ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
Keinginan Dion


__ADS_3

Happy Reading.


Fara sedang menunggu suaminya yang sedang mengurus administrasi, wanita itu duduk di dalam mobil sambil sesekali melihat jam di pergelangan tangannya. Sebenarnya Fara tidak ingin pulang karena ingin berada di dekat ibunya.


Fara sangat mengkhawatirkan kondisi ibunya, apalagi sang ibu punya riwayat sakit asma yang terkadang kalau kambuh bisa berakibat fatal. Tetapi jika ada Fara di sampingnya pasti langsung bisa atasi.


Karena biar bagaimanapun serangan asma yang parah, penderita bisa kehilangan cukup oksigen ke dalam paru-paru dan bahkan dapat berhenti bernapas. Sungguh Fara tidak ingin hal itu sampai terjadi.


Fara merasa tidak baik-baik saja saat harus meninggalkan ibunya sendiri, tapi karena dia juga harus pulang ke rumah setidaknya dia membersihkan diri terlebih dahulu dan mungkin akan shalat Dzuhur di rumah.


"Mas Keill kemana sih?"


Sudah lebih dari tiga puluh menit Fara menunggu Keill, seharusnya kalau hanya mengurusi administrasi sudah selesai sejak tadi, tapi kenapa Keill belum kembali juga.


Tidak mungkin 'kan kalau harus antri, ataukah Keill tidak bisa membayar biaya perawatan ibunya.


"Ah, ini lebih tidak mungkin!" Gumam Fara karena merasa tidak masuk akal kalau sampai Keill tidak bisa membayar biaya perawatan ibunya karena harta suaminya itu sangatlah banyak.


Sedangkan Keill sendiri sejak tadi merasa tidak enak karena bertemu dengan seniornya di kampus saat dia baru saja membayar tagihan.


"Aku sudah bercerai, setahun ini, ya karena merasa kami tidak cocok," ucap seorang wanita dewasa yang sedang membawa infus ditangannya.


Sepertinya senior Keill ini sedang dirawat dan dia mungkin sedang mencari udara segar di luar.


"Oh, aku turut prihatin!" hanya itu tanggapan Keill, memangnya dia harus menanggapi bagaimana? Dan kenapa seniornya itu tiba-tiba menceritakan hal-hal pribadi tentangnya kepada dirinya?


Sebenarnya pria itu ingin berpamitan sejak tadi, tapi wanita itu terus saja mengoceh seakan memang sengaja menahan Keill untuk bersamanya.


"Sintia, maaf menyela, tapi aku harus segera pulang ke rumah, istri ku sedang menunggu di mobil," ucap Keill pada akhirnya


"Istrimu? Kapan kamu menikah? Kenapa tidak ada pesta pernikahan?"


"Setelah ini ku pastikan kamu akan menerima undangan resepsi dari kami, permisi!" dan pria itu langsung berjalan meninggalkan wanita yang bernama Sintia itu.


Keill sedikit berlari ketika di parkiran dan melihat istrinya yang sudah menunggunya di luar mobil sambil bersedekap dada.


"Maaf sayang, tadi ada sedikit masalah, sekarang udah selesai, dan sebaiknya kita segera pulang karena sepertinya mau turun hujan."


Fara masih diam saja menatap suaminya dengan tajam tanpa ingin bergerak sedikitpun.


"Ayo sayang, cepat masuk," Keill menggandeng tangan Fara dan mengajak nya masuk ke dalam mobil.


"Apa masalah yang lebih penting, mas?" Tanya Fara masih menatap Keill dengan amarah yang memuncak.

__ADS_1


"Sayang ... "


"Apakah ngobrol dengan wanita lain itu adalah masalah yang sebenarnya?"


Deg!


'Kenapa Fara bisa tahu?'


"Sayang, maaf tadi aku ketemu dengan senior dan dia menyapaku, tentu saja tidak enak kalau kita tidak menyapa balik," jawab Keill.


Fara tidak mengatakan apapun, wanita itu kemudian langsung masuk ke dalam mobil tanpa menoleh ke arah Devan.


"Sayang, kamu jangan salah paham, ya!" Keill masih berusaha memberikan penjelasan kepada istrinya tapi sepertinya Fara masih tidak ingin berbicara.


Keill lebih memilih mengalah membiarkan sang istri menghilangkan amarahnya dulu baru dia nanti akan berbicara yang sebenarnya.


****


Sedangkan di sisi lain.


Selama bulan madu, Keill menugaskan Dion untuk menggantikan dirinya sementara ini.


Dan sekarang pria itu tengah duduk berdua dengan Joice. Ya, wanita yang saat ini tengah fokus dengan beberapa berkas lamaran pekerjaan.


"Apakah sudah mendapatkan tempat kerja yang bagus?" tanya Dion.


