpah! pangling gue, apalagi pakai hijab gini malah makin modis dan mempesona!" Laki-laki itu memandang Fara takjub.
Wajah Fara hampir saja bersamu merah mendengar pujian itu, dia seakan lupa siapa yang ada di sampingnya saat ini.
'astaghfirullahaladzim! ya Allah! kenapa hamba besar kepala sih! hanya dipuji seperti ini apalagi oleh laki-laki lain selain suami hamba!'
Untung Fara langsung ingat dan segera beristighfar.
"Eh denger-denger sekarang lo bekerja di Abraham grup, ya?" Fara mengangguk.
"Iya gue kerja di sana." Jawab Fara kembali ke mode awal.
"Widih,, keren keren, hebat banget lo bisa masuk ke perusahaan itu, soalnya susah banget loh katanya," ucap Rian takjub.
"Iya, emang susah sih maksuk nya dan sangat jarang ada lowongan pekerjaan di sana, tapi alhamdulillah gue bisa langsung masuk, meskipun jabatannya cuman sekedar resepsionis," jawab Fara.
"Ya makanya itu, lo jadi tambah keren!"
__ADS_1
"Kalau lo sekarang kerja di mana?"
"Gue kerja di PT mulia abadi." Jawab Ryan
"Lo lebih hebat, karena PT mulia abadi itu juga perusahaan yang besar," ucap Fara.
"Oh ya Fa, lo masih tinggal di rumah lo yang dulu kan?" tanya Rian.
Dulu laki-laki ini sering berkunjung ke rumah Fara, untuk mengerjakan pekerjaan kelompok karena mereka memang satu bangku sewaktu di SMA.
Fara menggeleng.
"Jadi lo udah pindah ya? padahal gue mau main ke rumah lo lagi," Rian merubah sendu.
"Eh ada siapa nih?" Tiba-tiba Vera sudah kembali dari toilet dan langsung menunjuk ke arah Rian.
Fara menatap Vera dengan tidak enak hati, ingin mengusir Rian sejak tadi, kan nggak enak juga, masa iya tiba-tiba harus mengusir sahabat lamanya itu.
"Gue sahabatnya Safara, nama gue Rian!" Pria itu menyodorkan tangannya kepada Vera.
Otomatis Vera menyambut tangan laki-laki itu.
"Gue Vera, sepupu dari suaminya Fara!" jawab Vera tersenyum simpul.
Membuat Rian langsung membelalakkan matanya.
"Suami? jadi lo udah nikah, Fa?" Fara mengangguk.
"Iya, Fara sudah menikah dan suaminya bernama Keill Abraham, CEO sekaligus pemilik dari perusahaan Abraham grup!" Jelas Vera dengan sangat lengkap.
Rian seketika langsung menoleh ke arah Fara dan kembali dibuat terkejut atas ungkapan dari wanita di sampingnya ini.
"Fa, kok lu nikah nggak undang gue sih, kita dulu sahabat loh, 2 tahun satu bangku bersama," ucap Rian.
"Sorry Rian, bukannya gue nggak bermaksud mengundang lo, tapi memang acaranya dadakan dan belum ada resepsi karena pernikahan kami hanya sederhana," jawab Fara tidak enak hati.
Rian menggeser kursi ke belakang dan langsung berdiri dari duduknya. "Iya, nggak apa-apa, gue ngerti dan maaf kalau udah ganggu waktu kalian, jujur sebenarnya gue dari dulu udah suka sama lo, Fa, tapi melihat lo sekarang bisa menikah dengan orang besar, gue ikut bangga dan bahagia, semoga langgeng ya, sampai kakek nenek sakinah mawadah warohmah!"
"Aamiin!"
"Aamiin ya Allah."
Vera juga ikut mengaminkan.
__ADS_1
"Kalau gitu gue pergi dulu ya, Fa, Vera! mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali, dan jangan lupa kenalin suami lo ke gue, siapa tahu nanti gue bisa ikut bekerja di perusahaan suami lo," ucap Rian berpamitan kepada Fara dan Vera.
Bersambung.