
Happy Reading.
BUGGH!!
"Gue benci sama elo, Mas!!" Joice mendorong dada pria itu sampai hampir terjungkal. Dion juga hanya pasrah saat Joice memukul tubuhnya bertubi-tubi.
"Ssttt!! Tenang dulu sayang, kamu jangan marah-marah begini!"
Dion menangkap tangan Joice agar wanita itu berhenti memukulinya. Meskipun tangan Joice kecil, tapi kalau dipukul berkali-kali seperti ini pasti akan terasa sakit. Apalagi Joice mukulnya nggak main-main.
"Bregsek! Lo sengaja 'kan mas, ngeluarin nya di dalem!! Gak pake pengaman lagi, terus maksud lo apa? Biar gue hamil??!" Joice terus saja menjerit karena perbuatan pria itu.
Awalnya Joice tidak sadar jika Dion mengeluarkan benihnya di dalam, tapi di saat wanita itu menyadari jika Dion sama sekali tidak beranjak dari tubuhnya membuat wanita itu langsung mendorong Dion sampai senjatanya terlepas dan langsung berteriak saat menyadari bahwa sudah terlambat.
"Sorry, aku tadi kelepasan," Dion meringis.
"Terus gimana kalau gue hamil? Gue gak mau, gue gak siap, Dion!!"
Pria itu menarik Joice ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya berkali-kali memberikan ketenangan.
"Kalau kamu hamil, aku pasti langsung bertanggung jawab, sayang!" Dion mengelus rambut Joice yang sudah berantakan.
Wanita itu terlihat sudah terisak di dalam dekapan Dion. Sungguh tidak pernah ia bayangkan jika dia nanti harus hamil karena perbuatan mantan kekasihnya ini.
Meskipun Dion mengatakan bahwa dia akan bertanggung jawab, tapi tentu saja Joice merasa belum siap terutama menghadapi keluarga Dion.
__ADS_1
"Gue gak mau hamil, gue masih mau bekerja, gue nggak mau nikah, gue pengennya bebas!" Semakin mendengar ucapan Dian semakin Joice merasa kepalanya terasa sangat berat.
Meskipun dia juga tidak tahu apakah benih yang ditanamkan di rahim yaitu akan tumbuh atau tidak tapi perasaan was-was sudah melingkupinya saat ini.
Dion merasa sedih mendengar ucapan Joice yang mengatakan bahwa dirinya belum siap untuk hamil dan menikah, padahal Dion memang sengaja melakukan hal tersebut agar wanita itu menjadi miliknya, menjadi ibu dari anak-anaknya, sampai kapanpun Joice tidak akan bisa terlepas lagi dari genggamannya.
Mungkin ini memang terlalu cepat untuk Dion dan Joice, ini adalah pertemuan kedua kalinya setelah mereka berpisah 3 tahun yang lalu, meskipun mereka masih berada di kota yang sama tapi mereka sudah tidak pernah saling berhubungan dan saling bertemu kembali, karena Joice memang sangat menghindari Dion.
"Oke oke! Lo nggak akan hamil, sayang! Aku cuman ngeluarinnya sekali di dalam dan belum tentu kalau itu bisa membuatmu hamil," Dion berusaha menenangkan Joice, hatinya terasa sedih jika melihat wanita yang dicintainya itu terlihat begitu kacau seperti ini.
Joice melepaskan pelukannya dan mendongak untuk menatap wajah Dion, "lo tau mas, gue lagi butuh banyak uang untuk perawatan adik gue di kampung yang sedang sakit, jadi gue memutuskan untuk resign menjadi asisten artis dan gue butuh pekerjaan yang bener-bener bisa menggaji gue lebih besar," Akhirnya Joice menceritakan keadaan dirinya saat ini kepada Dion.
Dion sendiri merasa terkejut setelah mengetahui alasan kenapa Joice begitu histeris dan takut kalau dia akan hamil, mungkin karena Joice masih bertanggung jawab kepada adiknya, karena setahu Dion ayah perempuan ini sudah meninggal sejak dia masih berusia 15 tahun.
