ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(164)


__ADS_3

Sambil menunggu jawaban dari omnya, Arnila mulai menyelidikinya sendiri karena Ney sudah terlalu sering berbohong. Entah kenapa dia selalu begitu.


"Kamu kerja jam berapa?" Tanya Arnila. Sewaktu kuliah saja, Ney selalu datang terlambat dan dosen sering kali menghukumnya dengan berdiri di pojok kelas.


"Jam 9 dong," jawab Ney dengan nada yang agak belagu gitu deh.


"Kamu tahu jam berapa pekerjaan dimulai di kantor om? Yang aku tahu itu jam 7 pagi. Nah benar kan, yang salah itu ya kamu bukan perusahaan apalagi om aku. Kamu yang masih ya kebiasaan jelek kamu dibawa sampai bekerja, datang kerja seenaknya jam 9 ya wajar omku ngomel!" Arnila kesal banget memang Neylah sumber masalahnya. Masa iya sih dia tidak bisa membedakan bekerja dengan kemalasannya?


"Tapi kan seharusnya tidak begitu!" Ney membela diri. Tahu kalau dia memang salah tapi terlalu malu untuk mengakui kesalahannya.


"Kamu kalau kerja yang selalu aku perhatikan datang ke perusahaan om seenak jidat kamu!" kata Arnila yang pernah dikirimi video dari omnya.


Ney kaget mendengar pernyataan Arnila. "Darimana kamu tahu?" Tanya Ney sambil menggigiti kukunya sendiri.


"Om aku selalu beri laporan. Aku malu tahu! Mana aku sudah bilang kalau kamu rajin bekerja Ya Allah, bisa tidak sih kamu membedakan kebiasaan kamu dengan kebiasaan bekerja? Aku tahu kamu memang malas bangun pagi tapi kira - kira dong kamu seperti itu setelah lewat seminggu! Kamu niat bekerja tidak sih?" Tanya Arnila yang mendamprat Ney habis - habisan.


Ney terdiam tidak menjawab, dia tidak menyangka kalau omnya ternyata sering mengontak Arnila. "Kamu lihat deh Rita, dia mengajar jam 7 pagi juga lho masa kamu tidak bisa bangun sebelum jam 7?"


"Rita juga suka tidur begadang kok terus pernah dia terlambat datang janjian dengan kita. Dia juga sama dengan aku kebiasaanya selalu bangun siang kalau tidak mengajar,"


"Dia begitu kalau hari libur. Iya aku tahu Rita sama seperti kamu, tapi dia bisa mengatur kemalasannya dengan bekerja. Rita ya pasti pergi dari rumahnya jam 6. Kapan dia pernah terlambat bertemu dengan kita? Kamu kali yang terlambat terus. Seperti tadi, kamu janji dengan kita jam 10, baru datang hampir jam 12. Atur ya jam luang kamu dengan waktunya bekerja. Kalau kamu terus begitu, aku menyesal dan malu banget menghadap im dengan kebiasaan buruk kamu yang tidak berubah!" kata Arnila yang panjang. Nampaknya sudah tidak bisa dipendam lagi kekesalannya dan Ney hanya bisa diam mendengarnya.


"Kamu kesal banget ya sama aku. Tumben kamu bisa bicara sepanjang itu," kata Ney yang menundukkan kepalanya. Memang sangat sulit sekali dia rasa untuk mengubah kebiasaan terburuknya sampai sekarang pun sulit.

__ADS_1


"Aku sudah membantu kamu ya bekerja di perusahaan om yang dimana perusahaan itu sebenarnya sudah penuh. Tapi seperti itu kelakuan kamu dan kebiasaan jelek kamu, malah kamu bawa ke dalam kantor. Nih ya aku baru saja menerima WA dari omku, aku bertanya soal bagaimana kamu bekerja di tempatnya. Dan kenapa kamu sampai keluar. Aku kirim langsung deh biar kamu tahu!" Arnila kemudian mengirimkan chatnya dengan Omnya.


Ney tidak ingin melihatnya tapi dia penasaran apa yang dikatakan oleh omnya Arnila. Ney kaget tentang apa yang ada didalam isi chatnya itu. Seperti ini isinya :


Arnila : "Om, ini aku. Aku baru tahu kalau temanku Ney keluar dari perusahaan Om. Om pecat dia? Kenapa?"


Om : "Hah, dia bilang begitu? Om yang pecat teman kamu itu. Jangan biarkan teman kamu itu bekerja lagi di perusahaan om! Om terima dia, karena kamu bilang kerjanya bagus tapi ternyata pemalasnya bukan main! Om malu sekali dengan koleganya om, kerjanya dia hanya melihat ponsel. Manajer beri dia tugas tambahan, dia marah - marah"


Arnila : "Serius om? Arnila tidak tahu kalau dia seperti itu. Maaf ya, om"


Om : "Serius! Om saja tidak percaya banyak yang bilang hampir semua pegawai bilang begitu. Makanya Om kirim videonya ke kamu itu bukti ya teman kamu itu aslinya begitu. Mananya yang rajin? Rajin datang terlambat iya, kerjaan tidak selesai tepat waktu! Salah satu pegawai mendengar keluhannya sepanjang waktu, gaji disini ternyata kecil tapi tugasnya banyak. Lah dia masuk ke sini tujuannya hanya mau gaji besar, ya?"


