ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(146)


__ADS_3

"Lu sendiri!? Sejak kapan jadi *****? Memangnya aku tidak tahu! Setiap hari kamu kerjanya keluar masuk hotel!" Teriak Ney yang tidak mau kalah.


"Kak, sudah!" Kata Zayn yang memegang Ney.


"Hidup lu sesuka hati, selingkuh terus kerjaannya! Mau tahu kurangnya kamu yang lain? BANYAK! Aku yakin suatu hari nanti, kamu akan ditinggalkan teman - teman kamu karena mereka tidak akan tahan dengan kamu yang tidak ada perubahan! Dulu memang aku keluar masuk hotel tapi hanya sekedar menemani om - om untuk mengobrol tidak sampai seperti kamu! Aku tidak sampai menjual perawan ya, hanya karena ***** birahi lagi tinggi!" Teriak Cyphrin yang membuat ibunya pusing.


"Hahahaha!" Zayn tertawa mendengar pengakuan kakak pertamanya. Ney sangat emosi pagi itu dan dia melihat ada sesuatu panjang berwarna kuning yang tergeletak di atas meja.


"Kentang..." sontak Ney melepaskan tangannya dari adiknya dan buru - buru melihat bekal dalam tasnya. Tutup bekalnya bergeser dan isi didalamnya sedikit. "KENTANG GORENG GUE! BERANI YA LU MAKAN!" Teriaknya yang sudah habis kesabaran. Cyphrin dan Ney juga 11 12 kalau makan tidak melihat itu punya siapa tapi Ney kadang tidak menyadari kesamaan dengan kakaknya itu dan dia sendiri juga begitu pada Arnila dan Rita.


"Memangnya kenapa? Orang mama yang buat kamu kamu! Kamu sendiri pasti sama saja kan suka ambil makanan orang. Memangnya aku tidak tahu?" Kata Cyphrin yang berjalan menuju kamarnya sendiri sambil memakan kentangnya.


"Sudah! Mama tahu kalian semua seperti apa dulu itu dan mama menyesal tidak ada waktu itu. Nasi sudah menjadi bubur, Ney. Tapi mama yakin Rita akan menerima seperti apa masa lalu kamu dan mama minta kamu juga menerima Rita seperti apapun. Kalau kamu mulai memilih - milih hanya karena Rita childish, kamu akan kehilangan dia suatu saat nanti. Mama tidak mau kamu sampai sendirian lagi, Arnila dan Rita kamu harus lebih baik sama mereka, dengarkan mereka karena sarannya untuk kebaikan kamu sendiri. Coba kamu belajar dandan deh sama Rita, dia pasti senang. Dengan adanya mereka berdua, kamu aman belajar bagaimana menjadi teman yang baik," Kata ibunya dan memberikan Ney tas bekalnya.


"Rita saja menerima Alex dengan terbuka masa kakak tidak menerima Rita hanya karena childishnya? Kak, jangan termakan omongan orang lain. Kalau kakak memang jadi memilah karena bertemu Alex dan merendahkan Teman kakak itu, buat apa kakak masih berteman dengan Rita? Aku yakin Rita pasti sudah sangat sakit," kata Zayn.


Ney terdiam memang Rita sakit saat dirinya membully bersama dengan temannya yang lain dan juga Alex. Dia seharusnya tahu masih ada jalan lain yang bisa mengubah Rita. Seharusnya... dia tahu kalau bully itu pasti membuat Rita menjauh darinya. Kemudian Ney pergi dalam perjalanan, dia teringat soal paket makanan untuk Alex. Dia berpikir karena kemarin tidak ada waktu lagi untuk membuatnya akhirnya dia beranjak ke tempat bensin sebelahnya ada toko kue. Dia masuk dan memilih kue yang termahal dan memasukkannya ke dalam tempat bekal dan membuang kertasnya. Tinggal dibilang saja kalau kue itu adalah buatannya.


Saat dalam angkot, beberapa orang memandanginya dan tertawa tapi Ney tidak peduli dengan apa yang mereka katakan. Dandanannya memang terlalu menor karena dia berpikir Alex akan datang jadi sedikitnya dia harus berdandan. Akhirnya sampailah dia di tempat yang dibilang oleh Arnila dan melihat dari kejauhan memang ada lelaki tinggi, Ney merapihkan bajunya yang saat itu memakai rok setengah lutut. Dia memang ingin menarik perhatian Alex tapi ... saat mendekat, dia yakin itu Alex. Memang Imron membelakangi Ney dan dia tidak tahu siapa sebenarnya orang itu.


