ETERNAL ENEMY

ETERNAL ENEMY
(323)


__ADS_3

Ney yang membacanya hanya kaget, postingannya malah dihapus dan membaca semua komentar isinya tak ada yang menyudutkan Rita apalagi semua komentar miring diajukan kepada dirinya. Hal ini tentu saja menjadi terbalik dari yang Ney rencanakan.Apalagi setelah mengetahui Rita menurut pada saran mereka semua yang meminta dirinya menghapus postingan Ney. Dia mengacak - acak rambutnya stres tak sesuai keinginannya lalu dia mulai mengirimkannya lagi ke Wall Rita tapi anehnya, tiba - tiba Tab kolom atas yang untuk dirinya chat atau kirim sesuatu tidak ada. Dia foto lalu mengirimkannya pada Arnila.


Arnila melihatnya hal benar nih orang tapi Arnila tidak mengomentari apapun, semakin Ney kesal sekali. "Kok lu ga komen apapun sih?"


"Saya bukan teman kamu. Jadi suka - suka saya." Balas Arnila tidak perduli.


Ney langsung lemas dia memang sangat keterlaluan mengatakan hal itu dengan sungguh - sungguh padahal dia saja masih membutuhkan kehadiran Arnila. Dan Arnila pun sudah terlalu bodoh amat soal masalah tak jelas Ney.


"Kok dihapus sih? Kamu kok lebih nurut sama mereka daripada aku yang peduli?" Tanya Ney dalam kolom komentar yang dia baca.


"Kalau memang teman yang peduli, buat apa posting foto yang kamu ambil dari akun lain. Dan kalau memang peduli, tolong dong jaga pemikiran orang - orang yang lihat. Lebih baik kalau kamu kirim foto itu ke inbox tapi ini malah ke Wall. Situ waras?" Tanya Icha yang bete banget. Mengatasnamakan Teman Dekat tidak akan bisa menjadikannya sebagai orang istimewa.


"Iya bener tuh mau aku balas di grup atau tidak, ya bukan urusan kamu ganggu aku disini. Sengaja ya? Alex bukan urusan kamu atau aku, dia mau punya pacar lagi pun apa urusannya?" Tanya Rita yang sesekali membuat skak matt Ney.


Kemudian Komariah dan teman lainnya membentuk kelompok dalam grup inbox Pacebuk.


Koma: "Ri, sepertinya sudahi saja deh jangan panjang lagi. Tidak enak sih di akun kamu banyak orang yang tidak tahu masalahnya,"


Linda: "Tuh orang benar - benar ya mengikuti kamu banget sih, Rita?"


Diana: "Rita sih pasti tidak mau, Lin.. Masalahnya tuh anak memang hobinya panas - panasin hati,"


Rita: "Iya iya dia buat tab lagi yang baru. Apa aku block saja ya?"


Melinda: "Iya aku setuju kalau dia masih tetap cari masalah,"


Setelahnya diputuskanlah Rita akan memblok dia tapi nanti saat Ney tidak sadar lama dia online. Meskipun hak Rita juga blok Ney secara langsung. Ney lagi - lagi menggigiti kukunya sampai pendek sampai dia baru sadar kalau kukunya sudah berada di bawah garis kulitnya. Berkali - kali dia refresh akunnya tetap saja tidak bisa mengirimkan lagi pada Rita, di utak atik pun tidak menemukan solusinya. Saat dia sedang sibuk, datanglah pesan inbox entah dari siapa berisikan, "Berhentilah mengganggunya!"


Ney kaget bukan main dicari olehnya pengirimnya siapa tapi tidak ada keterangan dan alamat akunnya pun tiba - tiba hilang. Akibatnya tampaknya dia harus menahan diri menyadari ada seseorang yang mengawasinya yang berhubungan dengan Alex atau Rita. Ney menjadi takut karena bukan niatnya meneror Rita tapi soal dia menerima inbox dari seseorang membuatnya deg - degan. Kedua tangannya bergemetaran hebat dia lalu mengelapkan nya ke bajunya sendiri. Dia dengan salah tingkah memfotokan mengirimkannya ke WA Arnila. Berharap Arnila membalasnya.

__ADS_1


"Kan? Aku sudah tahu Ney, ada yang mengawasi mereka bisa jadi itu Alex sendiri. Sedangkan kamu carut foto dari akun dia termasuk pelanggaran," kata Arnila.


