
"Kamu banyak alergi ya, Ri?" Tanya Ney yang langsung nyeplos karena sama sekali tidak tahu banyak tentang hal itu. Pertama kalinya dalam pengamatan Rita, Ney yang benar - benar bertanya tanpa adanya gimmick sesuatu ya.
"Banyak alergi aku tuh asalkan aku bisa jaga pola makan, tahu takaran semua bumbu yang masuk ke dalam badan, jaga kondisi untuk fit, ya pasti aman. Udara juga kan aku ada alergi," kata Rita.
"Alergi dingin dan panas ya?" Tanya Arnila menebak. Ney menatap Arnila dengan heran.
"Kok lu tahu sih? Kok kamu cuma cerita ke Arnila saja, ke aku tidak? Aku seperti merasa diasingkan deh," kata Ney yang cemberut ke arah Arnila.
"Kapan aku pernah kasih tahu Arnila? Buat apa juga aku kasih tahu. Nah kamu kok bisa tahu?" Tanya Rita ke arah Arnila. Ney kaget ternyata Rita sama sekali tidak pernah menceritakan soal alerginya itu.
"Waktu kita pertama ketemu di saat kamu masih duduk SMA, kamu belum pakai jilbab kan tangan kamu aku lihat seperti bentol - bentol dan banyak banget. Aku pikir mungkin memang begitu tapi wajah kamu bersih dan badan kamu terawat masa iya sih bentol? Lalu beberapa bulan kemudian kita main lagi kan.. aku lihat kedua tangan kamu bersih jadi aku menyimpulkan kamu saat itu alergi udara. Memang dingin kan waktu itu, terus kamu gemetaran langsung kamu pakai jaket buru - buru," jelas Arnila yang menelan ludahnya lalu minum air.
"Kalau itu sih wajar kali dingin terus pakai jaket. Lalu bentolnya bagaimana dijelaskan?" Tanya Ney.
"Aku belum selesai menjelaskan. Sebentar tenggorokkanku kering nih. Nah, saat kamu pakai jaket ya aku juga berpikir ya jelaslah dingin begini wajar pakai jaket tapi kemudian berkali - kali aku lihat kamu garuk - garuk tangan. Aku heran sudah dari tangan kamu garuk ke punggung lalu kaki. Memangnya itu normal?" Tanya Arnila ke Ney yang melongo dan Rita tertawa terbahak - bahak.
"Oalaaah dari situ toh iya itu tuh aku gatal dan bentol - bentol kan dan jadinya stres banget deh. Kita ke mall kebetulan ada pancaran sinar matahari masuk kan di lantai 2 itu. Kalian berdua sibuk belanja, aku sibuk berdiri setia dibalik kaca karena disitu kan sinar mataharinya mentereng banget. Sampai kepanasan, banyak orang yang liatin aku mungkin pikirnya nih anak kenapa sih berdiri di tempat panas. Memang ada yang bertanya terus aku bilang saja kalau alergi dinginnya kumat jadi begitu ada matahari masuk ya terpaksa langsung dijemur. Baru deh mereka mengerti dan membiarkan aku menikmati matahari sesukanya," jelas Rita panjang lebar sambil sesekali diiringi tawanya sendiri.
"Ohhh... kok aku tidak ingat ya?" Tanya Ney pada dirinya sendiri.
"Itu tandanya kamu kurang perhatian sama orang. Yang sepele aja lolos apalagi yang besar? Katanya peka tapi Rita garuk - garuk kemana saja kamu sampai tidak tahu? Heran," kata Arnila yang memang aneh sekali.
"Ya memang tidak tahu," balasnya sambil memainkan rumput.
