
"Di emperan? Ih siapa juga yang mau? Tidak berkelas," kata Ney.
"Halah tidak berkelas kamu diajak Mama makan dimana juga kamu yang banyak makan. Jangan bertingkah Ney. Berkelas atau tidak yang penting makanannya sehat, kalau kamu mau traktir teman kamu gunakan uang sendiri. Masa minta yang Mama sih," kata Ibunya masih marah.
"Yaa uangku kan kurang," kata Ney memainkan telunjuknya.
"Makanya jangan kelewatan dugem kamu," kata kakaknya yang sedang berdandan.
"Diam lu!" Seru Ney.
"Ney! Masa begitu sih kamu sama kakak sendiri! Apa kamu begitu juga sama orang lain? Siapa yang mengajarimu sopan santun?" Tanya Ibunya mencubit bahunya. Ney kesakitan dan meminta ampun.
"Habiiiis... Ya aku sekali-kali mau dong makan di tempat yang mahal," kata Ney menangis.
"Kamu itu terlalu konsumtif masa mau begitu terus? Beli apa-apa sesuai budget kamu dong. Kalau dirasa tidak cukup, ya kamu menabung. Kalau kamu seperti itu terus nanti lelaki yang jadi suami kamu akan menderita," kata Ibunya sambil duduk di sofa.
Berlalulah kejadian tidak mengenakkan itu, sekarang Ney berada dalam kamarnya sambil rebahan dia membaca sebuah majalah. Dia kemudian teringat akan benda pemberian Arnila yang memang sempat dia berikan pada orang lain. Karena penasaran, dia mencoba mencari tahu mengenainya. Setelah dicari, dia mendapatkan pemberat angsa untuk buku berwarna putih. Benda itu berharga Rp 150.000 dan hanya ada empat buah saja.
Dengan panik Ney lalu keluar dari kamarnya membuat semua anggota keluar terkaget dan memakai sendalnya.
"Mau kemana? Sudah sore begini," kata Ibunya keheranan.
"Ke toko Senayan City, aku ketinggalan barang di sana," kata Ney dengan heboh.
"Lebih baik pakai GoRide saja supaya lebih cepat," kata adiknya yang sedang sibuk bermain Playstation.
"Pesankan dong," kata Ney yang buru-buru.
"Mama saja. Langsung pulang ya jangan kemana-mana lagi," kata Ibunya.
Tidak lama sekitar 2 detik GoRide sudah sampai depan rumahnya saat sampai, dia berpesan pada supirnya untuk menunggu. Ney berlari masuk menuju toko yang tadi pagi bersama Arnila. Sesampainya mereka akan menutup tokonya karena sudah sore, Ney dengan cepat menahannya.
"Mbak Mbak, barang aku ketinggalan disini!" Seru Ney susah payah.
Pelayan itu mendengus kesal. "Lho itu kan punya aku. Mbak sendiri yang bilang untuk aku saja kan," katanya.
"Tidak jadi ternyata barangnya mahal. Aku mau ambil saja lagipula itu kan dari teman aku," kata Ney terengah-engah.
"Hmmm setelah tahu harganya mahal malah disebut teman. Tadi saya paksa kamu terima, malah bilangnya bukan teman," kata pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Mana Mbak barangnya keburu malam nih," kata Ney yang tidak peduli.
Kemudian bos toko itu keluar. "Maaf Mbak barangnya sudah ada yang beli tadi buat pacarnya karena menyukai bentuk angsa," katanya menundukkan badannya.
"APA!? Itu kan barang saya kok main jual saja sih!? Pokoknya Mbak harus ganti rugi!" Kata Ney yang tidak mau kalah.
__ADS_1
"Lah, kenapa juga kamu kasih orang jadi ya sudah kami jual ke orang lain saja yang membutuhkan," kata Bosnya.
Setelah itu Ney merasa lemas sekali dan sedikit menangis disana tapi mereka tidak peduli juga karena mereka sering melihat orang yang begitu.