"Oh, itu Ney!" Teriak Rita lalu melambaikan tangannya. Ney melihat lalu dia membalas lambaiannya meski sebentar karena malu orang - orang memperhatikannya. "Kamu harus lihat deh dandanan dia,"


Arnila dan Imron lalu melihat kebelakang, saat itu Ney sedang menundukkan kepala dan melipat rambutnya ke belakang telinga.


"Wih, tumben dia sampai dandan," kata Arnila berdecak aneh.


"Tapi menor wey! Itu tampak seperti perempuan di pinggir jalan kalau malam hari," kata Imron yang tidak suka.


"Iya juga," jawab Rita dan Arnila bersamaan.


"Dipikirnya aku Alex pacarnya Rita ya," Rita memandangi Imron dan cengengesan.


"Sebentar lebih baik kamu tidak melihat dia, say. Kita kejutkan kamu ke dia nanti pas lagi duduk," kata Arnila tertawa jahil.


"Hai! Maaf ya aku telat!" Kata Ney yang tampak santai. Sambil menatap ke arah Imron.


"Telat bangeeet hampir jam 12, tahu!" Kata Rita melihat jamnya.

__ADS_1


"Telat bangun ya. Kebiasaan kamu nih!" Kata Arnila yang memperhatikan dia duduk dengan sopan sambil Arnila menahan tawanya.


"Eh, Alex kamu kesini dari jam berapa? Kok kalian tidak beritahu aku sih?" Tanya Ney yang nada bicaranya seakan - akan dibuat lembut. Rita juga menahan tawa.


"Wah, tumben pakai rok," Kata Arnila memperhatikan penampilan Ney yang tampil memukau dengan wajah menornya.


"Iya dong. Sekali - kali pakai rok memangnya hanya Rita saja yang bisa?" Tanya Ney dengan nada yang teratur.


"Kamu duduk dekat Rita ya jangan dekat dengan 'Alex' ku," kata Arnila menunjuk ke tempat Rita berada.


"Kok Alex kamu sih? Alex itu milik aku," kata Ney dengan mimik wajahnya yang genit.


"Hahahaha!!" Rita tidak tahan lagi menahan tawanya.


"Kok kamu tidak marah sih, Rita? Malah santai. Arnila mau rebut Alex lho!" Ney duduk dengan cara melipat kakinya ke belakang, dia masih belum melihat dengan jelas Imron.


"Sehari - hari aku kan pakai jins, Ney. Rok juga bukan rok yang sependek kamu pakai. Long dress. Buat apa aku maraj sama 'Alex'nya Arnila? Kamu kan kenal sama dia katanya satu tempat kuliah," kata Rita yang melirik ke arah Imron. Ney langsung diam dan berpikir sebentar.


"Satu tempat kuliah? Jangan - jangan..."


Ney hanya membeku di tempat, tempat bekalnya dia letakkan di lantai berumput. "HAH!? IMRON!? Terus Alex mana?" Tanya Ney.


Mereka semua tertawa keras, Ney melihat ke semua arah menyangka mungkin Alex bersembunyi.


"Nih Alex," Rita memperlihatkan foto yang Alex kirim. Dia berfoto dengan beberapa teman kantornya dan bergaya.


"Jadi ..." kata Ney terpotong.


"Memangnya kita bilang Alex akan datang? Kan itu kamu sendiri yang berpikir seperti itu. Mau dibilang Alex tidak ada, Rita bilang jangan. Kita mau tahu kamu kesini penampilannya seperti apa,"


Ney kesal banget dia sudah susah - susah mandi, dandan ternyata bukan Alex yang ada disini. "Aaah! Jadi buat apa dong aku sampai mandi dan dandan ini? Ternyata Alex tidak ada malah si Imron!" Meski dalam hati, dia sudah lama tidak bertemu Imron. Imron juga tampan sih tidak menyangka kalau dia pacaran dengan Arnila.


"Kok rugi sih? Bagus tuh coba kamu bertemu kita seperti ini, Ney. Hanya polesannya kamu kurangi deh yang agak cerah. Itu terlalu menor," kata Rita menunjukkan bagian mana yang lebih baik dikurangi.


"Segini itu sudah bagus tahu!" Semprot Ney yang tidak mau mendengar saran Rita.


