
"Hueeeeee gila ih gilaaa memang sih dia itu super jorok. Aku kamar berantakan juga kalau makan tetap harus semuanya serba bersihlah," kata Rita dalam kenyataannya memang kebiasaan makan atau apapun kurang bisa bersih.
"Itu mah sudah pasti wajib pula kan. Aku heran sih hidupnya bagaimana kalau nanti menikah punya anak. Sekarang saja dia lebih mementingkan dirinya sendiri, mending mementingkannya soal kerapihan lah ini nol sekali," kata Arnila.
"Kita sudah sebisa mungkin ya memberitahu dia malah dianggap sok ikut campur. Heran sekali masih saja tidak sadar," kata Rita.
"Ah ya tidak akan jauh kalau sekarang dia belajar menjaga kebersihan badannya atau sekitar. Kasihan nanti yang jadi anaknya," kata Arnila kepikiran.
"Kita sudah batasnya jadi babysitternya dia, dibayar tidak, sendirinya mau dihargai tapi tidak bisa menghargai saran kita. Yo weslah," kata Rita baginya sudah cukup memberikan banyak saran tapi tidak didengarkan.
"Iya juga ya. Aku pernah titip cokelat ke dia eh malah gepeng terus mencair. Aku bingung kok bisa tapu memang gepeng, Rita. Ternyata kata dia tidak sengaja di duduk," kata Arnila kesal.
"Wahahaha aneh sekali. Aku tidak pernah meminta bahkan sampai menitip apapun ke dia. Curiga tidak kalau sengaja?" Tanya Rita.
"Memang. Karena masalahnya disekitarnya itu tidak ada bangku untuk duduk Rita, dan aku ke toilet masa bawa makanan? Aku jelaskan cokelat itu titipan keponakan bukan untuk aku. Aku marah sekali waktu dia cuma bilang 'Suruh siapa titip ke aku.," kata Arnila.
Rita ketawa keras. "Oh, jadi itu sebabnya kalian off juga?" Tanya Rita.
"Tidak juga sih banyak faktor dan kasus hehe banyak! Bukan hanya soal cokelat dia itu banyak mengecewakan orang yang dekat dengannya. Yah kamu saja pasti sudah sering merasakannya kan," kata Arnila.
"Ho oh ya iyalah. Lalu?" Tanya Rita.
Tanpa mereka sadari ya, Arnila tahu kalau Ney sedang memperhatikan mereka berdua. Dia juga kesal Arnila memberitahukan semua kisah mereka apalagi kebanyakan memang soal minusnya.
"Aku cerita ke teman-teman aku mereka heran kok aku masih mau sih menerima dia. Ney kan dibilang anak kampung, Rita. Yah, di sisi lain memang aku banyak sakit hatinya sama dia," kata Arnila.
"Ya kasih tahu kek ke Ney kan situ lebih dekat sama dia," kata Rita.
"Sudah sampai aku menangis juga ya begitu saja. Memang tidak ada hati, minus perasaan bisanya hanya sama laki-laki saja. Makanya kalau teman perempuan hampir sama sekali tidak ada," kata Arnila.
"Kalau soal dia yang hidupnya berantakan tahu sih tapi kalau sampai makanan apalagi untuk orang lain, aslinya aku sama sekali tidak tahu kalau dia sampai begitu. Aku lihat dari dia membawa masakan tahun lalu, itu aku kaget sekali," kata Rita.
"Orang lain kalau bekal makanan yang mering dan basah kan dipisahkan ya," kata Arnila sambil memakan makanan.
"Orang lain bisa lihat keadaan wafernya? Mistis jangan-jangan," kata Rita.
"Semuanya bisa lihat itu penampakan wafer. Mereka kan jauh-jauh duduknya sama sekali tidak mau berdekatan sama Ney. Kamu pasti tahu juga kebiasaan dia yang suka ambil makanan orang?" Tanya Arnila.
Soal itu sih dirinya sering jadi korban 🤣🤣 beli apapun, Ney nyomot bahkan sampai habis. Rita jadi malas sekali kalau kemana-mana dengan dirinya lebih baik sendirian. Ney sering sekali mengajaknya main tapi Rita selalu beralasan kalau soal datang ke rumahnya sih mana mungkin.
"Rumah kamu jauh sih lebih baik ke rumah aku saja," itulah kalimat yang selalu dia lontarkan tapi Rita tidak pernah lagi datang ke rumahnya sampai dia kini kuliah dan bekerja.
"Tahulaaah kan aku salah satu korbannya hahaha dia sampai menghabiskan kentang goreng yang aku beli. Sampai aku dibilang pelit seperti waktu itu," kata Rita mengingatkan perihal cokelat.
