ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(274)


__ADS_3

"Lu kan sahabat gue. Tolongin gue dong!" Pinta Ney pada Arnila.


"Heh! Kalau ada masalah pelik seperti ini lu bisa - bisanya bilang gie sahabat. Lu lupa, bilang apa di grup di depan Rita? Nih gue masih ada ya kata - kata lu di grup," kata Arnila yang langsung mengirimkan apa yang pernah Ney ucapkan kepadanya. 'Dia pikir aku akan lupa apa!? Benar kata Rita kalau Ney ini memiliki masalah kejiwaan yang dia tidak sadari. Pelupa? Entahlah sekalinya memang pelupa mana ada sampai semuanya dilupakan?


Ney membaca ucapannya sendiri waktu itu dan dia terdiam. Apalagi banyak sekali pernyataannya waktu itu yang membuat Arnila terluka, Ney bingung bagaimana caranya agar semuanya kembali ke urutan biasa.


"Ya sudahlah kita lupakan saja ya soal aku bilang begitu. Aku perlu bantuan kamu!" Kata Ney yang menurutnya Arnila sangat memiliki kebaikan untuk memaafkannya.


"HEH! Enak saja melupakan. Mudah ya bagi kamu melupakan, tapi tidak bagiku. Maaf ya aku sibuk, kamu pikirkan saja deh solusinya sendiri sudah saatnya kamu memikirkan masalahmu sendiri tanpa bantuan siapapun! Kamu ingat saja niat jahat selalu ada balasannya! Kalau kamu memang mau menolong Rita jangan pernah mengharapkan untung atau balas budi!" Itulah chat Arnila yang terakhir. Saat itu Arnila sedang berada di kantor surat undangan, dia juga sudah selesai menamai undangan untuk Rita dan Ney.


Lalu berpindah kepada Dins yang langsung menelepon Ney. Disini Author tidak akan menampilkan apa yang mereka bicarakan tapi apa yang diucapkan Dins pada Ney benar - benar sangat kasar. Membuat Ney menangis terisak - isak dan tentu saja membela diri. Intinya sama dengan Arnila, Dins sama sekali keheranan dengan yang dilakukan oleh kekasihnya itu. Arnila menceritakan semuanya pada Dins, lalu apa yang terjadi pada Rita yang memang jarang bermain lagi dengan Ney. Dins sangat luar biasa marah, dia tidak habis pikir betapa teganya Ney melakukan itu pada Rita yang selalu berlaku baik kepadanya. Disitulah Ney baru menangis setelah dimarahi sampai dikatai sesuatu oleh Dins.


"Kamu sekarang dimana? Aku jemput pulang." Kata Dins mengakhiri chatnya.


"Aku tidak apa - apa, aku bisa pulang sendiri," kata Ney yang tersedu - sedu.


Tapi Dins akhirnya men chat Rita dan Rita memberitahukannya bagaimanapun Ney harus pulang saja!


"Tolong ya Dins, lu ajak si Ney pulang gih. Teman - temanku sudah tidak mau lihat muka dia termasuk aku. Memangnya masih terasa enak dia sudah hina aku di depan semua temanku?" Tanya Rita chat dengan Dins.


"Iya iya tenang saja. Aku akan bawa dia pulang setelahnya, lebih baik kamu tolak saja kalau dia ajak kamu ke mana - mana lagi. Memang lebih baik jangan terlalu dekat. Terima kasih ya, Ri dan maaf." Kata Dins mengakhiri chatnya.


15 menit akhirnya Dins datang sambil membawa jus buah dan tepat seperti yang dikatakan Rita, Ney masih ada di tempatnya. Dia seperti sedang merasa senang, bernyanyi senandung sambil entah membaca atau mengirimkan sesuatu. Itu juga akan diketahui oleh Dins setelahnya. Dins menggelengkan kepalanya dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa tertarik pada Ney berlebihan. Apa dia benar terkena santet? Melihat Ney seperti bidadari padahal iblis.


"Hei," kata Dins sambil menempelkan jus biah pada pipi kanan Ney.


Ney otomatis terkejut dan menyembunyikan ponselnya, sekilas Dins melihat dia tengah membaca sesuatu dari balasan seseorang. "D...Dins! Lu kok tahu gue disini? Aku kan sudah bilang bisa pulang sendiri!" Kata Ney yang bergelagapan menjawabnya. Tentu saja dia menyambut jus buah yang diberikan oleh Dins.


"Aku tanya Rita kamu dimana dan dia memberitahuku kamu masih disini. Katanya mau pulang? Masih mau buat masalah lain lagi? Yang aku lihat kamu sama sekali tidak menyesal," kata Dins yang langsung duduk dekat Ney.


Ney tidak menjawab dan menyedot jus itu dengan diam. Jusnya masih dingin tampak baru dibeli oleh Dins lalu Ney mengompresnya untuk pipi kanannya. Sudah tidak sakit lagi sih tapi itu membuatnya untuk meng-rem agar tidak terlalu membuat Diana kesal padanya dan masih saja mencari cara untuk bisa lebih dekat dengannya. Kalau sudah dekat, dia akrab membalas perlakuan Diana kepadanya itu.