"Bukan memang tidak tahu tapi karena kamu tidak peduli. Kamu lebih sukanya jadi pusat perhatian, kamu anggap aku sebagai saingan karena dalam pikiran kamu, aku selalu mencari - cari topik agar jadi pusat perhatian. Padahal ya kalau kamu membuka mata hati kamu lebar - lebar, aku tuh tidak berminat banget yang begituan. Masa kamu kalah sih dengan Arnila yang baru beberapa bulan kenal?" Rita sudah biasa menghadapi Ney yang baginya tampak seperti batu. Tidak ada perasaan apa - apa hanya kasihan karena selalu sendiri.
"Coba kamu lebih peduli pada orang lain bukan berharap orang lain lebih mengerti kamu. Sebelum kamu, orang lain dulu yang harus diutamakan. Benar tidak?" Arnila mencolek Rita.
__ADS_1
"Iya. Setelah kamu peduli ternyata orang itu tidak membalas, ya kamu cari yang lain jangan selalu ingin orang lain yang harus memahami kamu. Serius itu tidak akan membuat perubahan dalam diri kamu. Kalau dibalas baik ya syukur jadi teman baik jangan Berkhianat,"
Kata terakhir yang diucapkan Rita sempat membuatnya terkejut. Yah sampai kapanpun Rita akan sulit melupakan apa yang sudah dilakukan olehnya tahun kemarin karena sampai kapanpun masih tidak ada permintaan kata maaf yang keluar dari mulut Ney. Bagi Rita perbuatan kurang manisnya itu sangat mempengaruhi poin kepercayaannya sebagai teman. Jadi yah, dari rank teman dekat eeeh turun lagi jadi teman biasa. Karena Ney selalu menjatuhkannya dengan kata - kata negatif yah eee turun jadi Teman yang hanya untuk bilang 'Hai Hai". Akan sulit baginya untuk mengumpulkan poin kepercayaan dari Rita karena dia malah lebih mendukung orang asing daripada temannya yang selalu ada di sisinya.
"Berkhianati bagaimana sih?" Tanya Arnila yang pura - pura. "Untung aku bukan teman dekat kamu ya, Rita jadi aku sudah pasti tidak masuk kategori Pengkhianat,"
"Jauh kan? Berkhianat itu yang orang sudah tulus ya dekat sama dia bertahun - tahun meski sering diinjak atau dimanfaatkan tapi masih peduli berteman sama dia. Eeh waktu dia kenal sama orang asing malah bully, kan aneh ya jadi itu balasannya? Tega ya orang yang seperti itu, bukannya bersyukur masih ada yang selalu belain dia di hadapan orang dan keluarga, ckckckck nasib orang itu yang punya teman seperri itu apes ya, Nil. Semoga Allah SWT menggantinya dengan dipertemukan dengan orang yang lebih setia nanti," doa Rita yang terang - terangan kepada Arnila sambil pura - pura menyapukan air mata bohongan.
Arnila kemudian tertawa dan langsung meng-aminkan tapi tidak begitu dengan Ney yang langsung memalingkan mukanya. Ingin dia tersenyum tapi mendengar pernyataan Rita sangat menohok hatinya. Menyesal atau tidak menyesal, Rita sudah tidak peduli lagi karena menurutnya Ney tidak punya hati.
"Allah itu baik pasti mengabulkan doa kamu, Ri. Doain aku juga ya soal menikah," kata Arnila yang langsung menggoyangkan badan Rita.
"Hahaha doa sendiri dong!" Balas Rita tertawa.
"Doa kamu lebih manjur. Serius! Iya kan, Ney? Selalu terbukti sepertinya apapun yang kamu katakan akan menjadi kenyataan jadi doakan pernikahanku nanti lancar setelah berkeluarga pun aman,"
"Kami tidak capek apa dengan semua alergi?" Tanya Ney tiba - tiba tapi tidak menatap Rita.
"Ada yang mengalihkan topik nih. Berarti benar itu," kata Arnila yang langsung menancapkan panahnya ke Ney.
"Wahahaha!! Ya capelah sangat melelahkan itu baru alergi kamu belum tahu kan kalau aku juga banyak penyakit berat?" Tanya Rita yang masih dalam suasana riang.
