ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
459


__ADS_3

"Kamu kok membela suami aku dengan keluarganya sih? Bukan aku yang kamu bela. Heran," kata Ney jutek.


"Ya karena kamu memang salah. Menikah hanya karena ingin uang suami, sudah pertanda buruk dalam keluarga. Makanya sebelum menikah itu ada yang namanya Pra Nikah. Kamu baca atau ikut komunitasnya, supaya tidak seenaknya kamu kotori janji suci," kata Rita tidak mau kalah.


"Aku setuju. Kamu kan kasih aku bukunya juga aku sudah habis baca itu dan in sha allah, aku bisa jadi istri Sholehah," kata Arnila.


"Aamiin. Kalau kamu menikah hanya karena uang Dins, otomatis keharmonisan keluarga kecil kamu ya tidak ada. Kamu sebelum menikah juga sudah matre kan ke dia," kata Rita ingat semuanya.


"Tidak ih, itu wajar kok sebagai pacar. Oh iya ya kamu kan belum pernah pacaran ya maklum sih tidak akan tahu," kata Ney mengejek.


"Kamu juga menghabiskan uangnya Dins untuk pamer jam tangan kan. Padahal uang yang Dins kumpulkan untuk sekolah adiknya," kata Arnila.


Rita dan Ney yang membacanya kaget. Benar lah apa kata Ua dan Koko kalau Arnila juga punya niat lain mendekati Ney.


Alhasil Ney diam dan hanya menganga. Apa kata Dins kepadanya memang benar adanya, dialah yang sering menghabiskan uang hadil kerjanya.


"Hah!? Serius? Ih, jahat ya kamu," kata Rita.


"Enak saja. Itu tuh uang aku, aku kan kerja keras sekali di 4 tempat lho," kata Ney berusaha menghempaskan Arnila.


"Kamu kan waktu itu masih kuliah Ney, kapan kerja? Mana kamu juga kena hukuman karena menduplikat pekerjaan orang lain kan. Terus kapan kamu kerja di empat tempat?" Tanya Arnila sengaja melepaskan segalanya.


Rita hanya membaca, kaget ada heboh ada. Ney terus dengan pembelaan.


"Ih, aku itu kerja sambilan. Ingat kan? Aku kan yang kasih uang ke adiknya waktu itu," kata Ney.


"Hah?? Kamu belum pernah tuh ketemu sama adik-adiknya Dins. Setiap diajak kan kamu menolak ada kegiatan kampus lah, komunitas lah, padahal aslinya ya Rita dia tidur di rumah. Parah kan," kata Arnila yang tampak kesal karena tadi.


"Lu parah ya tukang bohong. Memutarbalikkan fakta, Lu gila asli," kata Rita.


"Coba kalau kamu pernah bertemu sama adiknya Dins, sebut siapa nama ketiganya," tantang Arnila.


"Kamu pernah, Nil?" Tanya Rita.


"Aku pernah dikasih lihat fotonya dan Dins cerita itu siapa saja," kata Arnila membuat Ney panik.


"Namanya... Sarah, Nafa dan Kio. Aku yakin," kata Ney.


"SALAH! Kamu lupa ya cerita Dins? Adiknya tuh ada yang kembar namanya Sira dan Sara mereka sekarang sudah kuliah, dan satu lagi adiknya lelaki masih sekolah kelas 1 SMA, namanya Tio. Wuhhh parah kamu ya Allah, Ney," kata Arnila.


"Beuh hahahaha perempuan BULSHIT hanya bisa omong kosong. Aku tidak mau lagi percaya sama kamu, sudah malas. Banyak kena tipu, dibohongin, apa gunanya anggap kamu teman? Rugi gue," kata Rita menggelengkan kepalanya.


Ney diam, wajahnya memerah sekali antara marah dengan malu. "Ar, buat apa sih kamu buka-buka masalah aku? Kamu ada tujuan lain ya dekat sama aku,"


"HAHAHAHA supaya Rita tahu seperti apa aslinya kamu. Kenapa? Selama ini Rita cerita kamu tidak pernah cerita apapun soal diri sendiri. Malu? Tumben kamu bisa malu. Buat Rita sedih, sakit hati saja kamu tidak merasa," balas Arnila dengan wajah lainnya.


