ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(213)


__ADS_3

"Dari layar komputer itu kan pasti beda penampilannya. Putih panjang dari situlah aku bisa memperkirakan dimana dia berdiri. Aku pukul dari atas kepalanya sampai ke bawah," kata Rita sambil memberikan pose bagaimana dia memukulnya.


"PUAHAHAHAHA!!" Tawa Ney akhirnya meledak sambil posisi memukul lantai batu dan juga keluar air mata. Arnila juga kembali tertawa keras sambil memegangi perutnya yang mulai kesakitan.


"Wei, bahaya terlalu berlebihan ketawanya. Lagian mananya sih yang lucu?" Tanya Rita melihat Ney yang berlebihan tertawanya.


"Ya luculah orang tuh ya dimana - mana ketemu setan saja sudah kabur. Lah lu malah dilempar buku, bantal apalagi sampai dipukul. Ya anehlah," kata Ney yang berusaha berbicara.


"Tapi kamu seperti itu berhasil membuat mereka pergi?" Tanya Arnila sambil menahan tawanya.


"Berhasil sesudahnya aku cek lagi dengan melihat ke layar komputer, benar - benar sudah tidak ada. Tapi beberapa jam malah kena balasan sih," kata Rita yang memainkan gantungan tasnya.


"EH!?" Seru mereka berdua. Ya memang setan pun ternyata akan membalas kalau diperlakukan semena. Tapi itu salah mereka suruh siapa menampakkan diri kan.


"Mereka balas bagaimana?" Tanya Ney ingin tahu. Apakah membuat Rita kesakitan atau bagaimana karena dia tahu bagaimana rasanya dibalas oleh setan.


"Waktu itu menghilang, aku kan kembali mengerjakan tugas nah tiba - tiba ketikanku jadi panjang banget padahal aku belum ketik sama sekali. Lalu mouse bergerak menjauh dari jangkauan tangan, terus ada bayangan yang aku lagi menunduk dia seakan bersandar gitu di atas kepala. Kan sebel!" Kata Rita mengingat kejadian itu.


"Hah!? Wah gila, kamu pasti lagi sendirian ya, Ri. Terus?" Tanya Arnila.


"Iya memang sendiri kan kalau ibu biasanya pulang sore, bapak juga sama, adikku sama kakak waktu itu lagi ada kegiatan di sekolah. Jadi memang sendirian itu siang lho ya. Akhirnya karena aku sebal, aku baca Al Qur'an saja Al Baqarah terus surat - surat pendek," kata Rita dengan ceria.


"Oh, kamu tidak merasa sakit badan atau ada tanda bengkak gitu?" Tanya Ney.


"Ada sih di kepala lutut, padahal aku tidak merasa jatuh atau kepleset dimana tapi lebamnya tuh parah banget. Aku bingung kan 'Ini kenapa?'" Kata Rita menceritakan.


"Iya itu kamu diusilin sama mereka, Ri. Sakit pas dipegang?" Tanya Ney lagi yang waspada karena hanya kepala lutut yang lebam.


"Sakit gila, Ney! Aku bingung itu sampai tahu kan kalau jatuh lebamnya seperti apa?" Tanya Rita kepada Ney.


"Hijau kebiruan karena kan ototnya membentur. Terus berdarah?" Tanya Ney lagi dia memicingkan kedua matanya pasti perih sekali yang Rita rasakan.

__ADS_1


"Ya memang hampir berdarah. Aku lagi duduk ya jadi agak diluar nalar banget kalau tiba - tiba kepala lutut ku lebam. Hijau kebiruan terus memerah darahnya itu hampir keluar yah, memang berdarah sih. Disitu aku panik banget karena merasa aneh banget aku pegang terus aku baca doa - doa begitu," kata Rita sambil menunjukkan luka lebam itu dimana. Kaki sebelah kanan, Rita masih ingat jelas betapa paniknya dia saat melihat lebam itu.


"Itu karena kamu kan pernah kena tidur sama jin, Rita. Kok kamu mau sih?" Tanya Ney yang benar - benar nyablak.


"Tapi aku agak ragu deh Ney kalau itu karena Jin soalnya kamu kan kurang makan yang berserat atau bervitamin, Ri. Terus setelah itu bagaimana? Kamu periksa ke dokter?" Tanya Arnila dia tidak yakin kalau itu efek Jin jahat.


