
Beberapa hari kemudian Ney berusaha sendirian. Mencari bahan, menulis lagi memberikan laporan. Lalu diskusi dan praktek lapangan pun akhirnya selesai seiring waktu tugasnya pun semakin sedikit. Arnila sudah membuka kembali nomornya tapi tidak dengan Rita.
Mereka bertemu di Jakarta saat kuliah susulan Ney sedikit ada kelonggaran. Mereka berjanjian bertemu di Senayan City, Jakarta Pusat pukul 10 pagi agar tidak macet. Arnila datang dan mereka sambil jalan-jalan berbincang.
"Bagaimana tugasnya?" Tanya Arnila.
"Sudah kelaaaar. Pusing aku," kata Ney.
"Yah wajarlah memang lelah. Puas kan karena kamu mengerjakannya dengan kemampuan sendiri. Biasanya sih ada kepuasan begitu," kata Arnila melihat aksesoris ponsel.
"Iya sih. Nil, kok aku merasa lihat Rita agak rileks ya hidupnya ketimbang aku," kata Ney melirik Arnila.
"Ah, kata siapa? Dia juga punya banyak masalah, Ney. Kamu kalau lihat orang jangan hanya dari sisi jeleknya saja, kamu tahu kan orang yang banyak tawa biasanya masalah beban hidupnya lebih sulit," kata Arnila lalu masuk ke dalam toko itu.
Ney hanya mengikuti kemana Arnila pergi, rasa kesal kepada Ney sudah tentu masih ada tapi Arnila legowo karena sudah tahu seperti apa Ney. "Terus salah aku apa coba? Terasa sumpek," kata Ney.
"Ya salah lu banyak sih. Coba deh kalau ada waktu luang ya pikirkan kenapa semua orang termasuk Rita atau sahabatnya Diana bete ketemu kamu. Semua jawaban itu ada di diri lu," kata Arnila lalu keluar lagi.
"Kamu cari apa sih? Dari tadi sibuk masuk toko sana sini, coba deh bicara aku bisa kok bantu," kata Ney melihat Arnila terus kebingungan.
Arnila langsung tertegun mendengarnya. Tapi dipikirnya menguji mungkin Ney punya solusinya. "Aku cari barang sebagai cinderamata sebentar lagi kan waktunya aku menikah. Jadi nanti kalau kamu ada masalah coba pecahkan sendiri ya karena aku pasti banyak kerjaan," kata Arnila membuat Ney diam.
"Menurut aku ya cinderamata nya yang bisa dipakai sehari-hari saja deh seperti sendok garpu, centongan, atau sepaket ulekan tapi bahannya kayu saja supaya mudah dibawa," kata Ney memperlihatkan foto penampakannya.
"Hmm boleh juga tumben pilihan kamu benar biasanya melenceng," kata Arnila.
"Ya aku juga kan bisa benar tapi kalau Rita kok beda ya," kata Ney berpikir.
"Karena perkataan dan nada kamunya yang tidak enak dia dengar, apalagi kamu sampai ada masalah kan dengan teman-temannya. Kenapa sih? Tidak cukup dengan teman kamu yang segrup? Aku tidak kamu anggap juga?" Tanya Arnila langsung.
"Aku mau beli takoyaki. Kamu mau ikut tidak?" Tanya Ney mengubah topik. Arnila hanya memandang Ney yang kemudian berjalan berbalik arah, tanpa diikuti oleh Arnila. Lalu beberapa langkah tersadar Arnila tidak kunjung menyusulnya saat melihat ke belakang, Arnila sudah tidak ada.
Ney kembali mencari, tahu Arnila sudah tidak peduli dengan urusannya dan akhirnya menemukannya. Di toko cinderamata, Arnila sudah memilih beberapa barang dan memesan banyak. Ney masuk ke dalam toko berjalan seakan diseret.
"Kamu kok tidak nyusul aku sih?" Tanya Ney.
"Hah? Untuk apa? Aku kan mau ketemu juga karena ada kebutuhan. Ya kamu mau beli takoyaki bisa sendiri kan sudah dewasa kenapa harus ditemenin segala?" Tanya Arnila menatap Ney.
"Ya kan bisa sambil mengobrol," kata Ney mengikuti gerakan Arnila.
