
Ibu datang ke dalam kamarnya dan melihat Ney yang terisak - isak. "Kenapa lagi kamu? Pulang - pulang langsung menangis gitu,"
"Kenapa semuanya tidak adil?" Tanya Ney dengan suara terisak - isak.
"Tidak adil bagaimana? Kamu sudah berikan semua barangnya kan? Lalu?" Tanya ibunya.
Lalu Ney menghapus air matanya dan menceritakan semua tentang apa yang dikatakan oleh istri Syakieb. Ibunya terkejut mendengarnya dan memandang penampakan tubuh Ney. Ibunya merasa Ney mungkin malu dengan keadaan dirinya.
"Mama sudah bilang berapa kali? Mama bilang kan meminta kamu setiap hari memakai salep dari dokter. Lalu kamu bilang apa coba? Kamu bilang akan ada orang yang selalu menerima kamu meskipun kulit kamu seperti ini kan. Terus sekarang kenapa kamu malah sedih ada yang bilang jelek soal kulit kamu?" Tanya ibunya.
Ney diam,dia ingat kalau dirinya bersikukuh tidak membutuhkan salep dari dokternya itu. "Aku pikir semua orang benar - benar bisa menerima aku. buktinya Rita dan Arnila sama sekali tidak keberatan kulitku begini,"
"Kamu yakin? Kalau mama sih tidak berpikir begitu namanya perempuan tetap membutuhkan perawatan kecantikan meski sedikit. Kamu kan sama sekali tidak suka, padahal perempuan memang normalnya selalu ingin kulitnya mulus," kata Ibunya melihat kulit Ney.
"Tapi aku malas ma, kalau sudah habis itu kulitnya bisa mengelupas!" Kata Ney.
"Kalau sudah mengelupas, kamu jangan kelupas paksa. Biarkan itu jatuh sendiri, lihat nih jadinya membekas kan. Ya pantas saja mana jadinya menghitam, mama saja yang lihatnya merinding. Kamu kok bisa tahan sih?" Tanya ibunya yang memegang tangan anaknya itu lalu membalikkannya.
"Ney tidak percaya mana pernah Rita dan Arnila juga jijik sama aku! Mereka tidak pernah bilang tuh," kata Ney sambil melihat tangannya yang totol - totol.
"Kamu ini sepertinya yang tidak peka deh. Mereka pernah kok bilang hanya kamunya entah sedang pikir apa. Berkali - kali lho, mama yakin Rita pasti pernah menyinggung soal penampilan kamu kan. Itu sudah termasuk ke singgungan soal kulit kamu ini! Yang menerima kamu apa adanya itu bukan hanya soal penampakan kulit tapi sifat, Ney. Kamu jauh ya dari perawatan tidak mengherankan dikatai begitu sama istrinya. Lalu soal apa lagi?" Tanya ibunya.
"Aku ini lagi sedih lagi ada masalah tapi Arnila maupun Rita sama sekali tidak mau datang untuk mendengarkan curhatan aku, mah!" Kata Ney dengan suara yang manja.
"Hmmm.. kamu apa selalu menjadi pendengar mereka kalau mereka sedang ada masalah?" Tanya ibunya mencari tahu.
Ney diam sambil menguliti kulit tangannya.
"Apa kamu selalu ada saat mereka ada masalah? Memberikan solusi terbaik? Apa kamu selalu memberikan perhatian pada mereka, Ney? Bukan hanya saat mereka bermasalah tapi hal - hal sepele. Memuji, menghormati, tidak memancing perseteruan atau perdebatan. Karena mama tahu banget soal kamu," kata ibunya memandangi keterdiaman Ney.
"Yah pernah sih," jawab Ney yang masih saja tidak berani menatapi ibunya.
__ADS_1
"Yakin? Terus reaksi mereka bagaimana? Senang? Atau malah mereka semakin bete? Kapan?" Tanya ibunya.