Dalam toko, Pelayannya kebingungan harus bagaimana. "Sudah, berikan saja yang ini. Bendanya juga sama karena yang salah kan dia padahal kamu sudah memaksanya kan," kata Bos.
"Ini kan..." kata pelayannya tapi kemudian dia berikan kresek hitam seperti yang awalnya.
Ney terduduk lemas di kursi, dia bingung harus bagaimana nantinya apalagi Arnila pasti terus menagih, saat dia tengah banyak berpikir pelayang tadi menyimpan angsa tersebut di sampingnya. Ney kaget ternyata mereka hanya mengerjainya.
"Lho, ini ada? Kalian bohong ya," kata Ney sebal lalu menghapus air matanya.
Pelayan itu malas sekali melihat Ney apalagi dia menangis karena barang mahal. "Lain kali hargai pemberian orang Mbak, mau harganya murah atau mahal yang penting dia ikhlas. Teman Mbak itu baik sekali mana ada jaman sekarang yang bisa memberikan barang mahal kepada orang yang tidak tahu terima kasih," katanya lalu bergegas kembali menutup tokonya dan pergi.
Ney melihat angsa itu dan masih tampak bagus dan mengkilap. Ney tersenyum melihatnya dan mendekapnya. Benda dari Arnila itu memang tampak berkilau meski ada yang berbeda.
Setelah sampai rumahnya dia bergegas ke dalam kamar dan menaruhnya sambil tersenyum. Kamarnya pun berantakan dengan banyak buku komik dan baju. Ney lalu menyalakan ponselnya dan memperlihatkan pemberat angsa tersebut.
"Nih ya ada kan barang dari kamu, aku tidak bohong kan," kata Ney dengan senyum.
Arnila melihatnya namun dia merasa ada yang berbeda tapi tidak mau memperpanjang masalah. "Oke syukur deh kalau memang ada, aku kira kamu memberikan barang itu ke pelayan toko sana, kamu kan memang begitu orangnya," kata Arnila menohok Ney langsung.
"Kenapa?" Tanya Arnila agak curiga.
"Bantuin aku dong. Tugas kuliah banyak sekali maan aku belum mengerjakan TA juga, sebentar lagi ujian nih. Bantu ya," kata Ney memohon.
"Tidak mau! Kerjakan sendiri dulu sewaktu kita kuliah, kamu seenaknya menjiplak tugas orang lain
. Yang nilainya bagus malah kamu yang lain jelek, kan tidak adil. Sekarang kamu nikmati saja bagaimana rasanya orang mencari jawaban," kata Arnila menolak.
"Ayolaaah masa kamu tega sih? Bukannya kamu ingin jadi sahabat aku? Jadi seharusnya kamu bantu aku karena aku sedang kesusahan. Ya, Arnila? Arnila? Halo!" Kata Ney yang agak berteriak. Saat dia lihat ternyata layarnya sudah kembali semula.
Tidak ada jawaban dari Arnila karena dia mematikan ponselnya. Dia tahu pasti Ney akan berusaha memaksanya. Ney yang menyadarinya langsung diam dan mematikan ponselnya, dia kembali menyimpan ulang pemberat buku itu di dalam rak laci terbawahnya. Dia lempar begitu saja dalam lemari itu banyak majalah yang tidak pernah dia baca karena bosan.
Tapi bukan Ney namanya kalau selalu berusaha menggapai keinginannya. Karena masih banyak tugas yang belum selesai, Ney berinisiatif akan datang sendiri ke rumahnya. Dia lalu membereskan semua tugasnya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Kemudian dia cek dulu dari akun Pacebuknya Arnila dan membaca ternyata calonnya itu akan datang sekeluarga.
"Nil, hari ini kamu ada di rumah kan?" Ketik Ney dalam PB Arnila.
"Iya tapi lebih baik kamu jangan datang. Memalukan kalau hanya kamu ingin membuat masalah, kerjakan tugas kamu dengan tenaga sendiri. Kamu akan bisa menghargai rasa lelah saat mengerjakannya," kata Arnila dalam akunnya.
