
"Iya kamu ini kenapa sih? Kamu itu sebenarnya ingin Rita dengan Alex atau tidak?" Tanya Arnila keheranan kadang Ney seperti menjatuhkan kalimatnya tapi kadang menaikkan.
"Kalau kamu ingin aku bahagia dan punya pasangan, ya kamu kenalin dong aku ke teman kamu kek, temannya pacar kamu atau teman kampus ya kalau ada itu juga," kata Rita.
"Wah, kalau teman pacarnya dia mah dianya juga kebanyakan suka, Rita dulu juga sudah punya pacar eh kecantol sama temannya," kata Arnila buka cerita lama.
"Eh, jangan beritahu segala dong," cegah Ney dalam grup tapi sudah kebilang tanggung.
"Lalu lalu? Ih, playgirl ternyata ya benar dugaan aku," kata Rita selama ini. Selama kenal dengannya setiap 3 hari Ney selalu berganti pacar ternyata...
"Ya dia menyatakan tapi ditolak kasihan sesudahnya hubungan dia dengan pacarnya pun berakhir. Dan itu menjadi berita paling panas di kampus, sekitar bertahan 2 minggu," kata Arnila.
Ney kesal sekali kenapa juga dia cerita semuanya pada Ruta yang tidak ada hubungannya sama sekali. Sudah kampusnya juga berbeda apalagi jurusannya. Dari sini saja memang Ney tidak mengerti arti pertemanan sesungguhnya dan Arnila yang sudah mengerti, membeberkan segalanya.
"Pasti temannya itu memberitahukan pacarnya," kata Rita menebak.
"Iyalah soalnya mereka itu ternyata teman semasa kecil. Nah lu tahu tidak, kalau temannya itu sudah punya pacar lebih ngeblink. Dia anak Desainer," kata Arnila.
"Hah!? Masa sih? Kok aku tidak tahu?" Tanya Ney.
"Yah, semua orang juga banyak yang membicarakan kan memang kamu itu tidak pernah bisa lihat kanan kiri kalau sudah punya target. Untung sekali lho pacarnya masih belum tahu kalau kamu menembak," kata Arnila yang baru sekarang memberitahukannya.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rita penasaran.
"Dia tuh super kalem tapi gengnya itu lho yang rese banget. Dia sih tidak akan apa-apa tapi kalau Ney berhadapan dengan gengnya, hancur sudah deh kamu mungkin harus keluar dari kampus," jelas Arnila.
"Oh wew nasib kamu masih mujur tuh untung ya kena tolak," kata Rita. "Aku yakin orangnya pasti ganteng," katanya.
"Wih keren dong. Terlalu ketinggian memang si Ney kalau suka sama lelaki. Dia tidak berpikir kalau yang seperti itu pasti milih perempuannya juga bukan sembarangan," kata Arnila.
"Iyalah," jawab Rita.
"Tapi pacarnya tuh kan kalem ya, aku juga sama kok dia saja yang belum tahu," kata Ney menyebut dirinya tidak lebih baik.
"Halah kamu. Kalem apanya serang orang seenaknya. kalem versi dia itu kebalik ya Rita. Tidak seperti kita berdua. Pacarnya mirip Rita tidak Ney? Rita juga kalem tuh tapi belakangnya mirip Ney hahaha," tawa Arnila.
"Enak saja masa aku sebagai pengawal dia? Huh! Bagusnya juga aku tahu kalau soal kekayaan tuh ya aku yang lebih hebat," kata Ney lupa diri.
"Kalau soal kekayaan memang sih aku paling bawah. Tapi bukannya Arnila yang paling mewah ya? Jadi lebih bagus sih kamu yang jadi prajurit dia bukan kebalikan," kata Rita melawan balik.
Ney terdiam, dia lupa kalau mau menyangkut soal harta atau lainnya memang Arnila yang paling terkaya. Keluarganya bukan apa-apa apalagi dia juga yang memohon pada Arnila untuk dimasukkan dalam perusahaan pamannya. Hanya saja Arnila tidak menyebutkan, pastinya akan sangat membuat dirinya malu.
"Hahaha apa sih kamu, aku tidak begitu tahu. Aku juga pernah jatuh kok Rita dan orang yang selalu ada untuk aku juga selama ini masih ada kok," kata Arnila.
"Ney bukan?" Tanya Rita japri ke Arnila.
"Bukan. Dia sih mana ada saat aku kesusahan ya sama seperti dia ke kamu. Bukan dia tenang saja," kata Arnila.
