ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(267)


__ADS_3

Beberapa menit kemudian tersedia lah semua pesanan di atas meja sambil menyantap pesanan mereka masing - masing, mereka juga saling mengobrol. Komariah memperhatikan seperti apa Ney makan dengan mulut yang nyap nyap membuatnya keheranan. Tentu saja suaranya itu mengganggu sekitarnya yang makan, ya bagaimana lagi karena semuanya makan dengan mulut yang tertutup. Kemudian Annisa mengetik ke dalam WA di grup mereka.


"Dia kalau makan seperti itu?" Tanya Annisa pada Rita sambil bengong.


"Iya. Maklumi saja ya sepertinya kurang diajarkan baik bagaimana makan yang benar kalau di hadapan publik. Padahal ibunya berkali - kali sudah memberitahu makan yang sopan," balas Rita dalam WAnya.


Semuanya membaca pesan di WA dan saling mengkode dengan kedua mata mereka. Hanya Siti yang tidak bergeming karena memang lapar begitu juga Rita yah apalagi dia lah yang sudah berpuluh tahun bersama Ney.


"Gila berisik banget! Makannya juga bikin aku tidak kenyang. Jadi seperti itu ya dulu waktu aku makannya nyap nyap seperti itu?" Tanya Annisa yang sekarang dirasakan olehnya bagaimana saat itu.


Mereka semua menahan tawa membaca balasan dari Annisa. Untungnya sekarang sudah diperbaiki, lama sih. Dulu juga seperti Ney seenak jidatnya makan dengan berbunyi lalu duduk juga seperti di warung pinggiran sampai akhirnya dimarahi oleh teman segengnya. πŸ˜‚πŸ˜‚


"Sabar buuu. Setelah ini aku mau bicara tegas sama dia sepertinya dia perlu digalakkan bukan diberi hati," kata Diana. Dia lalu memakan Ramen nya dengan lahap.


Ney kemudian melihat pesanan ramen punya Rita yang dimana Katsunya sangat besar hampir menutupi mienya, semua orang pun terpana melihatnya karena baru Rita yang memesan Ramen Katsu itu.


"WOW! Habis tidak tuh?" Tanya Tamada dengan heboh ke Rita. Ney yang melihatnya pun sempat mengiler hanya saja dia sangat jauh dari Rita.


"Hahaha kurang tahu nih, dicoba saja dulu. Ada yang mau?" Tanya Rita berbasa basi.


"Tidak ah, kamu saja dulu yang makan nanti kalau kamu tidak sanggup baru deh kita bantuin," kata Linda yang juga semangat melihatnya.


"Iya, Rita tenang saja aku juga mau kalau kamu tidak habis," kata Diana dan Komariah sambil tertawa.


"Aku mau dong!" Seru Ney yang langsung berdiri.


Ya pastilah Rita juga sudah bisa menduga Ney pasti paling mau untungnya jauh tempat duduknya dengan Rita kalau dekat, dia akan mengambil dengan seenaknya. Bagus juga nih pembagian tempat duduk oleh Linda dan Tamada.


"Nih." Kata Rita sambil mengulurkan satu yang lumayan besar dari tengah menuju mangkok Ney.


Saat diterima, Ney melihat dengan kecewa. "Kok hanya satu sih? Mana kecil! Aku tidak mungkin bisa kenyang!" Katanya sambil memandang Rita dengan memelas.


Menjijikkan bukan? Setelah perbuatannya yang lalu hanya dengan makanan saja dia lalu seperti itu mana ada yang tidak muak.


"Minus kesopanan juga sudah sering seperti itu. Jadi kalian tahu kan kenapa sampai sekarang temannya hanya itu - itu saja?" Tanya Rita dalam grupnya.


"Hati - hati dengan makanan kalian," kata Siti.


"Dia tidak akan berani sama kalian. Dia begitu hanya pada Rita saja. Komariah sama Mbak Diana saja yang sudah lebih dekat tidak pernah kan sampai sebegitu nya?" Tanya Linda memandangi mereka.

__ADS_1


Mereka berdua tiba - tiba mengangguk dan Ney menatap Komariah dengan aneh. Untungnya dia tidak curiga kalau mereka sedang membicarakannya dalam grup WA.


"Kita usir saja yuk. Geus rek paeh urang! ( Sudah mau mati aku )," kata Annisa yang sudah tidak kuat menahan rasa kesalnya membuat semuanya menahan rasa ingin tertawa.


"Aku mah idem." Kata Rita yang lalu sibuk memakan Katsunya. Kesal juga karena katsu pemberiannya malah dirasa kurang memang dasar Ney!


Lalu Ney pun menjapri Rita saat sedang makan. Jadi intinya mereka saling chat dalam WA πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚.


"Rita! Kamu kok kasih katsu ke akunya sedikit sih? Kamu kan tahu kalau aku suka banget sama katsu!" Kata Ney.


"Yeeee! Kamu memang tidak tahu terima kasih ya sudah dikasih itu malah bilang kurang. Perasaan kamu suka apa saja deh, kalau kamu mau beli saja sendiri. Buat apa minta - minta sama gue? Kalau tidak suka, BALIKKIN sini Katsunya!" Balas Rita yang nyengir. Diana di sebelah pastilah dia membacanya dan melirik Ney dengan kesal banget.


