
Okey sekarang kita kembali ke tempat dimana Ney berada. Setelah selesai chat dengan Alex yang agak berat permasalahannya, apalagi semua rencana dia terbongkar. Niat membantu tetapi ada tujuan lain, apalagi Alex tidak ingin dia terlalu dekat dengan Rita.
Ney kesal dan marah bukan main rasa-rasanya ingin membakar rumah. Alhasil yang ada dia menggebrak meja riasan di rumahnya sendiri dan melemparkan tas dan buku. Termasuk kado dari Rita yaitu Spring Bed.
Dia menatap kado tersebut, dia ingat bagaimana dirinya tidak mengundang di hari pernikahannya. Bukan lupa tapi memang tidak mau mengundangnya, dari situ pun bisa dilihat kalau dia sama sekali tidak pernah menganggap Rita sebagai temannya.
Dan sekarang kalau benar Alex berjodoh dengan Rita, ada kemungkinan dirinya akan dibalas tidak diundang. Dia memukul kepalanya sendiri, Arnila juga tahu itu dan tidak berkomentar macam-macam.
Dia ingat apa kata Rita yang memang tidak akan mengundangnya mau dia menikah dengan siapapun. Toh yang mengawalinya adalah Ney. Menyesal iya, kesal dengan Rita juga iya.
Sekarang Alex mengatakan seperti itu semakin memuncak lah amarahnya ternyata selama ini Alex berusaha membuka kedok aslinya.
Intinya dimana-mana dia mudah di jebak 🤣🤣. Mudah merundung tapi mudah dipermainkan, dibalas ya. Merasa dia salah menilai Rita yang kalem, pendiam, dan tidak bisa berbuat macam-macam.
Salah taktik, strategi, dan salah lawan. Alex juga menyadari bahwa kebenaran telah lama diperlihatkan tapi sayangnya terlalu buta oleh kebohongan.
"KALIAN BERDUA SIALAN!!" Teriak Ney yang tak lupa melemparkan ponselnya lalu rebahan di kasur.
Dia menangis bombay bukan karena sedih tapi segalanya kini sudah terbongkar. Apalagi kekuatannya tidak mampu menembus pelindung Rita, ada beberapa orang yang memasang pelindung termasuk prajurit setannya dimusnahkan.
Sekarang pada masalahnya sendiri, dia dihadapkan dengan mertuanya alias orang tua suaminya yang ternyata mereka memberitahukan Dins, sudah tiga bulan tidak ada uang darinya.
"Mah, Pah uangnya sudah kalian terima kan?" Tanya Dins yang memeriksa.
"Uang apa?" Tanya Ayahnya.
"Itu uang bulanan yang biasanya," kata Dins berharap karena lupa.
"Nak, sudahlah jangan dipikirkan. Kasih saja semuanya untuk istri kamu, kami baik-baik saja," kata Ayahnya.
"Tidak, Pah. Aku bisa berhasil begini pun kan karena kalian juga. Lalu apa Ney memberikan?" Tanya Dins mulai tegang.
"Sini biar Mama saja. Nak, istri kamu itu sama sekali tidak pernah memberikan kami uang. Sudahlah, tidak usah pasti dia pikir kami seperti pengemis. Dins? Halo?" Tanya Mamanya tapi Di s sudah menutup ponselnya.
Dins tahu lalau istrinya tidak bisa dipercaya, bodohnya dia menganggap Ney sudah berubah bila menikah. Dengan mengebut, dia menuju rumah dan memarkirkan motornya.
Ney yang sedang menyiapkan makan malam, kaget dengan hentakan pintu depan. Lalu dia melihat Dins yang sudah pulang. Dins mengatur nafas untuk tetap tenang dan menanyakannya.
"Lho, sudah pulang? Cepat sekali. Aku sedang menyiapkan makan malam," kata Ney sambil memegang ponsel.
"Lagi-lagi kamu masak sambil pegang ponsel? Mau saya bakar?" Tanya Dins menatapnya kesal.
Buru-buru Ney menyimpan ponselnya.
"Bulan ini kamu sudah kirim uang untuk orang tua aku kan?" Tanya Dins masih berdiri.
Mendengar itu Ney salah tingkah, dia menyimpan semua uang dari suaminya di tempat yang aman. "Sudah kok," katanya tidak memandang suaminya.