"Aku tidak pernah punya niatan tidur sama jin ya. Itu sih memang jinnya kurang ajar! Iya, Nil aku periksakan lah ke dokter saat adikku pulang. Adikku juga kaget melihat lebam itu, nah ternyata tepat yang anda bilang. Aku kekurangan vitamin, jadi memang hubungannya bukan dari Jin atau setan. Arnila hebat langsung bilang tidak yakin kalau itu efek dari Jin," kata Rita.


"Iya dong. Yang berpikir lebam karena tidur sama Jin, itu kolot orangnya. Karena Ua aku juga ada yang mengalami seperti kamu, Ri. Ua aku rajin semua ibadah dijalani, puasa sunnah yang kita tidak kenal ya Ua jalani. Ternyata itu karena dalam tubuh kita itu ada suatu penyakit dan badan kita memberitahukan kalau itu sudah parah. Jadi lu jangan menduga yang tidak - tidak dulu deh, Ney. Lu harus cari tahu dulu itu penyebabnya apa," kata Arnila yang memukul Ney dengan jaketnya.


"Iya nih anak senang banget sih apa - apa dikaitkan sama yang mistis. Kalau pengalaman aku ketemu setan sih memang iya tapi soal lebam ternyata aku memang punya Diabetes. Ya kaget juga sih," kata Rita.


"Kamu dikasih obat kan?" Tanya Arnila. Ney hanya terdiam ternyata dugaannya meleset!


"Dikasih. Terus selama beberapa bulan, aku harus mengurangi makanan bermanis, berminyak, mengurangi garam, permen juga harus dijaga jangan sampai berlebihan dan jangan terlalu sering makan dan minum dalam kemasan," kata Rita menerangkan.


"Diabetes!? Diukur berapa kaya dokter?" Tanya Arnila yang terlihat cemas.


"2 hehehe," jawab Rita.


"Iya yaa sekarang sih saran dokter kalau memang suka yang manis, diupayakan seimbang dengan rasa yang lain. Asam, pahit, pedas dan manis, kalau aku misalkan makan yang pedas 5% berarti rasa yang lain juga harus seimbang. Supaya terbagi - bagi gitu efeknya jadi yang manisa tidak naik sendiri. Aku juga mulai mengurangi makan dsn minum yang dalam kemasan itu," kata Rita menunjukkan dia bekal air minum yang dikemas dalam botol minum.


"Iya itu bagus. Nih pembelajaran buat kamu juga Ney, jangan sering sembarangan semua dimakan apalagi kalau kamu menemukan badan kamu memar, itu tandanya ada yang salah bukan karena Jin. Dan kamu juga kurang zat besi ya makanya sering lebam," Arnila menjelaskan.


"Kamu lebamnya hilang berapa hari? Berminggu - minggu ada?" Tanya Ney yang tidak menggubris pernyataan Arnila. Dia juga malu sih ternyata Rita sering lebam karena kekurangan zat besi dan kurang minum juga. Makanya makan cokelat pun, Rita tidak pernah berlebihan karena dia tahu efeknya terhadap badannya sendiri.


"Kalau lebamnya kecil - kecil, sehari juga sembuh. Tapi kalau kejadian di kepala lutut itu hanya 3 hari sih itu juga dibantu obat dan makanan lain jadinya 3 hari langsung hilang tanpa bekas," kata Rita.


"Kamu proses penyembuhannya cepat ya. Pernah merasa aneh tidak?" Tanya Arnila. Ney memandangi Arnila dengan aneh.


"Hmmm... biasa saja karena aku makannya banyak jadi kan darah banyak mengangkut zat - zat untuk menyembuhkan luka atau benturan," jawab Rita tersenyum.

__ADS_1


"Menurut aku sih bukan itu saja, Rita," Arnila tersenyum sekaligus kagum.


"Maksud kamu apa sih, Nil?" Tanya Ney yang mulai tidak mengerti.


"Aku pernah cerita ke kamu dulu waktu kita masih SMA, pertama kalinya aku dikenalin ke Rita sama kamu, aku langsung bisa menangkap banyak hal. Tapi kamu cuek sih orangnya, mau ada orang yang bilang kamu bisa spirit apapun, ya silakan. Aku juga lihat kamu orangnya sama siapapun bisa langsung nyaman dan berpikir enak banget si Ney bisa dapat teman seperti ini. Orang lain susah banget lho bisa dapatin teman seperti Rita, Ney. Kamu harusnya banyak bersyukur apalagi Rita orangnya cuek banget tapi dia peduli. Terus aku bilang ke Ney, entah ya apa kamu masih ingat atau tidak. 'Ney, Rita sepertinya punya kemampuan penyembuh Jiwa deh,' aku bilang begitu. Masih ingat tidak?" Tanya Arnila ke arah Ney yang terus diam.