Linda dan Tamada saling berpandangan karena wajah Diana mulai seperti marah lagi. "Kenapa?" Tanya mereka. Tapi Diana tidak menjawabnya.


Karena penasaran, Rita lalu memberikan ponselnya kepada Linda dan mereka baca, kedua mata mereka berdua seperti akan keluar. Lalu melirik ke arah Ney dan menggelengkan kepalanya.


"Tuh orang asli aneh banget! Berbahaya kalau kamu masih dekat sama dia, sekarang lebih baik jaga jarak saja," kata Siti ikut chat dalam WA.


Rita kemudian tidak peduli lagi mengenai apa yang Ney chat kepadanya. Ponselnya pun dikembalikan oleh Linda lewat bawah meja lalu Rita masukkan ke dalam tas. Ney memeriksa ponselnya dan membacanya, lalu kesal dan membalas lagi tapi melihat Rita sedang lahap memakan ramennya, dia pun manyun. Memang Katsu itu bukan kesukaan Ney, dia hanya mengada - ada saja bilang begitu entah apa maksudnya.


Apapun yang sudah dikatakan oleh teman - temannya Rita pada Ney, menyinggung soal kelakuannya ya yang menyebalkan baru kenal sudah sibuk koar - koar, sama sekali tidak didengarkan. Alhasil mereka pun sudah dalam tahap mengenaskan, apalagi Annisa yang bersiap meledak dalam antriannya. Orang kalau sekali disindir biasanya langsung mundur lah ini malah terus maju. Maksudnya apa coba? Gemes kan jadinya. Kalau masih ada juga, bisa jadi Annisa usir.


Rita yang sedang istirahat kemudian mengangguk lalu berdiri. Ney melihat kesempatan emas dia pun juga ikut - ikutan berdiri.


"Eh, sama aku saja aku juga mau ke toilet. Yuk!" Ajak Ney dengan nada lembut pada Diana.


Diana lalu menarik tangan Rita dan melewati Ney. Mereka saling berpelukan tangan meninggalkan Ney yang bengong.


"Kasihan deh ditinggalin. Sama teman yang katanya sudah lama akrab eh malah dihina maksud hati merebut Diana eh malah ditinggalin. Hahahaha!" Kata Annisa yang lalu dicolek oleh Linda dan Tamada.


"Annisa!" Kata mereka meski memang iya juga.


"Biarin saja! Biar dia sadar kalau kelakuan liciknya itu ada hukumannya. Jadi orang jangan gampang iri hati deh! Kalau aku sih mendingan langsung pulang deh," kata Annisa.


"Iyalah. Aku juga malu banget sudah kena sindiran apalagi sampai dimarahi sama semua orang. Harus bagaimana lagi sih supaya dia bisa pulang saja?" Kata Komariah yang sibuk memotong baso ramennya.


"Harusnya bersyukur ya sampai sekarang yang mau dekat sama dia itu hanya Rita eh malah sama sekali tidak dihargai. Kalau aku sih miris banget! Tusuk teman sendiri dari belakang pasti dulunya sering ditusuk deh makanya jadi bebal," kata Tamada yang sedang minum.


Ney yang mendengarnya langsung pergi dengan langkah biasa lalu menyusul mereka berdua. Dalam hatinya dia sangat menyesal sekali sudah menusuk Rita dengan mengatakan hal jelek pada Diana. Kalau memang dia bisa saja lebih menahan diri menerima Rita pasti mudah baginya merebut Diana. Masalahnya adalah apakah Diana masih mau memberi kesempatan untuknya? Karena akhirnya dia menemukan teman yang setara dengannyaπŸ™„πŸ™„πŸ™„.

__ADS_1


"Kok ada ya orang yang tidak mau sama dia tapi memaksa harus?" Tanya Rita pada Diana, dia melirik ke belakang Ney berjalan sendirian memandang Rita dengan wajah yang menyengat. Rita lalu menjulurkan lidah padanya dan berbalik pada Diana.


"Tahu tuh percaya diri banget dikiranya kenal sama aku sekali sudah bisa langsung jadi teman dekat hahaha! Aku mana suka sama dia," kata Diana lalu mereka bersama masuk ke dalam toilet.


Mendengar itu dengan jelas membuat Ney melangkah dengan lemas. Tahu kalau Diana tidak suka padanya tetapi dia memaksa Diana harus bisa dia rebut. Tapi itu yang membuatnya jadi tantangan sendiri, membuatnya melakukan dengan cara apapun agar berhasil. Yang dia inginkan harus bisa dia dapatkan meskipun harus mengorbankan harga dirinya. Well harga dirinya tentu saja sudah tidak ada harganya. Demi sebuah status agar dipandang lebih WAH dari orang sekitar sampai lupa pada rasa malu yang setiap orang punya.


