ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
419


__ADS_3

"Aduh, kamu tidak mengerti ya soal Astral. Yah, memang lebih baik tidak perlu tahu sih tapi kamu bisa lho Rita dan lebih hebat lagi," kata Arnila dalam chatnya.


Masa sih? "Oh ya? Aku sendiri tidak tahu seperti apa. Ayo dong jelaskan supaya aku mengerti," kata Rita.


"Coba deh kamu tanya sama Alex, dia kan paling sering menggunakan itu," kata Arnila.


Tanpa diduga, Alex menchat dirinya melewati inbox Pacebuk. Baru juga mau nanya eh dia sudah datang duluan.


"Mau tanya apa?" Tanyanya.


"Lah, baru mau ketik kamu sudah datang sambil bertanya. Mistis sekali," ketik Rita.


"Hahahaha tahu dong. Jadi?" Tanya Alex tersenyum.


"Kamu kan bisa menggunakan Astral Projection. nih. Nah itu tuh seperti apa sih?" Tanya Rita yang penasaran. "Kata Arnila aku juga bisa. Iya gitu?" Tanyanya.


"Itu roh keluar dari tubuh. Iya Rita kamu memang bisa. Mimpi itu kan sebenarnya ruh kita ke tempat lain, bisa di masa datang atau masa lalu," jelas Alex.


"Seperti kami yang tiba-tiba masuk mimpi aku?" Tanya Rita.


"Hahaha ya seperti itu. Membuka atau memasuki mimpi seseorang yaaa supaya kamu terus ingat aku hehehe," kata Alex.


"Sama dong saat kamu datang kesini mengintip aku ganti baju. Jangan-jangan waktu aku mandi juga kamu ada ya harus tebar garam nih" kata Rita merinding.


"Enak saja! Ya tidaklah. Ya sebenarnya ada juga kok kaitannya dengan kesehatan," jelas Alex.


"Kamu kan punya penyakit jantung. Bisa juga karena itu ya," kata Rita berpikir.


"Ya bisa. Rita, sebenarnya kamu itu sudah sering Astral tapi kamu selalu menganggapnya sebagai mimpi. Yaaa tipis juga sih membedakannya karena mimpi juga kita bisa pergi ke tempat jauh," jelas Alex.


"Hmmm terima kasih penjelasannya, Alex. Kamu sedang apa?" Tanya Rita akhirnya dia cari tahu sendiri sajalah.


"You're welcome. Sedang menatap kamu," kata Alex cekikikan.


"Nila, si Alex memang lagi astral tapi dia bisa chat juga. Itu memang bisa seperti itu?" Tanya Rita dalam grupnya.


Alhasil Ney juga membalas. "Kalian sedang bicarakan astral Projection? Si Alex bisa punya dua kesadaran. Eh gila dia," katanya.


Ya kalau soal Alex dia lebih antusias tapi kalau soal selain itu dijamin kurang nyambung.


"Wah! Energinya harus besar itu. Aku juga tidak bisa," kata Arnila membalas di grup.


"Apa kata dia, Ri?" Tanya Ney yang semangat kembali.


"Lagi menatap aku dan sedang balas chat. Memangnya energinya seberapa banyak?" Tanya Rita.


Ney kaget luar biasa ternyata benar kalau Alex memang sering mengunjungi Rita. Dimanapun dia berada, Alex selalu hadir.


"Luar biasa yang paling berat Rita. Kamu bisa Ney?" Tanya Arnila.


"Aku mau coba," katanya yang kemudian mencoba sendiri.


"Ternyata memang dia tidak punya kemampuan begitu," pikir Rita. "Tapi sulit kalau orang yang tidak punya kemampuan alami. Jangan dipaksa deh bisa fatal akibatnya," kata Rita.


"Iya Rita memang ada resikonya kecuali yang memang bisa lancar. Si Rita lancar lho kalau Astral Projection soalnya dia mah senang tidur sih," kata Arnila.


"Masa sih!? Gue juga bisa kok. Memangnya kamu bisa sejak kapan kok aku tidak pernah diberitahu sih?" Tanya Ney yang agak merasa dibohongi.


"Untuk apa tidak penting juga," kata Rita.


"Itu penting tahu. Bukan hal yang main-main Rita. Kamu juga untuk apa sih berguru untuk bisa AP?" Tanya Ney sok tahu karena dirinya sendiri tidak bisa.


"Aku berguru sama siapa? Tidak ada," kata Rita.


"Ya lu bisa AP itu kan sumbernya dari berguru," kata Ney.


"Rita bisa AP memang alami tidak seperti kebanyakan orang sampai meditasi segala. Beda juga sama kamu, Alex atau aku. Rita asli alami tapi karena cuek orangnya, kalau tidur ya bisa kemana-mana," jelas Arnila menengahi.