"Ya ya ya aku juga mengalami itu kok Rita, terang-terangan dengan suara yang keras. Itu sengaja supaya dia dibela banyak orang," kata Arnila.
"Terus kita dianggap teman yang jahat ke dia kan? Tapi aku lihat dia jutek terus jalan sendiri sambil aku bilang, "Kenapa kamu tidak beli malah mengemis minta mulu," sudahnya aku pergi saja," kata Rita tertawa.
"Hahaha memang kamu begitu ya. Memang sudah dari dulu begitu Rita, kurang adanya rasa malu padahal waktu kecilnya tidak begitu," kata Arnila yang melihat masa lalunya. Ney berubah semenjak keluarganya jatuh semua sekitarannya mulai menginjaknya termasuk teman dekatnya.
"Hmmmm pasti ada trauma yang buat dia tidak mempercayai teman lagi. Yah terserahlah. Aku jadi jarang main saja pas kenal Alex, baru deh maksudnya kamu tahu kan kenapa," kata Rita.
__ADS_1
"Iya. Eh, aku heran bukannya kamu sudah blok dia waktu SMA, kenapa sekarang kalian chat lagi?" Tanya Arnila.
"Oh nah itu aku juga heran tiba-tiba sudah ada lagi saja di dalam akunku. Memang sih aku jarang periksa siapa yang sudah aku keluarkan," kata Rita menyadari sejak lama.
"Ya benar ya kita yang menjauh, dia juha yang datang terus. Dia banyak memberi sih tapi tidak pernah aku makan atau pakai selalu aku buang," kata Arnila.
"Iya ya kamu kan bisa lihat dia bagaimana dan sisi mistisnya. Kalau aku alhamdulillah ya jarang dikasih dia barang atau makanan lagi, selintas aki merasa 'Kok Arnila sering ditraktir tapi ke aku tidak.' Begitu," kata Rita.
"Oh! Iya ya dia belum pernah traktir kamu sama sekali, kalau aku sering sih tapi ya begitu hasilnya. Kalau kata aku sih jangan iri karena ujungnya tidak enak Rita. Aku kan bisa lihat banget," kata Arnila senyum.
"Iya ya.. kalau aku sih tidak minat bisa lihat begituan. Lihat bayangan bukan punya aku saja sudah histeris. Ibu kamu tidak marah?" Tanya Rita.
"Justru itu saran dari ibuku jangan dimakan jangan disimpan kalau barang, baca doa duku takutnya dia pasang sesuatu. Kalau makanan selalu basi Rita padahal dia bilang baru beli dan makanannya terbungkus rapi," kata Arnila.
"Ih seram ya. Tangannya tidak amanah mungkin dia banyak berbuat sesuatu. Aku juga heran sepertinya dia banyak tidak ikhlas kalau memberi sesuatu pada orang," kata Rita agak merinding.
"Bisa jadi. Oh iya masakan kamu keluarga aku suka dan Imron bilang lezat!" Kata Arnila dalam grupnya.
"Wah, Syukurlah! Alhamdulillah, Keasinan tidak?" Tanya Rita yang juga berpindah.
Ney yang memang dimasukkan lagi tentu saja membacanya sambil marah. Tapi setelah tahu temanya berganti dia bergabung lagi. Tentu dengan kebiasaannya yang memancing emosi.
"Wah, kamu tidak apa-apa, Arnila suami kamu memuji masakan perempuan lain?" Tanya Ney dengan sinis karena keluarganya pun menyukai masakan Rita.
"Cukup uenaaakkk katanya karena masakan kamu penuh cinta. Cieeee kalau Alex bagaimana?" Tanya Arnila tidak memperdulikan Ney.
"Hahahaha masakan supaya enak kan bumbunya penuh cinta dan ikhlas. Cinta itu bukan artinya buat suami kamu ya tapi semua orang," jelas Rita takutnya Arnila salah paham.
"Ya enak juga masakan kamu, Rita. Asyik ya banyak yang memuji," kata Ney.
"Alhamdulillah tidak sia-sia ya belajar masak," kata Rita tumben Ney mau jujur.
"Kamu masih jualan?" Tanya Arnila.
"Sudah tidak," kata Rita.
"Lho, kenapa? Laku keras kan?" Tanya Ney.
"Iya, kan aku sekarang mulai bekerja di luar rumah lagi. Dan yah, sudah banyak stand yang menjual dengan menu sama denganku. Jadi biarlah bagi rejeki," kata Rita.
"Bagus tuh! Jangan serakah ya lalu adik kamu kecewa dong," kata Arnila.