__ADS_1
"Aku nanya saja kamu tidak pedulikan malah mau beli takoyaki. Ya sudah aku lebih baik mencari keperluanku daripada harus mendengar keluhan kamu," kata Arnila memutuskan ulekan yang dikatakan Ney.
"Ya sudah aku beli sendiri deh. Tidak perlu kamu temani," kata Ney yang melangkah terkesan tidak peduli.
"Ok," kata Arnila singkat menatap Ney lalu memesan beberapa pernik yang lucu. Tentu saja rencananya mau dia berikan pada Rita sebagai permintaan maaf meskipun dia tahu Rita sudah melupakan persoalan yang lalu.
Dia teringat percakapannya dengan calon suaminya saat menceritakan persoalan yang sudah lalu.
"Kamu yakin yang namanya Rita ini sesuai yang dikatakan Ney? Kamu pasti sudah lebih mengenal Ney seperti apa dia, menurutku dia membuat-buat alasan agar kamu terus mendukungnya. Ingat apa Rita ini pernah membuat kamu tersakiti?" Tanyanya.
Arnila menggelengkan kepalanya, dia berpikir selama kenal Rita tidak ada satupun yang tidak dia sukai hanya... "Rita terlalu polos dan terlalu baik," kata Arnila.
"Lalu kenapa kamu mudah mencap Rita sebagai anak yang jelek juga? Itu kan persepsinya Ney, aku tahu kamu itu hatinya terlalu lembut, sayang. Coba ingat aku yakin Rita pernah melakukan sesuatu yang jauh dari kata Egois sama kamu atau Ney," kata calon suaminya memegang tangannya.
"Benar juga. Saat orang rumah dan teman tidak ada yang ingat tanggal ulang tahun, hanya dia yang ingat dan memberikan kejutan. Saat punya banyak makanan juga dia selalu berbagi, meski itu membuatnya tidak kenyang. Waktu kita janji bertemu, dia sengaja lho membeli banyak makanan dan membagikan ke kita. Oh iya dia juga beli bento dan wah, banyak juga," kata Arnila tidak bisa terhitung kebaikannya.
"Mengerti? Kamu juga terlalu mudah diracuni pikirannya. Sekarang, selangkah demi selangkah usahakan jaga jarak dengannya. Jujur sih aku lebih suka kalau kamu dekat dengan Rita tapi yah, aku tahu kamu takut kan," katanya.
"Ya aku juga nyaman dengan dia. Aku baru sadar kalau Rita senang berteman dengan orang yang punya ilmu apapun kecuali mistis. Kalau aku dekat dengan Rita entah apa yang akan Ney lakukan kepadanya. Aku sudah ceritakan mengenai gambar segitiga itu kan sama kamu," kata Arnila membuat calonnya berpikir keras.
"Parah asli ya itu anak. Ya sudah, nanti setelah kita menikah aku akan mulai membuat kamu sibuk," katanya sambil mencubit lembut pipi Arnila.
Arnila menemukan pemberat buku berbentuk angsa berwarna putih. Dan meminta mereka membungkus kan ya dan mengirimkan ke alamat Rita. Dulu Rita pernah tidak sengaja memperlihatkan hasil pemesanan misteri box kepada mereka. Jadi Arnila sekarang tahu alamat rumahnya.
Agar Ney tidak cemburu juga, Arnila membelikannya bentuk yang sama tapi meminta pelayan toko untuk membungkuskannya dengan kantong saja.
Di lantai bawah Ney membeli takoyaki untuk dirinya sendiri, dia makan sambil berjalan. Beberapa orang menatapnya dan dia tidak perduli. Lalu sampai di toko tempat Arnila masih ada. Cara dia memakan takoyaki terkesan aneh sih, setiap sisinya dia makan lalu tengahnya.
"Masih lama? Itu bungkusan apa?" Tanya Ney menunjuk ke kantong hitam.
"Oh ini. Nih buat kamu," kata Arnila memberikannya pada Ney.
Dia menaruh koyak takoyaki dan membukanya dengan tangan yang kotor dengan mayonaise. "Apaan nih? Gunanya untuk apaan?" Tanya Ney keheranan. Dia mengeluarkan isinya dan menimbang-nimbang.
"Ya elah kalau kamu baca buku, untuk menahan buku lain tertutup, Ney. Baca komik misalnya pakai itu," kata Arnila bete.