"Eh, serius?" Tanya Arnila kaget.
"Benar tuh! Aku baru tahu kalau kamu banyak alergi dan ternyata punya penyakit berat juga?" Tanya Ney langsung menatapnya.
"Kamu apa - apa baru tahu lalu kenapa kamu bilang serba tahu ke Alex soal aku? Ingin selalu diperhatikan dia ya? Kamu masih ada hati yaaa," kata Rita.
__ADS_1
"Ya sepertinya begitu. Bagaimana?" Tanya Ney menantang Rita.
"Tapi Alexnya sudah tidak suka kamu dari awal juga. Dia sukanya aku maaf ya, kali ini aku tidak akan relakan dia buat perempuan yang kurang bisa menghargai. Kamu tahu aku punya penyakit berat, mau depak aku juga? Aku sih lebih senang," kata Rita yang masih menggoyangkan badannya ke arah Arnila begitu juga Arnila.
"Tidak kok!" Jawab Ney dengan cepat.
"Kalau aku tidak kenal Alex pasti kamu buang aku. Kamu sama sekali tidak mengenal aku dengan baik bahkan kebiasaan terjahat aku pun aku yakin kamu masih tidak sadar bukan? Kalau Arnila sih tidak perlu ditanya juga sudah tahu. Kamu akan sadar nanti saat aku berkali - kali melakukan kebiasaan yang menjadi primadona dari kelakuanku kepada kamu. Saat kamu sadar, itu sudah terlambat karena aku tidak akan membuka kesempatan lagi pada siapapun. Yang kamu ketahui soal aku hanya bagian kulit atau cangkang, soal alergi berapa kali aku perlihatkan sama kamu tapi memang kamu tidak peduli. Sesulit itukah kamu menebak aku? Berapa lama kita berteman? Baru sekarang kamu sadar kemana saja kamu?" Panjaaang sekali Rita mengatakannya dengan gaya santai, masih membuat Ney tidak bisa berkata apa - apa lagi.
Itulah balasan yang bisa dilakukan Rita. Daripada dibalasnya di Akhirat lebih baik di dunia kan. Masih ada yang mau menolong dia memperbaiki segalanya seperti ibunya dan bahkan Arnila, bila dia bertekad mau membuka hatinya. Untungnya bukan berupa tampolan karena Rita sebenarnya ingin sekali menampol wajah Ney tapi menyadari wajah adalah aset terbaik perempuan. Kalau di Akhirat? Yang bisa menolong hanya perbuatan baik alias pahalamu sendiri.
"Ya..." jawab Ney yang sudah tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Arnila lalu menchat Rita,
'Nanti juga akan lupa lagi apa yang baru kamu bilang tadi,' kata Arnila.
'Iya pasti. Aku bisa ulangi lagi kok sampai miliaran kali,'
Mereka berdua saling melirik satu sama lain dan Ney memperhatikan mereka berdua.
"Kalian sengaja ya? Supaya aku melakukan sesuatu!" Kata Ney yang menangkap sesuatu juga.
"Tergantung dari kamu itu sih," jawab Rita yang menatap setengah mata ke arahnya. Rita kan matanya sipit, setengah mata entah seperti apa.
"Apa kamu bisa berubah? Karena dari kita SMA kamu tidak ada yang berubah soal kepribadian kamu, kerapihan, masih seperti itu," jawab Arnila.
Setiap manusia dari waktu ke waktu pasti ada yang berubah dari kemunduran menjadi kemajuan. Entah dari niat berteman, memperbaiki diri dari berantakan menjadi lebih teratur, banyak perubahan tapi Ney? Sama sekali tidak ada makanya mereka berdua sangat aneh dan heran. Ney ini manusia atau bukan sih? Paling menonjol ya soal teman, dari SMP sampai sekarang teman dekat dia sama sekali tidak berubah. Arnila atau Rita, sedangkan mereka berdua kalau pergi tidak selalu dengan Ney.
BERSAMBUNG ....
__ADS_1