"Serius Rita bisa AP secara alami? Kok bisa? Bukannya dari ilmu hitam?" Tanya Ney secara nyelekit di grup.


"Tidak ada ilmu hitam. Dia memang punya tapi memang tidak berminat, Ney. Makanya kekuatannya itu memang tersembunyi karena Rita bodoh amat orangnya, Penjaganya juga ya begitu tersembunyi," jelas Arnila.


"Aku tidak punya khodam kata Alex juga tidak ada," kata Rita kalau memang maksudnya begitu.


Arnila garuk kepala. Ya memang bukan Khodam sih tapi lebih besar lagi kalau marah habis semuanya.


"Iya tidak ada khodam?" Tanya Ney.


"Tidak ada tapi yang lain ada. Hmmm besar sekali tidak ada tandingannya dengan ibunya juga lebih besar Rita," jelas Arnila Dia agak sedih kenapa harus Rita yang memilikinya.


"Kok bisa seperti itu sih?! Allah tidak adil!" Kata Ney.

__ADS_1


"Hush bicaranya begitu terus. Kalau kamu yang memiliki, hancur semuanya. Tanggung jawabnya sealam itu Ney. Kamu mau? Kenapa Allah beri pada Rita karena kita tahu dia itu tidak mengejar hal duniawi," kata Arnila membuat Ney terdiam.


"Sepertinya orang yang tidak punya malah berguru ya supaya mendapat kekuatan," kata Rita.


"Banyak Rita, Alex juga aku yakin dia berguru. Orang yang bisa astral itu ujiannya tinggi kenapa? Banyak setan dan jin yang akan menggodanya dengan hal yang paling diinginkan. Makanya sebenarnya yang bisa begitu itu ya tidak minat memakainya seperti kamu," kata Arnila.


"Aku bisa lho tadi aku bisa astral," kata Ney mengalihkan topik.


"Yakin? Astral itu kan tidak bisa dilakukan sehari tamat, Ney. Ada tahapnya dan syarat. Jangan bohong deh," kata Arnila.


Ney tidak membalasnya memang tidak dia lakukan karena sulit sekali. Dia cemburu sekali membaca Rita bisa melakukan AP. Api irinya membara dan mencoba melakukannya.


"Iya Ney, kalau tidak bisa ya jangan soalnya tinggi bisa nyawa taruhannya. Ternyata ada syaratnya dan tidak mungkin bisa dilakukan oleh kebanyakan orang karena syarat ini," kata Rita.


"Apa?" Tanya Ney yang malu sekali ingin tidak diremehkan tapi nyatanya ada syarat.


"Risiko AP menjadi lebih tinggi apabila dilakukan oleh manusia yang masih banyak pikiran jahat dibanding baiknya. Jadi aku yakin kamu tidak akan bisa mau berguru juga," kata Rita.


Ney keki sekali membacanya. "Dasar sok tahu!" Katanya dia tidak terima disebut tidak bisa. Tapi memang tidak bisa entah harus bagaimana. Dia bertanya pada gurunya pun, gurunya tidak mengharuskannya untuk mencoba.


"Lalu?" Tanya Arnila.


"Dilakukan oleh manusia yang memiliki niat buruk dan manusia yang jarang ibadah, tidak percaya adanya Tuhan, dan banyak melakukan keburukan seperti zina, masturbasi, suka memaki orang, menyumpahi orang, mabuk, dan lain yang negatif. Alex memang fix berguru orang kaya dia tidak mungkin bisa AP kecuali meditasi," kata Rita sambil berpikir.


"Hahaha kasihan dia. Kamu bilang ke dia kalau bisa AP juga? Pasti dia sedih," kata Arnila.


"Kenapa?" Tanya Ney dan Rita berbarengan.


"Kamu bisa tidak pulang. Orang yang memang kemampuan AP secara alami datang dari Tuhan sendiri, kebanyakan tidak pulang lagi Rita. Aku yakin Alex sedih sekali sih," kata Arnila.


Rita terdiam. Bisa seperti itu?


"Hah? Serius Arnila? Bisa tidak pulang? Tapi yang dia lihat itu asli dunia sana atau mimpi sih?" Tanya Ney bengong.


"Itu asli, Ney. Dunia setelah kita tidak disini. Kalau Rita mau ya dia bisa langsung mendiami disana itu yang membuat Alex sedih. Dia takut Rita memilih tinggal disana," kata Arnila membuat Ney juga terdiam.


Rita kemudian pindah chat dengan Alex. "Kamu ada di tempatku?" Tanya Rita ingin tahu.


Alex yang sedang sedih menundukkan kepalanya, dia menyeka air matanya. Berdoa dalam hatinya haruskah dia kehilangan Rita lagi? Saat Dia mendatanginya nanti, apakah dia benar tidak diijinkan bahagia.


