ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(177)


__ADS_3

"Sudahlah soal Rita dan teman kamu yang lain, mama menyerah apapun yang mama dan yang lain katakan memang tidak ada artinya bagi kamu. Nanti kamu akan mengalaminya sendiri. Sekarang mama tanya benar kamu mau? Sekali kamu tandatangani surat itu, kamu sudah bukan anak mama dan ayah lagi. Kamu bisa punya banyak barang mewah, segepok uang, apapun yang ayah dan mama tidak bisa berikan sama kamu. Kamu tidak akan pernah kenal kami lagi, adik dan kakak kamu. Kamu memang mau begitu kan," kata ibunya dengan suara yang bergetar.


Air mata mengalir deras dari kedua mata ibunya begitu juga Ney yang sedikit mengerjapkan kedua matanya karena Ney pun tidak mengira akan menjadi seperti ini. Apalagi Rita dan Arnila juga seperti mulai berjaga jarak dengannya. Arnila sih sudah pasti berjaga jarak ya karena akan menikah sebentar lagi kalau Rita? Tidak punya punya alasan untuk berjaga jarak tapi mungkin saja kan karena sudah bosan. Sudah cukup bersabar, sampai Rita membuat batasan baginya bila Ney sudah menikah itu tandanya dia sudah dewasa dan sudah bisa ditinggal.


Ney berpendapat Ritalah yang akan selalu ada buat dia karena menurutnya sama - sama membutuhkan teman. Sebetulnya Neylah yang paling membutuhkan teman yah bukan untuk hal yang baik tapi hanya untuk memanfaatkan Rita. Ini semua akan terbongkar nanti apakah niat dan tujuan Ney pada Rita sebenarnya selana ini. Dari pertama dia bertemu Rita sampai usia mereka sudah hampir 30.


"Mama sadar, kita bukan keluarga super yang punya lebih banyak uang tapi in sha allah ayah berusaha bekerja untuk menghidupi kita dengan uang yang halal. Mama tahu kamu punya banyak keinginan, tapi setidaknya untuk saat ini kamu tahan dan kamu carilah pekerjaan, lebih nikmat saat kamu punya uang sendiri. Jangan seperti ini lagi, kamu harus mulai berpikir jaga jarak dengan orang - orang yang mudah memberi. Kamu perempuan masa tidak punya harga diri sama sekali? Kamu apa tidak bisa seperti Rita? Dia jaga dirinya dari sentuhan lelaki bukan muhrim tapi kamu malah sebaliknya. Mau jadi apa kamu ini tidak salah kalau teman - teman bilang soal kamu perempuan gampangan," kata ibunya yang membuat Ney semakin... apa ya? Antara kesal, sedih, menyesal tapi dia sama sekali tidak ada rasa ingin meminta maaf. Dia hanya meneteskan air matanya saja. Ibunya sudah menyadari kebiasaan Ney yang sering meneteskan air mata bohongan.


"Kamu nangis itu bohongan atau benar - benar menyesal?" Tanya ibunya yang berusaha melihat Ney.


Ney tampak menolak agar ibunya melihat tapi ibunya lebih memaksa dan melihatnya. "Kamu serius menyesal atau hanya pura - pura? Jawab! Kamu tidak perlu menyembunyikan kebiasaan kamu, Rita saja sudah tahu seperti apa kalau kamu berbohong menyesal," kata ibunya membuat Ney menghapus air matanya.


"Iya aku menyesal! Kenapa sih semua orang selalu 'Rita Rita Rita atau Arnila Arnila Arnila'? Kapan giliran aku!? Sampai mama, Zayn dan kakak juga semuaaaa mereka yang dipuji. Aku kan anak mama!" Ney mulai mengeluarkan air mata.