Dins kemudian memutarkan rekaman dari orang tuanya. Ney panik, Dins menatapnya dengan tajam. "Kamu janji mau membagikan uang aku ke mereka setengah. MANA!?" Teriak Dins membuat Ney menutup kedua matanya.
"Itu semua hak aku sebagai istri kamu, orang tua kamu itu menentang pernikahan kita. Kenapa kamu selalu membela mereka sih?" Tanya Ney dengan agak ketakutan.
"Aku pikir ya dengan mulai mempercayai uang itu pada kamu, dan menikahi kamu dengan sukarela bisa membuat berubah. Tiga bulan kamu tidak memberikan ibuku uang, aku kecewa BERAT sama kamu! Aku sudah beri nafkah yang cukup untuk kamu dan sisanya adalah ibuku. Aku bela-bela di hadapan mereka soal kamu, mereka akhirnya menerima. Tapi apa? MANA KEBAIKAN KAMU!?" Teriak Dins menunjuk ke dahi Ney.
Ney ingat kata-kata itu pernah diucapkan oleh Rita sekarang dia mengalaminya lagi dari suaminya sendiri. Dia mulai menangis tapi tidak mengeluarkan air mata, sepertinya Dins tahu kalau itu tangisan bohongan.
Dins berlalu menuju kamar mereka dia sudah tahu dimana Ney selalu menyimpan uang bulanan darinya. Ney mengejarnya dia tidak rela kalau uang itu diambil oleh Dins.
"Aku ini ya sudah bekerja keras untuk menguliahkan adik-adik kamu! Tapi balasannya mereka tidak suka aku," kata Ney.
Dins terdiam dan berbalik menatapnya dengan wajah mengeyel. "Aku. AKU YANG MEMBIAYAI ADIK-ADIKKU SEKOLAH DAN KULIAH! BUKAN KAMU! Kamu yang menghabiskan semua uang saku aku setiap bulan, sebelum kita menikah! Kamu lupa? Adikku harus bertahan tanpa uang sepeserpun dariku, karena kamu telah mengambilnya seenak hati. Bodohnya aku terus menomorsatukan kepentingan kamu!" Kata Dins sambil mendorong dahinya Ney.
Ney menangis, dia terus merasa kalau dirinya sudah banyak berkorban. Dins hanya menggelengkan kepalanya menatap Ney. Ada rasa penyesalan menikah dengannya, tapi ada juga rasa kasihan dan iba.
Tetap orang tuanya benar. Tidak mungkin mereka menentang kalau tidak ada sebabnya apalagi adik-adiknya melihat sendiri sebelum mereka menikah, Ney sempat pacaran dengan orang lain. Dins menerima Ney seadanya, dia tidak tahu sebelum berhubungan dengannya, Ney sudah kehilangan hal yang fatal.
Dins kemudian membuka lemari dan membuka semua baju disana, menemukan amplop berukuran sedang yang penuh dengan uang.
Ney yang menangis, kaget uang itu bisa dengan mudah Dins temukan. "JANGAN!" Teriak Ney.
Dins geram sekali, isinya adalah uang yang seharusnya diberikan pada Orang tuanya setiap bulan. Dins menunjukkannya langsung pada Ney.
"Ini... ini adalah uang hasil dari doa orang tuaku! Teganya kamu... Tahu kenapa mereka menentang pernikahan kita? Karena sebelum kita akan menikah seminggu lagi, adik-adikku melihat KAMU jalan dengan lelaki yang berbeda!" Kata Dins.
Ney berhenti menangis. Kaget, panik dan... tidak menduga kalau ternyata adiknya Dins saat itu ada disana. Ney ingat memang dia habis menyatakan cinta pada seseorang karena tidak yakin kalau Dins adalah takdirnya.
Sayangnya hubungan itu ya kandas karena lelaki itu memilih perempuan lain. Ney kecewa lalu berlabuh lagi pada Dins sampai menikah, sebenarnya kebiasaan selingkuh itu masih ada. Apalagi melihat Rita yang berkenalan dengan Alex, anak jenius milyader.
__ADS_1
Tanpa disadari kebiasaannya itu adalah sebagai pelakor, tentu Dins juga mengetahuinya dan menyesali pernikahannya.
Dengan Ney yang jatuh tersungkur lalu menangis, Dins tidak peduli dan dia mengambil semua uang itu lalu bergegas pergi keluar.