"WOYYYYY!!" Chat Rita berteriak.


"Kamu lagi apa sih? Lama sekali berdoa apa sampai lama," kata Rita menebak.


"Kenapa sih kamu selalu tahu aku sedang berdoa," katanya sebal tapi tertawa.


"Ya kamu kan lebay orangnya. Jawab kamu masih ada disini?" Tanya Rita.


"Kamu tidak bisa lihat? Tepat di samping kamu," kata Alex yang memiliki dua kesadaran.


"Tidak ada. Mana?" Tanya Rita melihat kiri kanan.


"Merasakan tidak? Nih aku memeluk kamu," kata Alex yang memeluk Rita.


"Tidak ada," katanya lagi.


"......... kamu ini aneh bisa AP tapi merasakan aku tidak bisa," kata Alex keheranan.


"Ya memang tidak bisa. Memangnya harus bisa?" Tanya Rita.


Alex melihat memang Rita tidak berbohong. Aneh sekali bisa berbicara dengan khodam tapi tidak bisa melihat mereka. Bisa AP sesuka hati tapi merasakan kehadiran rohnya tidak bisa.


"Aku mau tidur ya," kata Alex mematikan ponselnya. Kecewa dan sedih tapi memang Rita tidak bisa. Dirinya selalu membuat kode agar Rita bisa merasakannya tapi nihil.


"Ok," jawab Rita merasa Alex agak aneh. Pastilah sedih sudah sering datang ternyata kemampuan merasakan kehadirannya sama sekali tidak ada.


Kembali lagi ke grupnya.


"Nanti juga akan ada yang menjelaskan soal kemampuan kamu, Rita," kata Arnila.


"Kenapa sih apa apa selaluuu Rita. Soal kekuatan, seperti semuanya berpihak sama kamu," kata Ney.


"Kata siapa? Aku saja sholat masih sering bolos. Allah itu misteri kalau kamu mau ngomel apapun, saat sholat banyak bertanya bukan hanya tanya soal Alex saja," kata Rita.


"Tidak perlu iri segala deh Ney semua orang punya kadar rejeki, kekuatan, kemampuan. Yang kita lakukan sekarang adalah bersyukur," kata Arnila.


"Ho oh. Ney aku mau tanya sama kamu," kata Rita.


"Ya tanya saja. Mau menyalahkan apa lagi?" Tanya Ney.


"Kamu kirim sesuatu ke aku? Dengan perantara jin kamu?" Tanya Rita langsung menuju sasaran.

__ADS_1


Ney diam dia kaget bagaimana Rita bisa tahu? "Kamu tahu itu dari siapa?" Tanyanya keceplosan.


"Oh benar ya. Untuk apa? Santet aku? Karena kamu tidak mendapatkan Alex. Hina sekali," kata Rita.


"Kamu tahu dari siapaaaaa," kata Ney yang siap meledak ke arah Arnila.


"Aku sendiri yang tahu. Kenapa? Kapan sih kamu bisa banyak bersyukur daripada banyak menyebar keburukan?" Tanya Rita sebal.


"Untung Rita tidak niat balas lempar santet, Ney kalau bisa tamat riwayatmu," kata Arnila di chatnya langsung.


"Itu benar dia tahu sendiri atau kamu yang kasih tahu?" Tanya Ney di grup. Rita diam ingin tahu.


"Aku yang beritahu. Sudahlah Ney, untuk apa sih kamu kirim begituan? Tidak cukup dia yang selalu menerima kamu apa adanya? Tapi santet apapun tidak akan ada yang kena sih tapi tetap ya kamu sudah keterlaluan!" Kata Arnila.


"Dia sombong sih," kata Ney tidak punya pembelajaran.


Arnila lalu mengirimkan 20 percakapan beserta foto-foto yang Ney berikan. "Sekarang siapa yang sebenarnya sombong?" Tanya Arnila.


Ney diam dia menggigiti jempolnya. Dia tidak menyangka Arnila memiliki semua memori chat mereka dari grup yang lain.


"Aku sudah bantu dia, tapi mana? Sama sekali aku tidak dihargai tidak ada rasa terima kasih," ucap Ney.


Arnila kembali lagi mengirimkan 30 chat Rita yang isinya dia lingkari merah. Jelas sekali berapa banyak Rita mengatakan rasa senangnya atas bantuannya. Tapi lagi-lagi Ney sendiri yang terus mengulang topik yang sama.


"Aku tahu kamu ingin Rita berkata, 'Untunglah kamu menjadi sahabatku' tapi tidak akan ada kalimat seperti itu buat kamu, Ney. Kenapa? Karena kamu sendiri yang penuh keegoisan. Rita selalu mengalah untuk kamu, membela kamu sekarang apa hasilnya? Aku serius kasihan pada Rita. Memang aku juga kecewa sama dia tapi aku teringat sejak kenal dia sendiri yang menyiapkan pesta kecil untuk kita. Ingat tidak?" Tanya Arnila.