"Orang kasih saran dengar saja kenapa?" Tanya Rita sebal. "Aku tuh kasih tahu begini untuk kebaikan kamu juga. Kamu tidak cocok dengan warna yang terlalu ngejreng! Kalau kamu tidak mau dianggap seperti ***** sih,"

__ADS_1


Ney melotot ke arah Rita dia tidak menyangka dandanannya disebut seperti *****! Seperti karma dia berkata pedas kepada kakaknya tadi, ternyata malah kena balik ke dia.


"Kamu bisa juga berpenampilan seperti ini. Kalau kamu begini nampak seperti perempuan baik - baik, tidak seperti waktu di kampus. Hancur!" Kata Imron yang langsung dibalas pukulan oleh Arnila.


"Aduh, aku jadi tersandung deh dipuji sama kamu. Oh iya apa kabar kamu?" Tanya Ney yang memang tersipu. Arnila sedikit cemburu karena Ney mengatakannya dengan nada genit. Beberapa menit mereka bertiga mengobrol dan Rita mengumpulkan semua perbekalan dan menaruhnya di tengah - tengah.


"Oh iya ini aku juga mau rapihkan," kata Arnila membantu Rita.


"Si Imron diajak juga saja," kata Ney yang langsung disambut tatapan datar Arnila dan Rita. Imron memelas wajahnya tapi yah, pada akhirnya pulang juga karena Arnila dan Rita bersikeras kalau ini acara untuk perempuan saja. Meskipun Ney kecewa tapi dia pun mengiyakan.


"Cieee yang dandan," kata Arnila.


"Cieee yang pakai rok," kata Rita.


"Cieee ternyata Alex tidak ada," kata Ney yang kecewa. Mereka bertiga lalu tertawa meskipun Ney tampak merasa rugi dan kecewa ternyata dia salah mengira kalau Alex ada.


"Kalau Alex ada juga, pasti dia kesini karena mau bertemu Rita bukan kamu. Mau kamu dandannya seperti apa tetap saja wajah Rita yang ada di benaknya," kata Arnila mengingatkan Ney.


"Buat apa juga kamu dandan berlebihan hanya untum bertemu Alex kalau dia ada di sini?" Tanya Rita yang mulai mengeluarkan bekalnya dan Arnila yang membuka piring kertasnya.


"Iya tadinya aku kira memang ada Alex. Rita, kamu kurang tebal lho riasannya," kata Ney yang melihat polesan Rita agak tipis. Ney sebenarnya kagum juga riasannya memang tipis tapi terlihat sangat natural lalu warna blush onnya tepat sesuai warna kulit Rita.


"Alex lebih suka riasan yang natural. Ini juga has saran dia, aku hanya memperlihatkan kosmetik yang aku punya. Bekal punya kamu mana kita satukan saja," kata Rita meminta bekalnya Ney.


Ney lalu mengeluarkan bekalnya tapi agak ragu - ragu lalu Arnila merebut bekalnya Ney. "Tapi ada yang warnanya mungkin gosong,"


"Tidak apa - apa.Kan kamu sudah bekerja keras membuatnya kan," kata Rita melihat isinya. Dan menunya seperti dia kenal tapi tidak banyak bicara.


Ney memperhatikan Rita takutnya dia akan kena omelan tapi ternyata tidak. "Oh, kamu dandan sesuai yang Alex suka? Terpaksa dong,"


"Tidak juga soalnya aku kan memang kalau pakai eyeshadow atau warna apapun itu Alex suka saja. Karena memang aku juga tidak suka warna yang terlalu tebal. Kalau mau yang natural, warnanya yang lembut - lembut Ney. Kalau menor begitu dan warnanya agak tebal ke kamunya jadi seperti perempuan nakal. Diaplikasikan ke wajahnya, kamu coba dulu ke tangan kalau warnanya sudah cocok baru kamu pakai ke wajah. Apa mau aku ajarkan?" Tanya Rita pada Ney.


"Tidak usah nanti aku belajar lagi saja di rumah," jawab Ney sambil merapihkan makanannya.


"Bagus deh kamu juga mulai belajar dandan, Ney. Nanti deh kita makannya tepat di jam 12. Oh iya kamu tidak lupa kan mau ikut memberi sesuatu pada Alex tidak? Punyaku sudah diberikan pada Rita," kata Arnila.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2