ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(68)


__ADS_3

"Oh, sepertinya tidak deh aku sudah punya rencana lain tempatnya lebih mewah dari ajakan teman kamu yang itu," balas ketikan Ney.


"Ya syukur deh," kata Rita sambil jutek membalasnya. Selesailah chat mereka berdua sampai disitu, dia tidak tahu saja kalau sebenarnya tempatnya sama tapi memang rencananya berbeda. Tapi masalahnya apa Anggara memberitahu Ney untuk memakai baju apa? Ah sebodo amat! Rita lalu memilih - milih baju yang warnanya masuk ke biru untuk besok malam.


"Besok kamu mau pergi lagi?" Tanya ibunya memasuki kamarnya.


"Iya ada acara Merlin dan Anggara," jawab Rita yang masih sibuk memilih baju gaun.


"Acara apa?" Tanya ibunya lagi.


"Tidak tahu. Menurut Ibu?"


"Sepertinya pertunangan deh. Ibu lihat mereka sudah saling cocok,"


"Bisa jadi sih kan Anggara sebentar lagi lulus kuliah, Merlin juga," kata Rita yang akhirnya dapat baju yang akan dikenakannya besok.


"Terus kamu ke sananya sendiri? Sama Ney?"


"Hahahaha dia sih sudah punya rencana lain padahal tempatnya sama saja," kata Rita.


"Kamu ajak Prita saja, kan dia besok libur daripada sendirian," kata ibu.


"Coba aku tanyakan dulu," belum selangkah Rita keluar kamar, tiba - tiba...


"Mau saja!" Kata Prita mengagetkan kakaknya yang langsung memukul kepalanya.


"Ya sudah, besok kita pergi dari rumah jam 4 saja ya, pakai motor. Kode bajunya warna biru!" Kata Rita pada Prita yang langsung kabur ke kamarnya.


"Oke! Aku juga mau menyiapkan dulu bajunya biar besok tidak sibuk buka lemari," katanya.


"Ri, kamu dekat banget sama Ney?" Tanya ibunya yang duduk di kursi.


"Tidak juga, dianya saja tidak mau dekat. Apalagi dulu ibu ingat tidak waktu kita pergi ke festival terus ketemu si Ney, aku sapa dia bilang tidak kenal. Terus sekarang saat aku kenal bule ganteng, anehnya dia bilang ke bule kalau dia sahabatlku. Edan!" Kata Rita tidak memperhatikan ibunya.


"Oh! Jadi kamu selalu tertawa itu karena ngobrol sama bule? Iya makanya kamu jangan temanan lagi sama Ney deh. Dia tidak benar orangnya waktu kalian SMP saja, dia banyak berbohong sama guru - guru. Kamu kenal si bule jangan sampai Ney ikut campur nanti pasti hancur hubungan kamu sama si bule," jadi teringat lagi kejadian yang dulu. Salah Rita mempercayai omongannya Ney yang sudah pasti Ney tidak suka kalau Rita lebih dari dia.


"Iya aku juga mulai jaga jarak sama dia, dia hanya datang kalau aku lagi senang saja. Kalau lagi susah, kabur duluan tidak mau ribet,"

__ADS_1


"Dia dekati kamu sekarang karena kamu kenal bule yang ganteng, Ri. Jadi dia bisa dapat pamor lebih banyak. Teman kamu tuh yang berlima itu sudah cukup kan tidak perlu kamu tambah satu lagi. Mending kalau orangnya kasih saran ke kamu tepat,"


"Iya. Tenang saja,"


"Terus kenapa kamu masih mau jadi teman dia padahal sudah banyak kamu disakiti?"


"Kasihan saja dia temannya cuma itu - itu saja. Tadinya,"


"Jadi orang jangan terlalu baik nanti kamu yang susah, kalau nanti dia meraih kesuksesan kamu akan ditinggalkan," kata Ibu yang berdiri menuju dapur.


"Iya," kata Rita menutup pintu kamarnya. Benar apa kata ibunya kalau dia nanti sukses sudah pasti bakalan lebih parah mungkin bisa sering pamer.


Keesokan harinya ya kesibukan seperti biasa ditambah Rita menyiapkan bahan untuk mengajarnya nanti. Oh iya disini tidak dicantumkan hari ya pokoknya hari apa saja deh cerita ini bergulir. Dan Rita juga tidak lupa mengerjakan semua tugas kuliahnya sebagian untuk menyambil sambil menunggu nanti sore.


Prita adalah adiknya yang paling bungsu, kepintaran otaknya tidak perlu dipertanyakan lagi, sebenarnya bisa saja Rita menceritakan soal Alex padanya tapi tidak jadi karena nanti pasti lebih heboh kalau tahu Ney juga ada di dalamnya. Keluarga Rita sangat tidak menyukai Ney karena karakternya yang agak diluar nalar dan ibu apalagi yang katanya sangat tidak menyukai pribadinya. Terkesan terlalu mengada - ada tidak sesuai dengan kenyataan bila berbicara alias sering berbohong. Entah untuk tujuan apa dan sepertinya dia sudah terbiasa melakukannya.


"Kita pergi jam berapa?" Tanya Prita yang kelihatannya lupa.


"Sekitar jam 3 saja?" Tanya Rita pada adiknya.


"Oke," jawab Prita.