__ADS_1


"Kamu sedang chat apa dan sedang baca apa?" Tanya Dins sambil penasaran.


"Tidak dengan siapa - siapa. Hanya teman kok," katanya yang kemudian memasukkan ponselnya ke saku tasnya.


Dins terus menatap ponsel Ney, dia akan merebutnya nanti kalau keadaan sudah normal. "Kamu buat apa sih mengatakan hal yang tidak penting kepada temannya Rita? Sebelum kamu tahu aku yakin mereka sudah tahu duluan jadi kamu tidak perlu merasa menjadi pahlawan deh! Kamu tidak suka Rita ya sudah pergi saja sama teman - teman pamer kamu. Kenapa kamu malah masih bertahan dengan Rita? Rita saja tidak peduli kamu mau bagaimana," kata Dins ke arah Ney.


"Aku kan masih perduli sama dia makanya masih memaksa ada," kata Ney yang memainkan jusnya.


"Kamu tidak ada kepedulian terhadap Rita, aku tahu itu. Kalau perduli, seharusnya kamu menyimpan aib atau jeleknya Rita dan terus mendukung dia. Ya tidak salah juga sih kalau teman - temannya berbuat begitu sama kamu," kata Dins yang menatap heran pada Ney.


"Kamu kenapa sih malah mendukung? Aku itu sudah banyak perjuangan dan pengorbanan buat Rita!" Kata Ney.


"Coba katakan perjuangan dan pengorbanan kamu buat Rita apa saja selain kamu sengaja membully dia?" Tanya Dins yang sekaligus menantang. Selama ini Dins jarang mendengar cerita dari Ney atau Arnila soal Rita.


Ney diam dia terlihat berpikir tapi lebih lagi mencari topik lain. "Aku mengatakan sifat Rita yang sebenarnya kok ke orang yang suka sama dia,"


"Oh ya, lalu orang itu bagaimana perlakuannya pada Rita setelah kamu beritahu?" Tanya Dins lagi menguji Ney.


"Dia juga sama membully Rita jadi bukan hanya aku saja," kata Ney dengan tatapan manja pada Dins.


"Tapi..." kata Ney.


"PIKIR!!!" Dins mendorong dahi Ney dengan kejam sampai Ney merasa sakit. "Lu punya otak itu diharuskan digunakan mikir! Teman macam apa lu kasih tahu orang yang baru lu kenal, Rita ini itu kalau lu mau menghindari masalah lu tinggal bilang sama tuh orang, "Lu kenal sama Rita lebih lama juga akan tahu Rita bagaimana". Astaga! Sia - sia Tuhan lu kasih lu otak!"


Ney mengeluarkan air mata lagi, dia memang kurang dipakai otaknya untuk berpikir semudah itu. Dia memang hanya mengandalkan dugaannya sama yang berpikir Rita akan mengerti soal perjuangannya selama ini. "Gue cari informasi juga buat Rita! Itu perjuangan gue!!" Teriak Ney sembari menangis.


"Itu bukan buat Rita. Gue sudah lama dengan lu! Lu tertarik dengan lelaki itu bahkan pernah sampai pacaran juga kan tapi akhirnya putus karena lu sendiri tidak bisa memegang janji. Iya itulah kamu! Informasi itu buat lu sendiri! Agar saat Rita jadi, Rita merasa hutang budi dan kamu bisa meminta banyak hal dari dia. NGAKU!! Lu kira Rita bodoh? HAH!? Dia itu lebih cerdas dari kamu! Kamu benar - benar meremehkan dia selama ini," kata Dins.


"Tidak kok Rita itu sama sekali tidak mandiri! Dia selalu kesepian, aku yang paling tahu soal dia. Temannya yang sekarang juga bukan teman aslinya dia," kata Ney.


"Kamu tuh... cara kamu selama ini salah banget! Ingin Rita sadar pada sifatnya yang jelek, tapi malah membuat kamu yang kena. Ney, Rita itu bukan teman yang pantas buat kamu. Kalian berdua terlalu jomplang berbedanya, kamu lebih suka hal berbau mewah tapi beda dengan Rita. Dia lembut, kamu keras. Soal teman, aku beberapa kali pernah lihat dia jalan dengan teman yang berbeda menurutku yang kesepian itu sebenarnya kamu," kata Dins yang mengusap dahinya Ney dengan lembut.

__ADS_1


Ney merasa nyaman tapi mendengar itu, dia tidak bisa menerima. "Teman yang berbeda? Serius?"


Dins menganggukkan kepalanya. "Rita punya banyak teman dari yang kamu bayangkan. Kalau memang kesepian harusnya selama kamu bergaul dengan siapapun, dia datang menemui kamu kan atau menyapa kamu apapun caranya dia lakukan untuk mendapatkan perhatian kamu. Sama seperti yang kamu lakukan tapi hanya berbeda di tujuan saja. Kamu pernah kan setahun kosong sama dia, apa pernah Rita mencari kamu? Tidak kan. Karena dia punya teman sendiri," kata Dins yang ingin Ney lebih sadar.


