ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
371


__ADS_3

"Tanyakan saja kenapa?" Tanya Rita menyarankan kalimat.


Arnila berpikir dulu kemudian mengetikkan sesuatu. "Memangnya kenapa kalian mau membuktikan perkataannya?" Tanya Arnila.


Sambil menunggu jawaban, mereka memakan makanannya. "Agak aneh sih dengar ceritanya kan kamu juga lebih tahu kali bagaimana orangnya Ratu Pembohong itu. Jadi kita semua mau membuktikan tempatnya ada atau hanya khayalan dia," balas temannya.


Lalu Arnila memperlihatkan balasannya, Rita baru tahu juga kalau Ney sering sekali berbohong tampaknya. "Memangnya dia sering sekali bohong?" Tanya Rita meminum Greentea nya.


"Kadang sih, ada juga yang memang benar betul tapi kebanyakan hanya karangan," kata Arnila kemudian menaruh telunjuknya siapa tahu Ney bisa mendengarnya meski jauh.


"Oh begitu aku baru tahu, mereka semua kelihatannya sudah tahu sesuai apa kata kamu," kata Rita yang sibuk memanggang lagi.


"Yah ini bukan yang pertama kalinya sih, sudah biasa dia tuh kalau cerita dilebar-lebarkan, sering juga ketahuan bohongnya. Apapun yang dia lihat, selalu terbalik dalam otaknya aku heran soal itu," kata Arnila memandangi Ney yang masih menelepon.


"Terus ini bagaimana? Mereka buka kok Cafenya kalau tidak mau ketahuan suruh pulang saja," kata Rita yang membuat solusi karena Ney pastilah juga inginnya mereka tidak usah memastikan.


"Oh, buka? Lah tapi kata mereka tutup makanya agak aneh. Mereka membuktikan mau bertanya apa ada pegawai bernama Ney kerja disana. Sepertinya dia berbohong supaya terkesan dia bekerja di tempat yang bonafit," kata Arnila.


"Eyyy untuk apa cerita seperti itu? Membalikkan fakta yang ada," kata Rita menggelengkan kepalanya.


Ney masih saja memastikan bahwa temannya berbalik pulang, dari gerakannya dia menggigiti kukunya yang tandanya sudah super gelisah.


"Padahal jujur saja ya cerita apa adanya mereka juga tidak akan memikirkan apapun," kata Arnila yang sibuk mengunyah.


Rita setuju lalu memindahkan ikan dan mengambil sukinya. Isinya tinggal sedikit lagi, dan dia sudah merasa kekenyangan. Sebelum pulang, dia mau beli beberapa porsi untuk di rumah. Kalau Ney tahu dia juga pasti akan ikut-ikutan bukannya tidak boleh tapi kalau sudah tahu ditraktir kadang tidak tahu kondisi keuangan.


Arnila juga diam melihat hal itu, dan tertawa. "Sudah? Untuk orang yang ada dirumah?" Tanya Arnila tahu Rita terbiasa berbagi makanan.


"Iya hehehe jangan sampai Ney tahu kalau aku beli untuk di rumah. Mumpung beli 6 dapat diskon, mau aku campur," kata Rita cekikikan. Untung saja dia bawa tas ransel yang cukup besar.


"Nanti saja kamu beritahu nya kalau kita selesai makan. Aduh, lihat dong cara dia makan bagaimana. Berantakan sekali," kata Arnila menunjuk ke meja sebelah mereka berdua.


Rita juga melihat sedari tadi, sayu selada entah berada di piring mana lalu sukinya juga berantakan tidak seperti yang tadi. Daging berhamburan seperti dipilih-pilih, ada juga yang sampai gosong.


"Dia makan dagingnya setengah matang? Memangnya enak?" Tanya Rita memperlihatkan pada Arnila.


Arnila bergidik melihatnya karena masih ada yang berwarna merah alias mentah. "Aku heran dengan cara dia memasak daging, semua kondisinya hancur begini," kata Arnila yang enggan memegang piring Ney.


"Ini ciri orang yang tidak bisa merapihkan rumah. Kamu suka bersih-bersih rumah, Nil?" Tanya Rita membandingkan meja mereka.