"Oh, iya juga sih aku pikir tidak mungkin dia bisa berdiri di saat orang lain jatuh tapi dia kenal dengan orang itu?" Tanya Rita.
"Kenal tapi tidak dekat karena tidak ada yang menyukainya. Sama seperti kamu, pernah bicara tapi kebanyakan dia tidak selalu menjawab. Jadi hanya satu jalur saja," kata Arnila. Rita mengerti maksudnya.
"Iya aku tahu itu aku kan. Aku tidak pernah meninggalkan kamu dari kamu dulu jatuh sampai sukses, itu semua berkat aku lho sebagai pendukung kamu," kata Ney bangga Arnila sedang membicarakan soalnya.
__ADS_1
Rita dan Arnila tidak menjawab mereka mendelikkan kedua matanya dan tertawa yang sebenarnya.
"Mana ada pengkhianat bilang pengkhianat sih," kata Rita di grup membuat Arnila tertawa.
"Pengkhianat? Siapa? Maksud kamu apa sih? Arnila memang teman dekat aku kok. Kamu iri ya sama pertemanan kami," kata Ney merasa dirinya paling berharga.
"HAHAHA maaf ya aku sudah punya sahabat yang sama berharganya. Mereka selalu ada di saat aku sedih sampai susah. Buat apa iri segala ke kamu? Bukan level akuh," kata Rita yang menjulurkan lidahnya ke ponselnya.
Membaca hal itu membuat Ney cemberut dan kesal kalau memang ternyata benar apa yang dikatakan oleh Arnila, Rita memiliki banyak teman dan sahabat. Tampaknya mustahil baginya untuk masuk ke dalam lingkarannya.
"Apa kamu yakin teman-teman kamu itu bisa dipercaya?" Tanya Ney dengan nada kesal.
"Ya dong tidak seperti kamu hanya agar aku punya pasangan sampai menceritakan karangan ke orang luar. Pantas saja tuh Malaysia seenaknya ke aku jadi penyebabnya kamu toh," kata Rita membuat Ney terdiam.
"Benar juga ya sewaktu Ney cerita dia soal sifat kamu yang dia buat terbalik, aku lihat tuh Alex jadi semena-mena. Kamu tidak merasa bersalah, Ney? Atau kamu sengaja karena kamu iri merasa tersaingi kalau Rita jadi dengan Alex?" tanya Arnila yang sengaja berkata begitu di grup.
"Kenapa lu nanya begitu di grup pula?" Tanya Ney japri Arnila tapi tidak dijawab olehnya.
"Hahaha iya ya kamu kan orangnya tidak mau tersaingi merasa seluruh dunia harus memandang kamu saja, orang lain hanya sewa. Mirip si Alex tapi sayang tidak ada alur takdirnya sih," kata Rita berucap syukur.
Ney kesalnya minta ampun bukan hanya soal Rita tapi juga Arnila yang makin lama makin membuatnya membuka semua kartu-kartunya. Akhirnya karena tidak ada pilihan lain, dia harus mencari jalan keluarnya sendiri.
"Itu karena aku peduli sama kamu makanya aku pikir setidaknya aku harus memperbagus kamu di hadapan Alex. Bukannya berterima kasih kamu malah marah. Memangnya aku salah?" Tanya Ney menahan rasa kesalnya.
"Peduli bagi kamu itu berbeda. Peduli itu tidak sampai kamu mengarang dengan daya halusinasi kamu, apalagi menempelkan sifat kamu yang mencolok ke aku. Aku sama kamu itu beda, jangan seenaknya ya. Untung Alex banyak cerita," kata Rita mengomel.
"Menurutku salah sih Ney, kalau kamu seperti itu tandanya ya benar kalau kamu pilih teman. Kamu pikir Rita itu lemah, apapun kamu lakukan dia akan nurut? Kalau menurut aku sih Rita orangnya keras lho," kata Arnila akhirnya berani mengungkapkan pendapatnya sendiri.
"Memangnya salah kalau aku memperbagus sifatnya? Selama ini aku lakukan begitu supaya jadi bagus juga ke akunya." Pikir Ney. Kalau saja Rita itu penurut, dirinya pasti akan lebih dekat sebagai sahabat meski palsu.
"Kenapa Alex selalu memberitahu menurut kamu kenapa?" Tanya Rita yang sudah tahu kenapa alasannya.
