ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(72)


__ADS_3

Di pertengahan jalan, Rita bertemu Anggara dan mengajaknya ke rumah Merlin. Di seberang, Ney melihat Rita yang diajak masuk ke mobil Anggara dan dia kesal karena Rita tidak memberitahukannya.


"Kamu pergi kemana dengan Anggara? Kenapa tidak memberitahuku dulu sih?" Tanya Ney dalam WA tapi Rita tidak membalasnya. Ya buat apa juga segala tindak laku Rita harus dilaporkan pada Ney.


"Ney, ya?" Tanya Anggara pada Rita.


"Iya. Dia masih mencari kamu tuh," kata Rita memperlihatkan isi chatnya pada Anggara.


"Biarkan saja. Merlin mengajak kita makan malam nanti pulangnya aku antar ya," kata Anggara sambil melihat ke arah depan.


"Ney ada kabar chat sama kalian?" Tanya Rita yang penasaran takutnya dia mengontak terus.


"Dia marah - sama sama Merlin tapi langsung di blok. Tidak punya malu banget ya," kata Anggara.


"Kamu sendiri?" Tanya Rita.


"Dia bertanya soal rasa suka gue ke dia, aku bilang sama sekali tidak berminat sama orang yang tidak cemerlang. Dia pasti bertanya ke kamu. Bagaimana?" Maksud cemerlang disini bayangkan saja ya oleh kalian. Perempuan yang pandai merawat dirinya sendiri dengan yang tidak bukan maksudnya masa depan.


"Malas ah. Biarkan saja! Tadi juga sepertinya dia sempat lihat kamu ajak aku masuk ke sini," dan dengan sesuai dugaannya, Ney menelepon Rita. "Ada apa tumben menelepon," kata Rita membesarkan suara.


"Kamu dimana? Jam segini baru pulang?" Tumben Ney peduli sama jam berapa aku pulang.


"Bukan urusan kamu aku pulang jam berapa. Ada apa? Pastinya kamu bukan peduli dengan jam pulangku kan?" Tanya Rita menebak. Anggara hanya tertawa sambil menahan.


"Aku mau bicara dengan Anggara soalnya aku telepon dia tidak angkat sama sekali," kata Ney seenaknya.


"Tidak bisa apa kamu bilang 'Tolong'? Bagi kamu sepertinya hal seperti itu jarang kamu lakukan ya. Itu dasar sifat sopan santun lho,"

__ADS_1


"Kamu kan sudah tahu bagaimana aku lagian kamu kan temannya Gara,"


"Ya sudah aku tutup ya. Silakan coba beberapa saat lagi kalau aku mau angkat sih," beberapa menit kemudian Ney tidak membalas.


"Iya aku minta tolong sambungkan ke Anggara. Aku mau bicara!" ketus Ney yang didengarkan Anggara.


"Buat apa sih kamu terus menerus ganggu Anggara? Kamu stop ya membuat masalah dari awal itu Gara tidak ada minat sama kamu, sadar dong! Aku bawa kamu karena Anggara penasaran kamu tuh orangnya seperti apa sih. Jangan kepedean dong jadi orang! Urus itu pacar kamu!"


"Aku tidak percaya kalau Gara tidak suka aku! Sudah kasihkan saja teleponnya ke dia. Jangan ikut campur ya!" Pengen banget rasanya Rita lempar hpnya jauh - jauh, tapi apa daya hp itu Rita dapatkan dengan hasil tabungannya selama mengajar.


"Kamu keenakan ya sebut nama kecil teman aku. Kamu kan bukan siapa - siapanya dia, jangan suka ikut - ikutan deh! Dasar tidak sopan!" Anggara hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Ney lewat hp Rita akhirnya Anggara memberi kode pada Rita, untuk memberikan hpnya pada dia.


"Kamu mau apa lagi? Belum cukup ya rasa malu kamu kemarin," kata Anggara kemudian. Dia sengaja memspeaker hpnya Rita agar terdengar dan menyimpannya di depan setir mobil.


"Please please tolong bilang kalau kamu sebenarnya suka sama aku hanya kamu tidak mengutarakannya," buuusheeet percaya diri banget nih orang? Tidak berkaca seperti apa penampilannya? Dari nada bicaranya dia seperti memohon pada Anggara agar menerima hatinya wah, bisa naik tinggi tuh hidungnya.


"Kata siapa aku gampangan, itu semua hanya gosip. Aku perempuan yang menjaga kehormatan aku kok, kamu jangan dengarkan apa kata orang - orang!" Balas Ney berusaha menjelaskan.


