
Ney terdiam mendengarnya, dia nampak ketakutan tapi juga berusaha tidak menunjukkannya tapi kedua tangannya tentu saja gemetaran. Ancaman Tamada sama sekali tidak main - main.
"Kalian pasti tidak tahu kalau Rita lebih tinggi kemampuannya dari kalian!" Kata Ney yang berharap mereka lebih takut pada Rita.
"Kita tahu kok tapi Rita cuek sih orangnya justru terlalu baik sama orang seperti kamu. Mau lihat apa, atau merasakan apa juga dia lurus orangnya. Dia juga tidak pernah histeris atau teriak seperti kamu. Kamu sering kan dari kecil teriak - teriak aneh, sama sekali tidak bisa membedakan kejadian halusinasi dengan kenyataan," kata Tamada dengan pandangannya yang tajam ke arah Ney.
"Hah? Sering dengar suara aneh sejak kecil? Itu sih harus diperiksa di bagian sini ( Kepala ). Kamu sama lelaki si Rita ya yang bilang kalau dia punya kepribadian ganda? Sampai kamu suruh Rita ke psikiater? Itu justru kamu sendiri harusnya yang seperti itu. Rita normal kok memang kemampuannya ada yang bisa dengar sesuatu tapi bukan karena penyakit gila seperti kamu," kata Annisa dengan kalimat nyelekitnya.
Tamada menatap Annisa yang menghela nafas sepertinya sudah kepalang gawat juga nih sampai Annisa sudah tidak bisa menahan diri lagi.
"Aku tidak gila!" Tegas Ney pada mereka berdua. Annisa angkat bahu lalu berlalu begitu saja. Ney hampir menangis tapi ditahan.
"Terserah deh. Toh kamu pasti lihat sendiri kalau Rita sama penyakitnya dengan kamu, dia akan cepat pulih karena dia akan menerima kenyataan daripada ilusi. Orang yang punya penyakit itu sampai dewasa juga akan terlihat jelas perbedaannya. Kamu sering mendadak marah depan publik juga itu penyakit. Daripada menyalahkan orang, lebih baik kamu banyak bercermin. Dan jangan salahkan keadaan kalau kamu nanti ditinggalkan oleh Rita itu karena perilaku kamu sendiri. Oh iya satu lagi, jangan mengada - ada kamu punya Gift karena yang aku lihat, Gift itu tidak ada sama sekali di dalam diri kamu. Kalau Rita memang ada tapi orangnya sendiri tidak perduli." Lalu Tamada berjalan kembali pada teman - temannya.
Ney dengan tangan gemetaran, lagi - lagi teringat apa kata Arnila, Alex serta ibunya soal peringatan ditinggalkan oleh Rita. Lalu sekarang temannya yang ternyata memiliki kemampuan alamiah pun memperingatinya. Ney berpikir apakah itu benar akan terjadi kepadanya? Karena ulahnya sendiri? Lalu dia makan cokelat yang diberi oleh temannya tanpa banyak bicara lagi. Dalam hati dia menyesal meski sedikit tentang dirinya yang memperlakukan Rita dengan buruk. Tapi dia terlalu gengsi bukan bukan gengsi tapi memang Anti Maaf dia sama sekali tidak mengakui kalau dia salah selama ini.
Baginya merekalah yang melawan dia, yang bersalah dan mereka harus meminta maaf. Tapi sekarang, semua orang bahkan teman Rita melihat siapa sebenarnya yang terdzalimi sejak lama. Ney melihat jalinan hubungan pertemanan Rita dan yabg lainnya sangat akrab hampir sama sekali tidak ada pertengkaran mungkin hanya berbeda pendapat saja. Ney tidak bisa memisahkan atau menjauhkan Rita dengan mereka semua, tidak ada yang buruk mereka saling menerima satu sama lainnya. Ney terus mengekori Rita dan yang lain, Annisa memperhatikan Ney dari depan dan mencolek Tamada.
"Semoga saja dia pergi deh jangan kembali lagi," bisik Annisa. Tamada setuju, orangnya sulit diberitahu harus dari yang lebih atas dulu baru mau.
"Dia mau dengar kalau kemampuan spiritnya lebih di atas dia padahal Rita lebih tinggi tapi sama sekali tidak didengar," kata Tamada berbisik pada Annisa.