"Oh," katanya lalu menaruh benda itu di sebelahnya dan kembali makan takoyaki.
Arnila menghela nafas. "Terima kasih, Arnila. Iya sama-sama," katanya sengaja menyindir Ney.
__ADS_1
Ney yang mendengarnya terdiam sesaat menatap Arnila. "Kamu ingin aku bilang begitu? Bilang saja kenapa juga bicara sendiri," katanya sambil memakan takoyakinya.
Pelayan toko menggelengkan kepalanya lalu menatap Arnila. "Ya Mbak kan sudah terima pemberiannya biasanya orang kalau dikasih barang langsung terima kasih. Kok aneh ya," kata pelayan itu membuat Ney tidak bergeming.
"Makasih," kata Ney kemudian keluar toko tapi barang yang diberikan Arnila tidak ikut dibawanya. Arnila tahu dan meminta pelayan untuk tidak memindahkannya.
Salah satu pelayan mengambil dan menyusul Ney. "Mbak, ini pemberat bukunya kok dilupakan sih?"
Ney melihat pelayan itu membawa pemberat dan Ney agak malas membawanya. "Buat Mbaknya saja deh, lagipula masa yang seperti ini sih buat aku? Harusnya yang mahal dong," kata Ney menolak.
"Lah Mbak nih harusnya bersyukur punya teman yang mau ikhlas dekat sama Mbak. Kalau Mbak lihat temennya dari mahal atau harta, berarti Mbak ini Teman Palsu," kata Pelayan itu.
Mendengar kalimat Palsu itu membuat Ney semakin tidak perduli. "Dia itu kaya ya Mbak tapi selalu pura-pura miskin di depan saya. Punya banyak uang lalu suaminya itu kan lebih kaya. Kok ya aku dikasih barang murahan? Pelit sekali sih, sudah kalau Mbak mau ambil saja," kata Ney lalu pergi seenaknya.
"Ya Allaaaah, sombongnyaa. Saya ambil ya meski Mbak nanti minta tidak akan saya kembalikan!" Teriak pelayan itu.
Ney membalas dengan lambaian tangannya dan pergi ke lantai bawah. Kini pelayan itu kebingungan bagaimana harus menceritakannya akhirnya dia punya ide menyembunyikan barang itu di Ruang belakang tempat para karyawan rehat.
Kembali ke toko, Arnila melihat pelayan itu dan barangnya tidak ada jadi berpikir sudah diterima oleh Ney. Bos toko menatapnya dan pelayan itu memberikan kode dengan tangannya.
"Mbak nih, kok mau sih punya teman seperti itu? Kalau dia tidak mau buat aku juga tidak apa-apa," kata pelayan yang tadi keluar.
Arnila hanya tersenyum tapi pahit kedua matanya berkaca-kaca dan lebih memilih mencari barang yang lain. "Barang yang saya mau kirim kapan diambilnya?" Tanya Arnila.
"In sha allah kalau tidak ada rintangan, sore aman dikirim. Ada yang lain?" Tanya bos toko.
"Tidak ada sudah saja. Uang muka dulu ya," kata Arnila membayar sebagian. Sesudah itu Arnila keluar setelah menerima tanda bukti paket untum Rita.
"Oh, ke Lembang? Wah, jauh sekali rumahnya. Barangnya pasti aman kok meski jauh," kata Bos toko.
"Iya ya jangan sampai pecah saja," kata Arnila yang memasukkan dompetnya.
"Tidak akan ditolak tuh? Sayang karena harganya mahal sekali dibanding yang lain kan," kata pelayannya.
"Hehehe tidak akan, kebalikan dari yang tadi, yang ini lebih senang pada kegunaannya daripada harga. Makasih ya," kata Arnila keluar toko.
Setelah Arnila pergi, pelayan itu memberitahukan segalanya dan Bos toko kaget. Segera saja pelayan itu mengambil lagi barangnya saat Arnila sudah jauh dan memperlihatkan pada Bosnya.
"Simpan saja di sana, diambil kalau temannya benar-benar tidak kembali seminggu," kata Bosnya. Pelayan itu mematuhinya dan memasukkan ke tempat penyimpanan barang.
__ADS_1
Bersambung ...