"JANGAN! Dins, itu uangku! Uangku. Kamu tidak ada hak untuk memberikannya pada orang tua kamu! DINS, KEMBALIKAN UANGKU!!" Teriak Ney yang berada di luar rumah berusaha mengejar suaminya.
"Aku menyesal tidak mendengarkan apa kata orang tuaku tentang kamu. Seharusnya saat itu aku memilih Aniyah sebagai istri bukan kamu," kata Dins pergi untuk memberikan uang tersebut.
Ney yang mendengarnya menangis kencang di luar rumah sambil terduduk. "Uangku uuu salahku apaaaa? Selama ini aku yang membiayai adik-adik kamu, banting tulang bekerja, dan kamu yang menghabiskan uang hasil kerja keras aku. HUWAAAAAA!!" Kata Ney yang menangis seperti anak kecil.
Untung itu rumah tetangganya berjauhan. Yah, seperti yang diinginkan oleh Ney, sesama tetangga berjarak supaya tidak berisik. Soal Ney memang ada masalah dengan syaraf otaknya, apa yang dilihatnya akan selalu terbalik dengan nyatanya.
Setelah itu Dins sampai di rumah orang tuanya dan mengetuk pintu. Meskipun mereka menolak, akhirnya adiknya lah yang mengambilnya.
"Kamu habis berantem ya?" Tanya Mamanya.
Dins duduk di sofa rumah ibunya dengan kelelahan. "Biasalah," kata Dins lalu memakan kue yang ada disana.
"Uang ini jadi banyak," kata Ayahnya menghitung.
"Wajarlah, tiga bulan ditunggak. Aku kebagian tidak?" Tanya Adiknya.
"Maaf Pah, Mah soal kelakuan Ney. Aku menyesal," kata Dins menundukkan kepalanya.
"Kan? Ade juga sudah bilang dari awal. Itu perempuan tidak benar kok bisa abang selalu bela. Mana sudah bukan perawan juga," kata Adiknya lalu ngacir ke dalam.
"Sudah, mau bagaimana lagi sekarang. Nasi sudah jadi bubur, penyesalan selalu datang terakhir," kata Mamanya membelai lembut Dins.
"Yah, kalau sudah begini sih kamu harus sabar. Itulah kenapa kami sangat menentang bukan karena dia kalangan bawah, tapi anaknya senang berbohong. Kami sebagai orang tua ingin kamu bahagia bukan menderita," ucap Ayahnya.
Dins menangis sedih. Teringat bagaimana kelakuan Ney yang memaksanya untuk memberikan uang agar dirinya bisa beli barang baru. Bagaimana dia harus menahan rasa lapar hanya untuk keegoisan Ney.
Setelah lulus kuliah dia bekerja di 4 tempat sekaligus untuk membiayai adik-adiknya sekolah dan juga kuliah. Sampai-sampai Dins menginap di kampusnya untuk belajar lagi. Banyak sekali laporan dari temannya mengenai Ney, dia bersabar.
Berapa kali pun putus selalu Ney yang meminta balikan. Setelah balikan, Ney juga yang berulah selingkuh lagi, pacaran lain lagi.
"Maaf kalau Dins terlalu buta melihat kenyataan
Dins menikahi dia juga karena terpaksa, Mah. Aku pikir dia memaksa menikah karena memang ingin berubah menjadi istri yang baik," kata Dins masih menundukkan kepalanya.
"Yah, doakan saja ya sekarang semoga kak Ney menjadi istri yang sholehah," kata Dins membelai adik kembarnya itu.
"Sepertinya mustahil deh," kata salah satu adiknya.
Dins tidak berkata apapun, kenyataannya juga terpampang nyata apalagi Dins masih memasang alat pelacak dan isi chat. Dia bertanya siapakah Alex yang ternyata itu teman laki-lakinya Rita.
Kembali ke perumahan kompleks dimana Ney masih terisak menangis. Net bangkit dan masuk ke dalam rumah. Tidak ada gunanya menangisi uangnya yang kini lenyap diberikan kepada orang tua Dins.
Ney kemudian berpikir keras mencari seseorang yang bisa membelanya dia teringat pada Rita. Tapi begitu banyak masalah dengannya dan teringat apa kata Alex. Ney tidak percaya apa kata Alex toh, Rita agama nya bagus dan juga "Teman Terdekat"nya jadi pasti akan berpendapat sama.
