ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
429


__ADS_3

"Teh, bagaimana tuh?" Tanya Wean.


Rita garuk kepala. "Apalah saya itu," kata Rita garuk kepala lagi.


"Rita ada? Yuk kesana, tenang kalau ada apa-apa kamu langsung lari ya," kata Bibi Ryan yang muncul.


Rita memutar otak jangan sampai dia mengatakan kata-kata yang semakin membuat Teh Anan kambuh. Deg-degan pastilah Rita akan berhadapan dengan yang di ruqyah.


Rita berjalan bersama Bibi Ryan dan menghampiri mereka. Kedua orang tua Teh Anan kaget dan memberikan ruangan, ada kesan dari mereka agak meremehkan mungkin marah.


"Ini kan?" Tanya Bibi yang memegang tangan Rita.


"TETEH INI," Teriak Teh Anan.


Rita benci kalau ada yang berteriak. "Tidak usah teriak bisa tidak sih? Telingaku sensitif tahu!" Kata Rita agak bete.


Teh Anan seperti menggeram. Rasa takut Rita yang tadinya ada sekarang tiba-tiba nol. Bibi menyuruhnya duduk agak dekat dengannya.


"Saya ingin dia duduk disini," katanya dengan suara biasa.


Rita memandangi Bibi Ryan dengan iba, Bibi menghela dan mengajaknya. "Bibi temani ya kamu kan baru ketemu sama dia," katanya.


Koko yang luwes duduk seperti perempuan. Benarlah memang itu perempuan, aneh sekali. Gelagatnya membuat kedua mata Rita sakit.


Rita duduk sebelah Teh Anan berjarak 5 senti dan Koko di depannya, Bibi dengan Rita.


"Bibi duduk di sana saja. Saya mau sama dia," katanya.


Terpaksa Bibinya duduk sebelah Koko. Rita memandangi Teh Anan, ada rasa kasihan dan simpati muncul. Menganalisa Teh Anan semua sifatnya yang buruk keluar serta yang baik. Agak mirip Ney sih terlihatnya tapi keluarganya banyak yang peduli.


Lalu Teh Anan terdiam masih memandangi Rita. Katena Rita agak tidak suka dipandangi terus, dia menatap Koko lalu Bibi Ryan.


"Kenapa, Teh?" Tanya Ua.


"Perempuan?" Tanya Rita menunjuk ke arah Koko.


Bibi Ryan kaget begitu juga dengan Ua yang lainnya. "Kok Teteh tahu?" Tanya Ua menatap Koko.


"Soalnya beda sifatnya. Iya ya? Awal-awal ucapannya seperti sembrono sekarang lembut," kata Rita.


Ua dan yang lainnya tertawa. Kedua orang tua Teh Anan juga sama. Karena pastinya sudah tahu soal kemampuan Bibi Ryan.


"Kamu bisa lihat saya?" Tanya Koko dengan gelagat perempuan.


"Asa jijik lihatnya," kata Rita membuat tertawa semuanya.


"Ya ampun, maksudnya sih supaya bisa merayu Teteh ini kok. Saya keluar saja deh," kata Koko.


"Ya sudah. "Kamu" kembali saja yang tadi saja ya," kata Bibi Ryan menahan tawa.


Koko lemas lagi lalu tegak tapi kali ini agak tegap.


"Beda lagi Laki-laki? Agak galak, sadis iya kelakuannya," kata Rita.


Koko yang ini diam dan dia agak kesal juga pada Rita tapi semua tebakannya benar dan dia tersenyum. Teh Anan hanya diam terus menatap Rita.


"Ya ampun, Teh. Saya memasukkannya untuk membantu Koko saja. Tampaknya tidak nyaman ya?" Tanya Bibinya Ryan.


"Ya seperti bukan Koko sih. Hmmm?" Tanya Rita melihat kedua tangan memegang wajahnya Rita.


Koko dan Bibi Ryan gerak cepat akan melepaskan tapi Rita menatap kedua matanya. Kedua orang tuanya juga waspada, takutnya anak orang ditendang juga.


"Kenapa? Kamu juga cantik kok coba sering berpikiran positif. Apa kata orang bicara soal kamu jangan dipikirkan," kata Rita balas memegang wajah Teh Anan.


Teh Anan menangis dan melepaskan tangannya. Mereka semua lega tapi Koko dan Bibi Ryan masih waspada. Koko bergerak tapi ditahan oleh Bibi.


"Rita pasti bisa. Lihat dulu. Sabar," kata Bibi ke Khodam yang merasuki Koko.


"Teh, Teteh anggap saya cantik sekali dan Teteh jelek?" Tanya Rita.


Teh Anan mengangguk. "Saya tidak disukai lelaki manapun," katanya.