"Oh, itu. Tapi kalau memang punya kok aku merasa tidak merasa efeknya ya?" Tanya Ney yang tidak memandang mereka berdua.


"Karena kamu tidak terbuka. Susah kalau kamunya sendiri tidak ada niat untuk sembuh. Tapi serius Rita, kalau kamu sadar dan tahu kemampuan Spirit kamu tuh banyak banget, bahkan lebih banyak dari kita berdua. Kamu pasti senang deh kalau sudah tahu," kata Arnila yang tersenyum lebar.


"Oh..." jawab Rita mendengarkan Arnila. Rita sama sekali tidak perduli sih yang penting jangan membuatnya terganggu saja. Dan yang lebih penting, Rita lebih senang seperti biasa saja.


"Dari omongan kamu juga itu tersalurkan aura penyembuh. Kan aku bilang jiwa ya jadi dari kamu beri saran, kritik ke orang itu sebenarnya aura penyembuhnya itu sudah keluar. Terus sifat kamu juga bukan yang nyablak tapi kamu lebih memikirkan dulu perasaan orang di hadapan kamu. Harusnya kamu jadi lebih baik Ney ada Rita, jiwa kamu yang terluka itu bisa langsung sembuh kalau kamu sekali lagi ya punya niat menyembuhkan. Dan kemampuan kamu itu disebutnya Healer Soul. Ini kemampuannya jarang banget dimiliki orang," jelas Arnila yang kagum sekali.


"Hehehe apa iya? Aku sih merasa biasa saja, Nila. Semua orang juga bisa jadi Healer," kata Rita yang tidak mau terlalu tenggelam dalam pujian.


"Tidak, Rita kemampuan seperti itu murni jarang ada yang punya," kata Arnila dengan nada yang ceria.


Alex juga mendengarkan penjelasan Arnila dan dia bangga dan senang sekali. Alex pun sepemikiran dengannya kalau Rita memang bisa menyembuhkan jiwa orang yang terluka termasuk dirinya. Jiwa Alex dulu sangat terluka sampai dia sendiri menyerah pada hidupnya bahkan hampir bunuh diri hanya untuk mengakhiri penderitaan hidupnya. Lalu dia bertemu dengan Rita dalam Pacebuknya secara tidak sengaja dan tidak terencana. Alex mengingat pertama dia chat dengan Rita, padahal saat itu dalam akun Rita, dia tidak memakai foto asli. Rita memakai foto Anime Sailor Jupiter.


Hal itu membuatnya tertarik pada Rita lalu tiba - tiba ya setahun setengah ini, Alex masih terus komunikasi dengan Rita. Lambat laun jiwanya yang terluka tiba - tiba sembuh secara perlahan. Alex oun tidak menyadarinya tapi semenjak selalu tertawa lalu berantem serta marah - marah dengan Rita, lambat lain dia merasa nyaman meskipun dirinya sadar telah banyak menyakiti Rita dengan verbalnya. Alex selalu merasa tidak enak tapi dia juga masih membutuhkan Rita.


"Tapi kan Nil, mungkin kamu juga punya kan tidak hanya aku saja," kata Rita yang tidak percaya.


"Aku tidak punya kemampuan itu apalagi Ney yah dia sih tidak mungkin banget hahaha hanya kamu saja yang punya dan kamu juga punya kemampuan lain ya tapi kamu tidak suka menceritakannya," kata Arnila menebak.


"Betul itu, Rita?" Tanya Ney yang sekarang dia merasa tidak enak.


"Yaaa... ada sih. Tapi kalian tidak perlu tahulah, susah menjelaskannya!" Kata Rita tersenyum kecil.


Ney terdiam kaget. "Kenapa kamu tidak cerita ke aku? Baru sekarang," kata Ney cemberut.

__ADS_1


"Memangnya kamu akan dengar? Lihat sifat kamu seperti itu aku juga sudah duluan malas. Buat apa cerita? Yang penting aku tidak gunakan itu untuk menarik perhatian orang, aku lebih suka menjadi orang yang biasa. Untuk hal yang kamu tahu itu, cukup kamu simpan sendiri saja. Aku sih lebih suka makan daripada ngobrolin soal begituan. Hahahaha!!" Kata Rita yang membuat Arnila mengacungi jempol tapi tidak dengan Ney.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2