"Ya supaya kamu tahu kan. Lagipula buat apa sih dia bilang ke kamu," kata Ney kesal sekali. Dia mengatakannya hanya untuk keperluan Alex saja.
Arnila yang memperhatikan itu juga akhirnya harus mengatakannya langsung. "Karena Alex tidak suka kalau kamu dekat sama dia. Maksudku jangan terlalu dekat hanya sebatas kita temannya Rita, ya sudah. Bukan urusannya dia kamu bilang A B C D tentang Rita. Toh dia juga yang kenal Rita bukan kamu, itu kan yang kamu inginkan juga Rita?" Tanyanya.
"Yupz. Karena kalau dia hanya mendengar apa kata kalian, nanti dia tidak bisa lihat yang sebenarnya dari aku. Kalian itu hanya seperti tambahan tapi kan yang paling penting itu, aku yang dia kenal. Kalau dia melihat kalian sebagai yang utama untuk apa aku ada? Sudah saja dia kenal kalian berdua dan aku yang pergi," kata Rita.
"Tapi kamu kan butuh bantuan aku," kata Ney.
"Ya masalahnya kamu terlalu ikut campur. Yang dibutuhkan Rita itu penjelasan tapi nyatanya jadi masalah kan. Sekarang sih lebih baik kita tidak usah ikut saja Rita. Aku yakin kamu bisa melakukannya sendiri daripada nanti ada masalah baru lagi," kata Arnila yang mengeluarkan tanda Stop pada Ney.
Di sisi lain memang Ney berpendapat sama juga tapi dirinya terlalu kepo ingin tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua. Dan dia selalu mencari tahu entah memancing Rita dengan informasi mengenai Alex. Agar Rita memberitahukan apapun dan selama ini Rita yang polos dengan mudah Ney manfaatkan.
Tapi di sisi lain juga dia muak dengan Alex yang ternyata menceritakan semua yang dia katakan kepadanya apalagi setelah tahu kalau Alex tidak ingin dirinya terlalu dekat. Bukan masalah Rita cemburu tapi Alex tidak berminat mengetahui sosok Ney. Intinya ada kemungkinan dia mendekati Ney juga ingin tahu apakah dia teman asli atau palsu.
Ternyata jawabannya sudah dia ketahui makanya dia katakan semuanya karena tidak berminat mengenal jauh Ney sebagai Sahabat Katanya. Yang Alex lihat Ney tidak punya kapasitasnya sebagai seorang teman yang baik, dia hanya ingin cerita saja bagaimana pengalamannya dengan beberapa lelaki.
"Aku heran ya kamu kok bisa-bisanya bilang kenal lama sama aku dan menganggap sebagai sahabat. Tapi kamu sama sekali tidak mengerti apapun soal aku, soal visi hidup aku juga. Aku yakin kamu tidak tahu," kata Rita.
"Memangnya kamu punya? Kamu tidak pernah bilang kok," kata Ney yang menggigiti jarinya.
"Dia punya, Ney. Dan sering sekali memperlihatkannya tapi kamu sama sekali tidak peduli tidak aneh sampai sekarang, bagi aku Sahabat itu kosong tidak ada isinya," kata Arnila yang sudah tahu.
__ADS_1
"Visi kamu aku jelas lihat kok, masa aku sama sekali tidak bisa kamu lihat sih?" tanya Rita merasa aneh.
"Memangnya apa visiku coba?" Tanya Ney menantang.
"Uang, harta dan tahta," jawab Arnila dan Rita bersamaan. Mereka berdua tertawa bersamaan juga.
Ney terdiam, padahal selama dia kenal keduanya sama sekali tidak pernah dia memperlihatkannya. Kok bisa tertebak?
"Kehidupan kamu sehari-hari sejak SMP itu sudah terlihat. Mulai dari suka foya uang, barang sampai pilih teman yang berduit. Itu sudah mencerminkan visi kamu dan sampai sekarang kita kuliah juga masih sama," kata Rita.
"Mungkin kamu tidak sadar tapi meskipun sudah rapi disembunyikan tapi sulit menyembunyikan kebiasaan kamu, Ney. Dan semua orang juga tahu," jelas Arnila membuat Ney bengong.
"Ok ok kalau begitu apa visi kamu?" Tanya Ney yang sebal ternyata keduanya tahu soal motivasi hidupnya.
"Mudah. Allah Allah Allah," balas mereka berdua.