"Yah, Teh sama dong," kata Rita.


Teh Anan agak marah. "Kamu mengatakan itu agar aku tidak marah kan? Kamu pikir aku tidak tahu!" Ucapnya menyentak.


Rita menghela nafas. "Ya memang kamu tidak tahu apa-apa soal saya. Kunti jelek jangan sok tahu deh! Kalau saya memang cantik, mudah dong aku dapatkan Koko tuh," kata Rita menyilangkan tangannya.

__ADS_1


Teh Anan menatap Koko yang dirasuki khodam, duduk dengan tegak. Kelihatannya agak ogah juga disukai oleh hantu jelek.


"Saya lihat Teteh wajahnya bersinar," kata Teh Anan lemah lagi


"Teh, mau wajah seperti saya? Patuhi apa kata Koko buat Teteh. Koko baik meskipun yang sekarang bukan dia sih," kata Rita menatap Koko dengan menyipitkan kedua katanya.


Koko itu menghela nafas dan mengangguk. "Yang perempuan disebut tidak enak dilihat. Sekarang ganti lelaki dibilangnya bukan Koko. Maunya apa sih?" Tanya Koko tiba-tiba mengomel.


Bibi Ryan langsung tertawa begitu juga dengan yang lain.


"Khodam ya?" Tanya Rita.


Koko itu mengangguk tegas. "Kamu bisa lihat saya?" Tanyanya bangga.


"Ya karena kamu bukan Koko. Meski baru ketemu sehari lalu berubah, kok aneh. Bentuk kamu seperti apa?" Tanya Rita.


"Sangat keren," katanya singkat tidak senyum.


"Mengganggu pemandangan sekali, tampilan berotot, ditambah pakai badan Koko. Jadi aneh! Lihat wajah saya kesal, nantangin??" Tanya Rita balas sebal.


Khodamnya berwajah datar 😑 lalu menghela nafas lagi. Menggarukkan kepalanya.


"Kamu tidak mau lawan? Teteh Rita tidak punya khodam kenapa kamu sepertinya kalah?" Tanya Bibi tertawa keras.


Koko menatap Rita. "Saya mau kembali saja, tidak ada gunanya melawan wanita ini. Kalau saya lawan, nanti saya gepeng dilawan sama dua makhluk," katanya.


"Kamu takut ya? Hahaha," kata Rita merasa menang.


Bibi dan yang lainnya tertawa. Khodam yang ada di dalam Koko mengatakan. "Orang yang bersamamu akan mendapatkan waktu yang sulit tapi dia sangat sayang sekali. Penjaganya ada disini kamu tidak bisa lihat? Aneh sekali seharusnya kalau kamu bisa berkomunikasi dengan kami, biasanya punya juga tapi tidak ada. Hmmmm," katanya.


"Teh, mau saya rias?" Tanya Rita yang malas bicara dengan Koko itu.


"Saya pakai riasan? Saya belum pernah mencobanya. Mama selalu memarahi saya kapan saya punya waktu membeli," kata Teh Anan membuat Ibunya bersalah.


"Dicoba saja dulu bagaimana?" Tanya Rita dia sampai lupa.


Teh Anan terdiam kini Rita bisa berani berhadapan dengannya. Kebetulan dia membawa semua peralatan kosmetiknya. Kedua orang tuanya hanya memperhatikan.


"Saat lengah, tarik sekali hempasan," perintah Bibi pada Koko.


"Saya tidak suka dilihat sama makhluk aneh," kata Rita.


Koko menghela nafas, Bibi Ryan mengambil dulu khodamnya dan Koko kembali semula. Rehat sementara Rita mencoba merias Teh Anan.


Ratih membantu mengambilkan tas Rita. Yang lainnya membantu meski ketakutan tapi terlihat Teh Anan mau menurut.


"Kamu senang merias? Bisa?" Tanya Teh Anan.


"Ya perempuan kan harus bisa merawat diri Teh. Saya tidak bisa merias," kata Rita mengeluarkan berbagai macam kosmetik.


"Aku akan tambah jeleeeek," kata Teh Anan.


"Belajar. Sekarang kan banyak tutorial dari Otube, Instagrom banyaklah. Yang mudah kok di persulit Teh? Ratih dan Wean juga bisa bantu asalkan Tetehnya buka diri. Kita pakai spray dulu supaya wajahnya segar," kata Rita mulai memakaikan spray jeruk.


"Sakiiit," katanya memejamkan kedua matanya.


"Karena Teteh tidak pernah perawatan wajah. Ini tidak ada alkohol kok, aman. Rambutnya diikat dulu ya, jilbabnya dipakai?" Tanya Rita kebingungan.


"Dilepas saja dulu," kata Teh Anan yang tenang.