Ney terdiam tampaknya ada sesuatu yang berbeda dari Arnila. Yah, perubahan itu terjadi tentu dari dirinya sendiri dan keberanian Rita yang mulai keluar.


"Tapi kan Rita, aku ini istrinya dimana-mana istri itu nomor satu," kata Ney.


Rita sih sudah terbiasa kalau Ney pasti akan mengalihkan topik. "Kamu sebelum jadi istri dia, apa pernah menjadi pacar yang baik? Tidak lirik sana sini? Sama Alex saja kamu lirik orang sampai minta nomor teleponnya. Apalagi kalau jadi istri," kata Rita super bete!


Ternyata masalahnya bukan orang tapi kehadiran plus doku alias duit. Kalau Rita kebalikan, belum bertemu tetap menjaga kepercayaan. Kalau sudah dirundung beda lagi ceritanya.


"Hah kenapa kamu bisa tahu? Alex cerita?" Tanya Ney bengong. Dia pikir kalau Alex dengannya, Alex tidak akan pernah bercerita apapun ternyata..


"Iyalah, aku sih sudah tahu kalau kamu bukan tipe perempuan setia jadi aku ketawa saja. Kamu dulu pacaran juga hanya bertahan tiga hari, paling sebentar ya sehari," kata Rita.

__ADS_1


"Wah kamu hafal ya," kata Arnila.


"Iyalaah kenal dia udah lebih dari 6 tahun. Dia sendiri tidak kenal aku bagaimana, karena dia lebih mementingkan diri sendiri. Aku hapal dia belum tentu dia hapal aku," kata Rita.


Alex sedikiiiit saja melihat isi percakapan mereka dan kaget soal kasus yang dialami oleh Ney. Alex juga memiliki ketakutan bila nanti punya istri yang menuntut semua uang menjadi miliknya. Tapi tidak dengan Rita karena dia kuliah di universitas keagamaan sudah tahu.


Alex harus berhati-hati agar tidak refresh di laptopnya. Kalau tersentuh, otomatis ponsel Rita juga akan refresh dengan sendirinya.


"Ini untuk istri yang benar ya. Selama pacaran bisa jaga diri, tahan nafsu ke lelaki lain yakin deh suami juga akan percaya penuh. Kalau mertua masih tidak setuju pun tidak akan terlalu ribet. Arnila bagaimana?" Tanya Rita karena menurutnya Arnila contoh yang tepat meski wallahu alam.


"Ita aku setuju. Aku kan agak tidak direstui tapi setelah menikah, aku berusaha mendekati alhamdulillah ternyata kesan mereka baik," kata Arnila.


"Berbeda kalau pacaran banyak selingkuh, biasanya nanti waktu menikah dan jadi istri/suami diragukan jadi keluarga samawa. Ya karena begitu saja terus," jelas Rita yang masih membaca artikel dari laptopnya.


"Beda lagi kalau mertuanya yang somplak alias memang jahat ya, istri baru berhak penuh memiliki semua uang suami. Tapi sejahat nya orang tua kalau anak laki-laki ya harus mengabdi sih," kata Arnila menambahkan.


"Mertua yang jahat tuh aku setuju kalau gaji suami untuk istri semuanya. Aku juga tidak akan ikhlas deh," kata Rita.


"Ih, mertua aku jahat lho kan menentang sekali pernikahan aku. Jadi kan wajar aku pertahankan semua gaji Dins," kata Ney yang tiba-tiba beralih haluan.


"Itu kamunya saja yang tidak benar," jawab Arnila dan Rita bersamaan.


"Waktu pacaran kan yang selalu mendatangi Dins kamu sendiri, yang selingkuh lagi ya kamu sendiri. Orang tuanya Dins itu baik lho, adik-adiknya juga hanya ya kamu sebelum jadi istri juga kurang... wajar," kata Arnila membalas.


Rita yang membacanya agak sedikit kaget sih dengan yang diketikkan oleh Arnila.


