ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(92)


__ADS_3

"Kalau aku sih tidak selengkap itu puasa Senin Kamis atau puasa untuk bayar Ramadhan sebelumnya," Jawab Rita, dia lupa kalau untuk tahun dia hutang puasanya masih tersisa 5 hari hahahaha..


"Sudah lunas?"


"Belum hehehehe," jawabnya malu sekali.


"Kamu sendiri bagaimana, Ney?" Tanya Arnila. Kalau Ney, entah ya apa dia benar - benar puasa atau hanya setengah hari. Habisnya dia jauh dari buku panduannya sendiri soal ilmu apapun yang berhubungan agama sepertinya hampir nol.


"Kadang - kadang puasa sih kalau ingat saja," ya kalau begitu soal hutang puasa juga mungkin tidak pernah dibayar karena dia orangnya gampang tergoda nafsu.


"Syukurlah ada yang lebih parah dari aku," Rita merasa senang tahu tetap saja jelek.


"Huh!" Jawab Ney sebal.


"Bukan jadi kebanggan juga, Ri. Aku juga tidak lengkap paling senin kamis sama puasa daud saja. Alex bagaimana, Rita?" Arnila bertanya.


"Hahahaha Alex sih lebih mustahil lagi begajulan begitu mana mungkin dia rajin sholat sampai puasa. Aku yakin sholat juga lebih jarang dia kan lebih suka pesta," Ney yakin.


"Eh kata siapa? Dia hafal lho nama - nama surat Al Qur'an sama ayat - ayatnya. Sholatnya Alhamdulillah rajin banget! Itu dia selalu mengingatkan sholat terus ke aku. Bagus kan semoga benar - benar dia anaknya Sholeh ya bukan pencitraan saja," kata Rita yang pastinya berbangga bahwa Alex sekalipun begajulan tapi selalu sholat.


"Hah!? Serius!?" Arnila dan Ney super kaget tidak menyangka soal itu. Yah, Alex sangat Sholeh sebenarnya hanya keadaan sesuatu yang membuatnya menjadi begajulan.


"Menurut kamu bagaimana, Ney?" Tanya Arnila pada Ney. Rita bertanya - tanya kenapa Arnila selalu menanyakan segalanya pada Ney ya? Padahal sudah tahu kalau apapun itu masalahnya, pendapat Ney selalu terbalik dengan manusia yang normal. Seperti Arnila punya masalah dengan pendapatnya sendiri atau... ya atau hanya ingin Ney mengeluarkan pendapatnya agar merasa dipedulikan. Toh Arnila lebih tahu mengenai Ney.


"Masa sih! Mustahil banget! Memangnya kamu pernah bertanya?" Tanya Ney yang masih tidak percaya. Ya mana ada juga sih yang percaya.


"Aku pernah bertanya sama dia dan memberikan ayat, dia bisa tahu itu surat apa dan ayat berapa, ada berapa jumlahnya. Sampai dia bisa membaca Al Qur'an gundul! Yang aku saja susah buat membacanya. Meski wallahu alam ya kan kita tidak bertatap muka nih mungkin dia mencari tahu dengan cepat lewat Gugel," Rita terpikir cara itu sih tapi masa bisa secepat kilat? Ya Positif Thinking saja deh kali bener.


"Kamu curiga? Kamu tes juga? Lebih baik banyak bertanya saja," kata Ney pastiiii ingin tahu lebih banyak soal Alex kenapa dia yang jadi lebih tertarik ya?


"Tidak perlu. Aku tahu dia siapa di sisi lainnya," kata Rita yang sudah yakin dengan pemikirannya.

__ADS_1


"Serius!?" Ney kaget lagi. Baginya Rita tidak mungkin punya kemampuan istilah orang lain apalagi Alex. Dia tidak punya sumber tapi kenapa sepertinya Rita selalu bisa tahu entah bagaimana caranya. Ney tidak terpikir apakah insting Rita lebih tajam darinya? Namun Rita sama sekali tidak pernah membicarakannya.


"Memangnya dia siapa?" Tanya Arnila yang juga penasaran. Karena Arnila sendiri tahu dengan melihat Rita sebenarnya dia punya firasat kalau Rita memiliki kemampuan yang melebihi dari kemampuan Arnila dan Ney, Rita tidak bisa diremehkan begitu saja.


"Haafizh," jawab Rita singkat.


"Wah! Bagaimana bisa kamu tahu, Ri? Dia pasti tidak pernah bilang kan? Dan tidak mungkin kamu juga memancingnya karena kamu tidak suka memancing orang," kata Ney. Bagaimana bisa Rita bisa tahu, hanya aku yang tahu sisi lain Alex itu siapa. Dan aku baru mau mengatakannya. Kenapa harus Rita duluan! Bagaimana?! Pikir Ney yang kesal sambil menggigit jari - jarinya. Dia harus memikirkan rencana lain lagi.


"Urusannya lebih parah kalau Haafizh," kata Arnila.


"Dia juga seorang Tahfidz," kata Rita lagi mengingat apa yang pernah terjadi.


Cerita lengkapnya soal ini sengaja disingkat saja karena Authornya sulit menuliskan bahasa Arab alias tidak ada keyboardnya dan Author juga lemah dalam menulis Arabian. Daripada salah jadi dilewatkan sebagai ingatan saja.


"Aku tahu karena sudah terlihat dari bagaimana dia membaca eh menuliskan isi dari Al Qur'an gundul dengan tepat. Tentunya aku yang melihatnya dari net lalu dia mengetikkannya secara cepat dan itu semua benar!" kata Rita dengan penuh kekaguman pada diri Alex.