Ney diam saat mengetahuinya, selama kenal dengan Rita. Dia selalu mengingatkan Ney untuk sholat dengan benar meski dirinya juga masih banyak salahnya. Banyak ingat puasa, dan perbanyak sedekah. Yang menurut Ney itu semua sama dengan yang dikatakan oleh ibunya dan berkali-kali juga dia hanya katakan 'Iya' tanpa melaksanakannya.
"Aneh sekali kalau kamu masih tidak tahu," kata Arnila. Jelaslah selama ini seminar lebih banyak soal ilmu Islam bukan yang lain.
"Kata Sahabat juga pasti pengertian berbeda aku yakin. Entah versi seperti apa bagi kamu toh soal visi saja kamu sama sekali tidak tahu. Coba drh kamu ini baca baca dan baca segala dunia Pertemanan, Persahabatan, dan rekan itu apa perbedaan dan persamaan. Kalau kata aku sih maaf ya, kamu itu jauh dari kata Sahabat," kata Rita langsung mengungkapkan.
Arnila dan Ney sendiri juga kaget kalau sekarang Rita sampai bisa berani mengungkapkan isi hatinya. Ney berpikir apakah ini hasil dari Rita mengenal Alex? Apalagi Ney merasa dunianya hancur seketika membaca bahwa dirinya jauh dari kata Sahabat. Dia sedih karena perbuatannya sendiri terlalu terburu-buru hanya menganggap tidak ada waktu lagi.
"Tapi aku tahu kamu itu seperti apa sifatnya selama aku kenal kamu," kata Rita.
"Seperti apa? Kamu seperti yang sok tahu sekali ya. Apa-apa aku yang disalahkan memangnya kamu tidak salah? Kamu sia-siakan Alex begitu saja," kata Ney berkobar.
"Maklumlah kan Rita belum pernah pacaran makanya dia tidak mengerti tapi salah juga lu caranya kasih tahu dia. Kan aku sudah bilang pelan-pelan saja toh mereka berdua itu santai orangnya," kata Arnila tapi tidak dihiraukan.
Apalagi doa tahu sekarang Ney mulai emosi padahal awalnya dia yang memancing sekarang malah terbalik.
"Aku tidak terima ya semua perkataan kamu. Sok tahu sekali sih jadi orang," kata Ney marah.
"Lho? Itu kan kenyataan. Apa aku harus bilang bohong? Rugi dong. Aku bilang yang baik-baik soal kamu eh kamu sendiri yang bikin masalah," kata Rita.
"Kamu bilang yang baik soal kita?" Tanya Arnila.
"Iya. Tapi sudahlah, gara-gara Ney juga tuh semuanya kacau. Padahal aku sudah terima banyak minus kamu tapi begini ya dibalasnya makasih," kata Rita yang super kecewa dan sakit hati.
"Wah, Ney. Kamu yang benar-benar sumber masalah kalai begitu. Sekarang bagaimana coba? Selama ini kamu salah, selalu suudzon sama Rita," kata Arnila dalam japrinya.
"Kamu itu super matre, bagi kamu yang terpenting adalah uang dan barang bermerk. Kamu sama sekali tidak butuh teman atau sahabat karena bagi kamu, mereka itu tidak berarti," kata Rita membuat Ney diam.
Dia masih syok dengan yang dikatakan oleh Rita. Pikirannya yang mengganggu keseimbangannya telah menghancurkan apa yang selama ini Rita bangun untuknya.
"Orang yang memberi kamu makanan atau barang murah pasti kamu buang tidak pernah memiliki rasa empati. Aku yakin sekali sedangkan orang yang memberi barang mahal pasti kamu simpan. Benar tidak?" Tanya Rita.
"Benar itu," jawab Arnila. Dirinya pernah menjadi bagian orang yang pemberiannya dibuang begitu saja. Rasa sakit dan marah bercampur sedih, semua terhempas dengan perwakilan dari Rita.
Ney masih diam tidak membalas semua nyerocos Rita, terlalu benar sampai membuatnya tidak bisa berkata apapun.
"Tuh contohnya teman dekat kamu sendiri. Memalukan! Makanya aku tidak pernah beri apapun sama dia, Nil karena tahu dia sama orang lain di bawah pasti tidak ditempatkan penting. Ya kamu hati-hati saja dari sekarang, orangnya plin plan tidak bisa dipercaya. Percaya deh kalau aku jadi miiiisal sama Alex, dia akan membandingkan aku dengan kamu. Begitu tuh kerjaan dia, malas gusti punya sahabat seperti kamu," kata Rita blak-blakan.
__ADS_1
Bersambung ...