"Waktu aku makan buatan Rita, Ney kan keceplosan memuji," katanya.
"Wah! Terus wajah Rita bagaimana? Pasti senang dia!" Kata ibunya yang sangat gembira.
"Ya senang. Ney pikir dia akan berlebihan bilang ini itu tapi ternyata tidak," kata Ney.
"Tuh kan, kamu itu bisa mengungkapkan yang jujur tanpa perlu takut. Tapi kamu masih saja berpikiran yang lain coba deh kamu ubah menjadi positive thinking. Tidak semua orang memikirkan kamu macam - macam. Lalu ada lagi?" Tanya ibunya antusias.
"Hanya itu saja. Buat apa aku bertingkah kekanakan begitu?" Tanya Ney manyun.
"Kamu! Itu bukan kekanakan!! Kamu masa mama
harus sewa orang untuk mengajarkan kamu dasar berteman sih!? Kamu sudah besar! Sekarang kembali ke tadi yang kamu ceritakan. Menurut mama itu akibat kamu terlalu sering merendahkan mereka ya. Semenjak kamu kenal Syakieb itu, mama jarang lihat kamu ngobrol sama Rita atau Arnila. Seolah - olah kamu menendang mereka seenaknya tapi saat kamu sudah putus atau ada masalah, kamu lari ke mereka berdua. Menurut kamu apa mereka mau menerima kamu yang tiba - tiba datang membawa masalah? Ya mana ada yang mau! Apalagi mama lihat sudah banyak orang yang mengeluh dekat sama kamu, kamu selalu membawa perdebatan. Soal apapun! Mereka bosan kalau kamu seperti itu terus. Rita juga mulai menjaga jarak ya sama kamu," kata ibunya panjang lebar.
Ney menatap ibunya lekat - lekat. "Rita jaga jarak dengan aku?"
Ney terdiam banyak terdiam. Dia sama sekali terkejut banget kalau Rita ternyata menjaga jarak dengannya dan mungkin sudah lama juga. "Tapi aku biasa saja kok, ma!"
"Tidak. Itu tidak biasa. Kamu seperti tidak membutuhkan teman sama sekali, Ney. Dan itu terlihat jelas. Kamu butuh apa sih? Nih dengar ya, kita hidup di dunia itu tidak ada satupun orang yang TIDAK membutuhkan teman! Tapi kamu berbeda, mama lihat seperti tidak butuh! Jadi kamu butuhnya apa?"
"Ya..." kata Ney yang tidak meneruskan kalimatnya. Dia sendiri pun bingung, butuh apa?
"Kamu jangan pilih - pilih teman. Kamu ingin punya teman yang kaya banget pun, mereka juga akan berpikir dua kali, Ney. Apa kamu pantas di lingkungan mereka atau tidak, bertemanlah tanpa memandang status. Itu yang membuat Rita punya banyak teman karena dia tidak pernah membedakan. Semuanya sama mungkin itulah yang membuat kamu merasa tidak adil? Rita bukan memandang sebelah mata sama kamu, tapi dia menganggap kamu atau Arnila atau siapapun itu statusnya sama. Kalau memandang status ya, Arnila kan lebih tinggi daripada kamu," kata ibunya menjelaskan. Ney harus mulai lebih sadar tentang dirinya dan sekitarnya, mana mungkin harus cuek.
"Harusnya kan Rita sadar gitu kalau Ney sering bersama dia tapi kok dia malah cari teman lain sih? Sudah bersyukur aku ini mah selalu ada buat dia!" Kata Ney yang keukeuh.
"Arnila? Daripada Rita dia kan lebih dekat dan lama sama kamu. Masa kamu tidak anggap dia lebih berharga?" Tanya ibunya. Arnila lebih sering menemani dirinya semasa dia di Jakarta, Arnilalah yang paling sering ada.
"Ya tapi dia kalau dibandingkan dengan Rita jauh lho ma," kata Ney.