Ney kesal bukan main, dia menangis di tengah dalam perjalanan tugasnya yang masih menumpuk. Dirinya sudah lumayan stres karena tidak ada lagi teman yang bisa dia suruh, akhir ha mau tidak tahu dia kerjakan sendiri. Banyak membuka buku kuliah lalu dia membacanya lagi.
"Jadi seperti ini sulitnya mengerjakan tugas kuliah? Dan semua laporan, kalau saja dulu aku kerjakan semuanya sendirian," gumam Ney yang fokus oada tugasnya.
__ADS_1
Saat jemarinya sudah lelah, dia berhenti dan rebahan. Ibunya datang membawakan makanan dan minuman yang diterima Ney dengan gembira.
"Masih banyak tugasnya?" Tanya Ibunya. Semua buku bergelimpangan di lantai kamar anaknya itu dan sangat berantakan.
"Banyak. Sama sekali tidak berkurang," kata Ney memakan cemilan.
"Tadi kamu mau kemana? Tas sudah rapih," kata Ibunya.
"Mau ke rumah Arnila buat mengerjakan tugasku tapi ternyata kedatangan keluarga calonnya," kata Ney kesal.
"Kami jangan seenaknya suruh dia mengerjakan tugas kamu. Kamu kuliah ya kalau ada apa-apa kamu juga yang kerjakan, kalau terlalu mengandalkan otak orang lain lama kelamaan kamu jadi bodoh," kata ibunya lalu menutup pintu kamar Ney.
Akhirnya dia mengalami juga tidak ada seorang pun yang mau membantunya, dia agak menyesal coba saja waktu itu dia ikut kerja kelompok dengan Arnila. Lalu teringat pada Rita dengan segunung pekerjaannya juga, apalagi ada 2 orang teman kampusnya yang membantu. Dia menghela nafasnya, berpikir hidup memang tidak adil hanya kepadanya.
Lalu dia periksa akunnya Rita kalau WA tidak aktif pasti akunnya online. Benar saja perkiraannya kalau Rita memang sedang online.
"Rita, kamu sedang apa sekarang?" Tanya Ney ingin tahu.
"Mengerjakan tugas kelompok. Kenapa?" Balas Rita yang sedang rebahan di kamarnya.
"Enak sekali ya kamu mengerjakan tugas sendiri dibantu yang lain. Aku saja sendirian lho," kata Ney.
"Tugas kelompok ya dikerjakannya
berkelompoklah berbeda dengan tugas harian. Kenapa? Mau buat onar lagi?" Tanya Rita langsung menyerangnya.
"Kamu kok begitu sih? Jahat sekali sama aku. Aku kan hanya mengingatkan saja lebih baik kamu kerjakan tugasnya sendirian jangan minta bantuan orang dong," kata Ney yang sebenarnya iri sekali.
"Rita, dia siapa sih? Sok tahu sekali komentarnya," kata A.
"Blok saja blok!" Seru yang lain.
"Sebelum kamu ketik-ketik bacotan tidak bermanfaat. Baca! Update status aku dulu sebelum berkomentar. Heran ya kamu pintar tapi yang seperti ini saja bodohnya minta ampun," kata Rita.
Akhirnya Ney membaca update status yang Rita tuliskan ternyata dirinya salah paham. Tugas-tugas yang Rita kerjakan adalah tugas kelompok.
"Oh, tugas kelompok. Lalu tugas harian kamu bagaimana?" Tanya Ney yang mengesampingkan kesalahannya tadi.
"Ya sudah selesai dong. Makanya aku bebasss," kata Rita.
"Nah kebetulan, bantu tugas aku ya. Banyak sekali nih, Arnila lagi sibuk jadi yang masih lowong ya kamu. Kamu kan teman baik aku, Rita," kata Ney senyum.
"Ogah! Enak saja saat kamu susah saja mulai bermulut manis. Kamu bilang sendiri pintar, gunakan otak kamu untuk mengerjakan semua pekerjaan rumah. Aku hanya mau bilang, kerjakan semua tugas sendiri jangan dibantu. Aku saja mengerjakannya sendirian lhoooo," balas Rita puas.
Bersambung ...
__ADS_1