Ibunya tertawa dan menghela nafas. "Mama tidak punya maksud jahat sama kamu. Mama ini pengalamannya lebih banyak dan intuisi mama bilang kalau mereka berdua benar - benar teman yang tulus tapi kamu seperti yang tidak mau melihat. Kenapa? Mama ini heran banget sama kamu, kamu dianugerahkan teman yang tidak keberatan kamu seperti apapun tapi kamu malah membalas mereka dengan cara yang salah. Kalau maksud kamu ingin mereka tetap menjadi teman kamu, jaga perasaan mereka, biar mereka bebas. Mau mereka punya teman lagi juga bukan hak kamu untuk membatasi. Teman yang baik itu paling mudah saling mengerti. Kalau kamu hanya ingin mereka mengerti kamu, jangan salah kalau mereka menjauh, karena kamu terlalu egois Ney. Sekarang mau kamu bagaimana soal masalah adopsi ini? Mama sudah siap mental dan ikhlas kalau kamu lebih milih orang itu,"


"Yah, Ney memang banyak keinginan sih ma dan sadar kalau memang keluarga kita jauh dari orang itu tapi Ney pikir kalau benar - benar memilih orang itu ada kemungkinan Ney bisa mati bosan. Mama cerewet, dan punya adik dan kakak yang kurang waras juga jadi buat Ney setengah hidup," kata Ney. Itulah cara Ney menyampaikan kalau dia keberatan. Ibunya tersenyum.


"Ya sudah, kita kemas saja semua barang ini ada untungnya juga kamu berantakan di kamar ini. Bungkus dan kardusnya sama sekali tidak kamu buang, dari ini saja terlihat jelas kalau kamu orangnya tidak bisa merapihkan apapun, jadi menurut mama sebelum kamu menikah dengan Dins, sedikit - sedikit kamu harus mulai banyak berlatih melakukan apapun sendiri," lalu ibunya mulai merapihkan semua barang.


"Hah? Harus dikembalikan? Tapi ini kan diberi," Ney agak keberatan. Mana dia sudah memposting semua barangnya ke Pacebuk lalu di grup juga. Dia jadi kelabakan sendiri, harus bilang apa kalau ada yang bertanya tentang semuanya!?


"Iya dong. Mama yakin ini kebanyakan kamu yang minta kan. Kalau barang pemberian pasti beda lagi, mama kan bisa tahu kamu sukanya barang yang seperti apa. Atau kamu mau dia sendiri yang datang kemari meminta semua barang dikembalikan? Mana yang lebih memalukan?" Tanya ibunya tanpa memandangi Ney.


Akhirnya Ney menuruti ibunya dan melipat baju juga tapi karena Ney juga sama sekali tidak bisa melipat baju, akhirnya ibunya menyuruh Ney memasukkan barang seperti tas atau perhiasan. "Tuh, baju saja kamu tidak bisa melipatnya. Ya Allah, nanti kalau kamu menikah kamu bisa apa? Masak saja bumbunya asal - asalan, jangan sampai Dins mengeluarkan kata menyesal menikahi kamu. Nih lihat mama, mulai sekarang kamu HARUS benar - benar banyak berlatih!"


Ney mau tidak mau mulai memperhatikan ibunya melipat baju dan berlatih saat itu juga. Ney selalu menyepelekan apapun seenaknya sampai akhirnya dia menyadari kalau tidak bisa apa - apa selain membanggakan, memamerkan barang, makan tinggal beli atau apapun. Dia tidak pernah mengerjakan tugas rumah seperti menyapu, mengepel, bahkan mencuci baju karena di rumah neneknya itu ada pembantu. Berbeda dengan kakak dan adiknya yang kadang mencuci baju sendiri kalau ketumpahan sesuatu.

__ADS_1


"Rita juga pasti jarang melakukan pekerjaan rumah. Lihat saja tangannya bersih begitu tidak seperti mama, keluar urat," kata Ney dengan senang.


"Oh ya? Kamu pernah kan ke rumahnya?" Tanya ibunya.


"Pernah. Rumah sebesar itu pasti yang mengerjakan pekerjaan rumahnya hanya ibunya saja," kata Ney.


"Rita punya pembantu?" Tanya ibunya lagi.


"Hmmm tidak ada," kata Ney sambil berpikir.


"Kalau begitu Rita berbeda sama kita," kata ibunya yang selesai melipat sampai 10 baju.


"Beda bagaimana, ma?" Tanya Ney tidak mengerti.