Mungkin Joice sedang menjadi tulang punggung keluarga, karena jika hanya mengandalkan dari pekerjaan ibunya yang serabutan, pasti tidak akan cukup kalau untuk membiayai perawatan adiknya itu.
Joice merasa terkejut dengan ucapan Dion, apakah itu artinya pria itu sedang melamar nya.
Bukankah sudah jelas jika keluarga pria itu sama sekali tidak menyukainya, bahkan Joice masih ingat bagaimana Ibu Dion mengatainya dengan kata-kata kasar dan menganggapnya hanya wanita murahan yang hanya bisa mengejar pria kaya.
Joice terkekeh, "apa lo nggak ingat 'Mas, tiga tahun lalu kenapa gue milih pergi ninggalin lo daripada bertahan," Dion tentu saja masih mengingat semua itu.
Bagaimana dia tidak ada di sana, saat Joice di ejek bahkan dikatakan sebagai wanita murahan karena status sosial mereka yang sangat jauh. Seharusnya Dion ada di sana untuk menggenggam tangan Joice dan melindunginya, mengatakan kepada sang Ibu bahwa wanita itu adalah wanita yang sangat-sangat dicintainya.
Tapi semuanya terlambat saat Joice sudah merasa sangat sakit hati bahkan perasaannya hancur berkeping-keping karena ibunya merendahkan wanita itu.
__ADS_1
"Kali ini gue bakal hadapi ibu dan ayah untuk perjuangin elo Joice, gue bakal yakinin mereka bahwa cuman elo yang gue cinta."
Joice tertawa sambil menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak mau berurusan lagi dengan ibu dari Dion ataupun keluarganya, karena kata-kata yang diucapkan oleh ibu dari pria itu benar-benar sudah membuatnya seperti wanita yang tidak memiliki harga diri.
"Nggak perlu, mas!, kita jalani aja kek gini, kalau memang kita ini jodoh pasti kita bakal bisa bersatu tapi sebaliknya, meskipun kita berusaha untuk bersatu kalau kita tidak berjodoh ya tetap akan sia-sia, mungkin ibumu sudah memiliki wanita lain untuk menjadi jodoh lo dan ketika lo melihat wanita itu, siapa tau lo langsung jatuh cinta untuk pandangan pertama, kita semua tidak ada yang tahu,"ujar Joice panjang lebar.
Dion tidak bisa menjawab ucapan itu, dia hanya bisa diam sambil menatap wajah cantik wanita yang masih sangat dia harapkan ini.
*****
Vera dan Fara akhirnya sampai ke rumah dan membawa beberapa paper bag di tangan mereka.
"Huh, rasanya sungguh lelah sekali, baru kali ini gue bisa belanja dengan sebebas apapun tanpa memikirkan limit di saldo!" seru Fara puas.
Vera hanya tersenyum menanggapi, memang tadi Fara seperti orang gila yang kesetanan, memborong banyak barang yang sebenarnya sangat tidak diperlukan.
Ya wajarlah, mungkin selama ini Fara sering berpikir dua kali untuk belanja dan menghabiskan gajinya dalam sebulan, tapi saat ini dia telah menjadi istri seorang Keill Abraham yang di mana kekayaannya termasuk dalam lima besar jajaran orang terkaya di Indonesia.
Dan tentu saja Vera dan Vero menduduki di posisi ke-4.
"Besok lo bisa beli apapun di Bali, jadi jangan sia-siain punya suami kaya, dia nyari duit juga buat lo jadi lo berhak atas semua uangnya yang dia kasih ke elo," ucap Vera.
"Wah, wah, lo nggak usah jadi setan Ver, ngajarin istri gue untuk berfoya-foya," seru Keill saat baru saja turun dari tangga.
"Ya nggak apa-apa dong, emang duit yang lo kasih Fara nggak boleh dipakai, lagian juga yang memakai istri sendiri bukan istri orang lain 'kan, apalagi janda sebelah!" Vera tertawa karena berhasil menggoda sepupunya itu.
__ADS_1
Bersambung