Ney menggigiti jarinya lalu Dins mengenggam tangannya agar Ney berhenti melakukan itu. "Aku sudah bilang, berhenti melakukan kebiasaan menggigiti kuku. Itu membuat kuku kamu pendek! Lihat!"


Dins sebenarnya sangat perhatian dan sayang juga pada Ney tapi dia sendiri juga merasa aneh kenapa bisa tertarik kepadanya. Kalau dilihat fisik, wanita diluar sana lebih menarik dan tentunya Ney bukan tipe perempuan kesukaan Dins. Tapi dia tidak bisa jauh dari Ney bukan karena jatuh cinta tapi ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Masa iya Ney benar iblis? Manusia yang menggunakan benda gaib untuk menggapai Dins? Sebisa mungkin Dins memang menjauhi siapapun dari Ney bukan karena protektif atau posesif tapi karena Dins tahu ada sesuatu yang salah pada kekasihnya itu.


"Maaf, kelihatannya sulit aku tidak melakukannya," kata Ney yang melihat kukunya sudah sangat pendek.


"Sekarang jelaskan siapa Alex? Arnila cerita soal dia, kamu suka dia?" Tanya Dins membuat Ney kaget.


"Hmmm... tadinya...." kata Ney agak takut sambil melihat ke arah Dins.


"Mau rebut dari Rita juga? Kamu sadar diri dong! Alex sama sekali tidak suka kamu bahkan dia mau karena terpaksa dan menguji kamu juga! Awalnya pasti mau buat Rita panas ya ternyata tidak ada efek! Kalau kamu benar mengakui paling dekat dengan Rita, pahami perasaannya dan jaga perasaan dia. Seberapa sakitnya kamu yang selalu memanasi dan menguji dia, bukan malah sekarang membuat dia jauh dari kamu!" Kata Dins pada Ney.


Ney terdiam mendengarnya sesuai tepat uang dikatakan oleh Dins. Memang ingin menguji dan membuat panas Rita ternyata semuanya salah! Menjadikannya semakin jauh dari dirinya dan Ney pun semakin tidak mengerti, apalagi sampai membuat Rita menangis terang - terangan di hadapannya dulu lalu Diana juga yang tidak menerima perlakuannya pada Rita.


"Menurut gue sih si Ney dekat sama Rita karena pamor doang Dins bukan tulus teman," kata Arnila yang ternyata ponsel Ney tidak sengaja menekan nomor Arnila. Dan semenjak tadi juga sudah on dan mendengarkan apa kata Dins.


Ney kemudian mengambil ponselnya dan benar saja ponselnya menghubungi Arnila. Dia kaget juga kalau Arnila pasti sudah mendengarkan semuanya. Ponselnya langsung direbut oleh Dins dan kesempatan untuk membaca apa yang baru dia baca.


"Tidak benar jangan dengarkan Arnila, Dins. Dia itu iri sama aku karena kalau Rita jadi sama Alex kan aku yang paling sering disorot bukan dia," jelas Ney pada kekasihnya.


"Tadi dia memohon - mohon dong Dins supaya aku bantu dia karena sahabatnya Rita nampar dia. Sama gue saja dia bilang begitu, lihat kan aslinya calon istri lu. Lu yakin masih mau menikah sama dia? Kalau kata aku sih lebih baik lu sama Mona, dia normal lho! Apalagi kalau kemana - mana lu tidak akan dibuat malu deh," kata Arnila yang sudah kesal dan kebal juga dan dia sudah akan melawan Ney juga.


"Mona? Siapa Mona? Kamu selingkuh? Kamu mau menikah sama dia?" Ney banyak bertanya pada Dins yang memijat - mijat dahinya.


"Kalau kamu masih seperti ini ya aku lebih baik menikahi Mona. Dia tampilannya sama seperti Rita, suka perawatan kulit, tutur kata baik, perilakunya juga tidak murahan," kata Dins, dia menunjukkan foto Mona yang ternyata sangat cantik lebih dari Rita hanya bedanya Nona tidak memakai kerudung tapi sangat ayu wajahnya.


Ney tampak ketakutan kalau benar Dins memilih menikahi perempuan itu. Dia menangis didepannya. "Jangan tinggalin gue, Rita dan Arnila mereka mau meninggalkan aku masa kamu juga? Aku akan berusaha berubah buat kamu. Serius!"

__ADS_1


"Sudah berapa kali ya kamu bilang begitu? Nyatanya masih sama saja, contoh sederhananya kebiasaan kamu ini. Mana bisa aku pamer ke teman - temanku kalau kamu tidak memiliki kuku? Jadi seorang teman pun kamu parah total! Rita yang aku lihat tulus sama kamu, kamu malah memanfaatkan perasaan dia? Ya Tuhan! Seperti itukah selama ini kamu memperlakukan Rita? Pantas dia jarang lagi datang kerumah kamu! Sudah! Kita ke psikiater!" Ajak Dins sambil menyeret Ney.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2