ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
480


__ADS_3

"Jangan suudzon ya kamu!" Hardik Ney yang tidak tahan lagi.


"Lah kan memang iya Ney," kata Arnila.


Ney kecewa pada Arnila makin kesini kok membela Rita sih? "Kok kamu membela dia terus sih? Aku tidak pernah kamu bela," kata Ney.


"Ya itu kan kenyataan. Aku sering kok bela kamu, ada kamu mengerti?" Tanya Arnila membuat Ney tidak membalas.


"Wah, serius? Ternyata benar toh," kata Rita ternyata dugaannya selama ini benar.


"Kamu tahu itu dari mana, Hah?! Sok tahu sekali," kata Ney kepanasan.


"Ada yang bilang sih kalau Ney kebiasaannya suka memutar balikkan fakta, isi kehidupannya kebanyakan bohong," balas Arnila.


"Kenapa sih Arnila jadi menyerang Ney begini? Benar mereka bukan berteman sepertinya. Apa musuh dalam baskom ya?" Pikir Rita membaca chat mereka.


"Oh ya? Seperti apa sih?" Tanya Rita yang mulai agak kurang nyaman dengan Arnila.


"Iya dia pernah cerita ke semua orang sama persis dengan cerita yang pernah kamu beritahukan ke dia. Makanya gue heran," kata Arnila membeberkan semuanya.


Ney yang membacanya hanya menganga. Dia chat privat kepada Arnila. "Lu ya buat apa sih cerita begitu ke Rita?" Tanya Ney marah.


"Biar dia tahu lu yang aslinya seperti apa," balas Arnila.


"Gue punya salah apa sih sama lu?" Tanya Ney yang agak cemas.


"Banyak Ney. BANYAK! Lu yang gembar gembor keburukan gue yang tidak gue lakuin. Sampai lu sebar kisah fitnah soal sahabat-sahabat gue dan karena lu juga mereka meninggalkan aku," kata Arnila.


Ney gemetaran tangannya jadi karena itu sekarang Arnila membeberkan soal dirinya? "Ya mereka tidak baik untuk kamu. Aku kan bisa kamu jadikan tempat bergantung," kata Ney yang agak menangis.


"Bergantung? Sama lu? Gue muak! Jangan bilang demi kebaikan gue ya. Gue tahu lu tuh seperti apa. Aku setuju dengan Rita kita lebih baik saling jaga jarak, aku juga cape baca kamu dan Rita terus bertengkar. Kamu juga sudah sering tendang aku, Ney. Sekarang sudah waktunya kita lepas," kata Arnila membuat Ney merasa lemas membacanya.

__ADS_1


"Arnila, lu lebay deh yang begitu saja dipermasalahkan," kata Ney agak tertawa.


"Bodo amat! Memang lu tuh toxic! Bodohnya aku, masih saja anggap lu ada. Next, tidak akan pernah sama lagi. Aku sudah muak sama kamu dan Rita!" Kata Arnila akhirnya keluar juga.


Ney kaget lalu dengan senyuman mengembang dia kirim kata-kata itu pada Rita. Dan bertindak kalau Arnila sudah mengatakan hal jahat.


"Rita, Arnila nyalahin aku," ketik Ney.


"Apanya?" Balas Rita.


"Dia bilang aku yang salah karena teman-temannya meninggalkan dia. Padahal memang dia kan tidak disukai grupnya makanya aku ajak dia keluar," kata Ney dengan nada sedih.


"Hah? Tidak mungkin deh kejadiannya begitu paling juga itu perbuatan kamu. Lihat kan? Memang kamu senang memutarbalikkan fakta untuk menarik perhatian orang. Amit-amit," balas Rita menohok jantungnya dari dua orang.


"Ih, kamu kok begitu sih ke aku. Tahu tidak, Arnila itu sudah muak lho sama kamu katanya semua ini gara-gara kamu. Duuh kasihan ya ternyata kamu dibenci sama Arnila," kata Ney menertawakan. Sudah pasti dalam pikirannya pasti Rita sedih.


"Syukur alhamdulillah. Aku juga muak sama kalian berdua. Terutama lebih muak sama kamu," kata Rita nyengir. "Dia pikir pasti gue bakalan nangis? Memohon supaya mereka kembali? Amit-amit," pikir Rita.


Kembali di grup dengan keterpaksaan membalas. "Artinya... sebenarnya dia tidak suka sama cerita kamu atau aku, apalagi kalau isinya soal kebahagiaan," kata Rita.


Arnila tahu pasti Ney memberitahukan soal muak nya ke Rita, dan tahu Rita muak juga ke mereka berdua. Ini menjadi pintu dari berakhirnya episode mereka nanti.


Sedikit lagi ya sedikit lagi beberapa episode lagi.


"Hah? Kenapa tuh?" Tanya Arnila yang malas juga. Tapi sedikit lagi ya sedikit lagi... sampai hasil ruqyah nanti akan menjadi pintu terakhir.


"Orang yang selalu berpikir buruk, pasti ada penyakit iri hati, dengki, lihat kebaikan orang sebaik apapun bagi dia tetap salah. Ya kan Ney?" Tanya Rita yang tidak mau lagi menahan.


Ney yang membacanya mengepalkan tangannya. dia ingin sekali melemparkan ponsel miliknya namun tidak jadi, karena akan sulit mendapatkan penggantinya.


"Kenapa dia memakai cerita kita menandakan kalau hidupnya jauh dari bahagia. Benar tidak? Jujur sajalah," kata Rita lagi.

__ADS_1


Ney langsung menutup chatnya keluar dari grup dan mematikannya. Dia kesal dan sangat marah


pada kalimat yang di ketik oleh Rita. Karena semua pemikirannya tepat sasaran itulah kenapa dia langsung mematikan ponselnya.


Dia rebahan kesal lalu berteriak-teriak, Dins sedang berada di luar rumah merokok. Padahal Rita tidak bisa membaca pikirannya tapi kenapa bisa menebak dengan jelas?


Sebenarnya Ney juga merasa aman dan damai saat dirinya di blokir oleh Rita tapi lambat laun dirinya yang memang terbiasa kepo, kembali muncul dan mengusik perkembangan Rita lagi.


"Rita, Ney bilang ya kalau aku sudah muak sama kamu?" Tanya Arnila dalam grup.


"Iya," balas Rita.


"Aku memang muak. Kamu?" Tanya Arnila mulai dingin.


"Aku sudah lama muak pada kalian bertiga. Sama sekali tidak menduga, sejahat itu kalian. Kalau kamu ada yang tidak suka, katakan jujur jangan begini," kata Rita bersandar sambil menunggu Tyas datang.


Arnila diam, seharusnya dia katakan sejak awal. Rita bisa lebih menerima daripada Ney.


"Lebih baik begini, kita saling melepaskan diri saja," kata Rita setelah beberapa saat.


"Aku setuju. Si Ney malah sudah keluar duluan," kata Arnila.


"Baguslah. Maaf ya, sepertinya tidak bisa diperbaiki lagi," kata Rita agak sedih.


"Hmmm biarlah. Kita mau bagaimana sekarang?" Tanya Arnila bingung.


"Terserah, sebentar lagi saudara aku datang," kata Rita melihat jam kamarnya.


"Kita pisah setelah hasil dari ruqyah kamu ya. Maaf selama ini aku ternyata mengecewakan kamu," kata Arnila agak sedih.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2