ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
481 ( RUQYAH TIME )


__ADS_3

"Iya, setelah ruqyah lebih baik kita sibukkan dengan kegiatan masing-masing. Kamu sudah menikah, Ney dan aku akan fokus dengan pekerjaan dan Alex. Jadi kamu tidak perlu lagi membantu aku," kata Rita secara halus.


"Iya lebih baik begitu, Rita. Jadi kita sampai disini saja?" Tanya Arnila lega.


"Sampai hasil ruqyah nanti kan?" Tanya Rita.


"Ney bagaimana?" Tanya Arnila.


"Biarkan sajalah. Dia dasarnya tukang kepo nanti juga akan masuk grup lagi. Kalau dia masuk apa chat ini akan ada?" Tanya Rita agak cemas.


"Tidaklah," kata Arnila yang juga agak khawatir.


"Baguslah," kata Rita tengah bersiap.


Ada ketukan dari luar kamarnya. "Rita! Tyas sudah datang tuh," kata ibunya memanggil.


"Sudah ya. Saudara aku sidah menjemput," ketik Rita menunju ruang makan.


"Oke, jangan lupa cerita ya," kata Arnila.


"Siap," balasnya lalu memasukkan ponselnya ke tas.


Di ruang makan ada Tyas serta kakaknya yang sedang mengobrol sambil makan kue. Mereka bertiga pamit dan masuk mobil.


"Koko sudah datang?" Tanya Rita.


"Sudah di jalan, Teh semoga tidak ada yang mengganggu lagi ya," kata Tyas tertawa.


"Iya," jawab Rita lalu membuka jendela dan melambaikan tangan pada ibu bapaknya.


Lalu Rita memeriksa chat akun PB-nya. Alex sudah tentu mencari tahu keberadaannya.


"Sekarang dimana?" Tanya Alex yang sibuk mengawasi pegawainya.


"Dalam mobil saudara menuju tempat saudara yang lain. Kerja?" Tanya Rita.


"Iya. Jangan lupa cerita!" Kata Alex tidak sabar.


"Tidak usahlah kamu kan suka datang diam-diam," balas Rita buat Alex keki.


"Aku kerja dan tampaknya ada yang memasang pelindung. Jadi aku tidak bisa masuk," kata Alex sedih.


Ya lah itu kan privasi. "Ternyata kamu tidak begitu hebat ya," kata Rita kecewa.


"😤😤😤,"balas Alex membuat Rita ketawa.


Tyas memandangi Rita kelihatannya dia tahu kalau Rita sedang mengobrol dengan Alex. "Teh, hari ini Teteh dulu kan yang di ruqyah?" Tanya Tyas.


"Iyalah. Tyas setelahnya?" Tanya Rita.


"Iya terus takutnya lama juga ada konsul tambahan pasti nanti. Tanyakan semua yang mau Teteh tanya, Uanya Ryan super hebat lho," kata Tyas yang pernah diberitahu oleh Tyas.


"Oke," kata Rita lalu mematikan ponselnya dan memandang pemandangan luar mobil.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Ratih menelepon memastikan lokasi mereka bertiga berada. "Teh, dimana? Koko sudah datang nih," katanya.


Rita kaget lalu menenangkan. "Waduh! Ini sudah naik mobil Tyas kok menuju kesana," kata Rita.


"Oke deh Ratih siapkan kamarnya dulu ya," kata Ratih yang tampaknya membuka pintu.


"Jadi deg-degan," kata Rita keceplosan.


"Hahaha tenang Teh. Deg-degan di ruqyah atau ketemu Koko? Hihihi Koko profesional kok. Nanti saksinya di dalam ruangan ada dua orang dia bawa teman-temannya tapi tenang, Ratih minta saksinya perempuan," kata Ratih mengerti.


"Siap siap," kata Rita.


"Setelah Teteh, temannya Tyas ya?" Tanya Ratih.


"Oh, kalau itu lihat nanti deh. Takutnya yang Teteh Rita lama," kata Tyas.


"Oh. Oke tapi konsulnya tetap?" Tanya Ratih.


"Tetap. Jadi kok," jawab Tyas yang sedang memakan cokelat dan menawari Rita.


Lama di perjalanan akhirnya mobil memasuki rumah besar Ratih yang halamannya juga lumayan luas. Rita menenangkan dirinya dan mengucapkan Bismillah dalam hati.


Inilah... saatnya!!!


"Assalamualaikum," kata mereka bertiga.