"Mbak kunti nih kalau mendengar coba kek arahin ke kosmetik atau hal yang menyenangkan bukan soal dendam terus. Oke, kita pakai alas bedak lalu bedaknya. Kalau Teteh minat, cari produk yang aman untuk kulit wajah," kata Rita.


Koko mengangguk, melihat Teh Anan sudah tenang apalagi taktik Rita berhasil.


"Teteh merasa jelek karena Teteh tidak berusaha untuk jadi cantik. Saya tidak pernah merasa cantik Teh, biasa saja. Nanti kalau Teteh pulang, perbanyak sedekah, istigfar juga nanti Koko kasih tips-tips supaya Teteh jadi cantik tuh," kata Rita menatap Koko yang sedang rebahan. Yap sudah kembali normal.


"Duh, kosmetiknya banyak sekali Teh," kata Bibi menggelengkan kepala.


"Hehehe saya belajar juga dari teman," kata Rita kemudian mengambil eyeshadow dan memakaikan warna yang cerah ceria.


"Teman? Kamu tidak takut mereka mengatakan hal jelek? Kamu tidak pernah dirundung sih," kata Teh Anan masih memejamkan matanya.


"Kata siapa? Teh, wajah cantik juga salah menurut banyak orang. Saya baru saja selesai dirundung oleh teman sendiri dan orang yang saya sukai. Coba kata Teteh rasa sakitnya seperti apa? Buka matanya Teh," kata Rita.


Bibi Ryan mendengarkan dan memandang Rita dengan sedih juga.


"Kamu? Sebegini cantik kena rundung? Alasannya?" Tanya Teh Anan yang kedua matanya sudah cantik.

__ADS_1


"Tidak tahu, saya tidak pernah menyakitinya tapi dia mengatakan hal yang membuat saya sakit hati. Saya harap Teteh tidak menjadi orang seperti itu, saya harap Teteh menemukan teman-teman yang lebih baik bisa menerima kelemahan kekurangan Teteh. Nih lihat jadi bagus kan, warna matanya aku beri warna cerah," kata Rita menawarkan cermin.


Teh Anan kaget wajahnya jadi berubah hanya sedikit polesan. "Ini aku?" Tanyanya tidak percaya.


"Saya kecewa berat dengan mereka. Dia anggap saya sahabat tapi perlakuannya di luar batas. Aku yakin Teteh juga punya teman yang baik kan. Manusia 50 : 50 ada baik dan buruknya tapi kalau ada orang yang tidak bisa menerima buruk Teteh ya tinggalkan saja. Alasan mereka lakukan itu karena ada yang menempel," kata Rita lalu menambahkan lipstik cerah.


Teh Anan berhenti menangis tapi masih memperhatikan Rita dan menikmati perhatiannya. "Teteh percaya?" Tanyanya.


Seketika itu juga energi Koko kembali dan merapat meminta Rita terus berkontak. Koko membacakan pengikat raga.


"Mungkin memang ada yang menempel. Makanya saya butuh bantuan Koko juga tapi kalau memang dia menganggap saya sahabatnya seharusnya mikir, cara seperti apa yang bisa dilakukan tanpa harus menyakiti kan. Nih lihat bagus tidak?"Tanya Rita.


"Cantik. Aku menyesal apakah temanku mau menerima lagi? Aku tidak mau menjadi seperti teman Teteh yang jahat itu," kata Teh Anan.


"Pasti mau menerima Teteh minta maaf dengan tulus. Kalau mereka teman baik yang menerima Teteh semuanya pasti mereka mau menerima lagi. Tapi kalau tidak, biarkan saja. Nah nih cantik kan," kata Rita lagi.


Teh Anan terkejut wajahnya tampil beda. Teh Anan puas lalu tiba-tiba Rita agak pusing. Dan Bibi Ryan menarik Rita.


"Energi kamu terserap. Sudah selanjutnya biar Koko yang tangani. Terimakasih ya Nak nanti kita bertemu lagi," kata Bibi mengantarkan Rita pindah tempat.


"Teh, tidak apa-apa? Pucat," kata Ratih membawakan minum dan makanan.


Rita duduk di sofa belakang lalu rebahan kepalanya di atas sofa empuk itu. "Pusiiiinggg muaaaal," katanya lemas.


"Waduh! Teh, menginap saja dulu takut kenapa-kenapa," kata Wean agak cemas.


"Ngantuuuukkk," kata Rita lalu tertidur.


Mereka semua agak takut karena wajah Rita pucat. Alex menatapnya dan memeluknya, Rita tidur dengan nyenyak tapi juga sedikit tidak bernafas.


Koko lalu mulai melafalkan doa dan menarik sesuatu dan Teh Anan terjatuh lalu Ibunya datang dan memangku nya sambil menangis.