Di dalam toilet ternyata tersisa 2 kamar, jadi Ney mau tidak mau harus pindah ke sebelah, memutuskan untuk ikut menunggu juga tidak mungkin karen Rita dan Diana sudah masuk. Apalagi di belakang mereka juga sudah mulai panjang, dengan terpaksa Ney berjalan ke sebelah toilet yang lumayan sudah agak sepi.


5 menit Rita dan Diana sudah selesai lalu bersama - sama lagi keluar sampai ke kedai ramen. Mereka kira Ney sudah keluar ternyata belum.


"Rita, itu parah banget sampai segitunya ke kamu. Serius dia memang begitu?" Tanya Siti yang penasaran mumpung orangnya masih belum datang.


"Sama kalian ya baru sehari berkenalan tapi pikasebeleun ya sudah seperti 10 tahun kenal dia kan? Bayangkan dong aku yang dari SMP sama dia sampai saat ini, ya begitulah dia. Orangnya agak muka badak! Dulu dia tidak seperti sekarang entah karena dulu juga aku belum masuk mencari teman dekat atau sahabat. Memang sudah begitu tapi menjadi lebih parah semenjak aku kenal lelaki ini," kata Rita yang kembali masuk ke tempat duduknya semula.


"Soal dia yang suka ambil makanan kamu juga?" Tanya Linda.


"Iya memang begitu, kesal? Banget! Dan dia seperti tidak peduli gitu, Linda. Berapa kali aku bilang itu tidak sopan, dia bodoh amat. Makanya aku juga jadi bodoh amat. Aku jarang cerita soal dia karena lebih banyak super bete nya daripada menyenangkannya," kata Rita yang mulai memakan lagi ramennya. Katsu pun dia bagikan begitu saja kepada semuanya yang menolak hanya Annisa karena dia mau beli sendiri saja takutnya Rita kurang kenyang.


"Aih! Parah banget dong itu mah. Kamu sudah tahu dia seperti itu, kok masih mau?" Tanya Komariah penasaran.


"Mana ada yang mau. Dianya saja sampai sekarang yang mengekor aku terus. Aku sudah setahun pernah off sama dia, yang duluan datang lagi ya dia bukan aku! Setahun itu kan aku punya teman yang lain jadi memang buat apa pikirin dia," kata Rita.


"Jadi begini ya, sebenarnya yang bermasalah itu memang si Ney bukan Rita. Kalau Rita memang benar kesepian, dia pasti mendatangi Ney lagi tapi ini malah siapa? Dari cerita Rita, memang dia inginnya ya menjauh. Sekarang saja lihat, dia sebenarnya tahu kamu berbasa basi, Ri soal ajakan tapi dia memaksa ingin tahu teman - teman kamu itu seperti apa sih? Sepertinya mungkin kamu banyak cerita soal kita? Kalaupun tidak, pasti buat dia penasaran sih," kata Tamada dengan kesimpulan yang dia lihat.


"Kok bisa? Buat apa memaksa jadinya malah buat dia malu sendiri kan," kata Rita.


"Ya makanya memang aneh itu orang, Ri. Dia suka banget buat masalah sama orang yang dekat atau yang ada sekitar dia. Sengaja atau tidak, itulah kesukaannya apalagi dia sepertinya tidak percaya kalau kamu lebih punya banyak teman daripada dia. Dalam pikirannya kamu sama dengan dia," kata Linda juga yang akhirnya memakan katsu dari Rita.


"Hih? Amit - amit! Aku mah masih waras!" Kata Rita yang tidak senang disamakan dengannya. Mereka semua tertawa mendengarnya.


"Nah pas tahu ternyata kamu banyak teman dekatnya, grogilah dia makanya dia sasaran ke Mbak Diana itu untuk merontokkan kita satu per satu dari sekitar kamu. Karena dia iri! Dia kaget pasti kalau kamu memang jujur punya BANYAK teman daripada dia," kata Siti menambahkan.


"Kalau orang normal pastilah aku misalkan selain kamu aku juga punya teman yang lain. Nah kalau di kasus Ney, sepertinya dia memang tidak punya yang lain. Mungkin kasusnya sama seperti kita yang baru kenal, dia sudah nyablak seenaknya. Jadi seperti dalam pikiran orang yang baru kenal dia, 'Ih apaan sih lo?' Gitu," kata Annisa yang akhirnya bisa memberikan pendapat.


"Oh, jadi memang dia pure tidak punya teman yang klop?" Tanya Komariah. Mereka mengangguk mengiyakan.


"Kasihan sih, ya tapi kalau dari dianya juga sudah membuat orang ilang perasaan ya sudah buat masuk ke grup siapapun. Nanti dia buat masalah lain lagi sampai semuanya bubar. Dan itulah niat dia ke kamu, Rita. Dia lihat ke aku juga bukan karena orangnya tapi lebih ke barang aku. Kalaupun misalkan nih dia masuk ke grup kita, nah nanti kamu yang akan difitnah sama dia jadinya kamu musuhan sama kita, ya sudah misi dia tercapai. Kamu out, dia bakalan lebih bully kamu dengan hebat lagi," kata Diana dengan nada lembutnya membuat Rita mengerti.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2