"Walaikumsalam. Ayo Teh masuk. Koko, nih Teh Rita sudah datang! Duduk dulu Teh, Koko sedang wudhu. Tidak lagi haid kan?" Tanya Ratih lupa bertanya dari awal.


"Sip kalau begitu. Nah ini teman-temannya Koko," mata Ratih memperkenalkan mereka.


Temannya Koko berkerudung dan tidak lupa turunlah Ua Mori yang ikut membantunya nanti.


"Tenang Neng, Ua akan ikut membantu tapi sebentar mau tanya dulu ke Koko nya," kata Ua Mori lalu menuju ruangan lain.


Kemudian mereka berbicara dan Ua Mori keluar. "Tunggu ya Neng," kata Ua meraba punggung Rita dan mengangguk.


"Kenapa Ua?" Tanya Ratih penasaran.


"Tidak apa-apa takutnya jin keriput itu membuat rumah lagi tapi tidak ada. Harus cepat!" Kata Ua lalu pergi lagi entah kemana.


Yang ditunggu keluar juga. Koko! Menggunakan kemeja putih berlengan panjang, rambutnya rapih dan hitam tidak seperti yang pertama Rita temui.


"Pantas si Alex kampret ingin aku di ruqyah sama Ua. Yah, seganteng ini sih siapa yang tidak terpana," pikir Rita tidak sengaja.


~ Maaf ya tidak ada fotonya tapi pokoknya kece badai deh ~


Koko tersenyum. Lalu ponsel Rita menyala. Rita membuka dan tampak chat Alex yang kesal.


"Alu tahu kamu pikir apalaaaaaa!!!" Teriak Alex dalam chatnya. Alex kesal sekali itulah kenapa dia tidak setuju di ruqyah oleh orang itu!


"Bodoooo nih aku foto orangnya. Ganteng sekaliiii," kata Rita menahan tawa.


"Janganlaaa kamu ini benar-benar tidak mengerti ya," kata Alex mendengus dan menghardik pegawai yang ingin tahu urusannya.

__ADS_1


"Sudah kerja sana! Aku sudah mau mulai ruqyah nya," kata Rita.


"Teh, yuk nanti lama lagi," kata Koko berdiri. Ua juga ikut ke lantai atas bersama Rita.


Dua temannya juga ikut dari belakang. Sesampainya mereka semua masuk ke dalam kamar ya g lumayan luas itu dan Rita disuruh duduk di tengah ruang.


"Kamu mau dibantu Ua tidak?" Tanya Ua ke Koko.


"Aku bisa sendiri kok," kata Koko mantap.


"Hmmm kalau kamu kritis dan butuh bantuan. Kamu tahu harus bagaimana kan?" Tanya Ua.


Koko mengangguk, Rita bengong. Kemudian Ua keluar meninggalkan mereka berdua di dalam. Dua saksi akan masuk saat Koko membacakan ayatnya.


"Lalu bagaimana Teh?" Tanya Koko tiba-tiba membuat Rita aneh.


"Apanya?" Tanya Rita.


"Tadi Teteh bilang saya "gantengnyaaaa" kaan?" Tanya Koko tersenyum.


Rita kaget dan tertawa. "Kok bisa tahu? Jangan-jangan bisa baca pikiran juga ya?" Tanya Rita menebak.


"Iya Teh," kata Koko ketawa.


"Ih, itu kan privasi," kata Rita agak marah.


"Yah, mau bagaimana lagi? Sudah kebuka semua," kata Koko agak salah juga.


"Hah, ternyata penyakitnya sama dengan Alex," kata Rita menghela nafas.


Koko tertawa. "Sebelum kita mulai nanti akan ada dua saksi ya tugas mereka hanya untuk berjaga-jaga saja," jelas Koko dengan ramah.


"Hmm. Iya. Koko bisa lihat jin peyot itu?" Tanya Rita.


"Bisa," jawab Koko.


"Ada dia sekarang?" Tanya Rita.


"Ada, itu baru datang. Kenapa?" Tanya Koko penasaran.


"Saya Parno sama hantu apalagi jin," kata Rita dengan polosnya.


Koko tertawa. "Hahahaha iya Teh mengerti kok untung Teteh tidak bisa lihat ya," kata Koko menatap ke arah kiri.


"Pada bilang nenek sih jadi agak parno," kata Rita.


"Ya habis memang dia wujudnya nenek-nenek tapi sebenarnya Jin dengan bentuk yang jelek. Kalau makhluk ghaib bagaimana?" Tanya Koko.


"Itu sajalah. Memangnya benar sudah tua?" Tanya Rita.


"Makanya disebut nenek juga atuh Teh," kata Koko.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2