Setelah membaca seperti itu kemudian Ney menghubungi Rita berkali - kali sampai 10x. Yang akhirnya dengan rasa malas, Rita angkat teleponnya.


"Rita, kamu mau diamkan Alex begitu saja? Menurut penerawangan ku ya dia sedang pacaran lho. Masa kamu mau menyerah begitu saja?" Tanyanya dengan nada yang heboh lalu sedikit tertawa.


"Yaa biarkan sajalah buat apa sih kamu yang heboh sendiri? Aku saja biasa," kata Rita dengan nada datar.


Ney kesal karena Rita sama sekali tidak perduli tapi Ney tahu kalau sebenarnya Rita sedih. "Gue tahu kok lu tuh dalam hati suka sama dia dan setelah lu lihat foto yang aku posting pasti kaget kaaan? Ngaku aja deh!" Kata Ney pastinya dengan gelagat yang membuat Rita menyebalkan.


"Mau dengar pengakuanku?" Tanya Rita.


"Iyalah!" Kata Ney yang kesenangan karena mengira semuanya yang dia tahu betul.


"Sebenarnya soal Alex punya pacar itu aku sudah tahu karena Alex sendiri yang bilang. Sudah jangan banyak kepo lagi deh soalnya aku merasa itu wajarlah. Aku sama dia jauuuuh mau dia bohong atau tidak, bukan urusan!" Kata Rita sambil rebahan membaca komik.


"Hah!? Kamu sudah tahu? Kapan? Kok tidak cerita sih? Kalau tahu kan aku tidak perlu posting foto itu segala," kata Ney dengan suara yang mungkin sedang manyun.


"Oh soal apa sih? Coba cerita supaya aku paham masalahnya," kata Ney berharap.


"Tidak perlu tahu deh. Aku sudah kapok cerita soal apapun sama kamu tidak perlu kepo juga. Jangan pura - pura kamu peduli deh aku sudah malas dan soal aku ada masalah juga bukan kewajiban kamu, buka aib di publik," kata Rita dengan nada kesal banget.


"Ya bukan maksudku..." kata Ney.


"Memang itu maksud kamu kalau memang mengerti, kamu tak perlu kepo segala. Dengan memancing aku dengan foto itu. Aku sudah tidak memikirkan soal Alex," kata Rita dengan suara jelas.


"Aku yakin memang salahnya di kamu, kamu kan LEMOT dia pasti mau bilang apa tapi kamu lamban sadarnya," kata Ney mengalihkan topik.


"Berisik! Kamu tidak perlu ikut campur segala deh! PERGI LO! ****!! Dan satu lagi, kamu BUKAN TEMAN DEKAT saya!!" Teriak Rita yang tidak mau dengar suaranya lagi dan menutup teleponnya.

__ADS_1


Ney kaget banget dengan perkataan Rita yang terakhir. Selama ini dia tidak pernah mendengar Rita menyumpahinya, pastinya karena dulu Ney tidak seperti sekarang yang ganjen. Ney serba salah sekarang, di sisi lain dia menyadari kesalahannya sudah fatal apalagi banyak teman Rita yang menyarankan dia di blok.


"Nila, Gila si Rita ngatain gue!" Ney heboh menelepon Arnila.


Dengan suara datar Arnila sama sekali tidak heran. "Ya tidak heran sih menurut gue, lu sudah buat ketidaknyamanan meningkat,"


"Kok lu gitu sih?" Tanya Ney mendengar suaranya terlihat sangat tak kaget.


"Lu tukang ikut campur lu bilang peduli sama Rita tapi malah buat dia bete sama lu. Sadar ga sih? Lu tuh kurang kesadaran sama diri lu sendiri. Gue cape menghadapi kamu selama ini. Teman sejati itu tidak akan ada ejek teman sendiri, Lemot lemot lu pikir siapa yang tidak marah? Kalau lu mau tahu ya, lu juga sama sekali tidak punya kepekaan!" Kata Arnila memarahi Ney.


"Itu..." kata Ney yang tidak bisa mengeluarkan kata apapun lagi.


"Saat kita ulang tahun, siapa yang memberi ucapan? Siapa yang beri kado? Hanya Rita lho tapi kamu malah bilang dia egois. Yang egois itu kamu! Sejak kita kenal, pernah lu ucapin ultah atau bahkan kalau gue sakit, ada lu jenguk?" Tanya Arnila mengingatkan.