"Kan dia juga sedang magang kerja jadi memang yah, sudah dulu saat ini. Kamu bagaimana sudah dapat pekerjaan Ney?" Tanya Rita dengan biasa.
"Apa urusan kamu sih?" Tanya Ney.
"Dih, hanya nanya. Biasa saja keleees," jawab Rita keki.
Setelah itu Ney mematikan ponselnya dan memilih untuk tidur beberapa jam.
"Biarkan saja Rita, maklum baru kena pecat lagi dengan kebiasaan yang sama," jelas Arnila.
__ADS_1
"Ya ampun," kata Rita menepuk dahinya.
"Aku mau nanya nih," kata Arnila.
"Ya silakan pakai ijin segala," kata Rita tertawa.
"Kamu selalu merasa tidak kalau Ney memandang kamu agak berbeda? Bukan Friendly, yah banyak sih yang aku pikir agak aneh. Dia sering traktir aku, kasih barang makanan tapi dia tidak pernah kasih apapun ke kamu. Tapi dia ingin kamu sebut dia sebagai Sahabat," kata Arnila mengungkapkan.
"Tahulah, aku juga merasa aneh saat kamu banyak cerita soalnya dia ke aku tidak begitu. Sangat tertutup, apa karena merasa tidak pede sama aku atau bagaimana," kata Rita.
Arnila mengungkapkan memang Rita peka dengan sesama perempuan tapi dengan lelaki tidak. Kasihan juga Alex.
"Oke jadi kamu tahu ya aku kira kamu juga tidak peka soal yang satu itu. Lalu ada yang lain juga Rita. Kalau yang ini aku yakin kamu tidak tahu," kata Arnila.
"Nah apa tuh," kata Rita merasa sekarang obrolannya ke arah serius.
"Pancaran wajah Ney itu berubah menjadi berbahaya saat kamu waktu itu bilang tingkatan spirit kita berbeda, tertangkap tidak sama kamu kalau Ney memandang mau berbuat jahat. Tampak dia mengira kamu mau membuatnya jatuh," kata Arnila.
"Kita telepon deh ya supaya lebih jelas lagi. Kamu kan selalu bilang kalau Ney selalu tahu kita bicara apa," kata Rita.
"Tenang saja mertuaku sudah pasang pagar pelindung jadi mulai sekarang dia tidak akan tahu kita bicara apa. Dan dia juga sedang tidur, tandanya energi dia habis," kata Arnila menenangkan.
"Aku tidak tahu tapi memang terasa wajahnya agak bete," kata Rita meneruskan balasan tadi.
"Dia mau mengirim sesuatu tapi tidak bisa dilakukan makanya dia menatap kamu dengan sengit itu karena yang dia kirim gagal terus," kata Arnila mencari tahu apakah Rita menangkapnya atau tidak.
"Kok bisa? Kenapa tuh?" Tanya Rita.
Tebakan Arnila benar kalau Rita sama sekali tidak bisa melihatnya. Padahal jelas Arnila melihat cahaya hitam menuju arah Rita berada kala itu tapi anehnya berkali-kali dikirim, mereka memantul tidak bisa memasuki raganya.
"Kamu memang tidak tahu ya? Ada Alex di sisi kamu. Tidak bisa merasakannya?" Tanya Arnila.
"Hah? Hahahaha kalau datang pasti tahu," kata Rita tertawa.
"Ya tandanya memangnya kamu tidak tahuuu. Itu kalau dia datang secara fisik, Rita. Ini berbeda. Alex ada cerita dia bisa melakukan Astral Projection?" Tanya Arnila.
"Iya dia pernah cerita," kata Rita.
"Kamu percaya?" Tanya Arnila.
"Ya memang itu ada kan tapi kalau prakteknya entahlah. Belum pernah mengalami," kata Rita.
Arnila tepuk dahi. "Ya ampun, kamu tidak sadar kamu pernah cerita setiap tidur selalu bermimpi yang keren. Nah kadang kamu juga tiba di alam yang terdapat pintu besar. Ingat?" Tanya Arnila.
"Iya memang. Terus?" Tanya Rita
"Itu artinya kamu bisa astral Projection, Rita. Terus tidak semua orang bisa karena Astral ini membutuhkan lebih banyak energi. Saat kamu melakukannya merasa lelah atau lemas tidak?" Tanya Arnila.
"Ohhh itu Astral. Tidak lelah sama sekali biasanya saja namanya juga mimpi," kata Rita sekali lagi Arnila menghela nafas.
"Rita benar-benar tidak tahu arti astral itu apa sebenarnya. Lucu juga," pikir Arnila yang tertawa keras begitu juga Alex yang berada di sisinya.
__ADS_1
Bersambung ...