"Ada apa?" Tanya Linda yang bergabung dengan mereka. Annisa lalu menceritakannya, kelompok mereka memang terpencar. Linda menggelengkan kepalanya, mendengar Ney yang ternyata seperti itu. Bukan salah Rita yang salah berteman dengannya tapi Neylah yang terus mengekori Rita.
"Untungnya Rita rajin mengaji, atau mengerjakan amalan kebaikan. Kalau sampai sama dengan yang dibelakang, gawat banget!" Kata Tamada menunjukkan ke arah belakang.
"Seriusan itu?" Tanya Linda ke arah Annisa dan Tamada.
__ADS_1
"Serius. Kita hati - hati saja deh jangan sampai "itu" punya dia kena ke kita, nanti kita akan sial terus," jelas Annisa memperingatkan pada Linda.
"Rita?" Tanya Linda.
"Tidak kena soalnya ada yang menjaga dia bukan setan tapi hal lain, itu yang menjauhkan dia sama temannya di belakang," kata Tamada.
Linda bengong mendengarnya lalu melihat Rita yang sedang bercanda konyol dengan Siti. "Terus apa? Makhluk tak kasat mata sejenis khodam?"
Lalu Ney berdiri dekat mereka bertiga dan mendengarkan penjelasan mereka dengan fokus juga. Ingin tahu apa sih yang ada pada Rita. Karena dia sama sekali tidak percaya kalau Rita lebih tinggi daripada dia.
"Teuing tapi badag pisan ( Tidak tahu tahu sangat besar sekali ). Menakutkan lah kok bisa ya Rita punya sebesar itu? Kasihan sebenarnya sih tapi mungkin hanya Rita yang bisa mengendalikannya," kata Tamada yang miris melihat ke arah Rita.
"Seperti apa ukurannya?" Tanya Linda. Annisa tampaknya bisa tapi kurang fokus karena tingkatnya dibawah Tamada.
"Semesta. Pokoknya seram deh dan itu hidup lho kalau sampai keluar, bahaya banget!" Kata Tamada yang merinding.
"Kaget urang!" Kata Annisa yang memang fokus, akhirnya dia duduk di bangku sebelah.
"Memangnya kenapa kalau bisa?" Tanya Linda pada Ney.
"Ya aku kenapa tidak bisa," kata Ney yang memainkan tangannya.
"Itu artinya kamu tidak punya kemampuan seperti yang Tamada atau Rita punya. Kalau sudah begitu jangan suka mengaku - aku deh! Kamu ingin sekali ya mendapat perhatian dari orang lain?" Tanya Linda yang menyilangkan tangannya.
Kali ini mereka bernada biasa karena Ney sepertinya penasaran dengan pembicaraan mereka. Tapi tidak bisa lama juga karena mereka memang tidak nyaman dengan kehadiran Ney.
"Tapi kenapa sih harus Rita? Sama sekali tidak cocok," kata Ney.
__ADS_1
"Kamu lebih tidak cocok. Perilaku kamu diluar syarat. Kenapa Rita yang dipilih, apa kamu pernah lihat dia pamer sesuatu? Kalau Rita kemampuannya apa menurut kamu dia akan bangga?" Tanya Tamada pada Ney.
"Ya pastilah setiap hari kalau chat sama aku dia selalu pamer, sombong begitu. Makanya aku tidak suka," kata Ney manyun.
"Kamu memang tidak pantas berteman dengan Rita karena yang ada dalam pikiran kamu hanya soal negatif. Kamu sama sekali kurang kesadaran ya kenapa selama ini banyak orang yang tidak mau berteman sama kamu," kata Tamada yang keheranan melihat Ney.
"Ya mereka sadar bukan level aku," kata Ney menjawab seenaknya.
"Bukan. Kamu bisa - bisanya bilang kalau ada yang menempel sama Rita tapi kamu sendiri banyak yang menempel. Dan itu mempengaruhi karakter dan kepribadian kamu menjadi orang yang jahat. Pribadi kamu yang asli tenggelam karena terlalu lama kamu malah menggantungkan hidup kamu sama yang seharusnya tidak ada. Bergantung itu hanya pada Allah SWT bukan jin atau setan," jelas Tamada pada Ney.
