
Karena tampaknya kondisi tidak memungkinkan, alhasil selama beberapa jam semuanya dibiarkan. Arnila bertanya pada Ney apa yang mereka bicarakan namun Ney tidak mengatakan apapun.
"Kita baik-baik saja kok. Kamu tidak perlu ikut campur," kata Ney pada Arnila.
Merasa tidak enak juga, Arnila pun menunggu sekiranya 1 jam lalu memulai chat lagi di grup. Teringat soal pekerjaan Rita kalau tidak salah bekerja di Cafe.
"Rita, bagaimana pekerjaan sambilan kamu?" Tanya Arnila berharap Rita sudah tenang.
"Sudah selesai. Besok aku menerima gaji terakhir," balas Rita.
Ney tentu saja membacanya juga ternyata benar Rita masa kontraknya diperpanjang. "Kontrak kamu diperpanjang?" Tanya Ney.
"Iya dong lumayan sebagai pengganti gara-gara fitnahan seseorang ya. Allah ganti dengan rejeki yang lebih baik lagi, Alhamdulillah deh," kata Rita senyum-senyum.
"Wah, syukurlah. Iya tenang saja kalau memang sudah rejekinya pasti dapat. Berapa tuh kalau boleh tahu?" Tanya Arnila.
"Sekitar Rp 3.000.000 ditambah ada lembur juga beberapa hari," kata Rita menghitung.
"Wah! Lumayan sekali!" Sambut Arnila.
Sudah tentu Ney juga kaget tapi dia tidak mengungkapkan karena tahu Rita memang bekerja keras sebelum dia ikut gabung. Rasa cemburu dan iri menghampiri Ney, dia masih merasa lebih bisa dipercaya daripada Rita.
"Ayo deh aku traktir Raacha. Bagaimana?" Tanya Rita, pancingan Arnila berhasil membuat Rita gembira.
"Boleeeh," jawab Arnila dan Ney bersamaan. Memang benar Ney pikir Rita sudah tidak memikirkannya lagi dan memutuskan untuk ikut.
Rita tentu sudah tahu soal itu dan sudahlah percayakan saja pada Allah untuk hukuman dia. Tentu sesuai kata Arnila orang itu satu memang begitu orangnya, berkali-kali juga ada masalah ya cepat sekali dia melupakannya.
"Kamu sudah tidak marah sama aku kan?" Tanya Ney dalam grup dengan wajah yang cerah. "Benar kan, Rita itu memang begitu mau aku separah apapun melakukan apa, pasti selalu dimaafkan. Jadi tenang saja," kata Ney ke Arnila.
"Menurut aku sih tidak begitu. Kamunya saja yang apa-apa selalu menggampangkan. Hati-hati deh jangan suka membangunkan macan yang tidur," balas Arnila.
Tapi Ney masih senang disangkanya dirinya sudah dimaafkan. Dan sekarang memilih pakaian yabg akan dia pakai besok tanpa membaca balasan dari Rita.
"Biar Allah yang mengadili kamu!" Jawab Rita menutup chatnya dalam grup.
Setelah itu Ney dengan gembira membuka ponselnya dan membacanya. Dia langsung membeku saat berdiri dan kemudian terduduk.
Keesokan harinya menjadi hari menyedihkan bagi Rita yang harus mengucapkan perpisahan karena kontraknya sudah habis. Dia bisa saja memanjangkan kontraknya namun karena kondisi kesehatan fisiknya yang sudah diluar batas, dia akan fokus pada kuliahnya dulu.
"Saya doakan semoga usaha Bos lancar jaya. Terima kasih sudah menerima saya bekerja di sini," kata Rita yang sendu menatap semua rekan kerjanya.
"Iya, sama-sama kuliah yang rajin ya kalau kamu mau, kapanpun kamu boleh bekerja lagi disini. Biar istri saya yang urus," kata Bosnya dengan tegas.