"Ya bedalah. Kita pakai pembantu sedangkan Rita tidak kan. Rumah sebesar itu mana bisa ibunya sendiri yang bersihkan. Mama yakin mereka diberi tugas masing - masing setiap harinya. Tidak seperti kamu yang disuruh menyapu saja banyak alasan, mama yakin Rita pintar membersihkan rumah dan pintar melipat baju," kata ibunya yang sekarang sibuk memasukkan ke dalam kotak kardus.


Ibunya tersenyum. "Kalau kamu tidak percaya coba saja uji Rita ke rumah terus kamu pura - puranya disuruh mama melipat dan menyetrika baju. Bagaimana? Rita itu cerewet banget lho sama seperti mama, nanti yang jadi suaminya lebih senang daripada pusing,"


Ney menghentikan kegiatannya. Menguji Rita? Boleh juga tuh.. Ney tersenyum mengembang penuh arti. "Boleh. Bagaimana kalau taruhan?"


"Yakin kamu mau taruhan? Kalau kalah pasti kamu banyak mengeluh," kata ibunya yang tertawa pelan.


"Mama nih banyak tahu ya. Tapi Ney tidak akan kalah, kita taruhan ya. Aku bertaruh kalau Rita sama saja dengan Ney tidak bisa mengerjakan apa - apa. Kalau Ney menang, mama belikan Ney tas Channel ya nih," Ney menunjukkan tas branded nya kepada mamanya.


Ibunya melirik ke arah anaknya benar - benar senang memanfaatkan. "Iya iya tapi kalau mama menang, kamu tugas mengepel dan menyapu selama sebulan!"


"Hah!? Sebulan? Lama banget, ma!" Kata Ney keberatan.

__ADS_1


"Tuh kan belum apa - apa juga sudah mengeluh! Payah kamu!" Ibunya menggetok kepala Ney.


"Iya iya setuju! Sekalian memasak juga ya ma," kata Ney.


"Tidak! Kamu jangan keenakan memanfaatkan Rita. Cukup menyetrika, melipat baju dan menyapu dan mengepel. Mama yang jadi jurinya! Kamu juga jangan buat alasan berbohong sama dia kalau ketahuan,kamu akan kena akibatnya,"


"Yahhh," kata Ney yang agak kecewa ibunya tidak setuju dengan ide Ney.


"Kenapa? Kamu ketagihan ya sama makanan buatan Rita? Hayo mengaku!" Ibunya tertawa keras. Membuat Ney cemberut.


"Nanti Ney harus bilang apa supaya Rita mau datang?" Tanya Ney yang memasukkan perhiasan seenaknya, untung ibunya juga memeriksa semua barang yang Ney rapihkan.


"Bilang saja mama mau ketemu. Dia pasti datang," kata ibunya. Lalu ibunya sengaja melemparkan baju pada Ney untuk dilipatnya sendiri. Ney kemudian merapihkannya dan benar bagus.


"Aku pasti menang!" Kata Ney dengan penuh keyakinan dan ibunya hanya tertawa.


"Ya kita lihat saja nanti," kata ibunya. "Kamarnya Rita berantakan juga sama seperti kamu?"


"Wuih! Parah banget! Serius! Aku kan ke kamarnya juga," kata Ney. Memang berantakan tapi berantakan karena buku dan Rita selalu mempostingnya dengan #TugasSekolah dan #TugasKuliah.


"Wah! Berantakan seperti ini? Banyak komik?" Tanya ibunya yang memang mungkin juga sama.


"Iyalah. Komik dia lebih banyak dari aku, ma!" Kata Ney sambil tertawa.


Ibunya kurang yakin jadi nanti pasti akan lebih ditanyakan. Kadang Ney berbicara dengan kebohongan kadang juga jujur. Sudah nanti kita suruh Om Farhan yang antar semua ini ke rumah orang itu,"


Dibantu dengan adik dan kakaknya, menjadi lebih cepat dari sebelumnya. Tetap saja kemasan yang dirapihkan Ney mendapat komentar pedas dari kedua saudaranya tapi dia menikmatinya. Padahal tugas Ney mudah yaitu menaruh perhiasan di kemasan busanya tapi tetap saja sama sekali tidak simetris dan membuat ibunya banyak menghela nafas. Entah tidak terbayangkan kalau anaknya nanti jadi istri Dins dari yang termudah saja dia tidak bisa rapih. Semoga ada keajaiban.

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2