
"Memangnya aku harus berkata dalam pikiran aku tentang apa yang sedang aku pikirkan?" Tanya Rita merasa aneh.
"Of course!" Jawab Alex yang langsung tampaknya dia kesal karena tidak bisa membaca apapun dari pikirannya Rita. APAPUN!
"For?" Tanya Rita yang masih merasa aneh dan merasa tingkah Alex lucu.
"Well, so I know what you're thinking laaa," jawab Alex, dia juga merasa Rita sangat aneh. Memangnya berpikir itu aneh?
"Aneh," kata Rita. Rita memang tidak terlalu sering berpikir hahahaha karena apa yang mau dia lakukan biasanya ya lakukan saja. Rita hanya berpikir kalau dia memiliki sesuatu dan bingung harus diapakan. Seperti gajinya, pasti berpikir buat apa buat apa. Kalau sampai sudah jadi kebiasaannya ya Rita akan lakukan.
Alex merasa lebih aneh lagi karena dia tidak mengerti bukan karena Jin Jun yang menempel, tapi memang tidak ada suara dalam pikirannya Rita atau hatinya. Dia bete banget! πππ "Why? Itu kan kebiasaan yang dilakukan orang normal, aku juga tapi kamu tidak bisa membaca pikiran aku kan,"
"Kalau aku mau, aku bisa baca hehehehe tapi tidak mau ah buat apa? Aku tidak mau menjadi orang yang tidak tahu tata krama. Lagipula itu tidak penting," kata Rita menyindir dirinya.
"πππThat's important to me! ( Itu penting untukku! )" Kata Alex yang menahan emosi. Seperti anak kecil kalau keinginannya tidak terpenuhi mudah marah. Dan bukan salah Rita juga kalau dia ternyata tidak bisa membaca isi pikirannya.
"Because you don't know the word "Privacy" that's maybe Allah SWT made me the ability that can put my mind if it's not the unlucky effect of Jin ( Karena kamu orangnya tidak kenal kata "Privasi" itulah mungkin Allah SWT membuatkan aku kemampuan yang bisa menempatkan pikiran aku kalau memang bukan efek sial dari Jin )," kata Rita yang juga tidak mengerti soal hal tersebut.
"Jadi kamu lakukan itu ke semua orang yang dekat kamu ya," pantas dia merasa kalau media sosialnya menjadi aneh, kadang ada temannya yang sudah dia add tiba - tiba keluar. Sewaktu ditanyakan, dia sama sekali tidak pernah mengeluarkan akun Rita dari daftarnya.
"Yes," kata Alex sambil merasa ketakutan. Rita kalau marah tidak memandang waktu apalagi bagi Alex itu adalah Jump Scare.
"Alhamdulillah, kalau aku benar - benar bisa membentengi pikiranku jadi itu menjadi satu - satunya daerah pribadi aku," kata Rita dengan hati yang senang.
"But I DON'T LIKE IT!" Teriak Alex.
"JANGAN MARAH DONG ITU KAN BUKAN KEMAUAN AKU!" Balas Rita dengan marah juga.
".......... πππ maksudku makanya aku berbuat begitu supaya kamu tahu rasanya kalau area kamu diganggu. Begitu," balas Alex yang sedikit pundungan.
"Ya jangan marah - marah dong. Mana aku tahu penyebab kanu tidak bisa membaca pikiranku! Apa aku pernah melanggar privasi kamu?" Tanya Rita karena seingatnya dia sama sekali lurus meskipun tahu alamat emailnya yang paling banter dia lakukan adalah membannednya karena sudah mengganggu zonanya.
"Kamu tahu masa lalu aku kan karena kamu pasti mencari sumber ke Gugel," kata Alex.
Rita menyipitkan kedua matanya, nih anak usia muda tapi otaknya tua! "Itu kamu sendiri yang cerita, bodoh! Kamu lupa? Masih muda masa sudah seperti kakek - kakek sih?" Kata Rita sambil tertawa.
"Ah! Tadi aku bisa baca isi pikiran kamu! Yaaay!!" Kata Alex yang bahagia sekali nampaknya.
"Sengaja biar kamu bisa baca," kata Rita menahan tawa. Entah kenapa dia juga bisa mengeluarkan pikirannya agar terbaca tapi bisa juga tidak. Rita juga tidak mengerti soal itu.
"Serius!? Jadi selama ini kamu berpikir tidak mau aku atau Ney tahu? How?" Tanya Alex karena tidak mudah melakukan hal itu.
"I don't know. Aku hanya merasa kasihan sama kamu yang emosi hanya karena tidak bisa membaca pikiranku. Hmmm... coba sekali lagi kami bisa baca tidak? Dengan niat tak bisa kamu baca. Bagaimana?" Tanya Rita yang agak heran. Ini kejadiannya sama dengan sewaktu dia piknik bersama Ney dan Arnila. Hanya Arnila yang bisa menembusnya.