__ADS_1
Istri barunya mengangguk. "Iya nak Rita, kalau kamu butuh kerja sampingan lagi, datang lagi saja kemari," katanya sambil mengambilkan amplop coklat dan memberikannya pada Rita.
Istri Bosnya yang baru sangat baik hati meski berbeda usia dengan pemilik Cafenya. Rita mengangguk menerima dan menyimpan dalam tasnya kemudian melambaikan tangan pada mereka. Sona agak sedih karena selama menjadi asisten, Rita tekan kerja yang paling enak diajak bekerjasama. Mereka berdua juga selalu berbagi ide mengenai hiasan dalan Cafe.
Seperti yang dijanjikan hari itu tidak ada kegiatan kuliah jadi, Rita bisa menepati janjinya untuk mentraktir Ney dan Arnila sebelum dirinya sibuk kegiatan dan perkuliahan lagi.
"Kalian dimana? Kita ketemu langsung saja ya di Raacha," kata Rita di grup.
"Oke. Aku sedang On The Way nih sekitar 5 menit sampai," kata Arnila.
"Aku juga," kata Ney yang sebenarnya baru bangun pukul 9 pagi itu.
Arnila sudah tentu berada dalam mobil, dia diantarkan oleh bibinya yang ada di Bandung. Ney jangan ditanya deh dia yang paling pontang panting. Tanpa mandi dulu seperti biasanya dan dikomentari oleh adiknya.
Arnila dan Rita menunggu kedatangan Ney selama 1 setengah jam, sambil menunggu Rita membeli jajanan yang mereka makan.
"Seperti biasanya tukang ngaret," kata Rita.
"Yah, begitulah," jawab Arnila yang sama-sama melihat satu per satu angkot yang lewat.
Rita sebelum bertemu, sudah memasukkan uangnya sebanyak 2 juta ke Bank untuk ditabung, sisanya untuk biaya kuliah dan untuk biaya piknik nanti. Sedangkan untuk mentraktir mereka berdua, tentu sana ada tabungan lain selain dia simpan di Bank.
Akhirnya datang juga Ney dengan penampilannya yang berantakan sudah dapat dipastikan oleh keduanya Ney tidak mandi. Karena dia memakai parfum secara berlebihan.
Mereka bertiga memasuki gedung Raacha yang terdapat menu sarapan gratis. Mereka duduk di tengah ruangan dan pelayan menyajikan sarapan untuk mereka. Gayanya seperti restoran Korea, disajikan bubur kacang hijau dan ketan hitam serta kue waffle yang diberi tumpahan cokelat yang enak, juga teh hijau yang super hangat.
"Wah!" Sambut mereka bertiga. Porsinya kecil hanya untuk menghangatkan perut mereka. Tapi sudah lumayan membuat mereka bertiga memakan itu semua.
"Kurang banyak ya segini sih tidak bisa membuat perut aku kenyang lah," kata Ney yang makan dengan agak rakus.
"Kalau porsinya banyak, nanti tidak bisa makan makanan utamanya," kata Arnila memandangi Ney yang makan dengan bersuara.
Rita memandangi Ney yang makan dengan kurang enak pemandangannya. Dia merobek waffle tanpa menggunakan garpu.
"Kebayang kalau kamu kenal keluarga Alex, dengan cara makan seperti itu," kata Rita yang memakan bubur kacang dengan lahap.
Setelah mendengar itu, Ney kemudian menggunakan garpu dan sendok kecil yang ada di samping mangkuk.
"Iya juga ya keluarga Alex pasti mementingkan keterampilan saat makan juga ya," kata Arnila.
"Ya kamu kalau makan apa sembarangan merobek makanan? Ada pisau dan garpu kan, sebenarnya sih tergantung dari kebiasaan makan juga," kata Rita yang sudah menghabiskan buburnya kemudian meminum tehnya.
"Enaknya ya yang baru terima pesangon. Bisa belanja banyak dong," kata Ney tidak memperdulikan omongan mereka berdua.