__ADS_1
"Kamu nih membandingkan Arnila sama Rita terus ya. Kenapa? Kamu menyesal ya sudah anggap Rita tidak ada sewaktu dia belum kenal Alex? Jangan begitu. Itu semakin memperlihatkan kalau kamu teman Palsu. Rita banyak kecewanya sama kamu bahkan karena kamu merundungi dia untuk sesuatu yang sangat salah, kepercayaan Rita sama kamu itu sudah mulai nol! Sadar dong Ney!!" Teriak ibunya yang mulai tidak sabaran.
Ibunya Ney tahu betul seperti apa anaknya, berkali - kali, beratus kali sampai miliayan. Ney sama sekali tidak pernah mendengarkan apa kata ibunya, ibunya juga sering melihat Rita mengungkapkan kekecewaannya pada Ney tapi Ney seakan tidak perduli. Ibunya pun sampai keheranan apakah ada yang salah dengan anaknya selama ini? Arnila yang seringkali Ney injak - injak pun, Ney sama sekali tidak merasa menyesal atau setidaknya bersalah gitu.
Saat Rita atau Arnila mencurahkan rasa sedihnya, ibunya tahu Ney berpura - pura tidak tahu kalau mereka berada dalam kesulitan. Menurut ibunya, Ney merasa tidak nyaman karena harus mendengarkan dan memberi solusi pada mereka padahal dia tahu mereka berdua sangat membutuhkan solusi. Itulah yang menjadi pemikiran Rita terutama tentang Ney. Ney memilih untuk mendiamkannya daripada memberikan saran karena kebanyakan Ney tidak tahu harus memberi saran yang bagaimana. Ney sangatlah egois!
Pernah juga saat Rita bermasalah dengan keluarganya dan menceritakannya pada Ney, tetapi yang didapatkan olehnya adalah saran yang tidak masuk akal dan malah menuding Rita salah. Pada akhirnya Rita pun, langsung menutup obrolan dengannya dan memblokir saat itu juga. Arnila bertanya kepadanya dan Rita hanya bilang, "Aku tidak butuh teman yang tidak berguna." Dan akhirnya juga Arnila mengalaminya sendiri. Dan beberapa hari pun membiarkan Ney dengan dunianya sendiri. Ibunya jelas tahu sekali seperti itulah Ney menghadapi temannya, bukan hanya Rita HAMPIR SEMUA yang kenal anaknya sama. Kadang Ney juga menjawab dengan asal dan mengidekan hal yang tidak masuk akal, itu membuat semua temannya mulai menghindarinya.
Karena kebanyakan tidak nyambung dengan permasalahan atau topik yang mereka debat kan. Meskipun otaknya pintar tapi Rita meyakini ada saraf di otaknya yang salah posisi atau sudah putus 😂😂. Ney pernah juga mengatakan sesuatu dengan kasar pada Rita atau teman lainnya, yang dia pikir akan berusaha membuat temannya tidak jatuh pada hal yang sama tapi dia berkata, "Buat apa gue perduli sama lo! Gue sudah bilang berkali - kali tapi tetap saja lo begitu lagi begitu lagi. Gue capek ya kasih peringatan sama lo yang ujungnya lo jatuh ke lubang yang sama lagi. Gue udah tidak peduli banget sama masalah lo!"
Akhirnya.... ya ditinggalkan. Kalaupun memang dia berusaha banget sebagai teman mencegah temannya sendiri pada hal yang akan terjadi berulang - ulang, ya bagaimana dengan dirinya sendiri? Dan akhirnya Rita pun membalas perlakuan Ney kepadanya dengan mengatakan hal yang sama yang pernah dia katakan pada beberapa temannya. Rita bahkan sekarang mulai mendiamkan Ney yang akan jatuh pada kesalahannya yang sama. Meski sepertinya Ney tidak menyadarinya, tapi memang itu semua kembali pada ulah Ney sendiri.