"Rita kan belum menikah sudah pasti tidak akan tahu. Dia pasti akan membela aku," gumam Ney lalu wajahnya kembali cerah. Beranggapan Rita pasti akan memberikan banyak ketenangan.
Ney memang aneh dia melupakan semua masalah utamanya dengan Rita, selalu beranggapan Rita akan sangat mudah memaafkannya. Tapi tentu saja tidak semudah itu bagi Rita untuk menerima kehadirannya lagi.
"Rita. Halo halo?! Aku mau nanya nih kita kesampingkan dulu ya masalah kita yang lalu kan sudah lama juga. Masa kamu masih ingat terus? Kekanak-kanakan sekali," ketik Ney yang tidak tahu kondisinya.
Lalu Ney menunggu sambil membereskan segalanya. Namun saat itu Rita sibuk mengobrol dengan Alex dengan menghilangkan notif dari berbagai chat.
Sekembalinya, dilihatnya tanda centang masih abu-abu itu tandanya Rita tidak membacanya. Ney cemberut.
"Rita! Aku kan bicaranya baik-baik," kata Ney dalam grup WA.
"Baik itu tidak seperti itu caranya. Kamu malah membuat dia semakin kesal. Hapus!" Balas Arnila di grup.
Akhirnya Ney menghapus untungnya Rita masih belum membacanya. "Rita, aku mau nanya nih. Kamu kan banyak pengetahuan, aku lagi ada masalah," ketik Ney.
"Sepertinya dia lagi sibuk sama Alex deh," kata Arnila menebak.
"Hih, bagaimana sih? Kan aku lagi ada masalah bukannya dia sendiri yang tidak cocok jadi teman ya. Aku ada masalah dibiarkan," kata Ney.
"Kalau sudah tahu kenapa masih tanya? Memangnya kamu mau tanya apa sih?" Tanya Arnila penasaran.
"Bukan urusan kamu, Nil. Kamu tidak tahu apa-apa," kata Ney.
"Ya sudah. Tunggu saja sampai Rita sadar, aku rasa dia mematikan notif WA," kata Arnila lalu melanjutkan kegiatannya lagi.
Ney yang membacanya agak ragu akhirnya dia menelepon Rita tapi entah kenapa ditolak dari Rita nya. Tahu apa yang Arnila tebak benar, Ney kemudian tidak mau tahu lagi.
__ADS_1
"Eh sebentar ya aku ke grup WA. Awas ya kalau kamu masih hack," kata Rita mengancam.
"😞😞😞 Aku kan ingin tahu kalian bicara apa," kata Alex membalas. Ketahuan juga.
"Mending kalau tahu kamu tidak ribut sendiri. Sudahlah, aku juga kan tidak hack akun kamu. Mau kamu bicara sama siapapun, aku tidak masalah," kata Rita.
"Baiklah, aku akan balas semua chat dari puan. Banyak lho ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤," kata Alex sengaja membuat Rita cemburu atau marah.
"Oh, oke. Pergi dulu ya," kata Rita santuy.
"😞😞😞," balas Alex. Dia mau membuat Rita cemburu pun ternyata tidak digubris. Nyatanya memang banyak sekali wanita yang chat dengannya. Kebanyakan berkenalan ada juga yang mengajaknya kencan.
Tapi Alex tidak membalas sapaan atau ajakan mereka. Dia fokus hanya pada Rita yang membuatnya nyaman dan tertawa bebas.
Memang sih obrolan Rita dengan kedua orang itu membuat Alex penasaran tapi dia tidak mau lagi. Dia akan mempercayai Rita sepenuhnya. Dan lagi, sudah memberi peringatan pada Ney semoga Ney mengerti maksudnya.
"Huaaa apaan lagi sih Ney? Mau nanya apaan lagi dia. Huh!" Gumam Rita kesal.
Rumahnya sudah sepi pasti sedang bersiap untuk tidur. Rencananya besok dia akan datang ke rumah Ratih lagi untuk ruqyah.
"Mau nanya apa?" Tanya Rita di dalam WA.nya.
Arnila pas sekali sudah menyelesaikan tugasnya dan menyimak. Ney mau apa lagi coba? Ney juga pas banget sedang memegang ponsel.
"Aku kan sudah menikah nih terus suamiku setiap bulan memberikan gajinya yang 5 juta ke aku. Tapi dia bilang sebagian untuk Mamanya. Itu kan sudah jadi hak aku sepenuhnya kan," ketik Ney supaya Rita mengerti.