__ADS_1


"Oh, bisa kelihatan? Suka dong meski sudahnya pegal-pegal kamu juga tahu kali bagaimana rasanya bersihin rumah seluas lapangan," kata Arnila yang kembali duduk.


"Iya ibuku suka rumah yang besar-besar tapi ke alami sendiri juga katanya susah punya rumah besar. Aku sering ke rumah Ney, dia kalau disuruh bersihin rumah tidak pernah dikerjakan jadi ya begini. Kalau sampai berantakan begini berarti orangnya memang tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Lalu teman kamu bagaimana?" Tanya Rita yang kembali duduk juga. Kuah suki dia minum sampai habis tak bersisa.


Arnila membacakan isi pesan yang baru saja sampai. "Kata mereka, "Kata Ney toko tempat dia bekerja sedang tutup tapi masa iya karena kakak aku kan kerjanya di daerah Gegerkalong, katanya juga memang ada Cafe yang membuka lowongan tapi bukan untuk Marketing hanya sekretaris. Ini bukan tempatnya?" Tanya dia. Nih dia mengirimkan tempatnya dong," kata Arnila mengirimkan pada WA Rita.


Rita melihatnya dan bengong lalu memandang Arnila. "Wah, iya ini mah tempat aku kerja sambilan dan memang tidak ada lowongan Marketing. Wah, parah dia," kata Rita masih bengong.


"Jadi beneran hanya ada Sekretaris tapi harus bisa mengurusi pekerjaan yang lain?" Tanya Arnila memastikan. Untuk apa juga Rita disangsikan toh dia yang bekerja disana pasti tahu.


"Iya makanya aku heran dia kerja sambilan dimana? Mana ada juga Marketing gajinya setara direktur, kalau pemula apalagi yang masih kuliah dimana-mana honornya pasti tidak jauh dari Rp 350.000 per bulan, kalau kerja bagus bisa dinaikkan Rp 50.000 paling," kata Rita yang sudah tahu karena dia memang digaji sejumlah itu.


"Wahahaha ketahuan semua ini. Eh, teman aku juga punya foto dong saat Ney baru keluar dari toko. Nih," kata Arnila membagikan foto.


Memang jelas sekali Ney yang mungkin saat itu mau pulang dari kerjaannya. Kalau kakaknya bisa mengambil foto sejelas ini cukup mengerikan juga sih meski dicantumkan sedang memfoto keadaan luar tempat kerjanya.


"Wahahaha ketahuan kalau begitu. Ya bilang saja Tokonya itu ada nama berbau Mitologi, aku juga sudah lupa namanya," kata Rita tertawa sambil minum.


Kemudian Arnila menurut juga dan tertawa bersama. Orang yang sudah terbiasa berbohong biasanya tanpa dia sadari akan mengatakan yang sebenarnya, entah dia sadar atau tidak. Biasanya diri sendiri yang memperingatkan pada Mulut agar tidak perlu berbohong.


"Oke deh," kara Arnila lalu meletakkan ponselnya dan meneruskan makannya. Cukup lama juga Ney berbicara dengan temannya.


"Jangan lupa ke teman kamu itu kalau Ney masih terus menghalangi kirim saja bukti fotonya," kata Rita mengingatkan.


Dia duduk dan mulai makan lagi, wajahnya murung tapi juga kesal. Rita dan Arnila memandanginya.


"Kenapa kamu? Wajah kesal begitu. Lama sekali meneleponnya," kata Rita sambil mengunyah.


"Teman-teman kampus aku memaksa mau datang," kata Ney makan dengan lahap.


"Kesini?" Tanya Arnila.


"Sudahlah lupakan saja jangan banyak tanya deh. Mood aku sedang super bete," jawab Ney ketus.


Mereka bertiga makan meskipun sesekali Ney seperti melemparkan mangkoknya dengan sembarang. "Kamu tuh kalau makan bisa tenang tidak sih? Meja berantakan," kata Rita.