"Kamu cantik, Nak. Cantik. Kita ulang segalanya dari awal ya, maafkan Ibu," peluknya.


Teh Anan menangis tersedu. Khodam yang tadi datang lagi melihat keadaan Rita. Tampak khodam tampan yang berdiri di hadapan Alex dan Rita. Bibi Ryan mengagumi ketampanan Khodam Alex dan tersenyum, memanggil kembali miliknya.


Koko menghirup nafas menjadi mudah. "Teh, jodoh sudah ada yang mengatur termasuk pacar. Menjadi single itu bukan hal yang memalukan tapi bagus supaya lebih menjaga apa yang kita punya nanti untuk suami. Banyak kok perempuan cantik tapi pasangannya dibawah standar, mereka bahagia," kata Koko.


Teh Anan menutup wajahnya malu sekali. Tidak menangis karena sudah berhias. "Koko suka sama saya?" Tanyanya.


Koko terdiam mau menolak takut bagaimana, mau menerima harus bagaimana. "Semua perempuan itu cantik. Teteh bertemu dengan Teh Rita kan, menurut Teteh dia cantik tapi orangnya sendiri malah tidak percaya. Ya begitu," kata Koko.


"Iya ya saya belum pantas bisa jadi dengan Koko. Masih banyak yang harus dipelajari. Saya mau berubah suatu hari nanti Koko tidak akan malu bertemu saya," kata Teh Anan menyembunyikan rasa malunya.


"Koko lagi single sok kamu perbaiki dulu ya semuanya. Jodoh kan tidak ada yang tahu yang penting kamu berusaha banyak berdoa," kata Bibi Ryan menahan tawa.


"Betul, Ko?" Tanya Teh Anan menatapnya penuh harap.


"Wew, si Koko dimana kemana selesai ruqyah pasti saja ujungnya begini. Teh Rita bagaimana ya?" Tanya Ryan cekikikan.


"Iya ya soalnya dari wajah Teh Rita juga kesemsem sama Koko," kata Wean ketawa.


"Rita masih tidur?" Tanya Tante Winan memeriksa.


"Masih, Bu tapi sekarang wajahnya sudah tidak pucat. Cepat sekali pulihnya," kata pembantu rumah.


Mereka melihat wajah Rita kembali segar. Entah mimpi apa hanya butuh 15 menit tidur setelahnya Rita bangun, sudah segar lagi. "Nyenyaaaak," katanya.


"Teh, makan dulu yuk. Ada pizza nih," kata Tantenya keheranan melihat Rita kembali sehat.


"Wah, asyik!" Kata Rita semangat dan berjalan ke arah ruang makan.


"Kalau Teteh lihat perempuan cantik pasangannya tampan, ya itulah rejekinya. Teteh tidak tahu kan perjuangan mereka seperti apa. Teteh juga jangan terlalu insecure tapi jangan juga terlalu percaya diri. Biasa saja. Ucapan dijaga ya teh, setan itu senang dengan orang yang mudah bersumpah, mengatakan hal kotor dan buruk," kata Koko panjang lebar.


Teh Anan mengangguk mendengarkan semuanya. Selesailah sesi gelombang satu, mereka membayar Koko dan sangat berterima kasih.


Teh Anan juga bertemu Rita lalu senyum dan mengucapkan terima kasih. Lalu diantar ke kamar atas untuk tidur. Rita makan dengan lahap bersama keluarga Tantenya.


Alex cemas sudah pasti tahu apa yang terjadi. Rita menceritakan segalanya dan Alex khawatir berat saat dia melihat Rita pucat sekali. Marah sekali setan di dalam Teh Anan mengambil energinya. Sumpah serapah Alex pada setan itu yang membuat khodamnya menuju tempat dimana Teh Anan berada.


Tapi tentu saja dijaga oleh khodam Bibi Ryan hampir saja ada pertarungan. Bibi Ryan sepertinya berkomunikasi dari jauh menenangkan khodam Alex bahwa setan itu yang memakan energi Rita bukan keponakannya.


Ya majikan dan Khodamnya sama-sama bodoh, sama-sama emosian kalau Rita bisa lihat, khodam Alex pasti kena lempar piring. Meski tembus sudah cukup membuatnya kabur seedan-edannya. Karena dia sudah pernah dilempar bantal saat penasaran melihat Rita, saat Rita bertanya posisinya pada majikannya.


Langsung dilempar setelah posisinya diketahui lalu kabur secepat kilat dan bersembunyi di belakang punggung Alex 😑😑😑, banyak mengomel tapi takut keluar saat disuruh keluar. Alex hanya tertawa lalu membelanya karena Rita marah.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2