"Aku belum menikah. Kenapa tanyanya tidak ke Arnila saja atau teman kamu yang sama-sama sudah menikah?" Tanya Rita.
Arnila tentu saja tertawa membacanya.
"Ya kamu kan lebih tahu agama," jawab Ney.
"Terus? Ya tetap saja yang prakteknya kan sudah ada. Daripada aku yang sok tahu lebih baik ke orang yang sudah menikah. Ilmu itu bisa didapat dimana saja, kalau aku yang jawab nanti jadi sok tahu," jelas Rita. Ya mana tahu juga soal itu.
"Sudah deg, aku kan tanyanya ke kamu bukan dia. Cepatan deh jawabannya apaan. Sudah jelas aku doongs," kata Ney bete.
"Ya harusnya ke istri. Hak istri," jawab Rita sambil berpikir kalau dirinya di posisi Ney.
Ney menjentikkan jarinya sudah menduga kalau memang benar Rita akan membelanya. "Nah benar kan? Jadi aku tidak salah kan kalau semua gaji dia, aku yang memiliki," kata Ney gembira.
"Ya salah," jawab Rita yang sudah mencari artikel soal masalah Ney.
Ney yang tadinya semangat membara kini harus turun. "Lho kok? Kata kamu hak istri, bagaimana sih?" Tanya Ney.
"Kamu menikah kejar apa sih? Masa sampai ilmu pernikahan tidak tahu? Itu ada lho ilmunya terus harus seperti apa bukan asal menikah," kata Rita yang sebenarnya tidak ada gunanya juga sih.
Ney hanya diam. Yang penting baginya adalah bisa keluar dari rumah mengerikan itu, dan memiliki kehidupan yang bahagia. Ternyata tidak begitu justru menikah itu semakin rumit apalagi kalau dari diri sendiri hanya bertujuan untuk menerima uang banyak.
"Hahayyy ketahuan tuh niatnya bukan tujuan yang seharusnya, Rita," kata Arnila ikut masuk.
"Nih ya aku baru cari artikel soal masalah kamu. Kita buat contoh sederhana. Kamu masih punya orang tua kan?" Tanya Rita pada Ney.
"Ya punya lah," jawab Ney cepat. Ya dia akan senang sekali kalau ada yang mengalihkan topik obrolan.
"Yang merawat kamu Ibu atau orang lain?" Tanya Rita.
"Enak gue laaah. Kenapa sih?" Tanya Ney agak bingung kenapa juga contohnya mengambil ibunya?
Arnila sih sudah mengerti sejak awal maksudnya apa.
"Kalau kami kerja, pernah tidak memberi Ibu kamu uang atau sekedar membelikan sesuatu?" Tanya Rita.
Ney tidak menjawab. Dia sama sekali tidak pernah membelikan apapun untuk Ibunya.
"Bahahaha mana ada si Ney membelikan sesuatu untuk keluarganya? Dia mah asyiknya beli barang buat diri sendiri," balas Arnila yang menahan tawa.
"Payah! Orang tua belum pernah dibelikan pantas saja kamu sama orang lain juga seenaknya. Aku sudah baca-baca nih ya ternyata suami itu memiliki hak memberikan gajinya pada Ibunya. Karena Ibunya yang melahirkan, merawat, memberikan pendidikan sampai dia sukses. Nah kalau istri? Coba lihat dulu itikadnya sebelum menikah, baik dengan orang tuanya atau kebalikan," jelas Rita.
"Ah ya kalau istrinya santun dan sopan, sayang keluarga si suami ya wajar, Lagipula mertua juga akan lebih memihak ke istrinya kan. Tapi kalau kebalikan, apalagi suka bohong menipu pasangan ya wajar kalau suami lebih menomorsatukan keluarganya. Betul tidak sih?" Tanya Arnila.
"Ita seperti itulah. Kan aku mah belum menikah, kamu sudah ya ilmu kamu lebih tinggi dari aku yang masih single. Itu Arnila tahu betul," kata Rita.
Ney kesal menurutnya tetap dia yang benar. "Kok aku merasa seperti disindir ya?" Tanya Ney.
"Ya bagus kalau kamu merasa, normalnya sih harusnya bisa berubah tapi kalau semakin parah. Tandanya memang kamu istri yang tidak tahu diri," kata Rita PUUUAS membalasnya.
Bersambung ...
__ADS_1