"Aku juga sedang sibuk bekerja mungkin hanya malam bisa membalas chat," katanya dengan mengirim emoji sedih.


"Tidak apa - apa meski hanya malam, yang penting ada komunikasi saja,"


"Iya tapi aku sedih semakin sedikit kesempatannya," hmmm agak lebay memang orangnya.


"Namanya juga bekerja. Makanya aku sekarang mengerjakan sebagian tugas nanti malam aku tunggu kamu sampai selesai," balas Rita sambil tersenyum. Kelihatannya lucu membayangkan seperti apa wajah Alex yang sedikit manyun.


"Mau pergi lagi?" Tanya Alex pastinya tidak suka tahu kalau Rita pergi keluar lagi.


"Iya ada undangan," kata Rita sambil mengerjakan tugas kuliahnya.


"Permainan teman kamu berakhir sekarang atau masih lama?" Hmmm ucapan kalimat Alex itu membuat Rita sedih hanya Ney saja yang dia pedulikan. Lalu apa gunanya dia berkenalan dan ingin tahu banyak soal Rita? Kalau Ney terus yang dipedulikan olehnya?


"Aku yang dipermainkan oleh kamu dan Ney kelihatannya tidak ada rasa bersalah. Tapi saat aku yang mempermainkan Ney, kamu terlihat tidak ikhlas. Aku sangat sedih sekali lalu buat apa kamu ingin menjadi teman aku? Tapi tidak apa - apa, sudah biasa. Setidaknya aku masih punya teman sejati dan untungnya kamu bukan teman saya," Rita mengusap air matanya yang otomatis keluar. Entah kenapa rasanya teriris sekali saat Alex lebih mencemaskan keadaan Ney. "Aku ingin tahu setia seperti apa dia sekarang saja dia malah mengejar temanku bukannya setia sama Dins. Bisa tidak sih kamu lebih berpikir positif? Karena disini gara - gara kehadiran kamu, aku tersakiti,"

__ADS_1


"Maaf! Kalau kamu merasa aku selalu membela Ney. Baiklah aku akan mulai mempercayai kamu," tapi jadinya seperti terpaksa dan itulah yang dirasakan oleh Rita.


"Tidak perlu, aku tidak butuh! Dan tidak secepat itu aku bisa percaya sama kamu ataupun sebaliknya,"


"Kenapa? Aku minta maaf!" Kata Alex.


"Kamu pembohong!!" Alex lalu tidak membalas sampai sore hari tiba. Rita sadar kalau mereka berdua adalah sama - sama orang asing dan tidak perlu wajib untuk saling membuka diri. Rita sudah biasa terkena tipuan dari siapapun baginya itu biasa namanya juga orang luar tapi soal Alex, Rita ingin Alex percaya hanya padanya. Tapi apalagi yang bisa membuat Alex percaya?


Kemudian beberapa menit, ada chat masuk. "Ri, kamu kenal Dins?" Tanya Anggara tiba - tiba.


"Iya kenal. Kenapa?" Rita penasaran dengan pertanyaan Anggara. Ada apa ya?


"Oh, baguslah tidak apa - apa. Ney mengajak kamu tidak?"


"Zero. Sudahlah mana mungkin dia ajak,"


"Kamu kemari dengan siapa?"


"Prita,"


"Oh iya ya adik kamu kan lagi libur. Ya sudah nanti di pesta kita akan ada kejutan lagi yang lain,"


"Iya iya aku nantikan itu," meski sangat penasarannya sekarang sih. Ada apakah dengan Dins? Masa iya Anggara mau menjodohkan aku dengan Dins sih? Rita dan Prita lalu bersiap - siap pergi menuju acara Merlin, Prita sangat mahir menggunakan mobil dan motor.


"Kita pakai mobil saja ya hehehehe," kata Prita.


"Katanya motor biar cepat sampai?"


"Sayanglah sama bajunya nih. Masa sudah cantik naik motor?" Langsung Prita menyalakan mobil dan bersiap keluar gerbang.


"Hahaha terserah deh," balas Rita lalu menutup gerbang dan menaiki mobil. Tentu saja mereka tidak lupa memberi salam dulu pada ibu dan bapa. Rita jadi penumpang baik saja yang selalu menyediakan cemilan untuk Prita yang bertugas menjadi supir. Di dalam mobil, Rita dan Prita bercakap - cakap dengan seru soal Merlin dan Anggara yang sangat bodor. Tidak menyangka kalau mereka bisa sampai menikah.


"Ri, kamu masih temanan sama Ney?" Tanya Prita.


"Kamu lihat chat WA aku yaaa," kata Rita yang langsung mencubit pinggangnya.


"Aduh! Sedikit. Ih, kok masih mau sih temanan sama orang seperti itu? Kelakuannya parah banget! Kalau aku sih sudah kutinggal. Kasihan ya?"

__ADS_1


"Iya. Aku kan pernah mengalami juga semasa sekolah SMP bareng dia, dan sama - sama tidak punya teman. Tahu juga kan kamu?" Tanya Rita sambil mengemil makanan.


"Iya juga sih. Tapi sepertinya harus mulai menjauh deh, dia itu punya niat tidak baik deh yang aku lihat ke kamu," instingnya tajam juga nih anak, Rita hanya nyengir.


__ADS_2