"Ada angin apa kamu? Aku kira kamu anteknya si Ney," kata Rita chat privat.


"Enak saja! Kenapa sih semuanya selalu bilang begitu? Aku terpaksa ya kenal sama dia. Aku juga tidak mau, Rita. Waktu dia kenal aku, dia terus yang mendatangi aku waktu itu sudah punya grup sendiri," kata Arnila.


"Iya bisa dibilang begitu. Pokoknya Rita kamu jangan percaya apapun yang dia katakan ya. Semuanya BULSHIT! Tadi baca kan soal dia yang membiayai adik Dins, itu bohong. Aku kenal Dins sebelum dia jadi sama Ney, Dins itu teman suami aku," kata Arnila.


Membuat Rita semakin bengong. "Kamu pernah suka sama Dins?"


"Wah, tidak hehehe tidak pernah, Rita. Bukan tipe aku sih meski dia pernah menembak tapi aku tolak," kata Arnila.


Rita berpikir apa jangan-jangan Dins itu sebenarnya tidak jauh beda dengan Ney ya? "Kamu tahu kan kalau aku juga pernah ditembak sama Dins,"


"..... oh iya ya! Astaga, Rita...." kata Arnila langsung tersadar.


"Intinya memang Dins jodoh kamu. Dari A sampai Z mirip kamu. Yah kamu menyatakan suka sama siapapun, dia juga sama. Jadi ya memang sudah pasti," balas Rita di grup.


"Iya sekarang kalau ada masalah, ya itu berbalik pada kepribadian kalian masing-masing," balas Arnila yang juga sebenarnya bengong.


Alex kesal lagi ternyata suami Ney ini ya playboy tapi bukan tipe menipu perempuan. Menyatakan suka pada orang juga tidak dalam waktu pendek tapi lama.


Ney diam dia kurang mengerti maksud Rita dan Arnila. Tapi dipikir lagi, dia yang senang selingkuh juga Dins sama. Tidak separah Ney karena Dins masih bisa menjaga hati dan nafsu.


"Surga suami itu adanya di Ibunya bukan istri jadi kamu harus mengerti anak laki-laki tidak akan pernah bisa putus dengan Ibunya," kata Rita lagi.


"Istri itu urutannya kedua meski tidak enak memang sudah hukumnya dari Allah begitu. Jadi kalau soal siapa yang berhak mendapatkan uang bulanan ya jawabannya Ibunya. Pertama Ibu lalu kedua istri, Dins itu menurutku sudah baik lho mengutamakan kamu dan Ibunya kedua," jelas Arnila menghela nafas.


"Tapi kan kamu istri kurang ajar ya mana ada rasa bersyukurnya terus saja kurang. Iri sama rejeki orang, terus pelihara setan sama tuyul, untuk apa sih? Malah banyak dosa daripada kebaikan. Memangnya kamu siap kalau masuk neraka?" Tanya Rita dengan kalimat polosnya.


Ney terdiam, Arnila bengong lalu tertawa. Memang ada benarnya untuk apa pelihara makhluk ghaib?


"Kamu tidak pernah memberi uang jatah untuk Ibu suami kamu ya? Biasanya otomatis suami kasih jatah sih kalau istrinya rada matre mah," kata Rita menonjok hati Ney.

__ADS_1


Dengan maraaaah luar biasa. "Aku kan yang lebih berhak," kata Ney.


"Kamu yang melahirkan Dins?" Tanya Rita mengejek Ney yang selalu seperti tahu segalanya. Ke Alex juga begitu.


"Ya bukan," kata Ney.


"Terus kamu yang rawat dia sedari kecil sampai sekarang?" Tanya Arnila.


"Haha ya bukanlah,"


"Kenapa kamu ketawa? Ini lagi serius lho aku sama Arnila tidak ada maksud melawak ya," kata Rita. Seringkali menurut Ney dia dan Arnila seperti sedang bercanda dan tidak pernah mendengar dengan serius.


"Iya iya sori deh kan biasanya kamu selalu bercanda," kata Ney.