Tapi tidak dihiraukan oleh Ney yang terus memasak dan memakannya. Seperti biasa dengan daging yang masih belum matang, mungkin memang kesukaannya seperti itu. Setelah sedang makan enak, ponselnya berbunyi lagi kelihatannya Ney terkejut sekali saat membacanya.


"Kenapa tuh?" Tanya Rita pada Arnila tapi Arnila mendiamkannya.

__ADS_1


Ney tersedak saat melihat foto yang dikirimkan oleh teman-teman kampusnya. Foto depan Cafe terpampang dimana itu adalah tempat kerja Rita dan Arnila hanya makan saja.


"Pudingnya enak ya," kata Rita menahan tawa.


"Bangeeeeet!" Seru Arnila yang juga sudah selesai makannya dan sedang menikmati puding.


"Kamu kenapa tidak dimakan? Tidak suka ya. Kenapa sih wajahnya marah begitu, lagi makan enak juga," kata Rita menatap Ney yang juga menatap Rita dengan tatapan penuh tanya.


"Kamu kenapa sih bikin aku semakin mood tidak enak? Aku sudah bilang sama mereka tidak usah dayang eh malah berfoto depannya," kata Ney sambil melihat isi ponselnya.


"Memangnya masalah? Tempat kerja kamu yang jadi Marketing?" Tanya Rita pura-pura.


Ney lalu membetulkan poni rambutnya yang tidak berantakan. "I... iya. Padahal tempatnya lagi tutup tapi nekat kesana," kata Ney dengan suara yang agak mencurigakan.


"Mereka tidak percaya mungkin karena perkataan kamu tidak benar?" Tanya Rita yang masih memakan pudingnya.


"Maksudnya?" Tanya Ney kurang mengerti.


"Maksud Rita, ada kemungkinan kamu berbohong soal pekerjaan kamu. Iya? Jujur saja kenapa sih lagian tempat kerja kamu itu tidak ada lowongan Marketing," kata Arnila yang bete.


Ney diam mendengarnya seakan tidak perduli meski dia terkejut juga dengan pernyataan Arnila. Akhirnya dia menyerah dan tidak lagi menjawab ponselnya. "Kalian tahu ya?" Tanya Ney menatap mereka berdua dengan mata yang menyipit.


"Tika kasih tahu tuh kalau dia mau membuktikan kebenaran omongan kamu," kata Arnila.


Ney langsung kesal sekali lagipula dengan begitu ya ketahuan semuanya. "Sudah aku duga tuh anak," kata Ney.


"Ya wajarlah kalau kamunya juga keseringan bicara bohong atau melebihkan fakta, Ney. Jujur saja deh sesuai kenyataan," kata Rita menambahkan.


Ney sebal mendengarnya semuanya terbongkar dan kebiasaan dia juga yang senang berbohong atau melebihkan sesuatu. Sebelum dia mulai meledak mengatakan sesuatu, pelayan Raacha datang menghampiri dengan membawa namban besar berisi 3 makanan.


Benar-benar tepat waktu saat Ney marah, dia penasaran dan menghampiri mereka. "Maaf, kami akan memberikan es krim gratis karena jumlah harga kalian mencapai Rp 250.000. Kami punya es krim rasa mint choco, durian, cokelat, strawberry dan vanila. Mau pilih yang mana?" Tanyanya.


Mereka bertiga bersorak kegirangan mendengarnya begitu juga dengan Ney yang tidak jadi marah. Dia menikmati semuanya toh bisa makan seenak ini juga karena berkat traktiran Rita. Jadi Ney mikir lagi buat ribut dan untungnya dessert gratis datang.


"Aku mau mint choco," kata Ney dengan nada yang gembira. Masalah dia ketahuan itu sudah dia tidak pikirkan lagi. Duduk bersama mereka berdua.


"Aku strawberry," kata Arnila.


"Saya vanila," kata Rita.

__ADS_1


Pelayan itu pergi dan membawakan pesanan, ternyata cukup besar juga dengan cone yang berbentuk mangkuk dan juga terdapat toping. Mereka bertiga menyambut dengan kedua mata yang berbinar-binar. Ney langsung memakannya seperti baru pertama kalinya melihat es krim.


Bersambung ...


__ADS_2