"Sudahlah mau benar apa tidak, aku hanya penasaran teman macam apa Ney itu yang dekat dengan sahabatku, Rita. Tapi bukannya menampakkan itikad baik didepan Rita, kamu malah menjelekan dia,"


"Aku minta maaf kalau kamu merasa aku membuat masalah dengan Rita tapi aku benar - benar mencintai kamu. Aku janji akan selalu setia sama kamu, soal Dins aku akan tolak dia! Masa depan kamu akan cerah kalau bersama aku!" Kata Ney yang membuat Rita dan Anggara sama - sama menjulurkan lidah. Rita menggelengkan kepalanya oh ternyata seperti ini penampakan Ney yang sebenarnya kalau dia menghadapi lelaki. Kasihan Dins kalau benar jodoh Ney.


"Kamu tidak cantik, sori fisik kamu pun kalah dengan Merlin, aku suka dengan yang cantik, bisa dandan, kulit bercahaya dan segar dan sori ya... aku tidak suka dengan keadaan kamu yang jauh dengan Rita pun, kamu tidak ada bandingannya. Apalagi penampilan kulit kamu yang penuh bekas cacar, itu minus banget buat aku. Kalau misalkan dengan kamu pun, aku malu ajak kamu kemana - mana. Kamu juga bukan perempuan yang bisa merawat diri. Kalau pergi keluar coba deh perhatikan dari sudut mata kamu dan jejak air liur sesudah bangun, itu minus berat! Aku jijik dengan hal seperti itu!" Ney langsung menutup telepon dan Anggara memberikan hp itu kepada Rita.


"Tampak kejam ya," kata Rita menerima hpnya kembali.


"Aku terpaksa bilang begitu meski tidak sopan menyebutkan hal yang sebenarnya tabu ya. Agar dia berhenti mengejar sesuatu yang tidak mungkin," kata Anggara dan Rita menepuk bahunya dengan keras.

__ADS_1


"Dia butuh itu karena orangnya sulit menerima apa kata orang dan terus yakin berlebihan kalau kenyataannya tidak seindah perkiraan dia," akhirnya mereka berdua tiba di rumah Merlin dan disambut. Makan malamnya sangat lezat, orang tuanya Merlin memang hobi memasak. Sekitar jam 9 malam, Rita diantar pulang oleh Anggara yang juga pamit pulang.


Dalam kamar Rita, Alex menyapa dan mereka mengobrol sebentar. Rencananya sebentar tapi memang aneh kalau sudah bicara dengan Alex entah kenapa selalu ingin terus mengobrol. Begitu juga dengan Alex yang sudah nyaman dengan Rita.


"Bagaimana keadaan kamu? Tampaknya tugas kuliah membuat kamu kurang memperhatikan aku," kata Alex yang kepedean. "Kamu masih marah sama aku?"


"Sangat lelah. Tidak, aku sudah tidak marah sama kamu asalkan kamu tidak begitu lagi. Tugasku akhirnya selesai juga. Kamu bagaimana kabarnya?" Tanya Rita sambil rebahan karena sudah makan enak.


"I'm fine. Thanks! Ada berita?" Alex selalu haus akan kisah yang terjadi pada Rita. Baginya semua kisah yang diceritakan Rita sangat berkesan meski pada akhirnya, seringkali mereka bertengkar karena berbeda pendapat.


"Tentang? Ah! Iya Ney, kamu lebih antusias soal Ney daripada aku. Tentu saja!" Jawab Rita dengan sebal. Semua serba Ney kalau Alex tahu Ney ditolak keras oleh sahabatnya pun pasti dia bela keras juga.


"Tidak, aku lebih menunggu kisah mengenai kegiatan kamu daripada Ney. Oh, kenapa kamu selalu mengira aku senang dengan berita tentang Ney sih? Aku serius ingin tahu mengenai tugas kamu!"


"Karena kamu begitu. Tapi sudahlah terserah kamu saja kalau memang lebih berminat sama perempuan yang sebelas dua belas seperti kamu. Aku hanya beritahu kamu kalau dia masih berharap pada sahabatku," kata Rita.


"Ya ampun, Rita. Aku lebih peduli soal kamu daripada Ney. Trust me,"


"It work!" sambung Rita. Sesudahnya Alex mengirimkan emoji tawa dengan banyak. Ingat iklan susu Element untuk pria? Slogannya kan begitu hahaha.


"Apa Ney sudah gila!? Lalu bagaimana dengan pacarnya?! Tidak mungkin pacarnya itu mau dia tinggalkan?" Tanya Alex pastinya dia heboh banget ya.


"Ya, dia berharap sahabatku sebenarnya suka sama dia dan dia akan meninggalkan Dins kalau sampai ternyata sahabatku diam - diam merasakan hal yang sama dengan Ney,"


"GILA!" Jawab Alex dengan heboh.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2