"Aah, itu sudah lama aku juga tidak pernah mengingat-ingat. Otak kamu jangka panjang ya," kata Rita mengagetkan semua karena dia ternyata masih on.


"Harus Rita, awalnya aku kira kamu yang egois ternyata bukan. Sampai kamu dimarahi semua keluarga Alex sedangkan Ney kabur sendiri. Sekarang Ney masih terus mengungkit bantuan dia," kata Arnila menggelengkan kepalanya.


"Biarlah. Kan dia memang mencari pujian dan perhatian. Kurang disayang kelihatan lah," kata Rita membuat Ney nyesek.


"Kalau bukan biasanya lebih pengertian," kata Arnila. "Aku juga kadang begitu tapi kalau sampai kirim santet ya Allah itu sih sudah parah," katanya.


"Apa enaknya sih ingin dapat pengakuan dari orang, ingin dipuji selangit tapi kelakuan minus suka menyumpahi. Kalau mau pamer ya aku lebih banyak menolong orang dari kamu tapi tidak pernah berharap dapat terima kasih. Sudah banyak yang tidak ucapkan itu. Sama kamu saja mana ada," kata Rita.


"Oh iya ya kamu kan pernah menemani dia ke toko buku sampai menunggu 5 jam, sama sekali tidak ada kata terima kasih ya. Tapi sedikitnya dia yang bilang menolong ini menolong itu, ingin sekali dipuji," kata Arnila.


"Gila pujian kamu tuh. Ney, hidup seperti itu tidak ada untungnya malah mengurangi ikhlas. Pahala berkurang hah rugi," kata Rita.


"Kamu suka mengaji, Rita?" Tanya Arnila.


"Iya, kadang-kadang. Kenapa?" Tanya Rita.


Ney tidak bisa berkutik lagi dia memikirkan banyak ide tapi tidak ada yang keluar. Rita tidak menyukainya dia pada Ney tidak pernah mengirimkan sesuatu. Rasa tidak sukanya, Rita tanggapi dengan menjaga jarak dengannya.


Tapi ternyata memang setiap manusia berbeda karakter dan pemikiran. Ney tahu Rita tidak menyukainya dan malah berpikiran yang lebih jauh. Sebelum dirinya disakiti, dia terlebih dahulu menyakiti. Bukannya Rita tersakiti malah membuatnya semakin menjauhi Ney.


"Aku juga sering lho Ney lihat kamu memandang jelek sama Rita. Menantang juga untung penjaganya lurus sama dengan pemiliknya," kata Arnila buka kartu.


"Aku tidak punya khodaaaaam ihh!" Kata Rita beberapa kali.


"Iyaaaaa kamu tidak punya tapi ya ada jenisnya berbedaaaaa. Aduuh coba kamu bisa lihat Rita. Keren ituuuu bisa lempar ratusan orang," kata Arnila tepuk dahinya.


"Aku tidak suka hantuuuuu," kata Rita merinding mana saat itu tengah malam pula.


"Oh iya ya kamu tidak suka. Eh itu bukan hantu kok," Kata Arnila akhirnya menyudahi.


"Ya habis mengganggu sih kalau bicara nadanya tinggi," kata Ney.


"Hih! Siapa pula. Itulah Nil, orang yang sudah sering pikir negatif. Otaknya juga jadi kurang waras," kata Rita mengejek.


Arnila tertawa sudah pasti Ney meledak marah ini. Tapi yang bisa melawannya hanya Rita seorang sih yang mampu menahan semburan Ney.


"Lalu kok bisa tidak kena?" Tanya Rita.


"Tidak tahu. Aku lihat apapun yang dikirim orang tidak ada yang kena. Mungkin karena kamu lebih suka mengaji dan lebih mengejar akhirat ya," kata Arnila merenung.


"Nil, serius si Rita mental semua santetnya?" Tanya Ney tidak percaya. Pantas saja apa yang dia kirimkan sama sekali tidak ada efek. Selain polos ternyata menurut Ney, kekuatannya besar.


"Tidak ada banyak yang kirim tapi semuanya malah mental dan kena orang lain. Ada yang menepisnya tapi aku tidak tahu siapa dan dengan apa. Dia suka mengaji mungkin besar kemungkinan dari itu," kata Arnila.


"Aku kira karena dia melihara jin," kata Ney.


"Yang kita lihat itu memang ada yang menempel. Tapi bukan, semoga Rita cepat bertemu dengan orang itu," kata Arnila.


"Siapa? Kamu tahu ya orang yang akan membersihkan jin? Beritahu dong," kata Ney memaksa.


"Tidak mau. Sebentar lagi tunggu saja kisahnya dari dia," kata Arnila.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2