"Iya, dia memang Haafizh kok tapi aku baru tahu kalau dia tafidzh juga," kata Ney. Ya ya ya...


"Huehehehehehe. Pastinya, di kamarnya pasti banyak buku tuh," Rita membayangkannya. Karena dia pasti melahap semua ilmu agama sedari kecil hebatnya itu masih tertempel kental dalam otaknya.


"Kamu lebih suka baca buku daripada baca lelaki ya, Rita. Bagus itu bisa menambah wawasan," kata Arnila. Dia the best banget deh sebagai orang yang Rita kenal beda dengan satunya.


"Aku kan pernah bilang kalau diskusi soal beginian lebih enak dengan Alex soalnya dia kental banget tahu semua. Nanti aku mau coba tanyakan soal tahajud. Benar tidak sih kalau tahajud boleh dilakukan tanpa sholat wajib? yang aku tahu sih harus seimbang supaya ketahanan pengabulannya bisa awet selamanya," ucap Rita sambil melihat chat dari Alex yang masih belum dibalas. Sedang bekerja lebih baik tidak diganggu, kalau di chat terus bisa - bisa dia ngamuk.


"Iya coba saja tanyakan kalau dia Haafizh sih sudah bisa dipastikan keasliannya," kata Arnila yang berpikir Alex bukan orang sembarangan banget. Masih ada yang misterius mengenai dirinya tapi nanti Rita pasti mengetahuinya.


"Hahahaha kebayang ya kalau kami terus mengejar Alex, Ney," Rita tertawa memikirkannya. Pasti Ney salah jurusan kalau terus mengejar Alex yang ternyata Haafizh.


Tahfidzh dengan Haafizh itu berbeda ya. Tahfidzh itu sebutan bagi yang menghafal Al Qur'an sebagai proses pengulangan suatu pelajaran, baik dengan membaca maupun mendengar. Definisinya sendiri hampir sama yaitu proses menghafal Al Qur'an baik dengan cara membaca maupun mendengarkannya secara berulang - ulang sampai hafal sehingga setiap ayat mampu dibaca tanpa melihat mushaf.


Sedangkan Haafizh adalah sebuah panggilan bagi seseorang yang dapat menghafal Al Qur'an. Istilah ini diberikan kepada seseorang yang menghafal Al Qur'an, tetapi pada masa dahulu, Haafizh diberikan kepada orang - orang yang dapat menghafal hadis. Memang sangat istimewa sekali orang itu.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Ney yang penasaran dengan kata - kata Rita, mau apalagi dia.


"Bisa tobat dalam sehari kamu!" kata Rita.


"Bukannya bagus, Ri? Kangan - Jangan kamu cemburu?" Tanya Arnila yang usil.


"Maaf ya Alhamdulillah justru Arnila supaya dia bisa punya rasa empati dengan orang lain eh tapi Alex juga kurang empati sih. Tidak cocok! Kalau kalian jodoh entah ya, hancur tidak sih? Doanya Alex mantap kalau dia benar - benar baik doanya," Rita yang sibuk berpikir ke arah itu.


"Khodamnya kabur berarti," kata Ney entah kecewa atau bagaimana.


"Ya bagus dong biar lebih manusiawi dia. Biar tahu rasanya hidup tanpa jin jun apalagi itu sepertinya yang membuat kamu jadi kafir selama ini," ada alasannya Rita berkata begitu. Kalian yang membaca novel ini pasti sudah tahu jawabannya. Ney terlalu mengagungkan kemampuannya yang bisa melihat "hal" lain dan tampak bangga dengan jin yang dia miliki.


"Udah deh! Ngomongin aku terus! Tidak ada bosan - bosannya!" Kata Ney yang sudah tidak bisa menahan lagi.


"Seperti kamu yang selalu membicarakan soal Alex," kata Arnila membuat Ney mendelik. Itu dalam perkiraan Rita ya


"Besok kita ketemuan saja yuk! Sudah lama juga kan keburu Arnila ke Jakarta juga," kata Rita lebih baik bertemu daripada chat di WA.


"Aku lagi di Jakarta nih! Bagaimana kalau minggu depan saja?" Pinta Arnila. Oh, ternyata sudah di Jakarta wah cepat juga ya pasti Imron sudah tidak sabar.


"Boleh deh! Tugasku kelar juga, minggu depan aku libur mengajar, kelasku mau dipakai rapat. Nanti bertemu kamu harus mandi ya jangan asal guyur air doang!" Kata Rita galak.


"Kenapa sih? Kan yang penting tidak bau," balas Ney.


"Memang kamu tidak sadar? Waktu kita ketemu, kamu pakai make up tebal juga itu tahi mata numpuk di sudut? Heran bagaimana sih cara kamu mandi selama ini?" Membuat Arnila terkejut begitu juga Ney. Masa iya sih Rita sebegitu detailnya? Arnila tidak menyangka dan hanya tertawa.


"Hah!? Buat apa kamu merhatiin itu segala!?" Ney terkejut karena menurutnya Rita sama sekali bukan perempuan yang terlalu peduli penampilan orang. Tapi sekarang dia tahu salah.


"Semua orang juga lihat kali. Makanya mereka berbisik - bisik dan menertawakan kita. Padahal kamu bawa cermin, aku juga kok bisa sampai tidak terlihat? Harusnya kan kamu otomatis membersihkannya!" Aneh asli da. Perempuan yang pintar merawat diri, tahi mata sekecil pun pasti kelihatan. Dia tidak, yah bisa dibedakan ya.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2