Arnila : "Saya sudah bilang tidak mau karena perusahaan om kan sudah padat tapi dia sampai mengemis, om. Saya kan jadi tidak enak,"


Arnila : "Iya om, saya juga sudah berkali - kali bilang sama dia tapi tidak pernah didengar. Gaji 5 juta kan kalau dia rajin selama setahun ya kalau tidak salah,"


Om : "Tidak. Dulu setahun tapi sekarang melihat kinerja pegawai om yang semakin baik, om ubah menjadi 6 bulan bekerja dengan baik, masuk kerja sesuai jadwal, tugas dikerjakan tepat waktu, masuk tepat jam 7 pagi yah kalau terlambat 5 menitlah. Sudah naik gaji pasti 5 juta,"


Arnila : "WAH! Asyik banget! Coba Ney bisa bersabar sampai 6 bulan. Mungkin gajinya langsung naik ke 5 juta, om"


Om : "Ah, om tidak percaya dia bisa. Dengan kelakuannya yang seperti itu, om yakin dia bekerja dimanapun juga pasti dikeluarkan. Tapi om heran sama kamu buat apa kamu berteman dengan orang seperti dia? Om yakin kamu punya banyak teman yang lebih baik kan daripada yang satu itu? Dia bukan tipe teman yang baik. Kamu harus hati - hati. Om tidak mau kamu sampai dilukai sama dia ya, kamu keponakan om yang sangat om sayangi. Tapi jangan lagi kamu tawarkan dia untuk bekerja di perusahaan om,"


Ney membacanya super kaget dengan apa yang dilihatnya dalam WA nya. Omnya Arnila mengatakan semuanya apa yang terjadi, Ney pun tidak bisa lagi memutar balikkan kenyataan dan dia terus menggigiti kuku jarinya satu per satu. Sialan! Ternyata Arnila itu keponakan kesayangan omnya, gue ga bisa membela apa - apa lagi sekarang! Pikir Ney. Tadinya dia yakin pasti Arnila akan berusaha membujuk omnya untuk menerimanya kembali tapi ternyata sama sekali meleset dari tebakannya. Dia merasa aneh kenapa tahun - tahun ini semua yang dia inginkan berbalik tidak tepat sasaran. Dia berpikir mananya yang salah? Dari Arnila yang biasanya selalu menurut pada perintahnya, sekarang mulai melawan, semuanya yang dia inginkan yang biasanya langsung terkabul, sekarang perlahan luntur.

__ADS_1


Tiba - tiba muncullah notif dari Arnila dengan perasaan yang kacau dan takut, Ney membuka chat dari Arnila. "See? Tapi aku tidak akan banyak berkomentar ya soal pamannya Alex, aku juga mundur. Maaf ya," setelah itu Arnila juga mematikan netnya dan Ney terbengong sendiri di tempat. Dia masih membeku dengan apa yang dibacanya tadi. Syok tapi juga memang benar begitu, tadinya dia yakin sekali kalau Arnila akan mengajaknya bekerja di perusahaan omnya tapi nihil. Sekarang, dia kebingungan harus mencari sendiri pekerjaan. Dia mengutuki dirinya sendiri yang tidak bisa mengatur kemalasannya atau kebiasaannya itu.


Di kediaman Arnila, setelah menutup kabarnya di WA kemudian dia rebahan dan mengingat - ingat kejadian tahun lalu. Saat Ney meminta memaksa dimasukkan ke dalam perusahaan omnya yang perusahaannya memang sangat megah.


"Ya ayo dong masukkin aku ke sana ya! Kami bujuk deh om kamu buat nerima aku," Ney membujuk Arnila sewaktu dia main ke rumahnya.


Arnila sangat enggan sekali memasukkan Ney ke sana karena pasti selalu tidak beres pekerjaannya dan dia akan menyombongkan dirinya setelah diterima. "Duh, perusahaan om sudah penuh. Tidak ada lowongan lebih baik lu cari di perusahaan lain deh,"


"Aku tuh pekerjaannya lebih cocok di perusahaan om kamu, Nila. Ayo dong masa kamu tidak mau bantu teman kamu sendiri sih," Ney terus menerus membujuk Arnila.


Hanya karena mendengar "teman kamu", Arnila akhirnya mengiyakan. Dirasa Ney akhirnya menerima dirinya benar - benar sebagai temannya. Ney pun langsung senang sekali dan selama sehari itu dia benar - benar seperti lengket dengan Arnila. Tapi Arnila mendapat perasaan tidak seharusnya begitu tapi tidak dipedulikan. Ney sebenarnya sudah mencari tahu berapa gaji di perusahaan omnya itu, yaitu 5 juta per bulan! Ney sudah berpikir macam - macam, dengan uang sebesar itu dia bisa membeli barang mahal dan bisa memamerkannya pada Rita dan Arnila juga teman satu grupnya. Tapi Ney tidak tahu untuk mencapai gaji sebesar itu, tugasnya pun seimbang alias super menumpuk!


"Om, terima teman aku ya. Dia orangnya rajin bekerja kok," Arnila menelepon omnya saat omnya berada di kantor. Sebelahnya ada Ney yang duduk dekat dengannya sambil tersenyum manis.


"Yakin teman kamu rajin? Siapa namanya?" Tanya Omnya yang agak kurang yakin.


"Ney Grizelle, dipanggilnya Ney saja, om," kata Arnila.


"Ney? Kamu yakin dia bekerjanya rajin? Kamu tahu kan seperti apa syarat orang yang bisa om terima?" Tanya Omnya yang seingat beliau, Arnila jarang menceritakan soal nama temannya itu. Dan tidak yakin dia orang yang baik.


"Yah, dicoba saja dululah om," jawab Arnila yang saat itu Ney sedang membeli sesuatu. "Om kalau bisa, kalau om sempat beri laporan juga ke Arnila ya. Soalnya dia memaksa banget buat nerima ke perusahaannya Om. Kalau nanti ada apa - apa, itu bukan kewajiban Arnila lagi,"


"Oh! Siap! Ya sudah besok kamu bilang ke teman kamu untuk datang langsung ke perusahaan Om ya!"

__ADS_1


BERSAMBUNG ...


__ADS_2