"Baik, aku coba. Say it," kata Alex semangat.
"Oke," 'Kakek - kakek - kakek - kakek.' "Apa yang aku pikirkan?" Tanya Rita.
__ADS_1
".................." jawab Alex. Dia bengong sendirian di depan MacBooknya.
"Masih terbaca ya?" Tanya Rita penasaran.
"I can't read it. AAAAAGHHH!!!" Teriaknya.
Rita lalu termenung, kok bisa ya? "Aku pikir aku memerlukan bantuan seseorang untuk hal ini. Aku sendiri tidak tahu padahal niatnya hanya bicara sesaat saja tapi benar terjadi. Aneh ya," kata Rita dia termenung juga di pinggir kasurnya dan memeriksa kepalanya takut ada yang salah.
"Ya aku setuju. Aku juga ingin tahu lalu sudah bertemu yang bisa membantumu?" Tanya Alex, mau seperti apapun juga dia tidak menemukan apapun. Apa yang sebenarnya ada di balik diri Rita? Memang Alex pun merasa ada kekuatan energi yang besar tapi terhalang.
"Belum, kemarin di ruqyah gagal. Aku sudah cerita kan?" Tanya Rita.
"Iya sudah. Kalau kamu bertemu orangnya, jangan lupa beritahu aku juga. Aku tidak tahu juga apa kamu akan bertemu dengan yang bisa menolongmu atau tidak. Tapi apa kamu bisa tetap membuka pikiranmu? Jadi aku bisa membacanya kalau kamu sibuk nanti," pinta Alex yang kesannya memaksa.
"Aku tidak tahu mau aku berniat atau tidak, itu mengalir begitu saja dan aku tidak peduli. Berhentilah memaksaku," kata Rita yang sudah lelah menghadapi Alex.
"But how come? Do you really have the ability to fortify the mind? ( Tapi bagaimana bisa? Apa kamu benar - benar memiliki kemampuan untuk membentengi pikiran? )" Tanya Alex yang masih terus penasaran.
"Memangnya ada? Masuk ke kemampuan Sixth Sense?" Tanya Rita.
"Entahlah. Sixth Sense still a mystery, branching also ( Indera ketujuh masih menjadi misteri, bercabang juga ). Tapi kalau kamu bisa melakukannya, bagaimana caranya?" Alex sangat penasaran bagaimana bisa Rita melakukannya begitu mudah dan dia sama sekali hanya berucap saja.
Rita lalu mencoba menutup matanya, mencoba fokus pada 'Kemampuan'nya yang aneh itu dan merasakan sesuatu tapi dia tidak tahu juga apa itu. "Aku merasakan ada yang aneh tapi aku tidak tahu itu apa seakan - akan ada yang menyambutku tapi hilang lagi. Apa ya itu? Kamu bisa lihat kan?"
"Hah!? Kamu bisa lihat? Ada penampakannya?" Tanya Alex yang langsung kaget dan beranjak dari tempatnya. Rita bisa lihat?
"SERIUS!?" Alex tidak percaya dan masih terpaku di tempat dia berdiri.
"Mengambang," kata Rita kemudian. Dia juga kebingungan dengan katanya.
"Eh? Apanya?" Tanya Alex sepertinya kalau dipancing bisa keluar tapi... kondisi Rita akan berbeda nantinya. Jadi Alex tidak memaksakan lagi.
"Tidak tahu tapi ada kalimat yang melintas di dahiku hahaha katanya mengambang. Tapi baca kata itu jadi menampakkan sesuatu deh," kata Rita cekikikan tengah malam.
"π±π±π±you can see that!? Penampakkan apa?" Tanya Alex penasaran.
"Masa kamu tidak tahu? Sehari - hari pasti kamu selalu lihat di kamar sendiri," kata Rita membuat teka teki silang.
"Hah? Di kamar? Ruang tidur?" Tanya Alex malam hari begini malah diajak teka teki memang tidak ada di dunia perempuan seperti ini. Kali ini apalagi tebakannya, Alex jadi bingung.
"Setelahnya. Ada ruang tidur, ada dapur, ada ruang keluarga, tapi ada ruangan yang sangat utama di setiap rumah harus selalu ada. Aku yakin di dalam kamar kamu juga ada," kata Rita sengaja membuat Alex kebingungan.
"Apa laaa ini tengah malam kamu benar - benar tidak memandang waktu untuk teka teki ya," kata Alex yang menggaruk - garuk kepalanya kebingungan sambil menunjuk ruangan yang ada.
"Aku kasih petunjuk deh. Kamu makan malam kan?" Tanya Rita yang akhirnya memberi petunjuk.
"Iya dong. Terus?" Tanya Alex masih penasaran. Dia masih berdiriπππ.