"Ya maksud gue sih bukannya tidak mau kasih ucapan atau menjenguk, kan ada dokter atau apa kalau kamu sakit," kata Ney dengan wajah watados ( Wajah Tanpa Dosa ).


"Lalu ngapain kamu koar - koar saat sakit bilang aku tidak peduli, tidak dijenguk? Apa apa? LU EGOIS PARAH! Asli semenjak gue kenal lu, tidak pernah lu yang... perduli. Lu lebih mentingin diri lu sendiri sekarang korbannya Rita? Rita ga segoblok gue ya yang bisa lu injak - injak. Lu kalau lawan dia pasti kalah!" Kata Arnila yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.


Ney teringat memang dia koar - koar saat dirinya tengah sakit Arnila sama sekali tidak pernah menjenguknya. Tapi well, itu sudah biasa bagi semua orang mendengarkan ocehan tidak jelas Ney. Mereka mendengarkan tapi sambil mengerjakan hal lain tapi merasa semua orang memihaknya, membuat Arnila ditarik oleh beberapa temannya untuk tidak menggubrisnya.


"Sudah, Nil biarkan saja kita semua kan sudah tahu tuh teman satu lu lagi kambuh penyakit gilanya." Kata salah satu teman dekat Arnila.


Memang sih semenjak Ney sebar bibit penyakit, teman yang dia kenal hanya diam kalaupun mendengarkan sesudahnya mereka sibuk dengan teman yang lain. Saat tahu Arnila lebih banyak ditarik oleh orang - orang, Ney pun celingukan tidak jelas. Dan mendapati beberapa teman kuliah bersenda gurau dengannya lalu duduk di samping Arnila. Lalu ikut mengobrol dengan semuanya yang malah menyindir dirinya teman yang hina hingga membuat dirinya berjalan menjauh. Dia pikir Arnila akan menyusul dan menenangkannya tapi beberapa menit tak ada kehadirannya, saat melirik ke belakang, Arnila masih saja dengan kumpulan teman - temannya.


Saat itu juga sih hubungan mereka agak merenggang. Arnila sempat kembali dengan gengnya, Ney ya sendirian. Kemanapun dia pergi, orang yang berpapasan dengannya membicarakannya. Saat makan di kantin, kuliah, diskusi, begitulah. Karena bosan dan mati kutu akhirnya Ney meminta maaf di hadapan teman gengnya Arnila. Beberapa minggu kemudian, teman gengnya memilih berjauhan lagi tampak seperti panu kemanapun Arnila pergi, Ney selalu mengekori. Kalau soal nilai akademis perkuliahan tentu saja Arnila paling bagus apalagi dia mendapatkan peringkat nilai paling selaras dan mendapatkan hadiah.


Tentu saja banyak yang menyayangkan soal Arnila yang mau saja berteman dengan Ney. Dan banyak orang yang memperingatinya jangan terlalu dekat dan harus pasang batasan. Memang Arnila selalu berhati - hati karena pernah juga Ney mengajaknya dugem sampai jam 3 shubuh, Arnila menolak karena tidak baik perempuan pulang pagi. Kenapa selama ini Ney bertingkah seenaknya pada Arnila karena sebenarnya dia insecure sekali. Rumahnya megah indah bak istana, meskipun Arnila berpenampilan biasa dengan celana jins bolong. Tapi tetap saja membuatnya kurang nyaman makanya sering sekali Ney membuat Arnila sakit.


Lalu soal Rita? Nah baru deh dia menganggap lebih tinggi dirinya, sama sekali tidak mengijinkan Rita berada di atasnya termasuk soal Alex. Mengetahui Alex lebih tinggi dari Arnila tentu saja jadi ajang dirinya lebih dikenal sebagai teman dekat Rita. Soal dia yang menarik perhatian Alex pun memang agar dirinya terlihat sebagai teman dekat Rita dan Alex bisa lebih mempercayai dirinya sebagai perantara. Nyatanya antara Alex maupun Rita tidak ada yang mau menganggapnya lebih apalagi sebagai orang penting.

__ADS_1


Setelah menutup teleponnya agar Rita tidak berlama - lama kesal, dia mengerjakan tugas perkuliahannya selama beberapa minggu. Bulan terlewati tanpa ada kabar dari Alex. Alex pun secara otomatis mencurahkan segalanya pada Ameera. Secara tidak sengaja menyebabkan tumbuh cinta baru untuk Ameera. Toh dirinya sama dengan dirinya yang penuh duri dalam hidupnya.


BERSAMBUNG ...


__ADS_2