"Pantas kamu selalu cari gara - gara sama Rita. Bawaan setan yang menempel sama kamu toh. Tapi herannya kok kamu tidak punya rem diri ya? Seperti sudah pasrah dan lebih nurut ke kejelekan setan," kata Linda yang merasa heran juga. Setiap orang punya rem sendiri pada apapun hanya Ney saja kesannya dia seperti menyerahkan segalanya pada jin.
"Iya. Kamu seperti mempersilakan mereka mengambil alih. Aku kurang mengerti soal kamu jadinya ya efeknya merugikan kamu sendiri. Kamu ingin dimengerti tapi cara yang kamu punya salah semua jadinya berbalik ke diri kamu sendiri. Rita mudah sekali dipelajari yang baru kenal juga langsung tok dia begini begitu begini, anehnya hanya kamu saja yang baru tahu soal Rita padahal ngakunya lama kenal," tambah Annisa yang sudah berdiri lagi.
Ney terdiam, dia memang sama sekali tidak mau mengakui kalau dirinya ada yang salah dia hanya selalu berpikir bahwa orang lain lah yang memandangnya salah.
"Kamu pernah mengalami kan kecelakaan yang terjadi saat bully Rita itu sebagian bukan karena memang jalannya kamu harus terkena musibah. Tapi yang ada pada Rita yang bergerak, teman kamu ada yang menyadarinya ya. Makanya dia banyak memperingati kamu tapi kamu tidak pernah mendengarkan. Tidak ada salahnya kamu tidak mau dengar, karena dia punya alasan tertentu," lanjut Tamada lagi.
Annisa dan Linda hanya mendengarkan saja. "Kemampuan Rita lebih hebat kalau dia sadar, aku tahu deh alasan lain kenapa Rita yang punya sebesar itu. Karena dia selalu lapang dada, menerima jalan takdir kalau dia dapat bencana, ya dia merendah mohon ampun, kalau dapat rejeki banyak dia selalu berbagi jarang ya dia bilang ini itu baru dapat apa. Tahu - tahu suka kasih apaan gitu ke kita semua. Dia lebih mementingkan orang lain daripada kebutuhannya sendiri. Padahal kalau saja kamu membuka hati dan mata, dan memperbaiki isi otak kamu, Rita itu menyenangkan," kata Linda yang kemudian bergabung dengan yang lainnya.
"Memangnya semua orang pasti bisa dapat Gift?" Tanya Ney yang kecewa mendengar semua penjelasan itu.
"Tidak semua. Allah itu misterius. Sebagian mungkin benar pendapat kita tapi lainnya hanya Dia yang paling tahu. Kalau kamu tidak bisa menjadi pribadi yang baik lebih bagus lagi menjauh dari Rita. Kalau aku sih pasti langsung sadar diri terus lebih baik cari teman lain. Kalau kamu memaksa bertahan dengan Rita dengan niat jelek, aku yakin itu tidak akan berakhir baik," kata Annisa menimpali Ney.
"Kamu sampai sekarang masih sama Rita karena pamor ya? Karena Rita kenal dengan lelaki tajir melebihi impian kamu, kamu berharap menempel terus sama dia dan mencari kelemahannya & memancing Rita agar punya hutang budi sama kamu. Begitu? Yang seperti itu akhirnya tidak bagus. Yang aku lihat, kamu memang akan ditinggalkan oleh Rita sesusah apapun kamu berusaha membuat Rita berpaling sama kamu lagi, itu tidak akan terjadi." Kata Tamada yang lalu mengajak Annisa untuk menyusul Linda bergabung.
Ney berdiri di tempat itu seorang diri. Pertanda apa lagi kah ini? 'Apa memang aku yang salah?' Dalam hati Ney. Baru kali ini dia sampai membeku terdiam mendengar ucapan mereka bertiga. Perkataan mereka memang sesuai yang sedang dia rencanakan. Apakah Tamada benar - benar bisa tahu soal dirinya dan isi hatinya? Apalagi Ney sendiri tidak dapat membaca isi pikiran Tamada dan malah dia bisa langsung menebak dengan tepat. Jantungnya berdebar keras memperingatkan pemiliknya bahwa sudah saatnya dia berhenti memaksakan diri, bahwa semua yang sudah dia lontarkan tadi membuat dirinya tenggelam dalam lubang hitam.
__ADS_1
BERSAMBUNG ...