"Aku bercanda apa kamu ketawa? Tidak kan? Sudah jangan pura-pura. Begini ya kalau kamu masih terus beranggapan kamu yang lebih pantas daripada Ibunya, kamu sudah termasuk istri durhaka. Hanya karena pernikahan kamu ditentang mereka, kamu balas," kata Rita.


Rita juga masih belum pasti akankah diterima keluarga Alex atau tidak, setidaknya dia sudah cukup menjadi anak yang baik. Kalau keluarganya merasa kurang, ya sudah.


"Coba dong kamu belajar sama Arnila. Tanya dia minta saran mendapatkan hati mertua bagaimana. Lebih rendah hati lagi di hadapan mereka, lebih mendengarkan omelan. Aku yakin mereka menentang karena pernah melihat kamu dengan orang lain da," tebak Rita.


"Dari mana kamu tahu? Arnila, kamu cerita lagi ya?" Tanya Ney dengan marah.


"Mana ada," jawab Arnila yang keheranan juga.


"Ya aku tahu dong kan kebiasaan kamu begitu. Ganti-ganti pacar seperti ganti baju, bicara ini itu isinya tipu semua. Kan aku orangnya senang memperhatikan," kata Rita.


Ney terdiam, benar juga dia selalu tidak sadar memperlihatkan itu semua pada Rita. Sebenarnya agak Rita tahu dia bagaimana. Ternyata bisa menerima tapi yang Rita tidak tahu, Ney sama sekali tidak suka dengan sikap baiknya kepada orang lain.


Apa ya? Dia ingin Rita menjadikannya sebagai satu-satunya teman terbaik untuknya tapi kalau begitu ya memang dia yang egois. Dan Rita adalah manusia yang selalu membutuhkan banyak teman bukan satu.


"Kalau kamu begitu terus sih aku yakin lama-lama Dins pasti meminta cerai," kata Rita dengan lurus ya.


Membaca kata Rita membuat Ney bagaikan tersambar petir karena Dins pernah terucap seperti itu.


"Masa sih sampi cerai segala? Kekanak-kanakan sekali," kata Ney tidak percaya.


"Bukan kekanak-kanakan tapi kenyataan untuk apa hidup dengan istri yang hanya bisa memikirkan dirinya sendiri? Okelah belum menikah tapi kalau sudah jadi istri, tugasnya lebih banyak kan," jelas Rita.


"Iya Rita, memasak untuk keluarga walau kamu belum punya anak sudah harus mengutamakan suami. Makanan harus enak masa iya pesan ojol makanan terus kan tidak etis. Belajar masak, belajar bersih-bersih rumah. Banyak!" Kata Arnila.


Ney memperhatikan keadaan rumahnya yang berantakan. Dia sempat melemparkan barang-barang sampai ada yang pecah. Dia banting juga kado dari Rita, tidak pernah dia pakai menurutnya bukan kado yang penting.


"Oh iya, kamu kok beri Arnila buku sih bukan seprai? Diperlakukan beda ya," kata Ney tidak sadar dirinya akan jatuh ke jebakan.


"Untuk apa? Aku yakin tidak akan mungkin kamu baca pasti kena bakar atau disimpan sampai dimakan kutu. Seprai juga aku yakin tidak pernah kamu pakai kan," kata Rita menebak tepat.


Ney menggigit jarinya. "Aku pakai kok,"


"Halah. Lagipula kan aku tidak kamu undang, kado seprai hanya untuk basa basi saja. Buat apa aku beri hadiah mewah kalau tidak diundang ya," kata Rita.


Ney diam, dia sama sekali tidak akan menduga Rita akan menanyakan alamat rumahnya dan dia lupa kalau Rita tidak dia undang.


"Soal suami menceraikan istri dengan kasus begitu kan sudah banyak. Apalagi Dins juga sudah jelas tahu kebiasaan kamu waktu masih pacaran," kata Rita lanjutkan lagi.


"Iya juga ya. Tuh kan kata aku juga apa dulu. Sudah berhenti, tobat. Kalau menikah akan muncul banyak masalah karena kamunya juga begitu. Menikah artinya sudah dewasa kan ya belajar bersikap selayaknya seorang istri nanti ibu," kata Arnila.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2