Kalau soal Rita yang sering membicarakan soal Ney pada Arnila, begitu juga Ney yang membicarakan Rita pada Arnila. Dan sama juga dengan Arnila. Yah, membicarakan orang di belakang memang sulit dihindari ya meskipun tidak boleh tapi mau bagaimana lagi. Meskipun sudah sering mengatakan permasalahannya dengan cara bertemu tetap saja mereka saling membicarakan satu sama lain di belakang. Ney selalu mengatakan hal yang negatif soal semua orang termasuk Rita. Apalagi ternyata Ney mengatakan hal negatif kepada Alex. Beuh!! Parah banget!
"Teman sejati itu akan selalu membicarakan hal yang positif mengenai temannya sendiri. Kamu apa pernah membicarakan sifat positif Rita pada Alex? Jangan sampai kamu katakan bahwa Rita itu banyak negatifnya pada Alex. Ingat! Kamu sama sekali tidak tahu apa - apa soal Rita ataupun Arnila. Kamu orangnya tidak peduli dengan siapapun, Ney! Itulah kurangnya kamu dan mama tidak mau kamu sampai nanti selalu sendiri! Kamu malah menyanjung orang lain daripada orang yang ikhlas dan tulus bersama kamu," kata ibunya.
"Tapi yang aku katakan itu jujur soal Rita. Jadikan tidak salah," kata Ney yang enggan mengaku salah.
"Mama yakin kamu sampai membuka aib Rita ke semuanya kan. Mama tahu Rita pernah mengalami hal buruk dengan makhluk tak kasat mata tapi Ya Allah Ney, bisakah kamu memiliki hati? Itu tidak pantas kamu bicarakan. Hargai perasaan Rita, bagaimana kalau kamu ada di posisi dia? Hati - hati Ney, Rita tidak selemah yang kamu bayangkan selama ini. Rita hanya menunggu saatnya untuk meledak dan akan membalas setiap kelakuan kamu sama dia. Kalau itu terjadi, mama yakin dia tidak akan pernah mau berteman lagi sama kamu!"
Ney mendengarkan peringatan ibunya, selama ini juga peringatan ibunya memang selalu terjadi. Yang paling ditakutin Ney sebenarnya adalah rasa sepi tapi masalahnya kelakuannya itu selalu berkebalikan. Apakah memang sengaja agar mereka semua sadar mengenai perilaku Ney yang salah? Mau di perbaiki oleh siapapun, sama sekali tidak masuk. Ibunya sendiri pun agak bingung harus bagaimana menghadapi anaknya.
"Ney tidak percaya. Mama ini berlebihan! Lihat saja kalau Rita meninggalkan aku, dia yang akan menyesal," kata Ney menunjukkan ke arah yang kosong dalam kamarnya.
"Astagfirullah, Ney. Istighfar! Kamu tahu, yang mama katakan itu peringatan keras buat kamu. Mama lihat kamu akan berakhir sendirian, saat kamu sadari kesalahan kamu yang jauh hari itu, semuanya sudah terlambat! Kamu memang tidak pernah perduli pada siapapun! Sekarang pun siapa yang menyesal? Mama selalu berdoa kamu diberikan kesadaran, Allah SWT memberi kamu hidayah, diberikan Hati agar kamu tidak perlu sendiri," ibunya menangis melihat Ney yang sama sekali tidak perduli.
"Tidak ada yang perduli dengan kehadiran Ney," kata Ney menundukkan kepalanya.
"Banyak yang peduli sama kamu sebenarnya hanya disini ( meletakkan tangan di dada Ney ), kamu terlalu kosong. Perbanyak sedekah, Ney supaya Allah SWT memberi kamu Hati. Semoga yang mama lihat itu tidak terjadi, semoga itu bisa diubah dan salah. Sekarang opini mama, kamu minta maaf sama mereka berdua dan harus! Kalau kamu masih ingin dan memerlukan bantuan mereka! Terserah kalau kamu tidak mau!" Kata ibunya yang kemudian keluar kamarnya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1