__ADS_1
"Sudah makan malam biasanya kamu sedang apa?" Tanya Rita.
"Ini langsung chat. Panjang banget petunjuknya," kata Alex sebal.
"Kamu pintar tapi bloon. Anak bilion tapi bodoh. Kamu pasti porsi makannya banyak kan setelah itu kamu mungkin chat sambil rebahan. Tidak mungkin semalaman perut kamu baik - baik saja," kata Rita.
"Kamu dukun ya.. baru tadi aku sakit perut makan kebanyakan," kata Alex keheranan yakin si Rita tidak bisa melihat dia? Jangan - jangan Rita fokus lihat dia lagi jongkok di tempat kotor. Alex menepuk dahinya lalu menyisir rambutnya kebelakang dengan tangannya yang berotot keren. Jangan ngiler ya Pembacaππππ.
"Dukun Sarap. Nah ituuu... coba pikir lagi deh maksudku," kata Rita yang akhirnya ketemu jawabannya sambil ngakak guling - guling.
"............. TUNGGU! Maksud kamu yang mengambang itu..... PUP!?" Alex bengong setelah menyadari maksud Rita.
"BAHAHAHAHAHAHA!!!" Seru Rita yang akhirnya tertawa sambil membenamkan kepalanya ke bantal.
"RITAAAAAAAAA GILA YA KAMU!!!" Teriak Alex sambil membanting bantal ke lantai tapi sesudahnya dia memeriksa diluar kamar, dia lupa kalau ibunya berada di lantai bawah. Dia menunggu 5 menit tapi ibunya tidak keluar kamar.
Kemudian Rita terlihat asyik tertawa sampai menangis sedangkan Alex kesal tapi tertawa juga. Dia benar - benar salut pada Rita membuatnya tertawa bebas karena pekerjaannya telah menguras emosi dan energinya. Dia menggelengkan kepala lalu dengan kedua tangannya dia menyisir rambutnya ke belakang dan mengacaknya. Tampaklah bentuk badannya yang atletis dengan roti sobeknya yang ranum π€€π€€π€€. Tidak perlu diperlihatkan lah contohnya bisa merusak alur novel hahaha!
"Maaf hanya ingin membuat kamu rileks saja pasti kerjaan kamu menguras emosi kan. Masih suka marah - marah kalau bekerja?" Tanya Rita yang kembali normal.
"Yah, begitu deh. Lumayan buat boosting semangat. Aku pikir kamu mau mulai memancing aku lagi nyatanya ..." kata Alex yang masih tertawa.
"Sori ya. Tidak akan sering aku cepat bosan sih. Memang mengambang kan?" Tanya Rita lagi.
"Shut up! Sebel!" Kata Alex yang tertawa lalu memegang perutnya yang kesakitan. "Jadi... boleh kan? Kita kembali ke obrolan semula. Aku benar - benar ingin kissing kamu kalau bertemu. Aku tidak akan meminta lebih hanya ingin itu saja. Ya ya ya?"
Merasa Rita sudah keterlaluan tengah malam begini buat kegaduhan, ya sudahlah sebagai bayaran! "Hmmmm. Iya iya Oke!"
"Boleh?!" Tanya Alex lagi tapi dia senang Rita mengijinkannya. Nanya mulu padahal sudah dijawab boleh.
"Tapi hanya kissing di bibir ya lebih dari itu persiapkan diri saja aku langsung pukul 'adik' kamu yang tersayang itu," ancam Rita sambil tersenyum.
"Sampai leher ya sedikiiit saja. Di bawah dagu kamu," kata Alex menggoda dan memancing Rita. Dia penasaran ingin tahu bagaimana reaksinya. Karena yah, perempuan yang dia mintai begitu akan langsung memberikannya. Tapi bagaimana dengan Rita?
"Tidak mau! Bibir saja, Titik! Mau atau tidak usah?" Tanya Rita membuat Alex mulai menyesalinya.
"Aku tidak akan macam - macam kok tapi sampai leher," kata Alex yang tersenyum jahil.
"Lah ini apa? Belum bertemu tapi sudah minta kissing. Itu apa namanya kalau sudah macam - macam? Kalau niat kamu jelek sampai abad menjadi batu lagi, kita tidak akan pernah bisa ketemu lho," kata Rita kesal.
"Oke oke.. aku niatnya memang ingin bertemu kamu dan yah kalau bisa ada hadiahnya begitu hehehe," kata Alex malu - malu. Bekas playboy tapi bisa malu - malu makhluk apa dia ya?
"Tampol sajalah sekalian mengurangi daftar hukuman kamu dari aku," kata Rita memberi saran.
"Plislaa... kiss and deal! Jangan menolak kalau nanti aku minta," kata Alex memberikan pernyataan yang tak bisa terbantahkan lagi.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1