Joice menggeleng pelan, dia masih bingung akan bekerja di mana karena beberapa lowongan pekerjaan yang dia baca di koran atau mencari internet hanya mencari staff rendah.


"Entahlah, aku juga bingung!"


Joice menyandarkan tubuhnya ke sofa, sedangkan Dion masih fokus dengan laptop yang ada di mejanya.


"Apa kamu mau bekerja di perusahaan temanku, tapi mungkin hanya menjadi karyawan biasa, tapi kalau menurutku sih tidak apa-apa karena pekerjaan itu lumayan bagus?"


Dion menolehkan kepala untuk meminta pendapat dari wanita di sampingnya mengenai tawaran yang ia sampaikan. Tetapi mata Dion terhenti saat melihat Joice yang tengah memejamkan mata, tertidur dengan beberapa berkas di pangkuannya.


Joice ingin mencari pekerjaan yang layak, setelah ia berhenti menjadi asisten seorang artis, sebenarnya Dion ingin menawarkan untuk bekerja di Abraham group tapi kondisi perusahaan memang tidak sedang membutuhkan karyawan.


Mungkin ada lowongan untuk menjadi office boy atau office girl dan tidak mungkin 'kan kalau dia memberikan pekerjaan itu kepada Joice.


Dion memandang lekat wajah wanita itu, 'cantik sekali' itu kesan pertama yang dia dapatkan saat melihat wajah Joice yang tengah terlelap seperti ini.


Wanita itu tidak berubah sama sekali, wajah Joice selalu terlihat menenangkan saat sedang tertidur. Dion sangat menyukainya, dari sejak dulu pria itu sangat suka memandangi wajah Joice saat gadis itu sedang tertidur, hal seperti itu seakan bisa langsung menenangkan hatinya.

__ADS_1


Ketenangan yang terpancar dari wajahnya seakan menular pada Dion. Mungkin pria itu tidak tahu bahwa di balik wajah tenang nya itu menyimpan banyak kegelisahan di dalamnya.


Tapi meskipun begitu, Joice tidak pernah secara langsung memberitahukannya kepada orang-orang tentang bagaimana dia berusaha membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adiknya.


Dion selalu ingin menawarkan bantuan terhadap gadis itu, tapi Joice sama sekali tidak mau menerima segala hal macam uang ataupun hadiah dari Dion.


"Kamu tidak pernah berubah, masih keras kepala sejak dulu dan sialnya aku sangat mencintaimu!"


Kenyataan itu tidak terkikis oleh waktu sampai saat ini pun semuanya masih sama, perasaan Dion tidak pernah berubah, hanya keadaan dan status hubungan mereka saja yang berbeda.


Joice menggeliat pelan, spontan membuat Dion memundurkan tubuhnya yang saat ini sudah sangat dekat.


Dion tidak mau kalau Joice tahu dia sedang menatapnya seperti ini, mungkin wanita itu akan sangat marah kepadanya kalau sampai mengetahui hal itu.


Tetapi ternyata Joice tidak terbangun dari tidurnya, wanita itu hanya bergerak pelan untuk memposisikan dirinya agar merasa lebih nyaman karena saat ini Joice sedang tertidur pulas di atas sofa.


"Kenapa sih kamu nggak mau balikan sama aku, padahal aku sangat mencintaimu dan tidak bisa mencari penggantimu sampai saat ini," lirih Dion sambil menggenggam tangan Joice.


Tangan Dion terangkat untuk menyelipkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya , cuaca di Jakarta sedang turun hujan.


Ah, kenapa Dion ingin sekali mengulang malam panas mereka seperti waktu itu.


Bersambung


Hai semuanya, aku punya rekomendasi karya keren dari temen ku Author Zaenab Usman


judul : Pernikahan Salsa



Blurb


Ini adalah kisah dari anak-anak Rian dan Ayla. Bagi yang belum tau kisah mereka, boleh mampir di novel Tidak ada cinta dari suamiku.


Salsabila Erlangga. Gadis cantik berumur delapan belas tahun, yang selalu dijadikan princes oleh keluarga besarnya. Harus menerima pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Kenzo yang sudah berumur dua puluh dua tahun. Mereka berdua menikah karena di jebak oleh seseorang.


Kenzo merupakan musuh kakak kembarnya yang bernama Arsyaka Ardian Erlangga. Lalu bisakah Kenzo dan Arsya berdamai, untuk Salsa?


Siapa yang akan Salsa pilih, kakak tersayang atau suaminya?


Apakah Salsa akan bahagia dengan pernikahannya? Mungkinkah mereka bisa saling mencintai seperti pernikahan Rian dan Ayla.


Yuk simak kisah cinta princes Erlangga.🤗

__ADS_1


__ADS_2