__ADS_1
"Iya dong. Alhamdulillah," jawab Rita tidak peduli juga.
Arnila menyikut tangan Ney, membuatnya menahan omongannya. "Mau kamu pakai buat apa saja? Tidak ditabung?" Tanya Arnila sambil minum.
"Asyik ya bisa foya-foya. Jangan lupa aku ya," kata Ney dengan nada yang membuat Rita bete!
"Mau aku bayar buat kuliah semester depan, lalu piknik dan ujian. Aku kumpulkan semua uang yang aku dapat di Bank," kata Rita yang masih senang memakan waffle.
"Oh." Kata Ney kemudian mengunyah makanan. Arnila tersenyum bersyukur memang Rita bukan tipe perempuan yang senang berbelanja.
Mereka bertiga kemudian memutuskan untuk mulai mengambil menu utama di kasir depan, masing-masing membawa nampan. Meja mereka dibiarkan begitu saja karena pukul segitu masih lumayan sepi.
Ney mengambil 1 porsi Beef Slice dan teman-teman suki serta memesan minuman Red Velvet. Lalu Arnila mengambil 1 paket Sukiyaki dan teman-temannya serta minuman Taro. Kemudian Rita paket Suki dan Fish Barbeque serta Green Tea.
Tentunya Ney tampak ingin sekali mengambil makanan dari Rita namun Rita tentu saja menolak diminta.
"Kenapa sih kamu selalu ingin sekali mencomot makanannya Rita? Kalau kamu mau kan bisa ambil tidak perlu sampai meminta terus," kata Arnila kesal juga.
Alhasil tidak jadilah Ney meminta punya Rita melihat ternyata menu Rita membosankan kemudian mengambil paket suki juga. Yang dimana makanannya banyak dibandingkan Rita dan Arnila.
"Maaf ya, Ney memalukan. Kalau uangnya kurang aku juga nyumbang," kata Arnila membuka dompetnya.
"Tidak usahlah. Biarkan saja kan aku tidak traktir kalian setiap hari kan. Makan yuk," ajak Rita.
Mereka kemudian sibuk dengan paket makanan, Ney memanggang dagingnya yang ternyata mengambil beberapa ikan milik Rita. Arnila juga mengingatkan daging miliknya lalu Ney mengembalikan ikan Rita dengan kesal.
"Kamu ada rencana kerja lagi, Rita?" Tanya Arnila sambil memakan sukinya.
"Tidak ada sepertinya. Orang tua marah soal kemarin aku sakit parah. Mereka bilang kalau masih mampu membiayai kuliahku," kata Rita yang memilih mengambil semua daging ikan-ikannya daripada Ney mengambil semuanya lagi.
Karena tampaknya Arnila dan Rita enggan berbagi, Ney memilih memanggang dagingnya di pemanggang sebelah. Rita menghela nafas dan menumpahkan semua saos keju ke atas daging ikannya. Tampak menggugah selera juga akhirnya Arnila juga ikut mengambil saos keju.
"Kalau kami tidak kerja sambilan lagi tidak ada yang akan mentraktir dong," kata Ney kecewa sambil memanggang daging.
"Aku ingin deh sekali saja ya ditraktir sama kamu. Selama ini kamu kan sudah keseringan di traktir aku atau Arnila. Kapan dong?" Tanya Rita menatap Ney.
Ney hanya diam sok sibuk memanggang daging dan tidak berkomentar apapun. Arnila bengong menatap Rita.
"Lho, kamu belum pernah ditraktir Ney? Aku sering lho," kata Arnila membuat Ney memejamkan kedua matanya.
"Belum pernah sekalipun. Ihh kok begitu sih? Oh iya ya aku kan bukan kalangan kamu. Mungkin Ney malu ya kalau aku dia bayarin," kata Rita.
"Lho tapi kata Ney, dia pernah traktir kamu. Kapan tuh Ney yang kata kamu itu," kata Arnila pada Ney.
__ADS_1
Bersambung ..